My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 113. Panggil aku seperti itu


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Beberapa hari kemudian.


Semua yang terjadi, tampaknya semakin menegaskan bila roda keberuntungan Sada memang sedang berada di atas. Semesta membuktikan cara kerjanya. Bahwa ujian yang datang tak kenal kasihan kala menghantam, hanya hadir untuk orang yang akan naik kelas hidupnya.


Selain ia kini sedang sibuk melakoni sisi kehidupannya yang lain sebagai Ayah sekaligus suami, ia juga makin yakin dalam memimpin ratusan karyawan di perusahaan Plywoodnya yang berkembang pesat berkat kerjasamanya dengan Diva.


Usai mengantar Papa David dan Papa Leo berserta istri untuk terbang kembali ke Hangxiang, Sada memboyong Claire, Neo serta mbak Juwi ke rumahnya yang sudah ia lakukan perubahan.


Ia meminta Andrew untuk terlibat dalam urusannya kali ini. Pria yang pernah melakukannya kesalahan itu dengan senang hati melakukan apa yang diminta oleh Sadawira.


Sada benar-benar memprepare semuanya dengan sangat baik. Kecintaannya kepada keluarga, jelas menjadi hal yang bakal dia prioritaskan.


Neo tak hentinya berceloteh saat sedang dalam perjalanan. Mulai dari ingin pamer ke teman-temannya dan musuhnya dulu, Brandon. Hingga ribut ingin memiliki kamar sendiri dengan desain superhero yang lengkap.


" Ayah, apa kamarku nanti besar?"


" Tentu saja. Neo pasti akan suka!"


" Sudah Ayah siapkan?" tanya Neo yang duduk di jok depan bersamai dirinya.


" Sudah dong. Om Andrew sama temannya yang menyiapkan!"


" Om Andrew yang sama Aunty Mel?"


" Bukan. Itu om Zayn. Yang pakai kalung itu loh, ingat nggak?"


" Yang pakai kalung? Oh iya aku ingat. Dia yang bisik-bisik sama Tante Tania ih, hihihi!"


Maka Claire dan Sada langsung bersipandang melalui rear vission mirror. Mudah-mudahan anaknya tak melihat hal lainnya. Terlalu berbahaya. Bukan karena apa, mereka tahu bila anaknya sangat ember.


Bocah itu girang bukan main. Sepertinya Tuhan sudah mengabulkan semua permintaannya. Bahkan tak tanggung-tanggung, ia kini memiliki semua hal yang dulu hanya bisa ia dengar dari bibir teman-temannya, sosok Ayah.


Setibanya mereka dirumah, Nino yang sudah tahu bila bosnya akan kembali hari ini tampak tak sabar dan kini menunggu depan teras luas dengan wajah bahagia.


Pria wandu itu menyongsong Nyonya besarnya yang akan menghiasi rumah sunyi Sada mulai hari ini. Sungguh membahagiakan.


" Nah itu Paman Nino!" tunjuk Sada ke arah pria kemayu yang wajahnya sudah berseri-seri.


" Paman Nino?" ulang Neo tampak memperhatikan sosok jenaka di depan sana.


Sang Ayah mengangguk meski tak dilihat oleh anaknya. " Dia yang bantu-bantu di rumah Ayah selama ini . Kayak mbak Juwi di rumahnya Neo! Masakannya enak loh!"


" Benarkah, aku mau di buatkan sup ikan!" jerit Neo bersuka ria.


Membuat semua orang senang manakala mendengarnya.


" Boleh, nanti Neo bilang ya? Sama sekalian kenalan!"


" Oke Ayah!"


Sementara dua laki-laki sedang heboh di depan, Claire yang di belakang hanya bisa menghela napas. Anaknya selalu saja membuatnya pusing. Ia takut bila mulut Neo tak bisa menahan ucapan yang aneh-aneh. Apalagi, dari penampilannya secara kasat mata, Nino terlihat sangat rawan kena buli.


" Ah akhirnya sudah sampai, selamat datang Neo!" sapa Nino ramah dan penuh kehangatan.


Neo yang di sapa oleh Nino seketika terlihat sangat bingung. Pria itu secara visual seperti Ayahnya, berambut pendek dengan pakaian yang sama. Tapi anehnya, pria itu mengenakan bando merah jambu seperti yang biasa di pakai mbak Juwi. Gaya bicaranya pun luwes. Jenis makhluk hidup versi apakah dia?


Juwi yang melihat calon rekan kerjanya juga sontak menjengit shock. Benarkah jika itu partner kerjanya? Tidak bahaya kah? Tapi pertanyaan macam itu tentu saja hanya berani mereka ajukan dalam hati.


Sada memahami keterkejutan semua anggota keluarganya itu. Kebisuan yang ada makin menegaskan bila Nino benar-benar membuat mereka semua berpikir keras.


" Apa kabar No?" sapa Sada memecah keheningan.


" Baik Bos!"


" Selamat datang Bu Bos, Saya Nino, assiten rumahtangganya pak bos!" ucap Nino sembari menggantungkan tangannya kepada Claire.


" Terimakasih Nino, salam kenal ya?" balas Claire akhirnya. Mencoba menahan dirinya untuk tidak tertawa.

__ADS_1


Selanjutnya mbak Juwi turut bersalaman meski ia mendadak merinding. Sada yang sadar dengan hal itu menjadi tergelak manakala melihat wajah Juwita yang tersipu-sipu ngeri.


" No, mulai sekarang mbak Juwi yang bantu kamu. Tapi tugas utamanya dia ngurus Neo!"


" Siap bos. Selamat datang partner kerjaku!" tukasnya sembari menyolek lengan Juwi yang wajahnya ketar-ketir.


