Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 231


__ADS_3

Malam ini benar malam yang panjang buat Kami berdua untuk saling berbagi hasrat dan kebahagiaan. Senyum sumrigah terpancar dari wajah Kami setiap Kami menemukan titik terenak itu.


Memang benar yang dibilang Mami tadi. Melakukan yang enak enak itu sebelum mandi memang jauh lebih meggairahkan dan bersemangat.


RR juga yang memang sudah sangat ingin melakukannya begitu bersemangat dan membuktikan omongannya tadi untuk melakukan beberapa ronde.


" Aku selalu kewalahan saat ingin menancapkan itu Sayang ..... Kamu benar benar seperti masih Perawan .... Membuatku semakin ingin terus dan terus tidak mau melepaskannya. " bisiknya dengan nafasnya yang terpenggal penggal.


" Maka bayaranku akan jauh lebih mahal. " bisikku dengan menggoda.


" Semua milikmu. Aargghhh .... Aaaaa ..... " katanya sambil mendesah menggenggam erat jemari tanganku.


" Hahahaha .... Tubuhmu ini milikku seutuhnya. Jangan pernah melakukan apapun tanpa seijinku !!!! " ancamku melihatnya.


" Siap Sayang .... Aku gak pernah dan tidak akan pernah berbagi dengan yang lain karena Aku tau ini hanya milikmu Seorang. Kamu juga harus janji bahwa tubuhmu ini juga milikku mulai sekarang. Jangan pernah melakukan hal hal bodoh yang tidak Aku sukai. Kamu tau kan maksudku ???? " kata RR sambil menganyun permainan itu.


" Iya Sayang ..... "

__ADS_1


" Jangn cuma iya iya. Nanti kalau udah Aku balik kesini Kamu melakukan hal bodoh lagi !!!! Jangan pernah Aku tau atau Aku dengar Kamu melakukan itu. Mengerti ???? "


" Iya Sayang .... Tapi, Bagaimana kalau misalnya Aku lagi pengen ???? '' tanyaku bercanda sambil ikut melakukan ayunan demi ayunan.


RR langsung berhenti dan melepaskan genggamannya dari tanganku dan beranjak langsung ber jalan ke kamar mandi membuatku sedikit merasa kesal karena pas lagi menikmatinya tiba tiba Dia langsung udahan.


" Sayang .... " panggilku melihat Dia yang berjalan ke kamar mandi lalu " Duarrr .... " Dia menonjok tembok kamar mandi dengan kencang membuatku kaget berlari kesana setalah memakai piyama. Aku tau Dia memang kesal dan marah atas perkataanku tadi.


Aku juga mungkin bakal melakukan hal yang sama jika Dia mengatakan begitu. Aku berlari ke kamar mandi dan untuk saja Dia tidak menguncinya dari dalam. Aku melihat Dia yang berdiri di depan Wastafel dan melihat Dirinya di cermin.


Aku syok dan kaget serta takut campur aduk saat melihat tangannya berdarah ditambah wajah RR yang begitu sangat marah.


Aku gemetaran melihat wajahnya dari cermin dan langsung memegang tangannya yang berdarah itu.


" Saa aayyaanngg ..... Maafin Aku .... Maaf, Aku hanya bercanda. Maafin Aku ..... Maaf .... " kataku memegang tangannya dan airmataku sudah mengalir sangat deras membasahi pipiku. Kakiku serasa tidak kuat untuk berdiri. Dia hanya diam tanpa mempedulikan Aku.


Aku langsung mengambil kotak p3k yang ada dilemari itu dan membersihkan darahnya. Aku takut dan tidak mau melihat wajahnya itu. Aku melihat tangannya dan fokus untuk membersihkan lukanya, Tapi airmataku selalu mengalir dan menetes ke tangannya sehingga Aku tidak bisa fokus untuk membersihkan lukanya itu.

__ADS_1


Aku sesunggukan dan menahannya untuk tidak bersuara. Aku memang salah dan tidak mengerti perasaannya Dia, Walau Aku hanya bercanda tapi ini sudah terjadi.


Setelah selesai membersihkan dan lukanya Aku perban, Aku langsung membersihkan tubuhku dan masuk ke ruangan shower.


Dengan buru buru dan masih menangis takut dan gemetaran Aku dengan cepat menyelesaikannya dan Aku keluar dari ruangan shower itu. Saat Aku hendak keluar dari ruangan itu dan sudah mematikan shower, Aku berjalan keluar tapi Aku terpeleset di dalam dan terjatuh. Untung saja Aku jatuhnya dengan kedua lututku sehingga yang sakit hanya itu dan tanganku yang memegang dan menahannya.


Melihat itu, RR langsung berlari dan segera menolongku. Aku menangis, mataku perih dan Aku melepaskan tangannya yang memapahku. Aku takut benar benar takut.


Aku langsung keluar memakai handuk dan meninggalkan Dia disana.


Dia juga langsung buru buru mandi dan menghampiriku yang lagi memakai baju. Aku yang melihat Dia keluar dari kamar mandi, sedikit gemetaran dan takut karena baru kali ini Aku melihat Dia semarah dan seemosi itu sampai Dia harus meninju dinding.


Dia langsung menarikku untuk duduk disofa dan melihat kedua lututku sudah biru dan sedikit bengkak.


Aku masih sesunggukan dan airmataku masih berurai menetes, serta tanganku gemetaran saat Dia memegang tanganku untuk duduk.


" Udah dong nangisnya Ran .... Masa segitu ajah Kamu udah takut ??? Gimana nanti kalau Kalian udah menikah ???? Hayooo jangan nangis Please .... Lagian Kamu yang salah, Ngapain ngomong seperti itu .... " gumamku mengepal tanganku dan menarik nafasku.

__ADS_1


__ADS_2