
...🥀🥀🥀...
Rupanya, waktu yang bagi sebagian orang terlihat begitu lambat, kini justru terasa cepat bagi Melodi dan Zayn. Detik yang berganti menit, dan menit berganti jam begitu seterusnya, tanpa terasa membawa keduanya pada momen jelang pernikahan.
Sejak beberapa hari yang lalu, semua orang larut dalam kesibukan. Deo dan Demas di tunjuk menjadi orang yang paling bertanggungjawab untuk urusan tamu berikut akomodasinya.
Sementara Erik dan Papanya memastikan serta mengakomodir semua kelengkapan acara agar termonitor dengan baik. Dengan kata lain, EO akan berhubungan langsung dengan mantan tangan kanan terbaik, Papa Tomy.
Papa Leo melarang Sadawira untuk terlibat langsung dalam kesibukan mereka kali ini, sebab kehamilan Claire yang sudah sangat dekat dengan hari lahir dinilai cukup riskan.
Papa Leo tak mau saat semua orang sibuk, kesehatan anaknya malah menjadi taruhan. Ia ingin semuanya berjalan dengan lancar tanpa harus mengorbankan salah atau dari mereka. Bahkan Mama Bella telah menyiapkan sebuah wheelchair otomatis untuka anak sulungnya itu agar tidak kecapekan saat bergerak kesana-kemari.
Nino dan Juwi turut di boyong. Ia bersama para pembantu di rumah Papa Leo bekerjasama dalam menghandle anak-anak selama para orangtua mereka sibuk. Anak-anak rentan rewel, untuk itulah Arimbi mencetuskan ide agar para maid itu saling bekerjasama.
Papa David dan Papa Leo beserta istri - istri mereka, dengan di bantu para besan terlihat menyambut tamu dengan begitu ramah. Kesemuanya nampak begitu bersinar manakala mengenakan pakaian terbaik untuk pernikahan Melodi dan Zayn siang nanti.
Seminggu terakhir, kedua mempelai benar-benar tak boleh bertemu. Hanya melalui sambungan telepon lah mereka saling melepas rindu. Dan rupanya, hal itu sangat sulit dilakukan.
Siksan demi siksaan batin terus mereka tahan. Godaan demi godaan setengah mati mereka tahan demi satu tujuan yakni membangun rumahtangga yang penuh kebahagiaan.
Rombongan dari Atana juga sudah datang sehari sebelum acara. Dua pesawat unsched terlihat parkir di apron bandara kota S dengan gagahnya.
Zayn yang kemarin tiba bersama keluarganya, terlihat langsung menuju ke hotel tepat dimana acara mereka akan di gelar. Zayn sejak kemarin juga tinggal sementara di kamar yang berbeda dengan calon istrinya. Ia yang di temani adiknya, Zara berada di dalam kamar yang sudah di tentukan.
Dan sebentar lagi, pria tampan itu bakal mengukir janji sehidup semati bersama wanita yang bakal menjadi teman seumur hidupnya. Melodi.
Ia memperhatikan tampilannya yang sudah rapih dan tampan. Jas berwarna putih gading dengan aksen bunga di bagian saku, dasi kupu-kupu yang semakin membuat penampilannya berkilau, jelas menegaskannya jika ia benar-benar seorang pengantin pria.
" Kakak sungguh tampan!" puji Zara yang merasa tak sabar.
Di kamar lain, pengantin wanita juga terlihat sudah selesai di dandani. Terlihat begitu cantik dan anggun. Dian yang mengajak rekannya yang berprofesi sebagai MUA kelas kakap benar-benar sampai tak menyangka jika Melodi akan secantik itu.
" Ya ampun nek, cubit aku dong. Ini beneran Melodi kan?" seru Dian yang benar-benar tak menyangka dengan hasil riasan temannya itu.
" Kenapa harus aku? Cubit saja sendiri!" balas pria ngondek yang telah bekerja keras membuat penampilan Melodi bagai ratu.
