
Lathi atau lidah adalah bagian dari tubuh manusia yang letaknya berada di mulut. Lathi ini juga disebut sebagai senjata tak bertulang.
Apa artinya itu? Ya, manusia bodoh kadang mempergunakan lathinya. Dalam hal lebih menggunakannya untuk menabung dosa. Membicarakan orang lain tidak sesuai dengan faktanya.
Kita memang tidak bisa membuat orang lain sepenuhnya menyukai kita. Sekalipun dalam hidup kita berusaha menjadi manusia baik. Terkadang kedua mata ular milik manusia itu menyimpan sirik. Ya itulah manusia.
Ghibah tidak akan pernah lepas dari mulut manusia. Sebab itu sudah menjadi rutinitas paling menyenangkan katanya bagi kalangan manusia. Terutama kaum hawa.
Seperti saat ini, Rachel sedang bersama Thariq. Mereka baru saja keluar dari ruang rawat. Ini sudah seminggu Rachel berada di rumah sakit. Kondisinya semakin membaik.
Jika Rachel tidak mengatakan pada Thariq jika dia bosan. Maka Thariq tidak akan membawanya keluar dari dalam kamar dan berkeliling menggunakan kursi roda.
Sembari mendorong kursi roda itu Thariq pun berkata,
"Kamu lapar nggak, Hel?" tanya Thariq padanya.
Rachel yang duduk manis di atas kursi roda itu hanya menggeleng menanggapi pertanyaan dari Thariq untuknya.
"Nggak kok, kan tadi udah makan! Kamu lapar emang? Kalo lapar, kita ke kantin rumah sakit aja dulu!" ujar Rachel padanya.
Thariq lalu menggeleng kecil sambil tersenyum.
"Jadi hel, status kita sekarang apa?" tanya Thariq padanya. Dia kembali mengingatkan Rachel perihal pernyataan cintanya.
Rachel diam mendengar itu. Dia hanya menatap ke depan sambil sesekali tersenyum tipis.
"Hei, aku bertanya loh!" ujar Thariq lagi padanya.
"Entahlah, apa ya enaknya status kita? Asisten dan Bos mungkin!" jawab Rachel asal.
Thariq terkekeh mendengar itu. Rachel pun sama, dia juga terkekeh usai mengucapkan itu. Tujuan utama mereka adalah taman rumah sakit.
Tapi sebelum sampai ke sana mereka harus melewati ruang rawat inap. Sebuah ruang rawat inap milik para pasien yang sakit keras. Semuanya dikumpulkan menjadi satu di dalam sana.
Dari jauh Rachel memperhatikan dua orang manusia yang menangis histeris. Di sana Rachel terus memperhatikannya.
Sosok arwah nenek-nenek berdiri tepat di belakang dua orang yang menangis itu. Sosok itu menatap mereka sedih. Sosok itu juga terlihat suram sekali auranya. Bahkan sosok itu terisak.
Tak hanya Rachel saja yang memperhatikan itu. Rupanya Thariq pun sama memperhatikan itu. Lantas Thariq, dia menundukkan kepalanya sambil tetap mendorong kursi rodanya.
"Kamu melihat sosok itu juga?" tanya Thariq padanya.
Rachel mengangguk mendengar itu. Thariq kemudian berhenti. Kursi roda Rachel tepat menghadap ke depan ke arah dua orang itu yang masih menangis.
Beberapa pegawai medis berbicara pada mereka. Mencoba menguatkan mereka.
Rachel menyentuh dada kirinya. Dia merasakan sesuatu di sana. Satu hal, dari dua orang yang menangis itu.
"Nyai..." lirih Rachel mencoba memanggil khodamnya.
Rachel lalu memejamkan kedua matanya. Melihat itu, Thariq pun menyentuh bahu Rachel.
"Kamu mau ngapain?" tanya Thariq khawatir.
"Aku cuma mau tau aja! Ada dua aura aneh dalam diri dua orang itu. Tangisannya itu, jika boleh kuartikan! Keduanya menangis tidak tulus! Entah siapa yang mati di sana. Tapi, aku yakin bahwa perkiraaanku ini benar!" jelas Rachel pada Thariq.
"Lalu kamu mau apa?" tanya Thariq lagi pada Rachel.
"Membuktikan!" jawab Rachel singkat lalu kembali memejamkan kedua matanya.
Thariq menghela nafas panjang melihat itu. Tubuh Rachel sedang kosong saat ini. Dengan kemampuannya, dia pun memanggil Barend. Adik ghaib itu masuk mengisi tubuh Rachel yang kosong.
