
Tidak lama Kami berada disana, Akhirnya Kami pamit untuk pulang dan Papinya juga belum bangun dan takut kebangun juga karena suara Kami yang berisik.
Ditambah Mami sudah mulai bercanda dengan bahasanya yang centil dan gemulai itu membuat Agus juga ikutan nimbrung perkataan Mami tanpa ada rasa canggung lagi.
Aku langsung pamit minta pulang karena takut mengganggu istirahat Papinya itu.
" Gus, Kita pamit pulang iya, Masih ada urusan soalnya. Oh iya salam sama Bapak iya. " kataku sambil bangkit berdiri.
" Tungguin lah Papi bangun dulu, Sekalian udah kesini juga Ran .... Papi juga mau ketemu sama Kamu karena tadi Aku udah kasih tau kalau Kamu akan kesini. " jawab Agus.
Aku melihat RR dan mencari jawaban kalau Aku harus jawab apa. Dia langsung mengangguk agar menunggu saja seperti yang dikatakan Agus.
Setelah Aku meng iyakan, Agus langsung memesan beberapa makanan dan menelpon seseorang untuk segera mengantarnya. Mami dan Agus serta RR bercanda bersama dan bercerita cerita. Mereka bertiga Aku lihat nyambung walau RR sedikit hanya senyum senyum.
Aku hanya merasa sedikit malas mendengar perkataan dan cerita cerita Mereka apalagi berdua sama Mami yang mengarah ke hal hal sensitif gitu. Agus juga yang blak blak an tidak menjaga omongannya apalagi disaat seperti ini hingga Aku langsung menatap Mami dan memberi isyarat untuk tidak melanjutkannya.
Tidak lama kemudian, Akhirnya Papinya bangun dan Aku berdiri dan langsung menghampirinya saat Dia memanggil namaku.
" Pak ... Udah bangun .... Gimana keadaannya Pak ??? " tanyaku sambil memegang tangannya.
__ADS_1
Papi Agus senyum melihatku dan mengelus tanganku.
" Bapak Baik baik saja Ran .... Kamu apa kabar ??? Kapan Kamu balik dari Paris ??? " tanyanya dengan pelan.
" Baru kemarin sampai Pak. Syukurlah Bapak udah baikan. Jangan terlalu banyak kerja Pak, Udah istirahat ajah dirumah. " kataku melihatnya karena Aku selalu menyuruhnya untuk istirahat dirumah semenjak sudah tidak sehat lagi.
" Hehehe .... Emang Kamu mau kerja di Perusahaan Bapak ??? Hhm ??? Hehehehe ... Kalau Kamu mau, Bapak akan dirumah ajah. " godanya sambil ketawa pelan.
" Hehehe .... Bapak bisa ajah. Itu Agus udah bertanggung jawab Pak. Kalau masih tidak bisa bertanggung jawab, langsung tampol ajah Pak kepalanya itu. " kataku dengan tidak segan segan dan bercanda karena memang Papinya Agus sangat dekat denganku dan sudah tau Aku bahkan Dia selalu menganggapku sebagai Anaknya sendiri sehingga Kakak Kakak Agus selalu memanggilku Adik.
" Hahahaha .... Bisa ajah Kamu Ran ... " timpal Agus menghampiri Kami.
" Kamu ajah yang tampol Ran, Kalau Bapak mah Dia sudah tidak peduli dengan perkataan Bapak. Semoga ajah Dia setelah Menikah bisa bertanggung jawab. Jangan sama perusahaan dulu deh, Sama rumah tangganya ajah dulu ,Karena dari sana akan kelihatan kelakuan dan sifat seseorang itu. " jawab Papinya.
" Kamu sama siapa itu Ran ??? "
" Oh iya Pak, Aku sama Teman. " jawabku sambil memanggil Mereka.
RR dan Mami langsung menyapa Papinya Agus.
__ADS_1
" Pi, Dia pacarnya Ranti. " kata Agus sambil menunjuk RR dan RR senyum menunduk.
" Oh ... Tolong jaga Anak Saya baik baik iya. " katanya sama RR.
Mendengar itu Aku sangat sangat terharu dan memegang tangan Papinya Agus dan mengelusnya dengan senyum. Dia yang melihatku yang sudha berkaca kaca mengelus tanganku yang memegang tangannya.
" Kamu tau kan Ran, Kalau Bapak sudah menganggap Kamu sebagai Anak sendiri ??? Makanya jangan sampai Bapak tidak tau kabar Kamu !!!! Nanti Dia yang Bapak cari !!! " kata Papinya berkata serius melihatku.
Aku hanya senyum mengangguk dan mengusap airmataku yang sudah menetes.
" Pokoknya Bapak harus sehat iya ??? " kataku.
" Iya. Bapak harus sehat sampai Kamu menikah .... "
Mendengar itu jantungku langsung berdebar kencang.. Airmataku tak bisa Aku tahan lagi. Aku menangis menunduk dengan memegang tangan Papinya Agus.
Papinya sangat tau Aku. Dia selalu mendukungku dalam segala hal semenjak Kami bekerja sama. Dia yang melihatku bekerja keras mulai mengamatiku karena usiaku dulu yang terbilang masih cukup muda untuk terjun ke bisnisku sekarang. bahkan mencari tau semua info tentang Aku karena Aku tidak pernah membicarakan Orang Tuaku walau ditanya hingga akhirnya Dia bisa menganggapku sebagai Anaknya sendiri.
Dia tidak pernah bosan bosan untuk terus mendekatiku sebagai layaknya Orang Tua. hingga Aku akhirnya bisa sedekat ini sama Dia hingga Agus datang dan membuatku ilfil sehingga Aku sempat memutuskan komunikasi sama Papinya itu.
__ADS_1
RR langsung menepuk nepuk pundakku agar Aku jangan menangis lagi dan Papi Agus mengangguk ke RR karena RR melihat Papi Agus dan meminta ijin untuk mengelus pundakku.
Mami juga ikutan sedih dan bahagia karena betapa banyak Orang yang menyayangiku.