Dan dengan bodohnya, Dian mencubit sendiri pipinya guna memastikan jika itu bukanlah sekedar mimpi.
" Aaaa! Beneran sakit. Artinya aku gak mimpi!"
Si perias memutar bola matanya malas. Dian mulai lebay. Sementara Melodi justru terkekeh-kekeh sebab di biang rempong selalu saja membuat suasana heboh.
Bridesmaids yang bertugas kali ini adalah dari beberapa karyawan Melodi. Hal itu dilakukan sebab ia tak memiliki sepupu lain yang masih lajang. Groomsmaid juga sama, Zayn meminta Janu dan Henry untuk menjadi groomsmaid pada pernikahan adik iparnya itu.
Tidak masalah, selama uang masih di di kandung kantong, semua bakal berjalan sesuai rencana.
" Ya ampun Mel. Si Zayn pasti habis ini teler pas lihat kamu, hahahaha!"
Melodi benar-benar ingin tertawa. Tapi tentu saja, ia harus menahan semua itu sebab riasan yang lumayan berat membuatnya sedikit kaku.
__ADS_1
" Berat juga ya beginian ini!" kata Melodi membenahi gaun panjang yang menyapa lantai bagai princess dalam Disney.
" Nggak kok nggak berat. Masih berat menanggung dosa!" jawab Dian asal. Membuat si perias langsung mendesis.
" Ishhh!"
Dua pria bertulang lunak itu akhirnya membantu membawa Melodi untuk keluar sebab EO barusaja menginformasikan kepada mereka untuk membawa pengantin wanita turun.
Zayn juga sudah bersiap menuju ke bawah, melalui pintu lain bersama Janu dan Henry. Menunggu arahan dari crew EO tentang kapan meraka akan dimunculkan.
Mereka pasti tak menduga jika ballroom sebesar itu kini di penuhi oleh para tamu undangan yang kesemuanya merupakan tamu penting bagi mereka.
" Ladies and gentleman, sebentar lagi, kita menyambut kedua mempelai kita tuan Zayn dan nona Melodi!"
Seketika suasana menjadi riuh. Para sahabat terlihat begitu hanyut dalam euforia kebahagiaan.
Dan mendengar MC sudah mengumumkan soal mempelai, Mama Eka yang barusaja menyerahkan cucu-cucunya ke pengasuh terlihat menyeruak barisan pelayan yang sibuk mengantar minuman.
" Misi misi, kasih jalan dong. Atau ratu lebah lewat!" kata Erik yang mencarikan jalan buat Mamanya. Membuat wanita yang sudah berdandan secara maksimal itu mendengkus kesal.
" Kamu ini ngawur aja. Masa Mama dibilang ratu lebah!" protesnya dengan wajah bersungut-sungut.
" Ya biar mereka cepat minggir ma. Kan mama suka nyengat!"
PLAK!
" Aduh sakit ma!" keluh Erik yang kepalanya di jitak oleh Mama Eka. Membuat beberapa orang menahan tawa.
Erik hanya menghela napas panjang. Pasrah akan keadaannya yang selalu di tindas oleh sang Mama.
" Wisnu gimana? Sudah kamu telpon belum? Jadi datang gak dia?" tanya Mama Eka yang selangkah lagi tiba di meja para mantan gengnya dulu.
Mama Eka menanyakan adik Erik yang hari ini akan langsung datang ke pesta pernikahan Melodi. Laki-laki yang beberapa tahun lalu telah menyelesaikan pendidikan militernya kini bertugas di markas besar militer.
Pria bertubuh tinggi besar dengan sikap yang cenderung seperti Papa Tomy itu memang sudah lama tidak pulang.
" Ada, dia sudah di depan katanya!" balas Erik yang sedang menekuni ponselnya.
" Suruh dia masuk kalau begitu. Terus suruh ganti baju sana!"
Erik langsung menunaikan tugas dari Mamanya. Tak mau rempong kembali. Ia ingin segera menyusul istrinya yang sedang duduk semeja bersama Arimbi, Eva, juga Claire.
