
...🥀🥀🥀...
Sebisa mungkin, ia harus bisa menyembunyikan keterkejutannya dan mulai berpikir jernih. Sebab nyatanya, mendapatkan kalimat serius dari pria yang kerap bertengkar dengannya benar-benar mengusik.
" Ya, anggap saja kita sekarang bisa berteman meski tanpa Sada dan juga Claire." seru Zayn meralat kalimatnya cepat - cepat sebab reaksi Melodi rupanya membuatnya cukup khawatir
Namun seperti biasa, Melodi selalu bisa mengemas rasa groginya dalam sikap ketus. Padahal, ia kini merasa deg-degan bukan main.
" Itu sih soal urusan gampang. Dah lah, aku turun dulu. Ngantuk! Besok presentasi!" seru Melodi tanpa menoleh.
Zayn tersenyum menatap punggung yang kini semakin menjauh menuju tangga. Ia tahu, meski belum mendapat jawaban iya, tapi reaksi yang tak marah-marah sudah lebih dari cukup, sebagai bekal tidur nyenyaknya malam ini.
Tapi sebaliknya, rupanya tidur dengan bayang-bayang wajah serius Zayn, ternyata cukup sulit dilakukan. Terbukti, telah lebih dari lima belas menit ia berguling kesana kemari, namun kantuk tak jua datang menyerang.
" Hih, kenapa malah gak bisa merem sih?" rutuknya kesal kepada diri sendiri yang tak bisa diajak berkompromi. Sebab yang ada di dalam pikiran, justru membuatnya insomnia.
"Apa juga maksudnya dia ngomong kayak gitu tadi coba? Gak jelas banget!" bermonolog sendiri dengan wajah bermuram durja.
Tapi satu hal yang tak bisa ia nafikkan, yakni rasa aneh yang memicu dirinya merasa tertawa tanpa sebab. Semacam senang, gembira, juga malu.
Entahlah, dalam atap yang sama, ada seorang pria asing yang menginap, dan diam-diam malah membuat hatinya menggelegak mereka euforia unik. Semacam membahagiakan, namun gengsi menunjukkan.
Dan tepat saat dia hendak mematikan lamp desk di sampingnya, mendadak ada sebuah pesan yang masuk.
📱Arsakha : "Besok bisa ketemu? Lusa aku sudah kembali. Ku harap kau memenuhi janjimu!"
Sial, kenapa juga dia dulu sewaktu di Atana berjanji pada Arsakha? Toh ia berjanji karena terpaksa agar bisa lepas dari jeratan pria bertindik itu kan?
__ADS_1
Astaga. Dia pikir waktu kapan-kapan itu masih sangat lama. Tidak tahunya malah secepat ini. Dan entah kenapa, ia malah menjadi tak tenang usai membaca pesan itu.
📱 Melodi : " Semoga besok aku tidak terlalu sibuk!"
Ia membalas dengan kalimat yang jauh dari kata janji. Tapi jawaban berikutnya semakin membuatnya tak tenang.
📱 Arshaka: " Jika kau sibuk, aku datang ke kantormu!"
Tidak, itu tidak mungkin. Jelas Melodi akan lebih memilih opsi yang pertama ketimbang membuat pria itu datang ke kantornya. No way!
Oh ya ampun. Kenapa dia yang dulu sangat cuek dengan Zyan kini mendadak menjadi memikirkan perasaannya? Ah sial!
Keesokan paginya, Zayn yang sudah terlihat rapi dengan jas resmi berdasi, tampak telah duduk di meja makan. Berusaha tak mengulang kesalahan yang semalam dia lakukan.
" Aku sudah tidak terlambat. Jadi, kita bisa sarapan sekarang?"
" Kau kenapa, tiba-tiba diam begitu. Angker banget?"
Dan anehnya, jika biasanya Melodi pasti akan langsung ngomel ketika di katai begitu, kali ini dia malah menunjukkan air muka lain.
" Tidak apa-apa. Emm Zayn, sepulang dari pabrik nnti, aku akan pergi sebentar. Kau bisa bawa mobilku?"
Kening Zayn mengerut. Memangnya mau kemana dia?
" Kau mau kemana?" tanya Zayn langsung.
" Aku...ada urusan!" menjawab ragu.
__ADS_1
Zayn terdiam. Dari cara menjawab yang tidak lancar jelas menegaskan jika ada sesuatu.
Namun setibanya mereka di kantor untuk melakukan kunjungan terakhir, Melodi malah dibuat terkejut saat melihat wanita cantik yang sudah berdiri, dan kini menyongsong keduanya.
" Zayn?" seru Olivia yang tiba-tiba menghambur dan memeluk Zayn.
Melodi kontan melirik Zayn yang kini tubuhnya mendadak kaku, akibat di peluk oleh Olivia. Membuat gadis itu seketika merasakan ketidaknyamanan. Semacam kesal, juga tidak terima.
" Ehem!" Kalau sudah selesai, aku tunggu di atas!" ia berdehem dengan wajah yang jelas membuat Zayn resah.
Oh tidak. Ia tahu arti air muka itu.
Zayn sempat melihat kilatan kekesalan dari wajah Melodi. Tapi ia tak bisa memastikan apakah kekesalan itu di tujukan kepada Olivia, atau kepada dirinya yang tak profesional manakala bekerja.
" Zayn? Bukankah dia yang bersamamu tempo hari? Katamu kau tinggal di mess?" tanya Olivia curiga.
" Emm aku..."
" Kau selesai hari ini kan? Papa yang memberitahuku jika kau ada di sini."
Sepertinya, Olivia tak tertarik dengan bahasan soal Melodi. Ia lebih tertarik dengan pria di depannya itu.
" Vi, kenapa kamu datang kesini?" tanya Zayn sedikit kesal.
" Aku? Kok kamu tanyanya begitu sih? Ya aku nyusul kamu lah. Habis dari sini jalan ya?"
" Aku gak bisa Vi. Kita bisa jalan tapi nggak di sini." tolak Zayn yang tak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya. Sementara itu, pikirannya makin di jubeli oleh seraut kesal yang tadi meninggalnya dengan muka keruh.
__ADS_1