
Masa lalu yang begitu menyakiti hatiku sunggu tidak bisa Aku lupakan. Itu selalu menghantuiku disetiap langkah kakiku. Dibalik kesehatianku yang begitu banyak menebar senyuman, Selalu tersimpan rasa sakit yang begitu dalam.
Entah Aku yang terlalu berlebihan atau yang tidak bisa memaafkan diriku Sendiri atas kejadian Orang Tuaku, Aku juga tidak tahu.
" Bukannya Aku yang tidak peka atau tidak merasa ketulusan Mereka yang mencintaiku dengan setulus hati, Tapi hatiku terasa sakit untuk memikirkan jauh akan kedepannya. Aku takut dan sangat takut untuk itu. "
######
Pagi pagi sekali, Aku kepasar sama Bibi dan kebetulan hari ini Aku cuti dan setiap tahun ditanggal ini Aku selalu cuti kalau bukan hari libur.
Aku memilih bunga bunga indah dan wangi semerbak pagi itu. Bibi menemaniku kepasar pagi itu karena Dia tau bahwa setiap tanggal kematian Mereka, Aku tidak pernah melupakannya.
Habis dari pasar, Aku dan Bibi langsung pulang kerumah. Aku langsung naik keatas untuk mandi dan siap - siap. Walau sudah bertahun - tahun Mereka meninggalkanku, Tapi Aku masih merasa bahwa itu baru kemarin.
Aku turun dan sarapan dulu sebelum berangkat. Aku sengaja membawa kaca mata hitamku. Setelah selesai makan dan Bibi juga sudah siap siap dan sudah menungguku di depan. Bibi sudah memasukkan Bunga yang tadi Kami beli.
" Hayo Bi .... " kataku sama Bibi sambil memakai Kaca mata hitamku itu.
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan rata rata karena jarak makam Mereka ke rumah cukup lumayan jauh, hampir setengah jam perjalanan.
Aku berusaha semangat dan tegar qalau dalam hatiku masih terasa sakitnya. Bibi mengelus pundakku dan senyum serta memberi isyarat agar Aku tetap kuat.
Aku yang melihat Bibi senyum dengan jelas dari balik kacamata hitamku itu membuat Aku sedikit lega dan bersyukur bahwa Aku masih punya Bibi.
__ADS_1
Ada Bibi yang harus Aku jaga dan Aku rawat. Aku akan membalas budi untuk setiap kasih sayang yang Dia berikan untukku.
Udara disekitar TPu itu terlihat sejuk karena banyak pepohonan dan dedaunan hijau.
Aku memakirkan mobilku dan turun bersama Bibi. Aku memegang bunga yang Kami bawa.
Banyak sekali pejiarah pagi ini yang Kami dapati disana. Aku berjalan kearah tengah dimana makam kedua orang tuaku terlihat terawat sekali dan sangat bersih.
Aku berjalan pelan diikuti oleh Bibi. Didepan makamnya, Aku berhenti dan tanpa berkata apa apa, Airmataku seketika langsung mengalir deras tanpa henti. Aku berusaha untuk tetap tenang.
Aku menghela nafasku dan memegang dadaku serta menenangkan diriku sendiri. Perlahan Aku jongkok diantara makam keduanya dan mengelus batu nisan Mereka. Tidak henti hentinya airmataku selalu mengalir deras. Aku menggigit bibir bawahku agar tidak terdengar oleh Bibi suara tangisanku walau Aku selalu mengusap Pipiku dengan tissu.
Bibi mendekat dan mengelus punggungku.
Aku tidak mengucapkan apa apa dan hanya airmata yang keluar membasahi wajahku. Aku hanya mengelus elus nisannya dan sembari menabur bunga untuk Mereka.
Kakiku terasa berat untuk melangkah dan kepalaku mulai pusing dan berat.
" Ma .... Pa .... " hanya itu yang keluar dari mulutku dan airmataku terus berurai. Banyak sekali yang pengen Aku kasih tau, Tapi mulutku seakan susah untuk mengatakannya.
Rasa sesak dan sakit itu masih jelas terlintas dipikiranku. Bibi berusaha menenangkanku. Aku menaruh bouqet bunga yang Aku bawa untuk Mereka setelah menabur bunga diatasnya. Aku letakkan bouqet itu dengan penuh cinta dan berusaha berdiri dan ....
" Bruukk ... "
__ADS_1
Aku bruk dan terjatuh. Bibi dengan sigap memelukku sehingga Aku tidak terjatuh ditanah tapi Bibi terjatuh duduk disamping makam Mama Papa karena menahanku.
Seorang Peziarah langaung berlari kearah Kami dan membantu Bibi menolongku. Bibi yang panik dan menangis membuat Bapak yang menolong itu juga jadi panik karena Bibi ikut menangis melihatku yang jatuh dan pingsan.
Bapak itu langsung membopongku untuk keluar dari TPU itu menuju parkiran diikuti oleh Bibi dan beberapa Ornag yang ada disana.
" Pak mobilnya disana .... " kata Bibi menunjuk dan berjalan sedikit berlari di depan diikuti oleh Bapak itu.
Bibi langsung mengambil kunci mobil yang ada ditasku dan langsung membukanya. Aku ditidurkan di bangku belakang.
" Ibu bisa bawa mobilnya ??? Dia harus dibawa ke RS karena badannya panas takut terjadi apa apa. " kata Bapak itu.
" Aduh .... Pak, Saya tidak bisa bawa mobil .... Bagaimana dong .... " cemas Bibi.
" Mas, Mas .... Sini! " panggil Bapak paruh baya itu sama Seorang Laki Laki yang ikut membantu tadi.
" Iya Pak .... "
" Kamu bisa bawa mobil gak ???? Tolong antarin Ibu sama Anaknya ke RS, Biar di cek sama Dokter dulu soalnya badannya sangat panas itu. Saya lagi ada urusan soalnya jadi tidak bisa mengantarnya. Kayaknya RS ada disekitar sini deh Mas ...."
" Oug .... Bentar iya Pak .... Saya kasih tau dulu sama Orang Mama, Nanti biar Mereka nunggu disini. " jawabnya sembari melihat Bibi yang sudah begitu cemas dan langsung memanggil Adik si Laki Laki itu.
Dia langsung mengemudikan mobilku dan menuju RS terdekat.
__ADS_1