
...🥀🥀🥀...
Mobil yang berbelok kasar membuat Nino khawatir. Sebenarnya ada masalah apa hingga membuat bosnya itu tiba-tiba pergi bahkan tanpa menyebutkan kemana tujuannya.
" Tumben banget si bos. Hah, semoga tidak terjadi apa-apa." gumamnya menatap resah mobil yang kini telah lenyap dari pandangan mereka.
Sadawira yang sudah menerima informasi lokasi melalui pesan yang di kirim oleh Claire, langsung melesat dengan kecepatan tinggi. Perkara kenapa dan ada apa yang menjadi sebab musababnya, Sadawira tak lagi mempersoalkan hal itu. Karena mendengar suara Claire yang ketakutan saja sudah membuat darahnya mendidih.
" Tunggu aku Claire!" kata Sada dengan fokus, yang kini menambah kecepatan mobilnya.
Di lain pihak, Claire yang kini menangis karena pintu besi itu terus saja di gedor-gedor dari luar hanya bisa berdiri dengan tubuh yang gemetar. Keadaan gelap gulita, dan pikiran Claire juga masih resah sebab memikirkan petugas keamanan yang tak kunjung datang.
Jangan-jangan tejadi sesuatu di bawah sana. Jika tidak, pegawainya itu pasti sudah datang menyusulnya ke lantai atas.
Kendati situasi semakin mencekam, namun ia masih bisa bersyukur karena di saat semua nomor orang yang ia kenal tak ada yang menjawab, bahkan ada yang tak bisa ia hubungi, Tuhan masih berbaik hati karena Sadawira mau menjawab telepon darinya.
Walaupun itu artinya, dia telah membenturkan segenap larangan keras sang Papa. Entahlah, mungkin Claire tak menyadari bila rasa cinta itu masih ada di dalam hatinya.
BROK BROK BROK!
" Wira, cepatlah datang!" ucapnya di sela isak tangis yang begitu keras manakala seseorang yang dari luar itu mencoba merusak pintu ruangannya.
Suasana berubah menjadi tegang dan menakutkan, Claire bahkan tak sadar jika ia terus menyebut nama Wira dalam gumamannya. Apakah itu merupakan suatu bukti bila sebenarnya Claire memang masih memikirkan Sadawira?
Namun anehnya, beberapa saat kemudian suara itu tiba-tiba sirna. Senyap di telan keheningan malam yang mengerikan. Claire kini terdiam saat suara gedoran itu tak lagi terdengar.
Ia berjalan mundur sembari menajamkan pendengarannya dan berusaha menenangkan diri meski rasanya ia benar-benar sudah tidak tahan.
Namun beberapa saat kemudian,
BRUAK!
Claire begitu terperanjat saat seseorang yang mengenakan serobong wajah, serta pakaian yang serba hitam itu, menjeblak pintu setelah berhasil membuka paksa pintu dengan sesuatu.
" Siapa kau, jangan mendekat!" hardik Claire yang spontan meraih apapun guna melindungi dirinya. Tubuhnya benar-benar tegang, takut kalau-kalau orang itu menyakiti dirinya.
Jantungnya sudah tremor tak karuan, lututnya gemetar hebat dan keringatnya semakin membanjiri kening. Claire yakin jika sosok yang kini berjalan mendekat ke arahnya tanpa suara itu adalah seorang pria.
" Jangan mendekat ku bilang!" teriak Claire saat pria misterius itu semakin mendekat dan membuat dirinya tak lagi bisa berkutik.
Namun alih-alih menurut, pria itu terus berjalan maju dan membuat Claire semakin terpojok.
Claire mulai mengarahkan vas ke arah depan namun langsung di sambar oleh pria berpakaian serba hitam itu dan langsung memecahkan brnda itu dengan cara di lemparkan.
PRYANG!
Membuat Claire semakin ketakutan.
" Apa yang kau lakukan? Jangan mendekatiku brengsek!"
Tolong!"
" Tolong!"
Claire terus berteriak dan berharap ada orang yang mau mendengar teriakannya. Meski ia tahu, di dalam kantornya ini tinggal dirinyalah yang tersisa.
Pria itu tak mengeluarkan suara apapun dan langsung menyambar tangan Claire lalu menariknya. Claire yang berontak dan berusaha menyerang pria itu, akhirnya harus merasakan tamparan keras karena berusaha melawan.
PLAK!
" Ahhhh!" ringis Claire yang kini menangis karena kesakitan.
Pria itu benar-benar tak memiliki belas kasihan. Apa tujuan pria itu mendatangi dirinya malam ini? Apa sebelumnya dia sudah mengincar Claire?
