My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 103. Pemenang kehidupan


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Sada bergegas maju menarik kerah baju seorang pria yang menghajar Andrew dengan sekali tarikan kuat. Ia lantas mendorong pria itu menjauh dari sahabatnya. Sejurus kemudian ia juga menendang perut seorang lagi hingga membuat manusia itu terlempar jauh.


Tak ada ampun bagi mereka.


" Andrew, ada apa ini, kenapa kau...?" ia bertanya kepada Andrew setelah merasa memiliki kesempatan untuk bertanya.


" Sada, tolong aku!" ucap Andrew yang seketika merasa lega karena mendapat bala bantuan tak terduga.


Ia bisa melihat kilatan ketakutan dari sorot mata Andrew. Soro mata yang menunjukkan kelegaan, ketakutan, sekaligus kekhawatiran.


"Kurang ajar! Siapa kau? Berani-beraninya ikut campur!" teriak salah seorang pria yang tadi perutnya di tendang oleh Sadawira.


Tapi Sada lebih memilih diam dan melihat wajah Andrew yang babak belur. Dua pria yang hendak maju untuk kembalikan menyerang itu, akhirnya berhenti sebab dari arah barat terdengar teriakan yang mendadak membuat dua pria itu membulatkan mata.


Ya, keributan yang kentara itu berhasil merebut perhatian sang penegak hukum yang standby tak jauh dari lokasi perkelahian. Empat orang yang di ketahui sebagai Airport police itu, seketika membuat mereka kocar-kacir dan lari tunggang langgang.


-


-


" Minumlah!" Sada mengangsurkan segelas air putih kepada Andrew setelah dia membawa pulang kerumah.


Ia masih belum lupa saat malam hari dimana Andrew datang untuk meminta maaf, namun hatinya masih sangat marah dan kesal atas perbuatan sahabatnya yang beraji meneror Claire.


" Aku, berterimakasih atas pertolonganmu!" kata Andrew yang kini canggung sebab beberapa bulan yang lalu ia masih ingat bila Sada mengusirnya secara terang-terangan kala ia menangis- nangis meminta maaf.


Jelas itu salahnya. Sada pantas kecewa dan marah dengan tindakan bodohnya.


" Kenapa kau di keroyok seperti tadi?" kata Sada yang tak bisa menahan diri untuk tak bertanya.


Tapi yang di tanya tiba-tiba tersenyum kecut. Menyiratkan ketidakberesan.


" Sepertinya aku telah mendapatkan karmaku Da!" ucapnya dengan nada sumbang.


Sada mengerutkan keningnya. Belum paham dengan yang di maksud salah satu sahabatnya itu.


" Gina tega menyelingkuhi ku secara terang-terangan setelah aku tak mau meneruskan niatnya menyaingi popularitas perusahaan Claire. Wanita sundal itu benar-benar membuat hatiku sakit!" terangnya dengan senyuman getir.


Sada menatap prihatin sahabatnya yang sepertinya sudah mendapat pelajaran. Kini gantian dia yang merasa iba. Memang seperti itulah cara kerja kehidupan, semakin kau berusaha menjadi lebih baik dan kembali ke jalan yang benar, maka ujian akan semakin banyak berdatangan.


" Aku dan Zayn dulu sudah sering mengingatkanmu soal wanita itu. Tapi sepertinya kau harus di ingatkan langsung oleh yang maha kuasa!"


Andrew mengangguk dengan senyum getir yang masih ada. " Terimakasih atas bantuanmu. Aku pulang!" pungkas Andrew yang merasa mungkin Sada masih belum mau memaafkannya.


" Tunggu!" sergah Sada. Membuat langkah Andrew terhenti.


" Aku memaafkanmu. Bisakah kita sekarang percaya satu sama lain lagi?" ucap Sadawira dengan setulus hati. Menatap lurus wajah sahabatnya yang kini menjadi sesak di dada akibatnya terharu.


Mata dan hidung Andrew tiba-tiba memanas. Terbuat dari apa hatimu wahai Sadawira? Tak menyangka setelah semua yang dia lakukan pria itu masih masih memaafkannya.