Juwi kontan meringis kaku mematahkan kegugupan. Astaga, semoga dia tidak semenakutkan seperti apa yang di kira.


-


-


Claire tertegun sejenak manakala melewati sebuah foto lawas yang wajahnya mirip dengan Neo.


" Sayang ini?"


Sada yang sudah hendak memijak lantai atas kini kembali menoleh.


" When i was child!" jawabnya melemparkan senyum.


Sulit di percaya, foto itu benar-benar mirip dengan Neo. Plek ketiplek.


" Itu akan menjadi satu bukti konkret bila aku memang Ayahnya!"


" Dasar!" cibir Claire seraya tertawa tipis.


Claire lantas memasuki kamar yang luas bersama suaminya. Sementara Neo, jangan di tanya lagi. Ia kini menjadikan Nino tawanannya manakala ia berperan menjadi manusia laba-laba berkostum merah. Yeah!


" Taruh aja di situ, biar mereka yang bereskan!"


" No. Juwi juga capek. Lagian ini udah kebiasaanku di rumah. Selagi bisa, aku gak mau ngerepotin orang lain!" tolak Claire sembari melangkah masuk.


" Tolong lihat ini!" tunjuk Sada ke arah dadanya.


" Ada apa?" Claire mengernyit tak mengerti.


" Tidak aman bagaimana?" balasnya semakin mengerutkan alis.


" Suaranya dah dig dug karena bergetar. Bergetar karena senang mendapatkan istri yang baik hati!"


" Gombal!"


Sada justru tergelak manakala lengan kekarnya di pukul oleh tangan lembut Claire yang wajahnya bersemu merah.


" Yang tadi itu...?"


" Nino?" sela Sada menebak pertanyaan istrinya.


Claire mengangguk. " Kenapa harus dia?"


" Biar lebih aman. Selama aku gak tahu kabarmu. Aku benar-benar membatasi diri!"


Claire tertegun. Menatap iba wajah suaminya.


" Lebih aman!" imbuh Sada saat istrinya masih diam tercenung.


" Bukannya malah menakutkan?" balas sang istri.


" Maksudnya?"


" Kalau dia suka sama kamu gimana?"


Sada tak bisa untuk tidak tergelak manakala mendengar ucapan sang istri. Benar-benar mengocok perut.


" Kalaupun suka, setidaknya istriku gak cemburu!" jawabnya sembari mengecup bibir menggoda.


" Sada ih!"


Pria itu makin tergelak manakala tubuhnya di dorong oleh istrinya yang memberengut kesal.

__ADS_1


" Semoga kamu suka. Aku udah renovasi ini sejak sehari kita selesai acara!"


Claire tak langsung menjawab. Ia bergerak maju membuka isi lemari yang begitu rapih.


" Andrew yang kamu tugaskan?"


Sada mengangguk, " Siapa lagi!" jawabnya mengejar sang istri dengan menyandarkan tubuhnya ke dinding. Melihat istrinya yang sibuk mengecek isi lemari.


" Sepertinya, dia lagi nge gab assiten kamu!"


Claire sontak menghentikan kegiatannya. " Siapa, Tania?"


Sada kembali mengangguk. " Bagiamana menurutmu?"


" Tania baik dan cekatan. Tapi dia tulang punggung keluarga. Apa orang sekelas Andrew mau...."


" Sssttt, jangan ragukan kami bertugas soal sosialitas. Kami bukan orang-orang seperti itu!"


" Aku hanya ingin semua keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekatku turut bahagia seperti kita sayang. Aku hanya ingin sejauh kedamaian yang berkesinambungan!"


Mata Claire langsung memanas. Bagiamana bisa suaminya memiliki keinginan yang juga sama dengan dirinya. Sedetik kemudian ia memeluk suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Sada. Rasanya tentram damai.


" Sayang?"


" HM?"


" Mulai sekarang ini kamu yang bawa. Semua ini kamu yang atur!" jelasnya sembari menyodorkan beberapa kartu juga surat-surat penting.


" Hah?"


" Kamu sekarang Nyonya di rumah ini. Gaji Nino kamu juga yang atur. Harus pakai uang dari sini. Karena aku ingin menjadi suami dan ayah dalam arti sesungguhnya."


" Tapi Wira, aku..."


" Aku tahu kamu mandiri dengan segala usaha kamu. Tapi biarkan aku melakukan hal yang seharusnya aku lakukan dari dulu!"


Claire menitikkan air matanya. Pria di depan benar-benar luar biasa. Bagiamana dia tidak semakin cinta jika begini?


Ia memejamkan mata tiap kali hangat napas yang bersambut dengan lamutan manis itu menyentuh bibirnya. Ia begitu merasa dicintai tiap kali Sada mencecap bibirnya penuh kasih sayang.


Namun sejurus kemudian.


BRAK BRAK BRAK!


" Ibu, aku kebelet E'ek!"


Oh my...


Keduanya seketika menjengit. Selalunya lupa jika saat ini mereka telah memiliki penghuni lain yang berpotensi membuat hal intim macam itu terinterupsi.


" Sepertinya aku harus membiasakan diri dengan gangguan tuyul!"


" Mas Sada Ih!" kesal Claire karena Neo di sebut tuyul


Namun alih-alih mengaduh, Sada justru tertarik dengan satu kata.


" Kamu bilang apa tadi?"


" Bilang apa?"


" Yang barusan!"


" Mas Sada i..."


" Stop!"


Membuat Claire mengerutkan keningnya.


" Mulai sekarang, aku mau kamu panggil aku dengan sebutan seperti itu setiap hari!"

__ADS_1


__ADS_2