__ADS_1
"Kemana dia, Thariq?" tanya Barend polos sambil menoleh ke arah Thariq dengan kedua mata yang terpejam.
"Dia sedang berbelanja di negerimu!" jawab Thariq asal.
Barend mengangguk mendengar itu. Walaupun sebenernya dia tidak terlalu mengerti. Sedangkan di sisi lain. Sukma Rachel keluar dari dalam tubuhnya. Dia keluar disambut oleh Nyai ratu langsung di depannya.
Dimensi alam sebelah. Rachel berada di rumah sakit yang sama. Dan dia bahkan mampu melihat tubuhnya dan Thariq di sana.
Rachel lalu melihat ke arah nenek tua dengan muka sedih itu. Dia bersama dengan Nyai Ratu pun berjalan menghampiri sosok itu.
Setibanya tepat keduanya di depan nenek itu. Sang nenek memberi hormat atas kehadiran Nyai ratu.
"Nyuwon Sewu, Kanjeng Nyai! Pripun, Kulo Niki korban atas lathi Kulo pas masa Urip!" ujar Nenek tua itu.
(Permisi, Kanjeng Nyai! Maaf, saya ini korban atas lidah saya pada waktu masih hidup!)
Rachel menaikkan salah satu alisnya mendengar itu. Dia bukan Laras ataupun Thariq yang bisa menembus masa lalu.
Namun dia sela-sela ketidaktahuan itu. Nyai Ratu justru meraih tangan kiri Rachel lalu menyatukannya dengan tangan nenek tua itu.
Detik kemudian Rachel mampu melihat masa hidup nenek tua itu sebelum mati. Ya, dia mati akibat ulahnya sendiri. Inilah karma dari sang penggibah.
Rachel melihat bahwa nenek ini semasa hidup berjalan ke sana kemari menyebar gosip. Yang bahkan belum tentu kebenarannya.
Dia terus saja menghibahkan orang ini itu. Bahkan tak tanggung-tanggung. Nenek itu pun juga menghibahkan seorang kyai. Bahkan juga kedua putrinya. Kedua darah dagingnya itu dihibahkan bersama tetangga.
Terkadang kesabaran manusia itu setipis tissue. Kedua anak dari nenek ini yang sakit hatipun memilih untuk pergi meninggalkannya saat itu dengan dendam.
Bahkan para warga yang digosipkan pun juga menyimpan dendam. Sebab sakit hati maka tak jarang dari mereka mengirimkan teluh santet dan bala lainnya.
Lalu menjadikan nenek ini bak mayat hidup. Bak bayi yang bahkan tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain.
Selama tiga tahun medis tidak bisa membantunya. Tidak ada harapan untuknya sembuh. Dan pada saat itulah kedua anaknya itu datang. Namun mereka tidak bicara. Katanya mereka datang hanya sebagai seorang anak yang ingat kewajiban.
Di atas ranjang itu, nenek itu meneteskan air mata. Dia tidak bisa berucap maaf sekalipun dia mau. Bibirnya keluh tidak bisa digerakkan. Jari jemarinya pun kaku. Hanya bola mata saja yang mampu menengok ke sana kemari.
Kedua anak yang patah hatinya itupun tidak tau. Apakah ibunya yang hampir sekarat itu menyimpan ucapan maaf. Itu tidak diucapkan. Sebab itulah hati mereka masihlah keras dan menganggap bahwa ibunya masih sama sifatnya.
Setelah melihat seluruh kejadian itu. Rachel pun kembali menatap ke arah nenek tua itu. Di sana dia masih menatap Rachel dengan tatapan sedih.
"Aku menyayangi mereka! Aku sadar aku salah! Aku ingin mereka memaafkanku. Bahkan kedua air mata anakku menangisi aku dengan kebencian dan kekesalan di dadanya. Nak, aku tidak bisa berucap maaf pada mereka. Tapi kamu bisa melihatku, kamu manusia berkempuan khusus! Maka aku minta, untuk kamu menyampaikan pada mereka. Bahwa, aku menyayangi mereka dan aku menyesal!" ujar Nenek tua itu curhat.
Rachel iba sekali melihat itu. Tentu saja, dia akan mengatakan itu pada kedua anak nenek ini. Rachel menoleh sejenak ke arah Nyai Ratu.
Di sana dia tersenyum lalu mengangguk. Jika bukan karena bantuan Nyai ratu maka Rachel tidak akan tau kejadiannya.
"Nyai, aku kembali!" ujar Rachel berpamitan pada Nyai Ratu.
"Pergilah Nduk!" jawab Nyai Ratu lalu tersenyum.
Rachel mengangguk, kemudian dia pun memejamkan kedua matanya. Rachel kembali masuk ke dalam tubuhnya.
