
...🥀🥀🥀...
" Lepasin!"
Edwin akhirnya melepaskan tubuh Claire yang terus bergeliat minta di lepaskan. Ia kini dilempari tatapan paling sengit oleh tunangannya itu.
Juwi yang tahu bila di depan sana terjadi huru-hara seketika membawa Neo ke tempat yang aman, yang tak akan pernah membuatnya tahu, bila keluarganya sedang bertarung di depan sana.
" Ma, kenapa Mama diam aja sih?" protes Claire yang menyembunyikan ketakutannya akan kondisi Sada. Bagiamana tidak khawatir, ia bahkan masih ingat betul saat Sada terlempar ke bawah dengan ketidakberdayaan.
Dari sorot matanya, dapat Claire pastikan bila laki-laki itu memang tak mau membalas. Jelas ia tahu alasannya.
" Mama bisa apa Claire!" ucap wanita itu yang memang tak memiliki pilihan lain selain diam.
" Paling enggak Mama bilang dong ke Papa!"
" Claire, tenang dulu!" kata Edwin yang merasa suasana semakin diluar dugaannya.
" Diam kamu. Kamu senang lihat mereka berkelahi? Iya kan?" menghardik Edwin dengan sorotan mata paling kesal. Ia khawatir jika papanya akan lepas kendali lebih jauh lagi.
" Om Leo pria cerdas. Dia gak kan sampai merepotkan dirinya sendiri!"
" Jangan sok tahu!"
Menjadi pertengkaran pertama kedua orang yang selalunya kerap berbagi itu.
" Claire, jaga ucapan kamu!" bentak Mama yang tak setuju anaknya menghardik Edwin dengan ucapan ketus.
Claire Seketika mendecak sebab terlihat sangat kesal terhadap Edwin.
" Dimana adik kamu?"
"Melodi udah pergi sejak tadi." dia menjawab dengan tanpa memperhatikan sang Mama sebab sibuk menggulir ponselnya hendak menghubungi seseorang dengan raut kesal.
Namun tanpa di duga, Edwin merampas ponsel wanita itu sebab ia yakin pasti claire akan melakukan hal impulsif.
" Biarkan Om Leo melakukan bagiannya!"
-
-
" Kenapa anda begitu membenci saya padahal saya sudah mengakui bila saya telah salah paham dengan Demas!"
Dengan terhuyung-huyung, Sada berusaha bangkit meski rasa wajahnya remuk redam. Pukulan keras dari buku-buku tangan yang terlihat memutih saking geramnya itu tak pelak membuat wajahnya benjut.
" Diam kau!"
" Apa karena anda sendiri merasa tak becus menjaga anak perempuan anda!"
Maka detik itu juga Leo kembali menghantam mulut kurang ajar Sadawira hingga membuat pria itu terjengkang.
" Anda merasa gagal?"
__ADS_1
" Bajingan!"
" Cukup Om!"
Sadawira bisa melihat meski dengan penglihatan yang mulai mengabur. Sosok Edwin yang kini menghadang tubuh Leo yang benar-benar ingin menghabisinya tampak seperti superhero kesiangan.
Membuatnya mengumpat meski dalam hati.
" Saya memang pantas mendapatkan ini. Ayo Om, hajar saya sampai hati anda merasa lega dan puas!"
" Saya bahkan siap mati, asal anda mau memaafkannya saya!*
" Diam ka..."
" Sudah Om. Kita masuk ke dalam dulu!" seru Edwin yang memang badannya menahan amarah seorang Leo.
Sada menghela napas ketika ia mulai tak sanggup untuk sekedar duduk. Dapat dia pastikan jika tonjokan Leo Darmawan di masa muda pasti bisa membuat musuhnya patah hidung.
Ia menghubungi nomor Zayn namun tak bisa. Ia mencoba sekali lagi namun tetap tak membuahkan hasil.
" Brengsek!"
-
-
Rupanya yang sedang di butuhkan Sada sedang terlolong terkejut manakala melihat tamu yang dia tunggu pagi ini adalah Melodi.
" Kau!"
" Kau!"
Lagi-lagi, ketidaksengajaan diluar kuasa itu makin membuat Zayn tak habis pikir. Bukankah hari ini dia janjian dengan seorang pembisnis dari perusahaan lain, kenapa yang datang malah Melodi?
Namun rupanya, perusahaan yang akan bekerjasama dengan perusahaan Zayn telah di akuisisi oleh Darmawan group tanpa sepengetahuan Zayn.
