
RR keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk yang melingkar di lehernya.
Sementara Mami langsung membawa makanan yang Dia beli dari luar. Ada beberapa roti dan bubur Ayam sehingga Aku makan itu dulu karena wanginya yang menggugah selera.
Mami langsung menyuapiku tapi langsung digantikan RR karena RR minta biar Dia saja yang menyuapiku. Mami pun langsung ikut makan di sampingku.
" Tadi Aku kirain Mami belum beli makanan, Mau ngajak makan pangsit kian .... " kataku sambil menggigit satenya.
" Ya gak apa apa Cin, Nanti Kita beli lagi yang penting Kamu cepat sembuh, ya .... " kata Mami.
" Hhhmm .... " anggukku.
RR juga ikut makan sembari menyuapi Aku dan tiba tiba ponselku berdering yang Aku letakkan di kasur dan persis disampingku.
Aku, Mami dan RR melihat siapa yang menelpon itu. Tidak lain dan tidak asing yaitu Steve. Mami langsung membuang tatapannya saat melihat nama itu dilayar ponselku. Mami langsung pura pura tidaj melihat dan fokus ke bubur ayamnya. RR juga diam tidak mengatakan apa apa sejenak. Beberapa kali Steve menelpon tapi tidak Aku angkat.
" Kenapa gak diangkat Sayang ??? Mau Aku yang angkat gak ??? " tanya RR pelan melihatku dengan datar.
" Biarin ajah. Aku masih nenangin diri dulu. " jawabku sambil menatap RR yang juga menatapku.
Tatapanku sesaat fokus ke Dia hingga Dia mengalihkan pandangannya dariku dan gokus untuk mengaduk aduk bubur ayam itu, Begitu juga Mami yang melirik.
" Aaaaa ... " kata RR sambil menyendokkan bubur itu. Aku langsung membuka mulutku dan menelan perlahan bubur itu.
Tidak lama kemudian, Suster mengantar kursi roda dan langsung pergi lagi karena Aku sudah memberi tahunya untuk tidak stand bye, Ada Mami dan RR yang membantuku nanti.
__ADS_1
" Mami, Kamu mau mandi gak ??? " tanyaku sama Mami yang lagi santai di sofa sambil menyanyi mengikuti saluran yang lagi ditonton di tv itu.
" Gak Cin, Mami nanti saja mandinya. Mager bangat, Mami .... "
" Bukannya mager, tapi emang dasar malas !!!! Hahaha .... Hayo ke taman dong, Aku bosan nih disini. Sayang, Kamu ngapain ??? '' tanyaku sama RR yang lagi dikamar mandi.
" Bentar Sayang, Aku lagi sisiran. " jawabnya dan tidak lama keluar dari sana.
" Tolongin Sayang, Aku mau ke kursi roda. " kataku.
RR dan Mami langsung membantuku ke kursi roda. Aku turun perlahan dari ranjang, Sementara Mami memegang dan mendorong tiang infusku ke dekat kursi roda dan mengambil tabung infusnya saja dari gantungan tiang itu. Sementara RR pelan pelan memegang dan membantuku serta mengawasiku saat berjalan ke kursi roda.
Aku sedikit mengangkat tangan kananku dan selalu was was takut kesentuh. Setelah posisi duduk dan tanganku pas, RR langsung mendorongku perlahan.
" Mami, Tolong bawain ponselku ya .... " kataku.
" Biarin ajah Mi, biar suster yang rapiin. " kata RR.
" Iya Cin .... " jawabnya lembut.
" Sayang, Rein titip salam sama Kamu. " kata RR setelah dilorong rumah sakit dan mendorong kursi rodaku perlahan dari belakang.
" Oh iya iya. Dia apa kabar Sayang ??? " tanyaku sambil menganggkat wajahku sedikit melihat RR yang mendorongku.
" Baik. Aku kemarin ngasih tau kalau Kamu di rawat di Rumah Sakit karena ulahku. " katanya dan terus mendorongku hingga ke taman yang ada di rumah sakit itu.