Wisnu memang tak memilih jalur bisnis seperti kakaknya. Pria itu seperti memiliki takdir, panggilan, serta pilih hidupnya sendiri sebagai seorang abdi negara.
Pria itu berjalan gagah dengan seragam yang masih lengkap. Wajahnya menunjukkan ketegasan.
" Halo Wis?" tanya Erik manakala ponselnya sudah tersambung.
" Hem!"
__ADS_1
" Naik deh ke atas. Kamar 213!"
" Yok!"
Wisnu tak banyak bicara. Sepertinya saja. Ia adalah kebalikan dari Erik. Ia lebih mirip seperti Papa Tomy yang sangat irit bicara
Pria lantas segera menuju ke atas. Yang menikah kali ini adalah anak dari mantan bosnya Papanya. Sudah selayaknya juga ia harus ikut menghormati. Apalagi, kebetulan ia sedang off .
Ia telah memasuki lift dengan wajah datar. Kamar 213 ada di lantai 9. Ia berjalan sembari mengeja satu persatu kamar yang menerakan nomor mewah pada tiap-tiap pintunya.
...213...
Ia mengetuk pintu. Sebab kakaknya tadi berkata jika ada seseorang yang sudah menunggunya di dalam.
Namun hingga ketukan ke tiga, pintu itu tak juga terbuka. Dan saat ia hendak meneleponnya kakaknya, pintu itu tiba-tiba terbuka namun bukan menampilkan orang yang tadi di infokan oleh kakaknya.
" Siapa kamu?" tanya seorang gadis yang menatapnya penuh keheranan.
Wisnu terdiam. Apa jangan-jangan kakaknya salah memberikan informasi?
" Ini kamar... Erik?" tanyanya mencoba mengkonfirmasi.
" Erik siapa? Jangan-jangan kamu mau niat jahat lagi. Ini juga, pakai seragam tentara. Kamu tentara gadungan?" tuduh gadis itu dengan wajah sengit. Menegaskan jika gadis itu sepertinya minim pengetahuan soal keprajuritan, sebab tak bisa membedakan seragam dengan sederet lencana yang sedang ia kenakan.
Wisnu menatap tak mengerti ke arah gadis yang mengenakan dress terbuka itu. Fix, Wisnu merasa jika dia memang salah kamar.
" Sialan Mas Erik. Malah ngasih nomor kamar yang salah!" batinnya mengumpat.
Wisnu langsung menelpon kembali kakaknya dan mengabaikan wajah gadis yang menatapnya tak ramah.
" Halo. Kamarmu di nomor berapa?" tanya Wisnu tanpa basa-basi begitu panggilannya tersambung.
" Kamu di mana sebenernya, kok lama banget? Assitenku udah nunggu kamu itu. Kamu dimana sih?" ucap Erik terdengar nyerocos.
Tapi Wisnu tak mempedulikan. Ia sekali lagi ingin mengkonfirmasi kamar kakaknya itu.
" Nomor kamar?"
"CK, kan udah aku bilang kamar nomor 231!"
TUT!
Wisnu langsung mematikan ponselnya begitu ia memastikan jika kakaknya memang telah salah memberikannya nomor kamar.
See? Kakaknya itu benar-benar manifestasi dari mamanya. Cerewet dan sering keliru.
Wisnu langsung pergi tanpa mengucapkan apapun kepada gadis cantik itu. Membuat gadis di depan sana meneriakinya dengan ucapan sinis.
" Woy sopan sekali kamu. Main pergi aja!"
__ADS_1
Tapi pria yang sebenarnya terburu-buru itu hanya berhenti. Sama sekali tak ingin meladeni gadis jutek itu.
"Gak jelas banget tuh orang. Emang ya, banyak banget modus. Untuk tadi aku kesini buat ambil handphone. Dasar gak jelas!" rutuk Zara yang mengira jika Wisnu adalah tentara gadungan.