" Baca ini sialan!" seru Melodi yang menyerahkan sebuah file penting yang menjadi bekalnya ke perusahaan itu.
Ketidaktahuan satu sama lain makin membuat kekonyolan itu makin natural. Zayn mendecak demi mendengar ketidaksopanan Melodi. Kini tak bisa di elakkan lagi, jika wanita itu benar-benar merupakan orang penting di tubuh salah satu dari sekian banyak perusahaan manufaktur terbesar di asia tenggara itu.
" Ja- jadi..."
Namun Melodi tak menanggapi. Ia melipat tangannya kesal sebab kenapa dari sekian banyak manusia, ia harus kembali melihat pria menyebalkannya ini.
Mereka Akhirnya mau tidak mau membicarakan pembahasan itu dalam suasana dan situasi canggung. Melodi selalu saja merasa tersiksa tiap kali Zayn menatapnya saat menjelaskan detail mekanisme pasokan produk.
Namun yang menjadi menarik ialah, kepiawaian Zayn dalam berkomunikasi mengenai produk, tanpa terganggu dengan tatapannya yang keruh. Padahal, ia sedari tadi malah tak fokus karena sudah terbiasa marah-marah kepada pria itu.
" Di negara ini produk sampo serta pembalut sangat laku. Mungkin karena bahan yang digunakan dari bahan terbaik. Selain itu, kami juga membutuhkan detergen yang ramah lingkungan."
Namun keasyikan yang terjalin tiba-tiba terinterupsi oleh suata pintu yang terbuka tanpa diketuk. Keduanya kaget manakala melihat wajah Sadawira yang bonyok dengan sisa darah mengering di sekitar pelipis dan hidung.
" Sada!"
__ADS_1
" Wira!"
Keduanya memekik dengan kata berbeda yang malah membuat mereka menyebutkannya nama lengkap Sadawira.
Sungguh menggelitik.
" Kalian berdua sepertinya berjodoh. Sekarang cepat tolong aku dulu!" seru Sada yang tersenyum namun akhirnya meringis sebab bibinya terasa linu kala dibuat bergerak.
Sada sebenarnya ngaco' saat mengatakan hal itu. Ia sebenarnya juga kaget saat mendapati dua orang yang tak pernah akur itu berada di dalam satu ruangan di kantor Zayn.
Kenapa dan bagaimana ia masih tak ingin tahu.
Melodi yang panik langsung membimbing Sada untuk duduk di sofa berwarna merah yang berada di sisi kanan.
" Ambilin kotak P3K!" teriak Melodi panik.
" Apa itu?"
" CK, first aid kit box!" gadis itu memekik demi melihat wajah Zayn yang terlihat bodoh.
Zayn mendecak sekilas sebab Melodi malah menggunakan kosakata yang tak umum digunakan di negara itu.
Dengan gaya serampangan, Zayn akhirnya bergegas keluar guna mengambil benda yang di minta gadis menyebalkan itu demi sahabatnya yang keadaannya mengenaskan.
" Kau kenapa? Apa yang sebenarnya tejadi?" tanya Melodi panik yang kini membantu Sada melepas jaketnya.
" Aku di hajar Papamu!"
" Apa?"
" Aku pantas mendapatkannya!" menjawab dengan gaya slenge'an.
" CK!" Melodi mendecak sebab bisa-bisa Sadawira bercanda di situasi genting seperti ini.
" Pasti saat muda, dia jago berkelahi!"
" CK!"
Namun saat ia masih kesal mendecak, Zayn tiba-tiba datang dengan membawa sebuah kotak besar yang membuat Melodi terlolong.
" Kau mau memperbaiki motor?" sindir Melodi demi melihat kotak obat yang lebih mirip seperti tolls kit.
" Jangan cerewet. Adanya ini, ayo cepat obati Sada!"
Melodi mengangguk menyetujui meski pikirannya tiba-tiba semrawut. Ia kini bingung harus bagiamana. Dalam waktu sekejap, otaknya benar-benar terasa buntu. Papanya datang dan dia malah membantu korban dari keganasan papanya.
" Kau kenapa sebenarnya Da. Siapa yang membuatmu begini?" kini Zayn bertanya panik setelah menyerahkan tissue yang baru ia buka kepada Melodi.
" Mel, jelaskan!"
Melodi mendecak demi mendengar suara mengesalkan Sadawira. Membuat Zayn bingung.
" Dia di hajar Papaku!"
__ADS_1
" Apa?"