Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 269


__ADS_3

Dua hari setelah dirumah sakit, Aku sudah baikan dan bengkak di lengan tanganku sudah berangsur kempes dan birunya sudah mulai hilang. Aku sudah bisa memegang ponselku walau harus ada penyangga didepanku karena kalau Aku sendiri yang pegang masih tidak bisa.


Tidak ada lagi infus yang terpasang karena hanya menunggu tanganku saja. Sebenarnya sudah bisa pulang, Tapi Aku memilih untuk sehat dulu karena Aku kepikiran sama Bibi disaat melihatku dengan kondisi seperti itu pasti akan membuatnya sedih sekali.


Apalagi pihak rumah sakit, Semakin merasa welcome buat Kita karena memang RR bayar pribadi dan mengambil kamar VIP lagi. Maunya pihak rumah sakit sih, tidak apa apa jika berlama lama disini.


RR sudah terlanjur untuk bayar cash karena Dia mau yang terbaik buat Aku disaat Mereka melarikanku ke rumah sakit ini. Padahal sebenarnya Aku ada Asuransi kesehatan kelas VIP juga.


RR tidak mau menunggu lama lama makanya langsung setelah sampai di rumah sakit, Dia langsung memesan kamar VIP untukku agar Aku langsung benar benar ditangani dan tidak menunggu antrian.


Rencanaku hari ini, Aku ingin menelpon Steve dan bicara baik baik setelah Aku memberanikan diriku untuk membaca semua pesan pesan permohonan maafnya.


Aku didampingi RR yang selalu berada disampingku. Dia menganggukkan kepalanya untuk memberi isyarat bahwa semua akan baik baik saja.


Panggilanku tersambung ke Steve dan tidak menunggu lama langsung diangkat dan mungkin karena itu pagi sekitar jam 10, Jadi pasti Dia ada dikantor.


Belum Aku mengatakan apa apa, Dia sudah ngomong duluan saat Dia menganggkat teleponku.


" Halo, Ran ..... Bagaimana keadaanmu ???? Kamu dirawat dimana ??? Di rumah sakit mana ???? Maaf Aku khilaf dan benar benar menyesal telah melakukan dan berbuat begitu sama Kamu. Walau sebenarnya itu bukan untuk Kamu, Tapi Aku benar benar meminta maaf sama Kamu, Ran .... Tolong maafin Aku, Ran .... Maafin Aku ..... Aku benar benar merasa bersalah sekali sama Kamu. Aku benar benar khawatir sama Kamu karena beberapa hari ini, Kamu tidak merespon pesan dan panggilanku sama sekali. Bahkan HRD juga tidak tau, Kamu dirawat di rumah sakit mana. Maafin Aku, Ran ..... " katanya panjang lebar.


" Aku sudah memaafkan Pak Steve. Dan Aku tidak ingin mengungkit tentang itu. Aku mau hidup dengan tenang tanpa ada beban dan rasa bersalah untuk siapapun termasuk Bapak. Maaf jika Aku ada salah sama Pak Steve, Dan maaf sekali jika rasa yang Bapak miliki untukku tidak bisa Aku balas itu. Maaf sekali. Soal perasaan itu tidak bisa digonta ganti semaunya Kita. Maaf jika tidak bisa ataupun membuat Bapak sakit hati untuk itu. Aku tidak mau terlalu jauh karena itu akan membuatku sangat sakit hati. Benar kata Orang, Tidak harus memiliki. Tapi itu semua tergantung pemikiran Pribadi lepas Pribadi untuk bagaimana Kita menyikapinya. Aku benar benar minta maaf dan semoga Bapak kedepannya menemukan Orang yang benar benar berbalas rasa itu dengan Bapak. Maaf sudah mengganggu waktunya , Pak Steve .... Selamat Pagi. " jawabku panjang lebar dan mematikan panggilanku itu.

__ADS_1


Aku tidak menunggunya untuk menjawab dulu karena menurutku semua yang Aku katakan itu sudah merupakan inti dan penjelasan semuanya. Aku sudah tidak mau membahas yang sudah sudah. Aku memaafkannya, Tapi bukan untuk tetap bertahan di kantornya walau Aku sudah memaafkannya.


Aku sudah berencana dan tekadku sudah bulat untuk mengundurkan diri dari perusahaan itu. Karena memang dari jauh jauh hari sebelum masalah itu, Aku sudah memikirkannya.


Dan kejadian ini, Membuatku benar benar memantapkan diri untuk lebih cepat lebih baik.


Aku menghela nafasku saat setelah mematikan ponselku.


RR mengelusku tanganku dan menggenggamnya.


" Its Oke Sayang ..... Maafin Aku ya .... " katanya mengelus rambutku.


" Aku bosan dengar Kamu minta maaf mulu !!" cetusku judes melihat wajahnya.


" Telepon Rein dong, Aku kangen .... Mami telepon Rein !!! " kataku manyun melihat Mami yang asyik nonton di sofa.


" Oke Cin .... Mami juga kangen sama Sayangku itu .... " jawab Mami sambil berjalan melenggok lenggok kerah Kami dan sambil menelpon Rein.


" Udah deh Cin .... Hari ini Kami akan ke geser sama Rein ... " kata Mami senyum senyum melihat RR.


" Iya nih, Mi. Aku sedih .... " katanya sambil sedih dan kepalanya selonjoran atas pangkal pahaku sambil tiduran.

__ADS_1


Dua kali Mami telepon tapi tidak ada jawaban dari Rein.


" Wah gak diangkat Cin .... Kerja kali ya Dia. " kata Mami.


" Wahh ... Syukurlah ... " gerutu RR pelan tapi Aku bisa mendengarnya.


Aku langsung menyentil telinganya hingga Dia meringis kesakitan.


" Aduh, Sayang .... Sakit !!! " katanya sembari mengusap usap telinganya.


" Mana lebih sakitan ???? " cetusku judes sambil menunjuk tanganku sehingga Dia terdiam.


" Lagian .... Aku dengar tuh apa yang Kamu bilangin barusan ... "


" Gak apa apa dong, kan Dia Adikku toh, Sayang .... ??? '' kata RR geram sambil mengigit bibirnya melihatku.


" Terserah Kamu !!! Awas ih, Aku mau tidur !!! " kataku sambil mengusirnya yang memeluk tubuhku sambil tiduran duduk di tubuhku. Melihat itu Mami senyum senyum dan geleng geleng.


" Gak mau ih .... Aku tidur diatas ya Sayang .... Bisa tuh disamping Kamu, Kan kasurnya besar tuh .... " katanya langsung ke samping kiriku walau Aku belum meng iyakannya.


" Eh ... Eh ... Ngapain ??? " kataku membanting tubuhnya pelan yang sudah langsung memeluk tubuhku tanpa menyentuh tangan kananku.

__ADS_1


Dia tidak menjawab dan memejamkan matanya sambil tidur memelukku.


__ADS_2