
...🥀🥀🥀...
Hari berganti sesuai dengan ketentuan alam. Tidak tangis, tidak juga tawa. Semua berganti mengikut riak dan dinamika waktu.
Di sebuah ruangan kerja yang rapih, Sada terlihat sibuk memandangi lembaran hasil USG dimana beberapa menit yang lalu ia barusaja mengantar sang istri menjalani pemeriksaan. Foto hitam putih dalam lembaran polaroid yang menunjukkan sebuah gambar paling menakjubkan. Anaknya.
Ini bukan pertama kali dirinya mengantarkan Claire ke dokter Obgyn. Tapi dadanya semakin dibuat berdesir manakala menatap gambar yang membuat matanya berkaca-kaca. Foto anaknya yang jenis kelaminnya telah jelas di yakini bila calon adiknya Neo nanti merupakan seorang perempuan.
Berulang kali Sada mengucap syukur dalam hati, sebab ada makhluk hidup berukuran kecil yang merupakan darah dagingnya, tumbuh dan berada dalam perut wanita yang dia cintai.
Fix, sebentar lagi ia akan menjadi ayah dari dua orang anak. Betapa bahagianya, betapa sempurnanya hidupnya.
TOK TOK TOK
" Masuk!" jawabnya dengan wajah yang masih terus menatap lembaran kecil di tangannya. Sama sekali belum bisa mengalihkan pandangannya pada objek lain.
Janu membuka pintu dan sedikit bengong saat melihat bosnya senyam senyum sendiri. Apa yang sedang di tatap oleh bos, begitu pikirnya?
" Permisi Pak!"
" Ya!"
" Sesuai petunjuk dari Pak Sada, regulasi baru mengenai karyawan wanita yang bakal dapat tunjangan saat melahirkan nanti sudah beres pak. Dan, ini beberapa daftar nama istri karyawan kita yang akan melahirkan di bulan yang sama dengan Bu Claire!" kata Janu sembari menyerahkan dua lembar map yang berbeda warna.
Sada meraih beberapa catatan yang rupanya sudah di golongkan sedemikian rupa oleh Janu. Ia sudah memantapkan hati untuk memberikan angin segar kepada beberapa karyawannya. Bukti nyata jika ia ingin menularkan kebahagiaan yang sedang ia dapat.
" Terimakasih banyak Janu. Kamu selalu cepat dalam membantu!" balas Sada usai melihat sekilas isi dalam map. Ada banyak rupanya orang yang akan melahirkan di bulan yang sama dengan anaknya.
Namun Janu yang masih berdiri di depan membuat dirinya tak bisa untuk tak bertanya.
" Kenapa masih di sini?" tanya Sada langsung.
Janu terlihat ragu-ragu untuk berucap. Jakunnya naik turun meredam grogi.
__ADS_1
" Anu Pak, saya..."
" Ada apa?" sahut Sada mulai curiga melihat kegugupan anak muda yang semakin kentara.
" Saya juga mau izin cuti. Saya mau..."
Sada menaikkannya sebelah alisnya. Semakin penasaran akan kata selanjutnya.
" Saya mau bertemu dengan keluarga Evelin!"
Wow!
Sada langsung mengulum senyum. Luar biasa anak muda. Bergerak cepat juga dia.
" Kapan? Segera kirim hari dan tanggalnya ke saya. Soal kerjaan kamu atur sama Henry gimana baiknya. Yang penting operasional lancar Jan. Soalnya mulai bulan ini, saya akan sangat sibuk. Adik saya mau menikah, istri saya mau persiapan lahiran. Kamu tolong bantu saya ya?" kata Sada berterus-terang soal daftar panjang kesibukan yang bakal menyita waktu.
" Siap Pak!"
-
-
Malam ini ia sedang sibuk mengulik beberapa model dress untuk ibu hamil agar masih kelihatan cantik. Neo yang malam ini sudah tidur di belakang bersama Nino, membuat Claire lebih leluasa.
Mereka bersyukur, Neo sudah bisa lebih mengerti soal keadaan ibunya yang mobilitasnya sudah terbatas.
Pintu kamar mandi terayun, menampilkan suaminya yang menguarkan keharuman sabun yang begitu segar usai mandi.
" Lagi lihat apaan sih? Dari mulai masuk sampai aku keluar kok nggak selesai-selesai?" tanya Sada melirik kegiatan istrinya.
" Lihat deh mas. Kayaknya lucu banget kalau Neo pakai tuxedo yang sama dengan kamu kayak gini. Sepatunya juga!" kata Claire menunjukkan gambar di ponselnya.
Sada yang sibuk menggosok rambut dengan handuk kecil, tampak menjengukkan kepalanya demi melihat gambar yang di tunjukkan oleh istrinya.
__ADS_1
" Bagus! Gaslah!" komen sang suami.
" Besok kita ke butik ini ya. Kita minta di cepetin. Tinggal satu bulan kayaknya gak nutut nanti!"
Sada mengangguk sambil mengacak rambut istrinya gemas. Apapun untuk istrinya.
" Kamu atur aja. Yang penting kamu suka!"
Sada benar-benar menjaga mood istrinya. Meminimalisir kesalahan yang mungkin saja berpengaru pada kesehatan mental sang istri. Ia juga makin sering membaca artikel soal kehamilan juga parenting. Tak ingin membiarkan istrinya menanggung sendiri segala sesuatunya.
Setiap malam sebelum tidur, ia juga membiasakan memijat lembut kaki istrinya sambil mengobrol tentang apa saja. Tak mempedulikan rasa lelah. Ia hanya ingin meratukan istrinya.
" Aku cuman mikir, gimana besok Melodi kalau udah nikah ya mas. Pasti bingung mau tinggal di mana." kata sang istri muram. Terlihat benar-benar mencemaskan adiknya.
" Maksud kamu Zayn?"
Claire mengangguk sembari menikmati pijatan yang membuatnya rileks. Ketidakpunyaan anak laki-laki bagi Papa Leo membuat Claire kini turut berpikir.
" Kamu jangan banyak pikiran. Zayn sudah pernah membahas hal ini denganku jauh-jauh hari!" balas Sadawira santai.
" Soal tempat tinggal?" terka Claire penuh minat.
Sada mengangguk, " Zayn sudah siap jika dia bakal sering bolak-balik. Dia yakin suatu saat semua permasalahan pasti juga akan menemukan muaranya. Dia masih lebih baik dari pada suamimu ini. Masih memiliki orangtua juga saudara!" kata Sada sembari tersenyum kecut.
Claire selalu trenyuh setiap Sada membicarakan hal seperti ini. Semacam teringat akan rekam jejak masalalu yang sulit.
" Sayang. Percayalah, semua bakal berjalan dengan baik. Kamu jangan terus merasa bersalah karena tidak bisa melanjutkan perusahaan Papa. Generasi akan terus ada. Lahir dan menggantikan kita para orangtua, hm?" ucap Sada lembut agar istrinya yakin jika apapun yang di kehendaki terjadi oleh yang kuasa, maka itulah yang terbaik.
Claire merasa beruntung karena memiliki suami sesempurna Sada. Meski ia tahu, tak pernah ada manusia di dunia ini yang benar-benar sempurna.
" Sayang?" panggil Sada menyeringai.
" Ada apa?"
__ADS_1
" Dua kali aja yuk, biar nyenyak tidurnya!"
" Mas Sada ih!"