My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 94. Tak seorangpun tahu


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


POV Neo


Sejak kecil aku sudah terbiasa dengan sosok Ibu yang tak bersanding dengan manusia bernama Ayah. Ibu mengatakan jika Opa buyut dan Opa Leo memiliki arti yang lebih dari sekedar keberadaan Ayah.


Hari demi hari yang berlalu, membuatku merasa terbiasa. Namun saat aku duduk di bangku kelas A, temanku yang bernama Brandon kerap membuliku. Dan sialnya, aku yang biasanya diam menjadi tak kuasa untuk terus bergeming.


Ku tonjok wajahnya hingga anak itu menangis. Sekarang bagaimana rasanya? Enak bukan? Tapi karena sorakan teman-teman, bocah yang giginya ompong satu itu merangsek kerah bajuku dan memukulku balik.


Boom!


Meski aku sempat berhasil menghindar, namun hinaan yang keluar dari mulut culas Brandon justru menjadi luka paling dalam dan membekas di hati.


" Neo gak punya Ayah! Neo gak punya Ayah, hahahaha!"


Ingin sekali rasanya aku mencekik bocah tengik itu hingga kesulitan bernapas. Tapi halangan tangan ibu kepala sekolah membuatku mundur.


Ibu akhirnya memutuskan untuk pindah ke kota lain demi ketenangan kehidupan. Entah sudah kali keberapa Ibu selalu seperti ini. Mbak Juwi lah saksinya, wanita yang memiliki usia lebih tua dari ibukku itulah yang selama ini memiliki peran penting dalam tumbuh kembangku.


Sekolahku yang baru lumayan nyaman. Meski beberapa muridnya ada yang mengenakan sepatu yang aku yakini berasal dari loak. Alias bekas. Kusam. Kuno.


Tempat baruku ini memang terkenal dengan industrinya. Lebih banyak pabrik ketimbang rumah-rumah penduduk. Jadi wajar saja jika sekolahnya campur aduk. Tapi kesemuanya itu tak menjadi soal bagiku. Aku kerasan sebab tak ada murid yang mulutnya kurang ajar seperti Brandon.


Singkat cerita semua hal yang terjadi kini terasa normal. Ibu guru yang ramah, teman-teman yang asyik. Semua begitu terasa sempurna.


Hingga sampai saat aku bertemu seorang pria tampan pada peringatan hari Ayah di sekolah. Belakangan baru aku ketahui jika pria itu ternyata merupakan seorang Donatur, yang kerap dan tak pernah mangkir untuk memberikan bantuan-bantuan serta makanan lezat kepada sekolah kami.


Dia baik, supel dan mengerti banget soal anak-anak. Dan yang paling penting dia tampan. Apalagi, pria yang kini ku panggil paman tampan itu juga menyukai tokoh superhero the Avengers. Yeah!

__ADS_1


Semua terasa menyenangkan. Pria itu juga pernah di undang Ibu untuk makan malam atas permintaanku. Ya, meski agak aneh sih. Karena Ibu seperti tak nyaman saat paman datang. Mungkin grogi.


Kami semakin dekat bahkan pernah makan diluar bersama. Seketika aku berpikir, apakah seperti ini rasanya memiliki Ayah? Sangat menyenangkan sekali apabila paman tampan yang menjadi ayahku. Hah, seandainya hal itu terjadi


Tapi semua hal itu harus ku kubur dalam-dalam, sebab Opa malah mengatakan bila Om Edwin lah yang nakal menjadi ayah sambungku.


Very- very bad!


Om Edwin tidak jahat. Dia juga sangat baik. Tapi tidak tahu kenapa aku tidak suka saja bila ibu menikah dengan pria itu.


Walau aku tak terlalu mengerti definisi ayah sambung, tapi yang jelas Ibu akan menikah dengan Om Edwin.


Kenapa?


Kenapa Opa, Oma dan semua orang malah memutuskan semaunya tanpa melibatkan aku? Apakah karena aku anak kecil? Tapi bukankah aku juga anak Ibu? Orang yang seharusnya memiliki hak yang sama untuk berkomentar.


Aku kecewa, marah dan meratap. Aku benci hari itu. Hari dimana Ibu dan Om Edwin akan melangsungkan tanya. Di waktu yang sama, kenapa paman tampan juga tak pernah muncul. Aku sangat membutuhkannya bahkan sangat.