" Terimakasih kawan. Terimakasih untuk semuanya! Let's start all over again!" jawab Andrew yang menarik tubuh kekar sahabatnya lalu memeluknya erat.


Done!


Hati Sadawira sekarang semakin terasa lega dan lapang. Ruang-ruang di sanubarinya terasa bersih dan tak terbebani suatu apapun. Ia merasa telah menjadi pemenang kehidupan.


Namun saat sedang asyik saling meluapkan getaran emosional jiwa yang menggelegak, bel rumahnya tiba-tiba berbunyi.


" Sebentar!" teriaknya lalu menepuk pundak Andrew penuh kebanggaan.


Sada lantas bergegas membuka pintu rumahnya.


CEKLEK!


" Ayah! Kenapa pulang ke Atana gak bilang-bilang sih?"


...----------------...


Dua bulan terakhir ini, Melodi sering bolak balik dari Atana ke tempat tinggalnya di Indonesia. Menjadi pemimpin ternyata tak sesantai seperti yang ada di kisah novel. Ia malah semakin sibuk karena harus sering melakukan pertemuan dengan berbagai pihak.


Apalagi, kerjasamanya dengan perusahaan Zayn juga terbilang sangat menguntungkan.

__ADS_1


Ia meminta sekretarisnya untuk mewakili pertemuan karena ia harus terbang ke Atana lagi guna menghadiri pernikahan kakaknya yang sebentar lagi bakal terselenggara.


" Tian, nanti kalau sudah selesai semuanya kamu langsung email ke saya ya. Sama satu lagi, iklan produk yang kemarin kamu bilang udah jadi, kamu post saja sudah. Jangan nunggu saya!"


" Baik Bu!"


Dari kantor ia langsung menuju ke bandara. Setibanya ia di Atana, saking terburu-burunya dia berjalan, ia bahkan sampai menabrak seorang wanita yang seperti juga baru landing dari maskapainya lain.


BRUK!


" Astaga maaf!"


Kemudian akhirnya saling bersipandang.


" Hey, kamu kan yang kapan hari sama Zayn itu bukan?" sapa wanita itu dengan suara nyaring.


Melodi terkejut. Sejak ia kesal dengan Zayn beberapa bulan yang lalu, ia memang tak lagi tahu soal pria itu. Kesibukan benar-benar menelan waktunya. Tapi yang ada di depan saat ini benar-benar membuat kembali kesal demi mengingat malam itu.


" Iya benar. Kamu temannya Zayn kan?"


Olivia mengangguk percaya diri.


" Teman dekat!" sergah Olivia dengan senyum percaya diri. Membuat Melodi mencibir dalam hati.


" iiiehhh!"


" Kamu juga baru landing?" bertanya sebab melihat koper Melodi berlabel kan bag tag salah satu maskapai.


" Iya!"


" Kok gak di jemput pacar kamu. Yang kapan hari itu pacar kamu kan? Eh tapi, beneran waktu aku dan Zayn berada di Bar itu kamu, kamu atau bukan?" kejar Olivia yang makin membuat Melodi resah dan tak nyaman.


" Emmm, salah lihat mungkin!"


Namun saat keduanya masih sibuk meributkan tentang kebenaran tempo hari, suara klakson membuat keduanya menoleh.


TIN TIN


What?


Melodi konyan menoleh. " Ish, males banget!"


"TIN!"


" Sory telat Vi, tadi macet jalannya!" ucap seorang pria yang nampak keren di balik kacamata hitamnya.


" Gapapa. Eh aku ketemu sama Melodi nih. Kamu udah ada yang jemput Mel? Barengan aja!"


Apa, no way!


" Emm ti- tidak usah. Aku dari sini mau langsung ke butik soalnya. Nggak apa-apa kalian duluan aja!" jawabnya nyengir kuda.


Melodi pura-pura tenang meski ia tahu bila Zayn sedari tadi terus menatapnya tanpa henti. Membuatnya grogi.


" Benarkah, ya sudah kalau begitu!"


" Lihatlah dia, bahkan dia tak menyapaku. Dasar brengsek!"


Dan seperti yang diucapkan Melodi, ia yang memilih menggunakan taksi langsung menuju ke butik dimana Claire dan Sada sudah menunggunya untuk fitting baju yang akan mereka gunakan pada pernikahan mereka Minggu depan.