__ADS_1
Dia berhenti disana dan tetap berada dibelakangku.
" Aku cerita sama Rein semalam Ran .... Aku ceritain semua yang Kamu alamin karena Aku. Aku benar benar bingung dan tidak tau harus cerita sama siapa, Memang itu salahku, Aku mengakuinya. Kamu begini karena Aku. Tapi, Aku benar benar tidak berniat untuk membuatmu celaka dan seperti ini, Ran .... Aku tidak kuat, Melihatmu seperti ini hanya karena Aku .... " kata RR pelan dan menatap jauh kedepan. Aku bisa mendengar bahwa suaranya itu sudah berat dan Dia sudah menahan air matanya.
" Hatiku benar benar sakit sekali melihat Kamu seperti ini. Aku tau bahwa Kamu benar benar marah sama Aku. Aku bisa merasakan itu, Ran ..... Aku benar benar minta maaf .... Aku sebenarnya tidak begitu kenal sama Steve, Dia menghampiriku pertama kali saat Aku mengantarmu ke kantor. Aku pikir wajar bila Dia bertanya Aku siapanya Kamu karena mungkin Dia selalu melihatku mengantar dan menjemputmu. Makanya Aku kasih tau bahwa Kamu adalah Pacarku. Waktu itu Dia minta nomorku dengan alasan mau nanya sesuatu, Aku yang tidak berpikir panjang langsung memberikan nomorku sama Dia. Selama Aku diluar kota, Dia selalu mengirimiku pesan yang mengatakan bahwa Kamu itu miliknya dan melarangku untuk bersamamu bahkan menyuruh untuk menjauhimu. Aku tidak meresponnya tapi Dia setiap saat mengirimiku pesan hingga kemarin itu, Aku berpikir bahwa ini harus diselesaikan secara langsung. Makanya Aku suru Dia datang ke kafe itu dan ternyata tanpa sepengetahuanku, Dia sudah mensetting semuanya. Aku benar benar minta maaf karena Kamu terluka hanya karena ulahku, Aku benar benar sakit hati sekali melihat Kamu yang hanya diam dan tidak mengatakan apa apa, Ran .... Aku tidak tau harus berbuat apa.... " kata RR dengan sesekali menghentikan perkataannya dan menghela nafasnya.
Aku bisa tau bahwa Dia menangis mengatakan itu walau tidak melihatnya.
Mendengar perkataannya itu, Aku tidak bisa membendung air mataku hingga akhirnya tumpah. Untung saja di taman itu tidak banyak Orang dan hanya beberapa saja dan itupun jaraknya dari Kami lumayan jauh.
Aku menumpahkan airmataku, menahan agar suara tangisanku tidak keluar. Bibirku gemetaran tanpa henti. Aku benar benar sedih, Perasaanku saat itu campur aduk sekali. Pikiranku berkecambuk hebat.
Airmataku benar benar bagai hujan yang begitu deras turun ke bumi. Aku mengepal erat tanganku. Aku tidak ingin menangis lagi, benar benar tidak ingin menangis.
" Tapi kenapa ???? Aku capek .... Aku capek ..."
Hanya itu yang keluar dari mulutku dengan gemetaran Aku berusaha mengatur nafasku.
Dengan sigap, RR langsung berlutut di depanku dan menyeka air mataku dengan kedua tangannya.
Aku menggigit bibirku yang sudah gemetaran agar tidak mengeluarkan suara tangisanku.
" Maafin Aku .... Maafin Aku ..... Jangan nangis , Jangan nangis .... Tolong jangan nangis .... " kata RR yang ikutan menesteskan airmatanya dan langsung menyekanya.
Dia langsung mencium keningku dan memelukku. Aku menangis histeris dipelukannya. Aku tumpahkan semua disana dipelukannya. Hatiku benar benar sakit sekali mendengar semua itu.
__ADS_1
Dia menenangkan Aku hingga benar benar tenang. Sesekali Aku masih sesunggukan dipelukannya. Aku memejamkan mataku dipelukannya untuk mencari ketenangan.