Aku menunggu aunty Melodi lengah. Duduk di barisan depan menyaksikan pernikahan ibu sendiri benar-benar tak semengasyikkan seperti menonton Batman. Namun tante Eva yang sibuk dengan anaknya membuat rencana kaburku berjalan lancar.


Aku melesat keluar usai mengendap-endap pelan pilihan ibu-ibu bersanggul Hedon yang entah itu siapa. Aku menyeruak barisan orang dewasa yang bau parfumnya bahkan sampai membuatku hampir mabuk. Sungguh sial.


Aku berniat menemui paman tampan. Aku kesal kepada Ibu. Kenapa Ibu tak memperdulikanku? Kenapa semua orang selalu bertindak semaunya.


Namun aku lupa bila aku hanyalah seorang anak kecil. Aku yang berhasil melesat kabur ke jalan raya akhirnya bingung harus kemana. Tak mengetahuinya alamat apalagi nama perusahaan Paman tampan jelas perpaduan yang buruk.


Sedikit menyesali keimpulsifan diri sendiri kenapa tidak membawa uang. Suara-suara klakson yang bersahutan makin membuatku bingung. Aku merasa semakin mual, pusing dan gemetar akibat terlalu banyak menghirup bau bensin. Aku lantas berjalan mengikuti insting, berharap bisa menemukan kendaraan yang mau berbaik hati mengangkutku. Namun alih-alih mendapatkan pertolongan, teriakan keras yang berujung pekikan dari mulut seseorang justru membuatku kaget.


Aku melihat kendaraan memutari tubuhku tanpa jeda. Bahkan tak jarang ada yang mengeluarkan kata-kata kotor kepadaku. Aku makin bingung, takut dan panik. Dan saat aku hendak melangkah.

__ADS_1


BRAK!


Aku merasa sesuatu yang berat menabrak tubuhku. Aku seperti berteleportasi ke dunia lain detik itu juga. Dan sejurus kemudian, pandanganku kian gelap.


Aku tak sadarkan diri.


Dan anehnya, saat aku membuat mataku, aku benar-benar telah berada di tempat lain dengan tanganku yang terasa sakit. Kenapa ini? Kenapa ada infus yang tertancap di punggung tanganku? Mulutku terasa pahit, sekujur tubuhku juga linu.


Aku ingat saat terakhir kali sadar misiku adalah menemui paman tampan. Aku terus berteriak, memberontak, melakukan segala cara agar semua orang mau menurutiku. Aku membutuhkan Paman tampan. Sangat membutuhkan.


Namun beberapa saat kemudian, aku merasa sangat mengantuk. Aku seperti kembali kehilangan daya sadar. Apa seseorang sengaja membuatku pingsan?


Beberapa jam kemudian, aku kembali terbangun dengan rasa mata yang begitu lengket. Seolah tak kuat untuk terjaga. Aku juga tak melihat Ibu di sampingku.


Hanya mbak Juwi yang nampak terkantuk-kantuk dan akhirnya diminta aunty Melodi untuk beristirahat.


" Makan ya Neo. Ibu sedang menemui Paman tampan. Katanya kau ingin bertemu. Jadi kau harus sehat!"


Mendengar aunty mengatakan hal menggembirakan itu, aku langsung bersemangat membuka mulutku meski sebenarnya rasanya sangat hambar.


Namun hingga matahari telah berada di atas kepala, ibu tak kunjung kembali. Aku seperti di seret oleh sesuatu yang membuat mataku lengket sehabis di berikan suntikan oleh perawat berwajah cantik tadi.


Dan beberapa waktu kemudian tepatnya sore hari, suara isakan lirih mengganggu tidurku. Siapa itu, kenapa mengganggu tidur anak kecil sih?


Aku hampir saja menjerit manakala melirik paman tampan yang berdiri di dekat ranjangku. Namun aku memutuskan untuk menutup mataku kembali dengan cepat, saat Paman dan Ibu berdiri begitu dekat dengan posisi wajah yang kalau tidak salah kian tak berjarak.


Entah nyata atau mimpi, tapi aku begitu senang manakala melihat Ibu dan Paman berada di sana.


Apakah seperti ini yang dinamakan keluarga? Jika ini mimpi, maka aku tak ingin segera bangun.

__ADS_1


~Neo


__ADS_2