Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 272


__ADS_3

Pagi ini, Aku sudah siap siap untuk berangkat ke kantor untuk mengurus pengunduran diriku. Mami dan RR mengantarku dan akan menungguku kata Mereka berdua. Diperjalanan Mami menasihatiku panjang lebar terkait semalam yang Aku marah marah gak jelas sama RR hanya karena masalah sepele saja. Pokoknya Mami benar benar mengeluarkan semua unek unek yang selama ini Dia dengar kalau Aku selalu marah ke RR.


" Ranti, Mami juga bukan Orang yang benar atau baik. Tapi pesan Mami, tolong hargai RR yang selalu mencintai dan menyayangimu dengan tulus. Kamu pasti ngerti maksud Mami. " kata Mami terakhir saat semuanya sudah diutarakan.


Aku hanya diam dan memang benar yang dikatakan Mami itu. Aku terlalu sensitif belakangan ini sama Dia. Bahkan hal kecil ajah bisa jadi masalah yang seharusnya tidak. Tapi dibalik semua itu, Aku jadi semakin cengeng dan kalau ada apa apa langsung nangis gak jelas.


Sesampai di lobby, RR menghentikan mobilnya dan Aku langsung menatap Mereka berdua.


" Sayang, Mami ..... gak usah nungguin Aku ya.... Soalnya mungkin Aku pulangnya sore karena kan harus ngelarin semuanya dulu hari ini. Nanti kalau Aku udah kelar, Aku telepon Kalian ya .... " kataku sambil melihat Mereka berdua untuk menyakinkan.


" Sayang ...... "


" Please..., Aku ingin ngelarin ini semua dan Aku gak mau Kalian diam menunggu disini. Tolong ngerti. " kataku memegang tangan RR dan menatapnya.


" Tapi nanti kalau ada apa apa telepon Kita ya ??!! " kata Mami melotot.


" Iya, iya Mi. " jawabku langsung.


" Tapi Sayang .... "


" Please .... Nanti kalau ada apa apa, Aku pasti langsung telepon Kalian. "


" Ya udah Cin, gak apa apa. Benar yang Dia bilang, Jangan Kita mengurusi masalah Dia dengan kantornya. Kalau memang Kamu ada urusan dengan Bos nya Ranti yang belum kelar, Jangan disini. " kata Mami memberi saran.


" Baiklah. " jawab RR serta mengelus tanganku.


Aku pun melempar senyumku ke Mereka berdua sambil merapikan tasku. Hari ini Aku sengaja sepatu kets dipadu dengan kaos dan celana jeans. Tanganku sudah tidak bengkak hanya tinggal sedikit biru dan bekas jahitan serta jemariku saja yang sedikit bengkak dan birunya terlihat jelas.


RR langsung menarikku kepelukannya setelah menatap dan memandangku yang lagi asyik merapikan tas dan bajuku.


" Aku mau isi tenaga dan semangat buat Kamu." katanya pelan membuatku tersenyum dan memejamkan mataku sebentar.

__ADS_1


" Kalau ada apa apa dan butuh sesuatu telepon Aku, ya ???? " katanya sambil memegang kedua pundakku dan menatapku.


Aku mengangguk senyum.


" Maaf ya, Mami. " kata RR saat Dia mengecup bibirku lembut lalu menatapku dan mengelus rambutku.


" I Love You .... " kata senyum sambil menciun keningku.


RR langsung keluar dan membukakan pintu untukku.


" Makasih Sayang .... Mami, dadah ... " kataku melambaikan tanganku ke Mami yang duduk dibelakang dibalas dengan lambaian tangan Mami juga.


" Jangan sedih sedih lagi ya ..... " kata RR setelah Aku keluar dan menutup pintu mobil itu sehingga Mami tidak bisa mendengarnya dan hanya melihat Kami dari dalam.


Aku mengangguk senyum.


" Ya udah, Aku masuk dulu ya .... " kataku sambil melambaikan tanganku.


Aku menempelkan ID cardku dan masuk berjalan ke arah lift. Hari ini, Aku sampai di kantor jam 9 lewat jadi tidak banyak ketemu Karyawan dibawah atau di dalam lift.


Setelah sampai di lantai atas tempat ruanganku, Aku berjalan keluar sembari berjalan pelan dan membuka ponselku.


" Pagi .... " sapaku saat masuk keruangan sembari berjalan menuju ruanganku.


" Pagi Bu. Ibu tangannya kenapa Bu ??? " tanya Spvku yang sedikit kaget melihatnya.


" Habis jatuh Mba. Hehehe .... Maaf ya, Beberapa hari ini gak masuk. " kataku menghentikan langkahku sembari melihat Mereka semua.


" Oalah Bu ..... Cepat sembuh ya, Bu .... "


" Ya Bu. cepat sembuh ya .... Gak rame kalau gak ada Ibu. " kata salah satu staffku.

__ADS_1


" Ya nih Bu .... Kita mau jengukin Ibu tapi gak tau dirawat dimana ? " kata Aris.


" Hehehe ... Makasih semua ya udah begitu perhatian. " jawabku senyum sambil berjalan masuk ke ruanganku.


" Oh ya ..... Nanti Kita makan siang bareng ya. Ditempat biasa, Nanti tolong pesanin ya, Ris .... Biar sampai disana Kita langsung makan. Aku yang traktir.... " kataku menoleh dan main mata sam Mereka saat hendak membuka ruanganku.


" Makasih Bu. "


" Siap Bu. Makasih Bu ...."


" Sama sama .... "


Aku langsung memasuki ruanganku dan menutup pintunya kembali.


Aku melihat tumpukan mejaku sudah penuh dengan dokumen.


Aku langsung menyalakan komputerku dan menekan tombol pemanas dispenser. Aku menghela nafasku saat duduk dikursi kerjaku sambil membuka laci dan melihat apakah masih ada stok kopiku disana.


Aku butuh kopi saat melihat dokumen yang begitu menumpuk itu.


Setelah beberapa dokumen Aku kelarin dan sesekali memanggil Spvku keruangan untuk menanyakan terkait beberapa dokumen yang lagi Aku cek satu persatu, Aku mengirim pesan ke HRD.


" Pagi Mba ..... Aku udah masuk nih hari ini, adakah form exit untuk karyawan yang perlu Saya isi ???? Aku juga lagi ngelarin beberapa kerjaan dulu. "


tidak lama kemudian HRD langsung merespon pesanku itu. Karena kebetulan memang atasanku langsung adalah Pak Steve jadi kemungkinan besar HRD akan mengajukan atau memberi tahu Beliau terlebih dulu.


" Halo Bu Ran .... Pagi, Aku keruangan Ibu ya sekarang .... " balasnya tanpa menjawab pertayaanku.


" Baik. " jawabku singkat.


Aku langsung melanjutkan semua pekerjaanku sembari menyeduh kopi panas menemani kerjaku pagi ini.

__ADS_1


Tok .... Tok .... Tok ....


__ADS_2