
...🥀🥀🥀...
Dalam kekagetan yang mendesak, Ibu jari Melodi reflek menekan tombol merah sebab sungguh ia sangat terkejut. Bagaimana bisa Neo mengenal laki-laki yang menjadi musuh keluarganya. Dan lihatlah, bahkan Claire memiliki nomor pria itu.
" CK, sialan!" Melodi memaki dalam hati dalam keresahan yang semakin meluap.
" Aunty, kenapa Aunty mematikan nomornya? Aunty....!" Neo menatap kesal ke arah bibinya yang seenaknya sendiri.
Tapi jangankan menjawab, yang di desak malah langsung merengkuh tubuh Neo lalu memeluknya erat. Melodi menangis tanpa suara.
" Kenapa dari milyaran manusia di dunia ini kamu malah bertemu dengan orang itu Neo, kenapa?"
Melodi merasakan nyeri dalam hatinya. Betapa kini dia bisa melihat bahwa kuasa Tuhan itu nyata adanya. Yang di peluk kini bingung. Kenapa bibinya malah menangis?
Ponsel itu kembali bergetar dan menyala dengan si nama penelpon yang sama.
📞 Mr. Donatur calling....
Deg!
Melodi sontak berjingkat demi suara ponsel Claire yang kini meraung-raung. Membuat Neo langsung menoleh.
" Aunty, cepat angkat itu Paman. Ayo Aunty!" rengek Neo dengan mata memerah seraya menggoyang tubuh bibinya.
" Tapi Neo..."
" Mana ponselnya Aunty, aku pingin bicara. Itu paman kan?"
Akhirnya Melodi mau tidak mau menggeser tombol itu demi rengekan Neo. Inilah yang selalu membuatnya kalah. Melodi tak bisa tak menuruti keponakannya.
__ADS_1
Usai menggeser tombol hijau itu, Melodi segera menepi sebab ia sangat tak siap kali ini. Ia lantas menyerahkan benda gepeng itu kepada Neo sambil menunggu dengan harap-harap cemas.
" Sebentar saja ya? Paman sepertinya sedang sibuk!" bohong Melodi dengan jantung yang masih berdebar hebat. Setengah mati menahan diri demi penyelidikan yang membuat ingin tahu
Neo mengangguk, itu tidak masalah. Yang penting dia bisa ngobrol.
" Halo Paman?" sapa Neo yang bahkan sudah tak memperhatikan wajah bibinya yang pias.
Yang di seberang tampak terkejut. Tak mengira jika itu Neo.
" Neo? Kau kah itu?" tanya Sadawira yang kini memfokuskan layar seraya tersenyum cerah.
" Paman dimana? Aku sedang sakit kenapa Paman tidak menjengukku? Apa Ibu tidak memberitahu Paman?"
Melodi mengigit bibirnya. Jika ia amati dari interaksi keduanya, bisa di pastikan bila Neo Sepertinya memang belum tahu siapa sadarilah. Tapi bagaimana bisa mereka bertemu?
" Ibu sudah memberitahu. Tapi Paman sekarang masih bekerja. Sudah di periksa dokter kan?"
Melodi sedikit mengintip sosok yang ada di layar itu. Nampak lebih tampan dari tahun-tahun sebelumnya. Pria itu juga terlihat mengenakan jaket tebal. Sepertinya sedang berada di negara yang beriklim dingin.
" Sudah Paman, Om Edwin yang memeriksa! Paman dimana sih, kok pakai mantel tebal?"
Tiba-tiba suasana hening. Melodi kembali mengintip dan terlihat Sadawira yang tercenung menatap wajah Neo lekat-lekat.
"Paman sedang di luar negeri. Neo?
" Ya Paman?" jawab Neo tampak memperhatikan.
"Jangan membantah Ibu ya bila diminta makan. Minum obatnya harus rutin biar cepat sembuh. Kalau Paman sudah selesai, kita bisa bertemu di Atana nanti!"
__ADS_1
" Horee! Apa Paman akan mengajakku jalan-jalan?"
" Tentu. Makanya harus sehat dulu ya. Emmm Neo bersama siapa sekarang?"
Membuat bocah itu menoleh kearah bibinya yang mendelik. " Bersama Aunty Mel!"
Melodi yang di sebut langsung diam dengan dada berdebar kencang.
" Astaga bocah ini!" rutuk Melodi yang tak tahu harus bersikap bagaimana. Haruskah dia menyapa? Jelas itu tak mungkin.
" Salam untuk Aunty Melodi ya?"
Membuat Melodi bagai tercekik dan kesulitan bernapas.
" Bagiamana Paman bisa tahu namanya?" tanya Neo dengan alis yang terangkat sebelah.
Melodi mendecak sebab Sadawira malah menyebut namanya. Sementara yang di kesali justru bergelak.
" Tahu dong. Aunty kamu kan juga sudah kenal Paman!"
What the hell!
Membuat Melodi segera meraih ponsel yang di genggam Neo, lalu buru-buru mematikannya.
Sialan!
" Aunty, kenapa di matikan? Aku kan belum selesai!" Neo mendengus sebal sebab Aunty nya malah bersikap tidak jelas.
Namun di lain pihak Sadawira terkekeh saat ponselnya di matikan sepihak oleh Melodi.
__ADS_1