Tak berhenti di situ, Claire yang berusaha kabur karena takut, kembali di tarik lalu di tampar untuk kedua kalinya.
PLAK!
Membuat Claire bagi menghadapi kematiannya.
Sakit, pedih dan panas. Itulah yang kini di rasakan Claire. Ia sempat menyusut bibirnya yang tampaknya sedikit berdarah. Keparat di depannya itu benar-benar tak tanggung-tanggung dalam menyakitinya.
__ADS_1
Saat ia beringsut mundur dengan tangis yang tak lagi bisa ia tahan, Claire tiba-tiba teringat dengan Neo dan adiknya yang kini berada di rumah. Ia benar-benar merasa tak memiliki harapan.
" Neo!" jeritnya dalam batin yang semakin putus asa.
Jika ini akhir hidupnya, maka setidaknya ia harus bisa meninggalkan jejak agar orang tahu bila malam ini ia di serang orang misterius.
" PRYANG!"
" Aaaargh!"
Orang itu kini memekik saat Claire tiba-tiba memukulkan sebuah benda yang entah itu apa, dan tepat mengenai kepala di pria saat pria itu hendak menangkap lengan Claire.
" Kurang ajar!" hardik pria itu yang akhirnya mau membuka suara.
Dapat Claire yakini jika orang itu terdengar meradang usai ia pukul.
Namun saat pria itu hendak melayangkan pukulan kembali, sebuah derak langkah yang datang dengan deru napas terengah-engah membuat keduanya menoleh.
BRAK
" Claire!"
" Wira!!"
Pria misterius yang berada di depan Claire seketika terkejut manakala mendengar suara seorang pria. Melihat adanya ancaman, pria itu langsung menyongsong kedatangan pria yang entah kenapa bisa berada di tempat itu menggunakan pukulan.
BUG!
Namun alih-alih memukul, pria itulah yang justru mendapat hadiah bogem mentah dari Sadawira yang terlihat begitu marah.
BUG!
" Siapa kau, beraninya kau dengan perempuan!"
BUG!
GROBYAK!
" Siapa kau?" tanya Sada yang kini mencengkeram kerah baju pria misterius itu.
Otot tangan dan juga rahangnya terlihat mengeras. Mata Sada memerah. Menegaskan semarah apa pria itu saat ini.
Namun pria misterius itu tiba-tiba menendang kaki Sadawira dan terjadilah perkelahian yang sengit antar keduanya
Keadaan makin gaduh dan bertambah mencekam, saat Claire dengan mata kepalanya melihat Sadawira menghajar pria itu di bawah temaram flash light ponselnya.
Dapat ia lihat jika pria misterius itu kesakitan saat tubuhnya menabrak lemari besi usai di lempar oleh Sadawira. Telapak serta buku-buku tangan Sada tampak memerah demi aksi yang menegangkan itu.
Melihat musuh telah terkapar, Sada lanjut mendatangi Claire yang terlihat begitu pucat karena ketakutan.
" Claire, kau tidak apa-apa?"
Claire tak menjawab tapi langsung memeluk Sadawira dengan wajah yang lega. Wanita itu menangis di pelukan Sadawira yang kini terkejut sebab tak menyangka bila Claire akan memeluknya seperti ini.
" Terimakasih Wira. Terimakasih karena sudah datang tepat waktu!"
Hati Sadawira seketika menghangat. Aroma ketakutan yang ia hirup sudah menjadi bukti bila Claire benar-benar sedang dalam bahaya.
" It's Ok. Ada aku, jangan takut!"
Pria misterius yang melihat adanya kesempatan untuk kabur saat melihat keduanya masih saling berpeluk, kini langsung keluar dan mengunci kembali pintu yang semula ia bobol agar Sadawira tak bisa mengejarnya.
CEKLEK!
" Wira, pintunya!" pekik Claire panik.
Sadawira langsung melepaskan pelukannya lalu bergegas mengecek pintu itu dan terdengar umpatan lirih dari bibir Sadawira namun masih bisa di dengar oleh Claire.
" Bajingan!" umpat Sada yang mengetahui jika pintu itu telah di kunci kembali.
Sada yakin pria misterius itu sengaja melakukannya agar ia tak dapat mengejarnya.
__ADS_1
Tapi Sadawira masa bodoh. Yang penting Claire selamat. Pria jantan itu terlihat kembali memeluk tubuh Claire yang kini berganti terkejut.
" Syukur kau tidak apa-apa. Terimakasih karena mau menghubungi ku saat dalam keadaan bahaya seperti ini!"
Sada memeluk erat dengan perasaan lega. Ia tak akan bisa menerima kenyataan jika sampai sesuatu terjadi kepada Claire.
