
...🥀🥀🥀...
Melodi yang kini berada di kamar rumahnya seorang diri tentu saja kesal tak karuan. Pesan dari pria bernama Zayn itu benar-benar membuatnya geram.
" Kok jadi begini amat sih?" rutuknya kesal. Bukan karena apa-apa, tapi kenapa bisa foto mengerikan itu masih ada?
Beruntung, rumah sebesar ini kini hanya ia huni seorang diri dengan tiga ART, sebab Mama Papanya masih berada di luar negeri.
" Awas saja kalau dia berani memeras!" ucapnya suudzon.
"Haaaa, kenapa dia nggak malu ya? CK, benar-benar muka tembok!"
Meski bibinya tiada henti mengomel, namun tangannya sejurus kemudian kembali terulur meraih ponsel dan menatap foto laknat itu dengan wajah ingin menangis.
Hua!!!
" Oh ya ampun. Kalau sampai orang-orang tahu gimana? Gara-gara keponakan tengil jadi runyam begini urusannya!" menggerutu tiada henti sebab ia merasa sangat malu.
Ia lantas membenamkan wajahnya ke bantal lalu menggerakkan kakinya seperti orang berenang dengan merengek karena kesal.
" Aaaaaa!!!!"
Keesokan paginya, ia terlihat sudah rapih dengan pakaian formal sebab pagi ini dia akan memimpin rapat, yang juga akan di hadiri oleh Zayn bersama jajaran direksi di perusahaannya.
Melodi yang mendengar satu notifikasi, langsung membuang pesan itu lalu membacanya. Rupanya, pesan tersebut berasal dari si biang kerok. Zayn.
Membuatnya langsung mendecak.
📱 Zayn : " Aku landing jam 08.10. Ingat jangan sampai terlambat, atau kita berdua akan viral!"
Bahkan bibir gadis itu langsung komat-kamit entah menyumpahi apa sesaat setelah membaca pesan sialan itu.
Ia memilih bergegas menuju airport sebab jarak kantor dengan tempat itu selalu tak sepi kendaraan. Tak mau jika mimpi buruk itu akan terjadi. No way!
" Gak sarapan dulu mbak?" tanya mbak Yuyun, assiten rumahtangganya yang setiap hari mengurus ini itu menggantikan Mama Bella
" Ga usah mbak. Saya buru-buru!" tolaknya jujur.
" Itu Pak Har juga sudah siap!"
" Aku bawa mobil sendiri!"
" Tapi mbak, kata Ibuk..."
Kalimat mbak Yuyun seketika menguap sebab Melodi benar-benar terlihat sangat takut terlambat.
" Aduh mbak udah dulu ya. Aku buru-buru banget. Oh iya, itu baju kotor yang warna tosca jangan dicampur sama yang lain kalau nyuci! Dah ya..."
" Baik mbak!"
Mbak Yuyun menatap resah punggung anak bungsu majikannya itu. Sedari kecil Melodi memanglah orang yang serba grusa-grusu.
Setibanya diluar, Melodi tampak mengangguk sopan manakala Pak Har menyapa.
" Pagi Mbak?"
" Pagi Pak! Aku sendiri aja Pak. Antar mbak Yuyun aja nanti!"
" Siap mbak Mel!"
Ia menyalakan mesin mobilnya usai mengenakan kacamata hitam guna mengurangi paparan sinar yang menyilaukan mata.
__ADS_1
" Pak minta tolong tutupin pintu ya?"
Melodi tak percaya dengan apa yang dia lakukan saat ini. Ia bahkan sudah ada di bandara sekitar pukul delapan kurang.
" Emang sialan tuh orang. CK, kenapa aku bisa sampai setakut ini sih?" menggerutui diri demi respon yang sangat khawatir.
Ia memilih menunggu di cafe sembari menikmati pastry dan teh hangat guna memburu waktu. Hingga sebuah announcement yang memperdengarkan bila maskapai asing dari Atana baru saja mendarat.
Ia mengecek ponselnya barangkali barangkali ada pesan dari Zayn yang masuk. Namun nihil, ia tak mendapati apapun kecuali pesan dari online shop yang sering ia lihat.
" Duh mana sih dia? CK!" mendecak karena tak juga menemukan Zayn diantara kerumunan manusia yang saling berjejal itu.
" Kalau nelpon dulu, dia pasti GR!" gumamnya resah. Takut kalau-kalau dia salah maskapai.
Namun selang beberapa menit kemudian, ia melihat sosok tinggi tegap berbadan kekar tampak berjalan diantara riuh rendah penumpang lain.
Sial, ganteng banget dia kalau begitu!
Melodi terpana untuk beberapa saat manakala melihat penampilan Zayn yang lagi ini sangat parlente. Terlihat mahal. Betapa pria itu lebih terlihat tampan manakala mengenakan jas kantor formal yang selama ini tak pernah dia lihat.
" Permisi!"
" Oh iya- iya maaf!" ucapnya setengah menepikan diri karena terkejut.
Bahkan jika bukan karena porter yang barusan membawa tumpukan bagasi itu lewat, bisa di pastikan Melodi akan tetap terlolong sampai antrian itu sepi. Damned!
Ia buru-buru melangkahkan kakinya menyongsong Zayn yang terlihat menunggu bagasi di antrian business class. Tapi ia hanya bisa berdiri di depan pembatas untuk area karyawan.
