
...🥀🥀🥀...
Usai mengantar Edwin ke depan dan memastikan jika pria itu telah pergi, Claire kini menutup pintunya namun dibuat terkejut sebab Juwi tiba-tiba nongol tanpa bersuara.
Oh ya ampun!
" Astaga Wi, kamu ini ngagetin aja!" desis Claire dengan wajah kesal. Ia hampir saja berteriak sebab Juwi sudah membuka tali kuncirannya. Membuat tampilan wanita itu seperti setan.
Juwi meringis, membuat Claire mendengus.
" Maaf Bu, tapi sepertinya...ponsel pak donatur ketinggalan!" seru Juwi sembari menyodorkan ponsel bergambar apel cacat.
Claire langsung mendecak saat melihat benda pipih itu di serahkan oleh Juwi kepadanya.
" Dimana ini tadi?" tanya Claire dengan alis yang masih bersatu.
" Saya nemuin ini di dekat pintu sebelah kamar mandi tamu yang di dekat gudang makanan itu Bu. Kemungkinan jatuh. Tapi anehnya, kenapa bisa gak dengar ya Bu kalau jatuh?"
" Sial. Ini pasti saat Wira narik aku ke ruangan tadi!" membatin resah dengan dugaannya.
Meski sebenarnya, itulah yang memang terjadi.
" Ya sudah, aku simpan dulu. Besok biar di bawa sama Neo. Biar di titip ke Bu guru!"
Juwi mengangguk lalu pergi. Yang penting dia sudah melapor.
Usai berganti baju dan membersihkan dirinya, Claire menuju ke kamar anaknya. Sedikit aneh sebab tumben Neo mau menempati kamarnya sendirian.
Apa karena hadiah dari Sadawira.
"CK, yang bener saja!" mendecak resah sebab dirinya kini merasa sangat tidak tenang. Membuat pikiran-pikiran untuk pindah lagi tiba-tiba terbesit.
Hah, entah sampai kapan ia harus menjadi manusia yang terus menghindar setiap ada masalah?
CEKLEK!
Daun pintu yang terbuka menyuguhkan sesosok bocah yang meringkuk memeluk sesuatu.Hatinya menghangat manakala melihat Neo kini sudah terlelap dengan wajah teduh.
Tunggu dulu, apa itu?
Claire kini mendekatkan dirinya ke sisi ranjang demi ingin melihat Neo yang tidur. Tak di nyana, rupanya bocah itu memeluk sebuah robot serta mobil-mobilan dari group Avengers yang begitu bagus.
" Apa ini dari Wira?" bergumam dalam hati.
Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan menemukan sebuah note yang berada di atas meja lampu anaknya.
...Superhero, untuk superheronya Ibu....
...Be a brave boy!...
...~Paman Sada...
Hati Claire seketika sesak, hidung dan matanya tiba-tiba terasa panas. Dan tanpa menunggu lama, air mata itu tiba-tiba keluar sendiri bagai air bah. Deras dan tak terbendung. Tubuhnya kini bergetar, ia menangis dalam pilu.
Kenapa harus kembali ke titik ini. Bahkan sejauh apapun ia pergi, sekeras apapun ia berubah dan memilih menjauh, tapi kenapa Neo bisa berjumpa dengan pria itu?
__ADS_1
Kenapa?
Kenapa semua terasa sulit baginya?
Kenapa Wira harus menjadi orang jahat yang hingga kini menjadi salah satu daftar merah musuh yang di benci oleh keluarganya?
" Apa yang harus aku lakukan Tuhan?"
-
-
Setibanya dirumah dari mengantar Diva, Sadawira terlihat bolak-balik membuka dashboard dan memeriksa kolong mobilnya, namun tak juga mendapati ponselnya yang kini baru dia sadari.
" CK, dimana ponselku?" mendecak kesal sebab seharusnya benda itu ada bersamanya.
Nino yang penasaran kenapa bosnya kini berlama-lama di garasi, turut keluar dan bertanya.
" Apa yang anda cari bos?"
Membuat Sadawira menoleh sekejap.
" Tolong kau panggil nomorku sekarang juga No. Ponselku hilang!" menjawab masih dengan mengobrak-abrik mobilnya. Menduga kalau-kalau benda pipih itu terjatuh di mobil.
