My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 140. Menemukan perhatian lain


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Di rumah sakit.


Zayn menatap resah pintu yang baru saja tertutup usai Melodi dibawa masuk guna menjalani serangkaian penanganan. Bajunya turut bersimbah darah, keadaannya kacau, perasaannya gelisah, khawatir sekaligus cemas. Ia benar-benar tak mampu memikirkan apapun selain keadaan Melodi.


Beberapa saat kemudian, rombongan Mama Bella datang dan langsung menangis dengan histerisnya. Tak mampu menerima kenyataan yang tiba-tiba berubah begitu dramatisnya.


" Nak, bagiamana Melodi?" tanya Papa Leo yang tak bisa menyembunyikan raut kekhawatirannya kepada Zayn.


" Dia barusaja di bawa masuk Om!" balas Zayn tak kalah murung. Terlihat begitu sedih sekaligus kalut.


Papa Leo yang melihat noda darah di baju Zayn, terlihat langsung memeluk pria itu seraya menangis. Adik dari David Darmawan itu mengucapkan banyak sekali terimakasih kepada Zayn karena telah sigap menyelamatkan keadaan putri bungsunya.


" Terimakasih banyak nak. Terimakasih karena kau telah berusaha keras menyelamatkan anakku!" kata Papa Leo dengan suara yang bergetar dan terdengar pilu. Menyesakkan dada siapapun yang mendengarnya.


Zayn mematung. Pelukan hangat seorang Papa yang belum pernah ia dapatkan, sukses membuat Zayn mengharu biru. Teringat jika selama ini hubungannya dengan sang Papa kandung hanya berkahir dengan perdebatan. Nyaris tanpa hubungan baik dan normal.


Bahkan hingga akhir hayatnya pun, ia dan sang Papa juga terlibat selisih paham. Benar-benar menyedihkan.


" Papa!"


Teriakan Claire membuat pelukan keduanya terlepas. Di detik itu juga, Zayn yang melihat Sada turut berjalan di belakang istrinya langsung menyongsong pria itu untuk menanyakan hal lain yang tak kalah penting.


Sementara itu, Claire terlihat memeluk tubuh sang Papa dengan begitu sedih.


" Bagaimana Da, apa kau sudah mendapatkan kabar?" tanya Zayn kepada Sada yang terlihat murung.


" Belum. Tapi CCTV akan membantu kita nanti. Dan sepertinya, Edwin turut andil dalam kejadian ini!"


" Apa kau bilang?" balas Zayn tak percaya.


Sada masih nampak resah. Meski tak yakin, namun bukti yang dia lihat tadi jelas menegaskan bila Edwin memiliki andil dalam mendidik ini.


" Pihak otoritas bandara tadi sudah memperlihatkan rekaman CCTV. Tadi aku sempat bertemu dengan Edwin di depan. Tapi aku tidak tahu jika di dalam mobil pria itu memuat orang misterius tadi. Aku baru tahu saat aku masuk ke ruang AVSEC dan melihat rekamannya!"


Zayn tercenung. Antara tak percaya dan tak menduga. Tapi jika benar itu Edwin, ada dendam apa yang menjadi motif pria itu melakukannya kejahatan seperti ini?


Sementara itu, Edwin yang kini hendak membawa Olivia pergi malah dikejutkan dengan kedatangan dua mobil besar, yang tiba-tiba mengeluarkan banyak orang sembari menodongkan senjata ke arah mobilnya.


Tak berselang lama, muncul seorang pria berambut putih yang wajahnya terlihat begitu cemas. Zayn melirik Olivia.


" Apa kau yang mengundang mereka?" tukas Edwin nampak kesal.


Gadis itu tertawa mengerikan. " Tentu saja. Papaku tak akan rela anaknya di sakiti! Hahahaha!"


Edwin seketika menjadi geram. Ia merasa seperti telah menolong seorang psikopat.

__ADS_1


TAK TAK TAK!


" Buka!" titah orang berwajah garang kepada Edwin untuk membuka pintunya. Namun saat Edwin melihat celah, ia langsung menyalakan mesinnya dan menginjak gas lalu membawa gadis itu pergi dan berniat menyerahkannya ke kantor polisi.


" Woy berhenti!" teriak salah seorang anak buah Tanaphan sembari melayangkan tembakan namun Edwin berhasil lolos.


" Siapa gadis ini sebenarnya? Sepertinya aku pernah melihatnya pria tua tadi." batin Edwin yang teringat dengan wajah Tanaphan yang cukup familiar.


" Hentikan brengsek!" teriak Olivia nampak panik. Emosi gadis itu benar-benar tidak stabil.


Edwin tak memperdulikan teriakan Olivia yang memakinya dengan sumpah serapah. Ia harus bisa membawa gadis itu ke kantor polisi. Harus.


Namun saat sibuk mengemudi dengan aksi saling kejar-kejaran, ponselnya tiba - tiba bergetar. Ia buru-buru menekan tombol handfree di telinganya dan terdengarlah suara salah seorang rekannya yang memberondongnya dengan pertanyaan mengejutkan.


" Win, apa yang kulihat itu benar?" tanya Seseorang di ujung telepon.


" Lihat? Lihat apa maksudmu?" balas Edwin tak mengerti, sambil berusaha menepis tangan Olivia yang hendak mengacau setirnya.


" Dimana kau memangnya?? Dalam berita terbaru kau dan mobilmu diberitakan telah berkomplot dengan seseorang dalam kasus penikaman!"