Ia bahkan mencibir saat Zayn dengan tak berdosanya malah melambaikan tangan ke arahnya. Sok cool!
" CK, dasar!"
Tapi alih-alih mampu melampiaskan kekesalannya, Melodi justru di buat grogi saat pria itu telah sampai di depannya dan keharuman yang diam-diam dia senangi itu mengusik penciumannya.
" Kau benar-benar wanita ontime. Kau pasti berzodiak Aries dan memiliki shio ayam!"
Melodi mengernyitkan keningnya.
" Jika bukan karena kau ancam, aku tak akan datang secepat ini sialan!" kata Melodi yang hanya berani menjawab dari dalam hatinya.
" Kau diam. Berarti aku benar!" terka Zayn penuh kemenangan.
Gadis itu hanya mencibir. Ya memang benar sih. Tapi, bagaimana dia bisa tahu?
" Hiss, udah cepat ayo. Kamu pikir menunggu itu enak?" timpal Melodi sembari melangkah keluar.
" Hey, beginikah caramu memperlakukan partner bisnis?" seru Zayn melipat kedua tangannya. Membuat langkah gadis itu kembali berhenti.
" CK, lalu aku harus bagiamana?" kesal Melodi yang mulai curiga dengan bau-bau pemerasan.
" Ya berjabat tangan atau apalah, kau benar-benar tidak menghargai jasku!"
" Bodo amat!"
Zayn seketika terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Inilah yang dia rindukan. Ups, apa tadi? Rindukan? Oh tidak, gadis di depannya itu bisa muntab jika ia mengatakan hal itu.
Tapi anehnya, sikap unik itulah yang memang Zayn rindukan.
Di parkiran.
" Ayo cepatlah sedikit, jadwalku padat hari ini!" titahnya dengan alis yang tiada berhenti mengerutkan.
__ADS_1
Namun bukannya langsung masuk, Zayn malah terlolong demi melihat jika mobil itu di kendarai oleh Melodi seorang diri.
" Kau tadi sendiri?" tanyanya terlolong.
" Memangnya harus dengan siapa lagi?" jawab Melodi mulai sebal.
Sulit di percaya. Apakah gadis di depannya itu selalu semandiri ini?
" Seorang bos tanpa supir itu merupakan sebuah kejanggalan!" tukasnya setengah terkekeh.
What? Membuat Melodi sekonyong-konyong mendengkus sebal.
" Seorang rekan bisnis yang banyak cingcong juga merupakan sebuah kekurangan ajaran!"
Alih-alih marah, Zayn malah kembali tergelak demi sanggahan yang baru saja di lakukan oleh Melodi. Benar-benar gadis petarung.
" Padahal aku sudah susah-susah mengenakan seragam seperti ini. Tapi kau masih saja begitu. Benar-benar tidak menghormati!"
" Bodo amat!"
Zayn masih tergelak saat memasuki mobil. Ia benar-benar sangat senang jika beradu mulut dengan Melodi.
"Kuharap kau sudah sarapan tadi. Waktu kita sangat terbatas. " kata Melodi serius manakala ia mengenakan sabuk pengaman. Benar-benar tak ada basa-basi.
" Nah itu ide yang bagus. Aku memang sengaja mengosongkan perutku agar apa yang kau persiapkan tidak mubazir!" sahutnya dengan wajah berkelakar.
" Apa, kau sengaja ya?" pekik Melodi yang kesal. Ia kan bertanya untuk memastikan, bukan untuk menawari.
Zayn lagi-lagi tergelak. Situasi yang benar-benar mampu membuatnya melupakan kesemrawutan otaknya.
" Tapi...kau cantik juga jika memakai pakaian formal begini!" ucap Zayn sengaja menggoda Melodi agar kembali marah-marah.
" Zayn!" pekik Melodi yang sudah tak tahan lagi. Jika begini terus, ia bisa-bisa gila.
Melodi merasa kesal bercampur malu. Ah tidak, ia bahkan merasa wajahnya memanas.
" Jadi, kita sarapan dimana dulu ini?"
" Apa?"
.
.
Tropis resto
Zayn terlihat meneguk ludahnya manakala melihat Melodi makan dengan begitu rakus. Jika para wanita lain pasti makan dengan cara anggun bahkan terkesan di buat-buat manakala berada di hadapan kawan jenisnya, hal ini tampaknya tak berlaku bagi Melodi.
" Kenapa, nggak pernah lihat orang makan?" sengitnya membidik Zayn sebal.
" Kamu makan apa kesetanan?"
" Mana ada setan makan beginian!" menunjukkan sebuah sarapan khas kota S yang melegenda.
" Pagi-pagi udah makan sebanyak itu?"
" Ini sih bukan sara..."
Namun kalimat itu terpaksa terjeda lantaran suara seseorang yang tiba-tiba menyapa membuat keduanya menoleh.
" Hay, kamu Melodi kan? Masih ingat aku?"
__ADS_1
Jika Melodi terlihat lumayan santai meski agak terkejut, namun tidak dengan pria di sampingnya. Wajah pria itu terlihat berubah menjadi keruh demi melihat siapa yang saat ini menyapa Melodi.
" Kenapa dia ada di sini?"