Bertemu Claire malam ini benar-benar membuat semua fokusnya kacau balau.
" Astaga bos, bagiamana bisa hilang?"
" Sudah kau telpon saja. Aku juga tidak tahu!"
Maka Nino segera masuk dan mengambil ponsel sebab wajah Sadawira semakin mengeruh.
Jelas menyatakan bila benda itu tak ada di sana.
" Masih tidak di jawab bos!" kata Nino dengan wajah muram.
" Coba sekali lagi!"
Nino mencobanya lebih dari satu kali, nomor itu tersambung namun tak juga mendapat jawaban. Membuat Sadawira mendecak frustasi.
" Jangan-jangan ketinggalan di rumah Neo!"
Deg!
Membuat Sadawira seketika tercenung
" Bisa saja kan bos. Kalau di jalan, pasti sudah di temukan orang. Tapi, kalau dirumah Neo ponselnya tidak di angkat?"
"Oh Shiit!" makinya merutuki kebodohan demi menyadarinya jika dia sempat menarik Claire dan bisa saja hal itu membuat ponselnya terjatuh.
" Mau di ambil sekarang?" terka Nino demi mengamati ekspresi wajah bosnya.
" Apa kau gila, ini sudah terlalu malam!" sergah Sadawira yang malah dibuat pusing dengan ide gila Nino.
Nino langsung manyun, " Hanya memberi ide bos!"
__ADS_1
Nino heran, biasanya wajah bosnya itu cerah usai bertemu dengan bocah itu. Tapi malam ini, kenapa malah terlihat buthek ( keruh) begitu?
Sadawira tertegun. Ia barusaja bertengkar dengan Claire. Dan menghadapi Claire tak bisa dengan cara kasar. Ia sudah pernah kehilangan jejak wanita itu, dan kini ia tak boleh kecolongan lagi.
...----------------...
" Apa? Kau serius?"
Arimbi yang kini menata sarapan untuk suaminya sampai menghentikan kegiatannya manakala mendengar nada bicara suaminya di sambungan telepon itu meninggi.
Di tatapnya lekat-lekat wajah pria yang sudah memberikannya dua anak itu.
" Ya sudah, kau tenang dulu. Aku akan membicarakan hal ini dengan Papa!"
" Stay away from him!"
Arimbi mendekat ke arah Deo yang air mukanya kini berubah tegang. Jelas menegaskan bila terjadi sesuatu yang cukup pelik.
" Ada apa mas?" tanya Arimbi risau usai Deo memungkasi panggilannya.
Deo memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pening, " Claire bertemu dengan Sadawira!" tutur Deo penuh keresahan.
" Apa?"
Deo mengangguk lalu menatap murung ke arah Arimbi. Jelas ini hal yang tak baik.
" Kok bisa?"
Deo akhirnya menceritakan apa yang barusan di sampaikan oleh sepupu iti. Tentang Neo yang kini bahkan sudah akrab dengan Sadawira meski keduanya sama-sama belum mengetahui fakta besar itu. Tentang mereka yang tanpa sengaja malah terlibat acara makan malam, bahkan sampai dengan kecurigaan Sadawira kepada Neo.
Dan semua cerita itu terang membuat Arimbi shock.
" Terus...apa yang mau Claire lakukan mas?" bertanya resah.
" Aku memintanya untuk tenang dulu. Aku mau minta solusi ke papa sama Demas. Sebaiknya memang jangan memberitahu Opa!"
" Om Leo?"
Deo menggeleng, " Sejak tahu siapa Sadawira, om Leo menjadi lebih tempramen dari papa. Tolong kamu jaga rahasia ini dulu. Kamu jangan bilang ke Tante Bella!"
" Tapi kenapa Claire tidak pulang saja ke Indonesia mas?"
Deo menggeleng kembali, " Itu tidak mungkin. Claire tak siap dengan stigma negatif yang pasti bakal dia terima jika kembali ke sini!"
Ya, bahkan tujuan Claire mengasingkan diri di temani Opa Edi ialah agar tak banyak orang yang tahu soal petaka itu.
.
.
.
.
Like dan komentar serta vote nya boleh dong buat mommy 🤗
__ADS_1
biar makin semangat.
Oh iya, readers ini sebenarnya suka episode yang panjang, apa yang singkat sih?