Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 265


__ADS_3

Setelah Suster itu mengganti pakaianku dan bajuku itu dibuang, Mami pun langsung membersihkan wajahku dengan tissue basah.


" Sekalian Mami maskerin ya Cin .... Halus bangat sih Muka Kamu ini .... " kata Mami.


" Besok ajah deh Mi maskerannya. Aku mau langsung tidur. Oh iya, Tolong chargerin ponselku yang di dalam tas ya Mi. " kataku melihat Mami.


Mami hanya mengangguk. Mungkin Dia bisa melihat kesedihan yang Aku tahan dan tidak tunjukkan dibalik keceriaan yang semenjak bangun setelah pengaruh obat bius itu. Ada hati kecilku yang menangis dan merasa sepi.


Aku memejamkan mataku perlahan dan ingin melupakan semua yang terjadi. Ingin menangkan hatiku yang benar benar rapuh. Aku ingin kuat. Hingga tidak sadar air mataku mengalir.


" Apakah ini hukuman buatku Tuhan ???? Maafkan Aku untuk semua dosa dan kesalahanku. " gumamku menggigit bibirku agar suara tangisku tidak terdengar.


" Pa, Ma ..... Ranti kangen ..... Maafkan Aku yang belum bisa jadi Anak yang baik. " kataku terisak.


Mami yang melihatku terisak, Membiarkanku untuk menangis agar Aku merasa lega. Karena di depan Mereka, Aku selalu berusaha kuat walau sebenarnya sangat rapuh dan sakit. Mami sangat mengerti kondisi dan keadaanku.


Aku benar benar lelah dan capek. Aku tertidur akhirnya lelah setelah menangis pelan dan tanpa suara membuat mataku sedikit bengkak.


Aku tidak mendengar lagi RR kembali ke kamar. Subuh Aku terbangun karena hendak mau ke kamar mandi, Dan Aku melihat RR dan Mami yang tidur disofa.


Aku tidak ingin membangunkan Mereka, Sehingga Aku berjalan pelan pelan sambil memegang tiang infusku ke kamar mandi.


Perlahan, Aku duduk diatas kloset dan menghela nafasku. Tanganku yang benar benar masih bengkak membuatku kewalahan untuk membuka celana tidurku.

__ADS_1


Aku perlahan menurunkannya dengan tangan kiriku dan terasa sakit karena jarum suntiknya yang sedikit terasa saat tanganku bergerak.


Disaat Aku keluar dari kamar mandi, Aku melihat selang infusku yang berubah jadi warna merah karena mungkin tadi Aku menggerakkan tanganku sehingga darahku masuk ke dalam selang infus itu.


Aku berjalan ke arah ranjang dan tiduran disana sambil melihat Mereka berdua yabg tidur disana. Sebelum Aku naik ke ranjangku, Aku mengambil ponselku yang tadi Aku suruh Mami untuk charger.


Aku berusaha membuka ponselku dengan tangan kiriku tapi sedikit susah dan membuat tetesan infus diselangnya terhenti. Apa karena darahku yang masuk ke dalam selang infus itu, Aku juga tidak tau.


Aku langsung menekan bel untuk meminta Suster datang.


Tidak lama, Suster mengetuk pintu pelan dan masuk membuat RR terbangun karena Suster yang mengetuk pintu tadi.


" Kenapa, Kak ??? Ada yang bisa dibantu ??? " tanya Suster itu mendekatiku.


" Kenapa Sayang ??? " tanya RR yang sudah berdiri disampingku membuatku kaget dan melihatnya.


" Ini kayaknya harus diganti Kak untuk selangnya. Soalnya karena darahnya Kakak udah masuk kedalam selang ini, jadi tersumbat disini. " jawab suster itu sambil menunjukkan jarum suntik yang menempel di tanganku.


" Oalah .... Makanya gak mau turun iya infusannya. "


" Iya Kak. Bentar iya Kak, Aku ambilin yang baru. " kata Suster itu.


" Iya, Sus. Makasih ya. " kataku.

__ADS_1


Suster itu langsung pergi untuk mengambil satu set selang infus yang baru lagi.


" Sayang, Kenapa Kamu gak panggil Aku tadi ??? " kata RR sambil duduk disampingku dan mengelus pipiku.


" Aku gak mau ganggu tidur Kalian. " jawabku menatapnya.


" Gak apa apa. Panggil ajah .... " katanya sambil mengelus rambutku hingga Aku memejamkan mataku saat Dia mengelus rambutku. Seketika Aku ingin menangis, tapi Aku tidak mau menangis lagi. Itu sudah cukup.


" Sayang, Tolong ambilin bantal itu dong. " kataku sambil menunjuk bantal yang ada disofa yang tidak dipake.


Setelah diambil, Aku langsung menaruhnya diatas perutku untuk mengganjal ponselku biar bisa Aku letakin disana tanpa Aku pegang.


Aku menyentuh layar ponselku dan melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Pak Steve dan banyak pesan masuk, Mungkin salah satunya dari Pak Steve juga.


Saat Aku menyentuh layar ponselku itu, RR juga melihatnya, Membuatku dengan spontan melihat tanganku yang masih bengkak serta jahitannya yang belum kering juga.


Dengan cepat RR langsung mengelus bahuku dan mencium keningku dan berbisik.


" Maafin Aku Sayang .... " katanya.


Aku tidak menjawabnya dan langsung memejamkan mataku. Satu butir air mata jatuh tepat di pipiku. Aku benar benar bisa tau bahwa itu air mata RR, Dengan sigap Dia mengusapnya seakan akan tidak ada yang jatuh disana.


Aku gak berani membuka mataku karena Aku sudah tidak mau menangis lagi.

__ADS_1


Karena Susternya sudah datang lagi, Membuat RR menghela nafasnya yang terdengar jelas ditelingaku sembari mengelus bahuku.


__ADS_2