
...🥀🥀🥀...
Deo yang kaget bukan main seketika memindai sekelilingnya. Semoga saja tak ada orang lain yang melihat mereka berdua. Sebab jika sampai Papa Leo melihat Sada berada di sini, ia tak tahu lagi apa yang bakal di lakukan oleh Om nya itu.
Belum lagi Mama Bella yang pasti akan histeris. Membuat di harus bisa berhati-hati.
" Beraninya kau menunjukkan dirimu di situasi duka seperti ini!" ketus Deo menatap Sadawira dengan tatapan bengis.
Tak mengira jika sadawira akan berani menampakkan dirinya di hadapannya terlebih dalam situasi seperti saat ini.
Deo terkejut karena yang ia tahu Sada tengah berada di Atana. Ayah Bimasena itu tahu saat Claire memberitahunya lewat telepon beberapa waktu yang lalu.
" Aku hanya datang untuk memberikan penghormatan terakhir pada tuan Edi Darmawan!" balas Sada santai dan tak terpancing emosi.
" Aku tidak akan mengampunimu jika kau berani macam-macam dengan keluargaku!" seru Deo yang serius dalam memperingatkan pria yang pernah mencelakai adiknya itu.
Namun alih-alih takut, Sada justru berjalan maju dan menepuk pundak kokoh Deo. " Aku turut berdukacita. Sungguh berdukacita!"
Tapi Deo buru-buru menggoyangkan bahunya dan membuat tangan Sada terlempar. Sama sekali tak menunjukkan sikap tepa selira kepada pria yan pernah membuat Demas celaka itu.
" Pergi kau dari sini sebelum aku memecahkan kepalamu dengan tanganku sendiri!" hardik Deo yang sebenarnya tak mau beradu otot di saat yang tak tepat seperti sekarang ini.
Tapi Sada hanya menarik sudut bibirnya sebelah seraya terkekeh. Pria itu maju dan mendekatkan wajahnya tepat di telinga Deo.
" Aku hanya ingin kau tahu, sebagai Ayah kandung Neo, aku tidak akan membiarkan orang lain dengan mudah menjadi Ayahnya!"
DUAR!
" Kau!"
Mata Deo membelalak demi mendengar Sada yang kini tertawa licik menatapnya. Bagiamana bisa pria itu mengetahui fakta jika Neo adalah anaknya? Sial!
" Kenapa kau kaget. Harusnya aku yang kaget karena selama ini kalian berhasil menyimpan rahasia ini rapat-rapat tanpa sepengetahuanku!"
" Kau juga seorang Ayah bukan. Kau pasti mengerti maksudku! Bayangkan jika hal itu terjadi padamu, dan istrimu Arimbi!"
Sada tergelak manakah melihat Deo yang kini speechless. Pria itu benar-benar mati kutu bahkan tak dapat menyela ucapan Sada sedikitpun.
__ADS_1
Brengsek!
Sada melenggang pergi usai mengatakan hal yang sangat ingin ia katakan sedari tadi. Membuat Deo yang masih terkejut kini tertegun.
" Bagaimana bisa dia mengetahui jika Neo adalah anaknya? Jangan-jangan..."
-
-
Claire menatap batu nisan bertuliskan nama lengkap Opanya itu dengan sangat lama. Kini tak ada lagi sosok Opa secara nyata. Pria yang menyayanginya melebihi Papanya.
Meski sosoknya telah terpendam dalam tanah merah yang kini menggunduk itu, namun kenangan yang pernah tercipta, pasti tak akan pernah bisa ia lupakan.
" Jangan terus menerus bersedih agar Opa disana tenang!" sedih Edwin dengan suara yang terdengar teduh.
Claire yang rambutnya kini tertiup oleh angin sepoi-sepoi hanya diam saat punggungnya di usap lembut oleh Edwin. Sungguh pria manis yang selalu berusaha ada di dekat Claire.
" Makasih Win. Kamu udah nemani aku saat aku sedang sedih seperti saat ini!" kata Claire tersenyum meski wajahnya sendu dan pucat.
Edwin mengangguk, ia sangat merasa kasihan kepada Claire. Ia tahu tak akan mudah menjadi Claire. Apalagi, ia juga paham betul segelintir keinginan baik Opa.
" Ssttt, jangan bahas itu. Kita bisa menunggu satu tahun. Aku yakin ini tidak lama. Kita juga bisa memiliki waktu agar Neo mau kenal lebih dekat!" hibur Edwin yang sebenarnya tak mempermasalahkan hal ini. Ia tak mempersoalkan asal Claire tak berpindah ke lain hati.
Ada Opa saja Claire merasa sangat tak enak hati jika sampai tak bisa menuruti omongannya. Apalagi saat pria itu sudah tidak ada.
" Sudah suang. Neo pasti nyari kamu. Kita kembali ya?"
Claire mengangguk. Edwin benar, Neo bahkan tak ia urus sejak tadi malam.
" Ayo Mel kita kemb..." namun ucapannya menguap manakala tak melihat sosok Melodi di dekat mereka.
" Mel!"
-
-
__ADS_1
Rupanya melodi pergi berjalan kaki menuju rumah mereka yang berjarak tak jauh dari pemakaman. Namun pikiran yang stres, dan kosong malah membuat gadis itu salah berbelok.
Melodi malah berjalan terus menuju ke arah jalan raya dengan tatapan kosong. Terlihat berbeda kali kendaraan yang berteriak sebab nyaris menabrak tubuh gadis itu.
Dan karena pikirannya kosong, ia yang terus berjalan tak menyadari bila ada mobil yang juga gak fokus, sebab sibuk menelpon seseorang yang mendadak hilang.
Dan saat pengemudi mobil itu kini menyadari bahaya di depannya, menginjak rem pun sudah tak ada gunanya.
BRAK!
Membuat pengemudinya kini ngomel-ngomel tak jelas sebab meski kakinya sudah menginjak rem dengan pol, tapi sepertinya perempuan itu masih saja tertabrak.
" CK, siapa lagi yang bikin gara-gara. Si Sada hilang, dan ini malah ada yang bikin masalah. Apa semua orang di kota ini memang menye..."
" Hah?" Zayn langsung berteriak bahkan membuat ucapannya sendiri menguap, saat melihat wajah gadis yang familiar itu terlihat pingsan sebab barusaja ia tabrak.
" Oh my..."
Zayn akhirnya membawa Melodi ke klinik terdekat sebab takut kalau-kalau gadis itu terluka.
" Ah sial, kenapa aku berkali-kali bertemu dengan gadis ini!"
Meskipun ia kesal, tapi sebagai manusia yang menjunjung tinggi moralitas, tentu ia harus bertanggungjawab sebelum masa menghakiminya.
Zayn lantas membawa Melodi yang kini pingsan menuju fasilitas kesehatan terdekat. Lengan pria itu mengetat manakala mengangkat tubuh Melodi yang rupanya tak ringan.
" CK, berat sekali dia. Pasti kebanyakan dosa karena sering membuat orang kesal!"
Zayn terus mengomel karena kesal.
Namun bukannya ucapan terimakasih yang ia dapat usai dia membawa Melodi ke rumah sakit, gadis itu langsung mendamprat Zayn sesaat setelah sadar.
Membuat Zayn kesal bukan main.
" Kau, apa yang kau lakukan disini? Dan...kenapa... kenapa aku bisa ada di sini?"
" Kau pasti mau balas dendam kepadaku ya? Tolong! Tolong!"
__ADS_1
Maka tangan kekar Zayn langsung membekap mulut Melodi yang meraung-raung itu sebelum teriakan ngawurnya membuat semua urusan tambah runyam.