
...🥀🥀🥀...
Mata cerah Neo tak berhenti menatap sosok laki-laki yang wajahnya penuh dengan luka. Ia pernah melihat luka semacam itu saat ia menonton film superhero. Tapi melihat luka itu secara nyata rupanya memerlukan adrenalin yang lebih.
" Kenapa Paman wajahnya begitu?"
Pertanyaan polos itu sudah di antisipasi oleh sang Ayah. Pria itu hanya ingin memastikan isi hati sang putra.
" Jatuh waktu kerja!"
" Jatuh?"
Sada mengangguk tak ragu. Masih mempertahankan sorot mata mungil yang mempertontonkan keingintahuan.
" Setiap hari diantar Oma?"
Bocah itu mengangguk dengan mata gak lepas menatap pelipis yang membiru.
" Mama dan Om Edwin akan..."
Kalimat yang menggantung milik Neo membuat hati Sada pilu dan sakit. Perasaannya makin di rundung keresahan. Dadanya terasa sesak di himpit oleh kenyataan manakala melihat wajah sang anak yang muram.
Tetapi rencana harus tetap dijalankan. Sada hanya ingin membuat posisi Claire tetap abadi di hati Neo, tanpa membuat perbuatan cela mereka terdahulu mencuat. Ia ingin membangun pola hubungan dan komunikasi yang semula tak sengaja terjadi, menjadi suatu hal yang layak, wajar dan berkesinambungan.
" Akan apa?" kejar Sada yang pura-pura tidak tahu. Sengaja ingin memancing jawaban selanjutnya.
" Kata Opa Om Edwin akan menjadi Ayah Neo. Tapi..."
__ADS_1
Sada menunggu bocah itu melanjutkan ucapannya meski sejurus kemudian yang terlihat adalah dua netra yang pertahanannya telah jebol karena air mata.
Membuat hati pria itu kembali perih.
" Kenapa Neo malah nangis, hm?" mengusap lembut lengan mungil Neo.
" Neo ingin ayah seperti Paman!"
Deg!
Hati ayah mana yang tak luluh lantak manakala mendengar ucapan seorang anak yang secara tulus mengatakan hal paling menyedihkan macam itu.
Ketidaktahuan Neo soal siapa dirinya sebenarnya benar-benar makin membuat segala sesuatunya tampak menyedihkan. Sungguh perasaan alami yang begitu kuat. Sada reflek menepuk pundak lemah Neo yang kini mulai bergetar.
" Tapi kata Opa, Neo harus senang karena Ibu senang. Tapi, apa Tuhan suka anak yang berbohong? Neo tidak senang Paman!"
Sadawira sengaja meminta guru untuk memanggil bocah itu dan memberikan ruang bagi mereka untuk berbincang. Selain lebih efektif, tempat itu juga lebih aman karena Sada tak perlu mencari alasan terlebih berurusan dengan Leo Darwawan.
" Neo, kamu bisa anggap Paman ini Ayah kamu. Bagiamana?" hibur Sada terus terang.
" Tapi pinginnya yang setiap hari ketemu!"
Pria itu menelan ludah. Jakun besar pertanda kejantanan itu bahkan naik turun sebab grogi.
" Kita bisa setiap hari bertemu!"
" Tapi aku ping..."
__ADS_1
" Neo!"
Saat tengah sibuk berbicara, suara bariton berjenis marah membuat keduanya menoleh. Dan wajah tak ramah yang mendadak muncul, terang membuat segala sesuatunya mendadak canggung cenderung mencekam.
Neo langsung mengusap wajahnya karena malu, sementara Sadawira langsung reflek berdiri manakala melihat Leo Darmawan dan Istrinya berada di sana.
" Paman cuman mampir dan mau kasih kamu ini. Ini cuman ada sepuluh di dunia. Khusus Paman beli buat anak paling baik. Paman sengaja membelinya untuk kamu!" Sada mengangsurkan sebuah jam tangan kecil bergambar superhero favorit Neo dan membuat wajah bocah itu kembali cerah dalam waktu sekejap.
"Ya sudah, kalau begitu Paman pergi dulu!" pungkas Sada yang melihat aura di sana semakin mencekam.
Dia tahu bila kedua orangtua Claire itu menatap menatapnya dengan tatapan tajam. Dan tatapan tajam cenderung sengit itu tak membuat langkah Sada mundur. Pria itu berjalan melintasi Leo dan Bella seolah tak kenal satu sama lain.
Mama Bella masuk dan membawa Neo duduk, sementara Papa Leo terlihat memutar tubuhnya lalu berjalan keluar. Membuat seorang guru yang menunggu di sana seketika pergi sebab tak enak hati.
"Tunggu!"
Sada berhenti dan berdiam manakala mendengar sebuah suara yang di peruntukkan kepadanya. Detik berikutnya, pria yang rambutnya mulai di tumbuhi uban itu berjalan mendekat ke sisi Sada.
" Jadi begini caramu? Licik!" tukas Papa Leo yang tak suka melihat Sada menemui sang cucu.
" Menemui darah daging sendiri bukan sebuah kelicikan!" sahutnya santai.
" Omong kosong!"
Sada kini menatap mata tajam pria matang di depannya itu dengan serius. Muak mendengar segala bentuk kalimat sanggahan yang merendahkan.
" Cepat atau lambat, Neo pasti akan tahu jika saya memang lah ayah kandungnya!"
__ADS_1
" Apa? Paman bicara apa tadi? Ayah kandung?"