Mata Claire tiba-tiba terasa panas. Mau tidak mau ia harus mengakui jika ia memang masih memikirkan Sadawira. Dan nyatanya, pelukan ini benar-benar menenangkan.
" Sekarang bagaimana kita keluar?" tanya Claire yang melonggarkan pelukannya. Menatap Sada muram.
" Jangan khawatir. Kita akan keluar dari sini, hm?"
Claire mengangguk. Di tatapnya Sadawira dari dekat yang terlihat seperti memperhatikan wajahnya dengan saksama. Namun saat Sada memperhatikan ke arah bibir Claire, matanya membulat manakala melihat bercak merah yang di sertai bengkak di area itu.
" Tunggu dulu, apa pria tadi memukulmu?" tanya Sadawira yang tampak terkejut demi melihat bibir Claire yang terluka.
Claire mengangguk sebab memang itulah kenyataannya. Ia bahkan masih merasakan nyeri di sekitar wajahnya usai di tampar.
" Kurang ajar!" geram Sada yang tentu tak rela mendengar Claire di perlakuan sekasar itu.
" Aku tidak tahu siapa pria tadi. Tapi aku yakin jika orang itu pasti orang suruhan sainganku!"
Sada tertegun. Hatinya sakit demi mendengar jika Claire sepertinya mengalami masalah besar dan ia baru tahu. Oh sial!
" Saingan?" ulangnya dengan wajah serius.
Claire tak menjawab pertanyaan Sada namun memilih mendudukkan tubuhnya di lantai dan langsung diikuti oleh Sadawira.
" Produk yang aku buat di klaim oleh perusahaan baru. Dia bahkan mengajukan gugatan!"
" What?" pekik Sada tak percaya.
Claire tersenyum, mungkin ia tak akan bersikap ketus lagi kepada Sada kali ini. Lagipula, ia tak cukup memiliki energi untuk marah-marah. " Tidak perlu di pikirkan. Terimakasih banyak sudah menolongku!"
" Claire?"
Sada menatap dalam dua manik mata Claire yang terlihat tak berdaya. Dua manusia yang terbentur permalasahan restu, karena kesalahpahaman masalalu yang begitu rumit itu terlihat hanyut dalam keheningan.
Perbuatan cela yang pernah dilakukan oleh Sadawira lah yang kini menjadi halangan terbesar bagi keduanya, meski semua itu adalah sebuah kesalahpahaman yang belum menemui titik terang.
" Tolong jangan bahas apapun Wira. Aku menghubungimu karena semua orang tak bisa aku hubungi saat keadaan darurat tadi." kata Claire yang kini mengalihkan pandangannya sebelum ia semakin terlena.
" Dan memaksamu membuka blokir nomorku?" sindir Sadawira.
Claire mendecak karena malu. Tapi itulah kenyataannya. Kenyataan bahwa selama cinta masih ada, maka hati keduanya sejatinya masih saling bertaut.
" Maaf!" kata Claire lesu dan memilih menyenderkan kepalanya ke dinding dengan posisi kaki yang menggelasar ke lantai.
Suasana berubah hening sebab tak seorangpun berminat untuk angkat bicara. Dalam kegelapan yang bersambut dengan cahaya redup ponsel, keduanya tampak menunggu seseorang yang sudah mereka hubungi untuk datang menolong.
Ya, meski bibir Claire terkatup, namun pikirannya kini begitu riuh. Kenapa waktu dan kesempatan selalu memberinya peluang untuk bertemu? Dan kenapa semakin ia menahan, semakin besar pula getaran untuk kembali ke masa itu.
Ia melirik Sada yang terlihat mengirimkan pesan kepada seseorang yang entah itu siapa. Mungkin seseorang yang diminta untuk datang menemui mereka.
KRUSAK!
" Apa itu?"
Claire reflek memeluk Sadawira demi terkejut kala mendengar suara krusak-krusuk yang mengagetkan. Sada kontan terkekeh sebab ternyata segalak apapun Claire, wanita itu tetaplah penakut.
" Maaf!" ucap Claire malu karena ia malah di tertawaan oleh Sadawira.
"Tapi Claire, selain terlihat seram. Tempat ini benar-benar memiliki aura negatif!"
Membuat Claire mengernyitkan keningnya.
" Apa kau tahu, waktu aku kemari tadi aku melihat...."
" Jangan mengatakan apapun!"
Sada menahan tawa saat Claire kini tiba-tiba melompat ke pelukannya dengan wajah tegang sebab takut akan cerita Sada yang sebenarnya hanyalah bualan semata.
__ADS_1
Detik itu juga, Sada yang kembali tergelak benar-benar tak ingin waktu berubah menjadi pagi.