"Sudah?" tanya Thariq pada Rachel yang harus aja kembali.
Rachel mengangguk. Kemudian telunjuknya mengarah ke arah dua wanita yang sedang menangis itu.
"Ayo hampiri mereka Riq!" ajal Rachel padanya.
Thariq kembali mendorong kursi roda itu. Mereka mendekati dua wanita itu. Tepat ketika Rachel ada di hadapannya dua wanita yang duduk dan menunduk itupun mendongak menatap Rachel.
"Siapa kamu?" tanya keduanya pada Rachel.
__ADS_1
Rachel menggeleng pelan lalu tersenyum.
"Ibu kalian menyayangi kalian! Tapi memang sifat manusia beragam. Jika kejelekannya saat itu menyayat hati kalian. Maka, maafkanlah dia! Kesalahan orang tua, biarlah urusannya nanti pada Tuhan itu sendiri! Baru saja dia mengucapakan permintaan maafnya pada kalian!" jelas Rachel pada mereka.
Penjelasan itu membuat keduanya saling tatap. Lalu mereka kembali menatap Rachel.
"Kamu bohong?" tanya mereka berdua. Namun Rachel dengan cepat menggeleng.
Lalu Rachel mengulurkan kedua tangannya ke arah mereka.
"Apa kalian mau melihat ibu kalian?" tanya Rachel pada mereka.
Kedua wanita itu terkejut. Namun mereka penasaran. Mereka pun mengangguk mengiyakan apa yang Rachel katakan.
"Kalau begitu pegang tanganku! Aku akan membawa kalian melihat dia!" ujar Rachel pada mereka.
Keduanya mengangguk kemudian mereka menyambut uluran tangan Rachel.
"Pejamkan mata kalian!" ujar Rachel lagi.
Keduanya lalu memejamkan kedua matanya. Rachel membaca doa-doa. Tak lama kedua wanita itu melihat sosok ibunya yang tersenyum dengan binar di matanya.
Mereka tidak bisa menggapai itu. Sebab jika dikejar sosoknya akan mundur. Itu tidak tergapai namun mereka saling berhadapan.
Dari sana, dari kejauhan itu sang ibu mengatakan pada mereka perihal permintaan maaf. Setelah itu dikatakan.
Keduanya pun kembali membuka matanya. Mereka kembali menangis, kali ini hati mereka kekesalan itu sudah hilang. Mereka sudah memaafkan apa yang pernah ibundanya itu lakukan.
"Terima kasih ya!" ujar mereka pada Rachel.
Rachel hanya mengangguk dan berkata,
"Sama-sama!" jawab Rachel.
'
_________________
Hallo Readers tercinta! Semoga kalian selalu sehat. Aku ada pengumuman sedikit. Perihal novel horor baruku yang rencana rilis bulan ini. Sementara di pending dulu!
Tapi aku ada bacaan dikit nih. Novel kilat 60 chapter. Boleh dong mampir di novel baruku. Genre romansa mafia, berjudul Barsh dan Kalistha (Sesuatu yang Kusebut Rumah)
Menceritakan tentang Kalistha, seorang gadis malang yang dibuang oleh keluarganya. Dia terpaksa menghidupi adiknya seorang diri sambil kuliah. ketika sedang bermain piano di kampus, ia bertemu dengan seorang laki-laki.
Barsh, anak dari pengusaha kaya raya. ia merasa tertarik kepada seorang gadis yang begitu lihai ketika bermain piano.
Sejak saat itu, Barsh mulai mendekati Kalistha, dengan menjadikan gadis itu sebagai guru les privat pianonya
Namun kisah cinta mereka tidak mulus. Barsh ternyata memiliki seseorang dari masa lalunya yang kini berada di Seoul. Gadis yang begitu buta dengan cintanya terhadsl Barsh. Siapa yang berani mendekati Barsh pasti akan celaka.
Dia yang mengetahui hubungan Kalistha dan Barsh, mencoba untuk memberikan ancaman kepada Kalistha, jika dia tidak meninggalkan Barsh.
Siapa yang akan dipilih oleh Barsh? Masa depan, atau masa lalu yang masih berharap kepada dirinya.
_______________
Happy reading Gaes, semoga selalu suka! Mohon dukung karya author ya😄!
Akhir April akan ada reward menarik buat pembaca setia. Give away pulsa 20rb untuk lima orang yang beruntung. 🏃💰💰💰
__ADS_1
Kepoin Barsh dan Kalistha (Sesuatu yang Kusebut Rumah) Mana tau kalian adalah salah satu yang beruntung nanti!
Terima kasih atas segala dukungannya selama ini!