Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 268


__ADS_3

Setelah Aku tenang, Dia membawaku kembali ke kamar. Disepanjang perjalanan ke kamar, Aku menunduk tanpa melihat sekeliling dan sesekali air mataku masih tidak bisa Aku tahan.


RR mengelus elus punggungku sembari mendorongku perlahan. Mami yang menghilang tidak tau kemana membawa ponselku, mungkin karena melihat Kami lagi mengobrol serius sehingga Mami mengurungkan niatnya untuk bersama Kami. Mungkin Mami ke kantin atau mengitari sekeliling rumah sakit.


Sampai dikamar, Dia langsung mendorong kursi rodaku ke arah ranjang agar Aku bisa tiduran disana. Dia beridiri di depanku dan menggantung kembali tabung infusku ketiang yang tersedia lalu mengulurkan tangannya untukku.


Aku yang tadinya hanya menatap ke bawah, Perlahan lahan mengangkat wajahku melihatnya dan bendungan airmataku tidak terbendung lagi. Airmataku mengalir deras saat Aku melihat dan menatapnya. Dia langsung memelukku dan mengelus elus punggungku.


" Maafkan Aku Sayang ..... Maafkan Aku .... Tolong jangan nangis .... Udah ya .... Tolong jangan salah paham akan hal itu karena Aku tidak menyembunyikan apapu dari Kamu, Ran ..... Aku hanya berniat untuk memperjelas dan menjelaskan hubungan Kita. Tapi Aku malah membuat Kamu menderita. Maafkan Aku ..... Maaf .... Aku tidak akan pernah meninggalkanmu karena Aku sudah berjanji sama Kamu dan sama Diriku sendiri. "


Dia mengelus punggung dan rambutku. Aku memegang erat bajunya dan memejamkan mataku dipelukannya. Aku berusaha untuk tenang karena Aku benar benar percaya sama RR. Aku tau semua yang Dia katakan itu benar, Terlihat jelas dari wajahnya.

__ADS_1


Hanya saja, Aku merasa benar benar sedih dan takut sekali dan tidak tau harus mengatakan apa apa.


Sesekali sesunggukanku saat terdengar hingga Dia menepuk nepuk pelan punggungku. Aku tidak melepas gengaman erat tanganku di bajunya itu hingga Aku tertidur diperlukannya karena kecapean.


Aku kaget karena Dia melepaskan bajunya dari gengaman tanganku. Kayaknya setelah kejadian itu, Aku jadi sedikit takut dan kagetan saat ada seseorang yang tiba tiba memegang tubuhku.


Tidak tau itu karena trauma, atau apa. RR membaringkan tubuhku di ranjangku sambil mengelus elus rambutku dan menggenggam tanganku erat.


" Aku takut. " kataku pelan memejamkan mataku sambil meneteskan airmataku.


" Jangan takut, Aku ada disini. Aku selalu menemanimu, Sayang .... Jangan takut ya ... " katanya sambil mengusap air mataku yang hampir masuk ketelingaku.

__ADS_1


" Aku ingin pulang Sayang, Tapi Aku gak mau Bibi jadi khawatir. " kataku sambil melihat ke arah Dia yang duduk dan membarikan kepalanya disampingku.


" Gak. Kamu jangan pulang dulu ya, Harus udah benar benar sembuh dan luka serta bengkaknya udah kempes baru Kita pulang ya .... Kamu gak usah khawatir, Aku akan selalu menemani Kamu. " jawabnya sambil mengecup keningku lembut.


" Aku ingin hidup tenang. Mungkinkah semuanya akan baik baik saja ???? Aku tidak pernah menyakiti siapapun, Sayang .... Tidak pernah. Apa Aku salah jika tidak mencintai Orang yang mencintai Aku ??? Apakah Aku harus berpura pura untuk mencintainya sementara Aku mencintai Orang lain ???? " tanyaku melihat RR dan air mataku terus mengalir.


" Kamu gak salah Sayang, Kamu gak salah !!! Jangan bicara seperti itu. Yang Kamu lakukan itu benar kok. Kamu tidak salah. Udah ya, Jangan nangis ..... Hatiku sakit sekali melihat Kamu menangis terus dan sedih terus. Aku benar benar mencintaimu .... "


" Mari Kita bereskan semua dan Mari Kita bahagia selamanya.... Aku tidak mau, Orang lain menaruh harapannya samaku. " kataku melihat Dia dengan penuh air mata.


Dia langsung memelukku mendengar perkataanku itu. Dia menangis penuh bahagia. Dia benar benar senang dan bahagia sekali karena jawaban yang Dia tunggu tunggu akhirnya Aku jawab.

__ADS_1


__ADS_2