Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 276


__ADS_3

Tok .... Tok .... Tok .....


Tiba tiba pintu ruanganku diketuk dari kuar saat Aku sudah beres beres untuk mau pulang. Semua barang barang kantor sudah Aku kembalikan ke HRD sore tadi. Dan semua urusan sudah kelar termasuk form exit sudah dikasih Gita karena sudah di tanda tangan oleh Pak Steve.


" Siapa jam segini mau kesini ??? " gerutuku membereskan mejaku.


" Iya, Masuk .... " jawabku dari dalam.


Aku kaget saat yang masuk dan menutup pintu ruanganku itu adalah Steve. Aku benar benar kaget dan syok serta tubuhku sedikit gemetaran saat Dia melemparkan senyum mendekatiku dengan santai.


" Ada apa Pak ??? " tanyaku dengan sedikit tenang.


" Kamu sudah mau pulang ???? " tanyanya berdiri di depanku.


" Iya. Ini mau pulang. " jawabku dengan langsung menenteng tas dan mengambil syal dari belakang kursiku yang Aku gantung.


" Oh ..... Ini Aku ada hadiah buat Kamu. Hadiah bahwa Kamu sudah bergabung di Kantor Saya walau akhirnya tidak sesuai yang Kamu harapkan maupun yang Saya harapkan. " katanya sambil mengeluarkan kotak kecil dari dalam sakunya.


Ada rasa takut campur kaget dalam diriku. Aku takut itu ada apa apa.


" Aduh, Pak .... Tidak usah, jangan repot repot. Maaf, Saya tidak bisa menerimanya. " jawabku menolaknya.

__ADS_1


" Tolonglah hargai pemberian Saya. Dan ini juga sebagai permintaan maaf dari Saya. Saya berharap Kamu menyukainya. " Steve mengulurkan tangannya dan memberikan kepadaku sehingga Aku tidak bisa menolaknya lagi.


" Terima kasih, Pak. Saya pamit pulang dulu. " jawabku sambil menerimanya.


" Sama sama. Ayo, Bareng turunnya, Saya juga mau pulang. " katanya mempersilahkan Saya.


Saya sedikit takut dan sesekali melihatnya dengan senyuman yang tidak iklas dari wajah Saya. Saya langsung berjalan cepat keluar dari ruangan diikuti sama Dia.


Aku benar benar sangat deg deg an sehingga Aku berjalan sedikit cepat dari biasanya. Iya, Aku benar benar khawatir dan takut. Aku tidak bisa membohonginya. Walau Aku berpura pura kuat dan seolah olah tidak terjadi.


Aku langsung memasuki lift sembari memegang kotak kecil yang dia berikan itu. Dia juga ikut masuk ke dalam lift itu dan sesekali melirikku dengan senyum. Rasa khawatir dan trauma tentu masih ada. Ingin rasanya cepat cepat berlari keluar dari sana dan menghampiri RR yang sudah menunggu di lobby.


Aku menolehnya kebelakang, Seketika tubuhku gemetar saat Dia memegang tangan kiriku.


" Kalau Kamu sudah putus sama Dia, tolong kasih tau Saya ya, Saya akan menunggumu. " katanya lalu mengedipkan matanya.


Aku langsung menarik tanganku dan langsung pergi berjalan cepat meninggalkannya. Sesekali Aku melihat kebelakang apakah Dia mengikutiku atau tidak.


Untung saja Dia tidak mengikuti lagi sehingga Aku bisa merasa sedikit lega. RR melambaikan tangannya kearahku dan Aku sedikit berlari. Dia langsung membukakan pintu untukku lalu Dia langsung masuk setelah menutup pintu disampingku.


Aku langsung memeluknya saat Dia sudah masuk dan salah satu tangannya masih memegang pintu untuk menutupnya.

__ADS_1


Aku memejamkan mataku dan memeluknya erat, membuatnya sedikit bingung atas sikapku yang tidak biasanya itu.


" Are You Oke , Sayang ??? " tanyanya sambil mengelus pundakku lembut setelah menutup pintu mobil.


Aku menganggukkan kepalaku.


" Apa Dia mengatakan sesuatu ???? "


Aku menggelengkan kepalaku dan masih memeluknya erat sehingga Dia mengelus pundakku dan menepuk nepuknya pelan.


" Aughh .... "


Tiba tiba Aku kesakitan. Rasa nyeri dari tanganku tiba tiba terasa nyut nyutan. Apa karena hari ini Aku terlalu banyak bergerak dengan tangan kananku ini ???


" Kenapa Sayang ??? "


" Tanganku tiba tiba nyeri, Aduh sakit .... " rintihku sambil meluruskannya di atas pahaku.


" Kita langsung ke Rumah Sskit ya, Biar bisa langsung di cek. Takut kenapa napa. " kata RR langsung melajukan mobilnya menuju RS terdekat.


Selama diperjalanan, Aku berusaha memejamkan mataku berharap rasa nyeri itu berkurang sedikit. RR juga mengelus elus rambutku. Dia sangat khawatir sekali.

__ADS_1


__ADS_2