Namun kemacetan yang parah membuat Melodi datang terlambat.


" Sory aku terlam.." ucapannya mendadak menguap sebab matanya tak sengaja melihat Zayn yang terlihat duduk sembari membaca majalah diantara kedua kakaknya itu.


Membuat Sada dan Claire saling menatap.


" Kenapa kamu Mel?"


Melodi menggeleng tak percaya. Kenapa pria itu ada di sini?


" Dia?" ucap Melodi terlolong tak dapat melanjutkan.


" Zayn?" terka Claire mengangkat alisnya.

__ADS_1


Melodi mengangguk bodoh.


"Tentu saja dia akan ikut. Ada Andrew, Zayn juga dua anak buah Wira yang bakal jadi groomsmaid!" terang Claire yang praktis membuat Melodi membatin kesal.


" Gila ya, kau tahu kalau kau akan kemari, tapi kau tadi tidak menawariku tumpangan?" seru Melodi kesal kepada Zayn tanpa memperdulikan kebingungan Claire dan Sada.


" Olivia sudah menawarimu kan tadi? Kau saja yang tidak mau." jawab Zayn enteng sambil melanjutkan aktivitas bacanya.


" CK!" Melodi mendecak saking geramnya. sungguh pria yang sangat menyebalkan.


Dua catin (calon pengantin) itu sampai terlolong karena melihat Zayn dan Melodi yang malah bertengkar.


" Emmm, karena aku udah selesai dan Neo juga udah nunggu di mobil, aku sama Claire duluan ya. Mel, kamu pulang sama Zayn nanti!"


Apa?


Melodi sampai tak menjawab saking kesalnya. Sada dan Claire akhirnya pergi meski mereka masih merasa aneh dengan atmosfer yang terasa panas.


" Selamat datang di Atana lagi. Senang masih bisa melihatmu memarahiku!" ucap Zayn seraya melipat majalah fashion itu dengan cepat sesaat setelah Claire dan Sada pergi.


Membuat Melodi semakin meradang.


" Sialan!"


-


-


Seperti biasa, Melodi jika marah pasti memilih duduk di belakang dan membiarkan pria kurang ajar itu menjadi sopir. Padahal, Janu dan Henry bisa saja duduk di jok paling belakang. Tapi kengototan Melodi membuat dua karyawan Sada itu lebih memilih diam dan menurut. Tak mau mencari masalah.


Zayn terlebih dahulu menurunkan Janu dan Henry yang meminta turun di kantor karena masih ada pekerjaan yang musti mereka selesaikan. Dan terakhir, Zayn juga menurunkan Andrew di kantornya.


Dan hal itu sukses menarik perhatian Melodi. Itu bukannya pria yang....?


" Pssst, si Wira serius makai pria itu?" tanyanya kepada Zayn yang fokus ke arah jalan.


" Pria siapa?" sahut Zayn datar.


" Itu yang tadi!"


" Iya yang mana?"


" Lu tu selain ngeselin kenapa jadi mendadak bodoh sih!"


Zayn langsung menghentikan mobilnya demi Melodi yang marah-marah.


" Kenapa di berhentikan?" tanya Melodi panik setengah takut.


" Tadi itu ada tiga orang. Janu, Henry sama Andrew. Yang mana yang kamu maksud?" kesal Zayn mulai tak sabar.


" Yang pernah nyerang kakakku lah, siapa lagi!"


" Makanya kalau ngomong yang jelas. Kenapa sih harus marah-marah kalau ngomong sama aku?"


Tapi gadis itu justru semakin kesal.


" Setiap orang pernah salah. Dan Andrew sudah mengakui kesalahannya!"


" Terus kalau berbuat lagi gimana?"


" Perempuan ini memang gini ya? Selalu stuck dan tidak mau move on!"


" Apa kamu bilang?"


" Kamu gak capek marah-marah terus ke aku?"


" Hih!" Melodi mencibir.


Keadaan seketika senyap. Namun kata-kata selanjutnya membuat mata Melodi hendak keluar dari tempatnya.


" Aku kangen sama kamu Mel!"


" Apa?"

__ADS_1


__ADS_2