" Apa kau bilang?" ia memekik dengan begitu terkejutnya. Sungguh diluar dugaannya.


" Videonya bahkan sudah tersebar luas. Kenapa kau melakukan itu Win?"


" Sial!" ia memaki dan membuat Olivia mendelik.


Edwin buru-buru mematikan sambungan itu meski teman masih terdengar nyerocos di telepon. Ia marah dan kesal. Keputusannya untuk menolong gadis antah berantah itu malah membuatnya terjebak dalam kasus besar.


Olivia yang melihat Edwin marah serta memakinya kini terlihat ketakutan. Namun diluar dugaannya, Olivia yang kini bingung harus berbuat apa, malah menarik setir bundar itu dan membuat laju kendaraan mereka menjadi zig zag.


" Hey apa yang kau lakukan! Singkirkan tanganmu!" teriak Edwin yang bersikeras memperebutkan kestabilan kemudinya.


" Berhenti!" teriak logis.


" Tidak kan. Aku tidak akan membiarkanmu lolos. Kau telah melukai Melodi!"


" Omong kosong!"


Namun sejurus kemudian.


Cit!


BRAK!


Mobil terhenti sebab menabrak sebuah pembatas jalan sebab kendaraan itu amat sangat tak terkendali. Edwin terlihat begitu. Takut bila sesuatu akan terjadi dan membuat nyawa mereka melayang. Sedetik berikutnya, mereka terlihat saling mengeluarkan napas ngos-ngosan manakala kap mobil mengeluarkan asap.


" Apa maumu wanita gila, kita bisa mati!" kesal Edwin yang berteriak dengan begitu marah.

__ADS_1


Dan tak berselang lama, rombongan Tanaphan tampak tiba di lokasi dimana mobil mereka menabrak sebuah pembatas jalan.


Tanaphan yang panik seketika membuka pintu dan mendapati anaknya tertawa terbahak-bahak. Membuat Edwin menatap sunyi gadis itu.


" Oliv, apa yang kau lakukan nak?"


Edwin melihat dirinya kembali di todongi oleh berbagai jenis senjata tampak meradang. Namun ia juga masih bisa melihat interaksi antara Olivia dan Papannya.


" Anakmu telah menikam seseorang dan sekarang malah menyeretku turut dalam kasusnya!" seru Edwin kepada Tanaphan tanpa rasa takut sebab nama baiknya kini sedang di pertaruhkan.


" Apa yang kau katakan? Kau yang menculik anakku kan? Kenapa malah membuat tuduhan seperti itu?" kata Tanaphan yang memang tak tahu. Ia hanya di kabari oleh Olivia untuk menjemputnya di satu lokasi sebab ada orang jahat yang menculiknya.


Membuat Edwin semakin berang.


" Memangnya apa yang aku katakan hah?" teriak Edwin kesal kepada Olivia yang malah mengadu yang tidak-tidak.


Olivia terlihat tertawa-tawa sendiri, dan sedetik kemudian terlihat menangis dengan pilu. Membuat Tanaphan menitikkan air matanya karena lelah.


" Hahahaha!" suara Olivia terlihat tak normal.


Kini Edwin semakin dibuat tak mengerti dengan apa yang jelas-jelas ia lihat di


depannya. Tapi saat kesemuanya lengah karena berperang melawan pikirannya masing-masing, Olivia tiba-tiba menyambar sebuah senjata yang semula di pegang oleh anak buah Tanaphan, dan langsung di arahkan ke kepalanya sendiri. Membuat kesemuanya terkejut setengah mati.


" Oliv!" teriak Tanaphan tampak panik. Membuat semua orang menjadi ketakutan.


" Bawa Zayn Pa. Aku harus menikah dengannya, bawa Pa!" Olivia berteriak dengan sangat frustasi. Benar-benar menegaskan bila gadis itu memang tergila-gila kepada Zayn.


Detik itu juga, Edwin mulai paham. Sepertinya gadis itu mengalami masalah pada kejiwaannya. Traumatis yang mendalam.


" Tuan, percayalah padaku. Aku seorang dokter. Kita harus segera membawa anakmu ini ke rumah sakit. Dia barusaja mencelakai seseorang yang aku kenal. Beritanya sudah menyebar kemana-mana. Kau dan anakmu serta aku tengah dalam masalah besar!" bisik Edwin kepada Tanaphan yang kini tak tahu harus melakukan apa. Buntu. Tak memiliki jalan.


" Apa yang akan kau lakukan?" tanya Tanaphan ragu. Sama sekali tak paham arah omongan Edwin.


" Kau harus berjanji dulu untuk percaya kepadaku untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan jantan!"


" Apa yang kau katakan?"


" CK, kau setuju tidak, atau kau akan kehilangan anakmu untuk selamanya!" decak Edwin yang mulai kesal sebab Tanaphan tak juga paham.


" Baik-baik, apa rencanamu?"


Namun alih-alih menjawab, Edwin yang sudah mendapat lampu hijau dari Tanaphan dengan gerakan cepat dan tak terbaca langsung memukul tengkuk Olivia, dan seketika pingsan lah gadis itu.


" Hey, apa yang kau lakukan?" teriak Tanaphan sesaat setelah melihat sang anak pingsan.


Edwin menatap datar pria itu.

__ADS_1


" Sembuhkan dulu jiwa anakmu, lalu kita hadapi semua ini!"


Tanaphan terlolong. Dari sekian banyak pria muda yang dia temui, baru laki-laki di depannya itu yang memiliki perhatian lain kepada anaknya.


__ADS_2