
Seorang lelaki tua sedang duduk di mobilnya. Malam ini dari balik kaca mobil itu dia berseringai sambil sesekali bersenandung ketika mendengarkan musik dangdut koplo dari dalam radio.
Seputung rokok di mulutnya ada untuk mengusir bosan yang mengukung tubuhnya. Di dalam sana dia sedang melihat Cak Dika beserta saudaranya yang sedang duduk sambil bercengkrama di sebuah angkringan.
Lelaki itu lalu melihat layar ponselnya. Dia tersenyum di sana. Dia adalah salah satu penggila Vidio yang diunggah tentang keluarga itu.
Benar-benar sangat mengesankan dan menarik. Lalu pria itu memutuskan untuk turun dari dalam mobil. Dia berjalan ke arah angkringan. Memesan beberapa menu makanan dan minuman.
Setelah memesan, lelaki itupun berjalan ke arah cak Dika yang duduk. Kebetulan di sana ada satu tempat kosong.
"Mas, saya boleh duduk di sini?" tanya orang itu adanya.
Cak Dika yang sedang mengisap putung rokok itu hanya menoleh, tersenyum lalu mengangguk. Sebuah pertanda bahwa permintaannya disetujui kali ini.
"Sampean dari mana mas?" tanya Cak Dika pada lelaki di sampingnya itu.
"Saya, ini berkelana Mas! Tapi, wajahnya Mas sama mbak-mbak ini kok gak asing ya?" tanya lelaki itu sebut saja Rudi.
"Hahahaha..." Cak Dika tertawa lalu membuang potong rokok miliknya yang sudah pendek.
"Gak asing gimana nih Mas?" tanya Aldo pada Rudi di sana.
Rahman yang sedang sibuk dengan laptopnya sedikit mencuri-curi pandang melihat keberadaan Rudi di sana. Deni yang melihat itupun heran.
Langsung saja dia menyenggol Rahman di sampingnya saat ini. Hal itu akhirnya membuat Rahman menoleh ke arahnya sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Apa?" tanya Rahman padanya.
"Kamu ngaon curi-curi pandang lihat orang itu?" tanya Deni padanya.
Rahman kemudian tersenyum. Pertanyaan itu tidak dia jawab. Dia malah mengetik sesuatu di laptopnya. Di sana dia mengetik mencari tahu perihal satu nama.
Ketika hasil pencarian itu keluar. Deni dibuat terkejut. Orang ini salah satu manager artis. Deni berbinar melihat itu. Tapi ada satu hal dalam kepalanya yang tidak dia mengerti.
"Terus kenapa kamu gak mau ngomong langsung aja, Mas? Kesempatan emas juga kan ini?" ujar Deni padanya.
Rahman menghela nafas panjang mendengar itu. Akan sangat lancang apabila dia mengutarakan satu keinginan di depan orang yang sama sekali tidak mengenalnya.
Rahman yang kesal pun mencubit gemas perut Deni yang rata. Hal itu membuat Deni terkejutsekaligus menatapnya bingung.
"Nyapo toh, Mas?" tanya Deni padanya terkejut.
"Gak sopan kalau tiba-tiba aku minta sesuatu ke dia, Den!" jawab Rahman.
Jawaban itu seketika membuat Deni tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Udah biar aja, toh nanti juga dia bicara sendiri kan perihal tujuan dia kemari?" ujar Rahman padanya.
Deni hanya manggut-manggut saja mendengar apa yang dikatakan oleh Rahman. Setelahnya keduanya kembali memperhatikan Pak Rudi dan Cak Dika yang sedang bercengkrama.
Percakapan mereka pada akhirnya menjerumus ke arah You Tube. Dan benar saja, perihal kedatangan Rudi kemari adalah untuk menawarkan kerja samanya bersama dengan seluruh anggota keluarga Gautama.
"Yang bener Mas?" tanya Cak Dika tak percaya.
Rudi manggut-manggut. Dia baru saja menjelaskan perihal fasilitas yang akan Cak Dika dapatkan apabila dia dijadikan managernya mereka. Lalu pembagian hasil dan keuntungan lainnya.
"Ya, nanti kalian akan diberi akses ke segala tempat-tempat horor. Kalian akan diberi transportasi gratis untuk jelajah sana sini. Penginapan juga, asalkan kalian mau datang ke tempat-tempat itu dan menguak misteri. Lalu diunggah ke dalam YouTube. Setelah itu Vidio itu juga berikan ke aku, biar aku bisa mempromosikan kalian lebih jauh lagi dan dikenal! Aku suka sekali keluarga kalian, unik!" jela Pak Rudi padanya.
Pak Rudi menghisap seputung rokok miliknya yang tadi diberi oleh Cak Dika. Sambil menghisap, dia memperhatikan Cak Dika beserta keluarga lainnya.
Raut wajah tergiur itu jelas saja terpampang di sana. Mereka mulai berdiskusi kecil untuk tawaran itu. Pak Rudi tau, bahwa keputusan tidak bisa diambil dengan cepat.
Karena urusannya masih banyak. Pak Rudi dari dalam sakunya mengeluarkan kartu namanya. Kemudian dia letakkan tepat di atas meja itu.
Sontak mereka yang tadi riuh berdiskusi pun diam. Perhatian mereka tertuju pada kartu yang diletakkan tepat di atas meja.
"Ini kartu nama saya, jika kalian sudah memutuskan. Kalian boleh menghubungi saya ya! Saya tunggu keputusannya. Maaf saya tidak bisa lama, sebab ada keperluan lain! Terima kasih, pertemuan ini menyenangkan!" ucap Pak Rudi sambil tersenyum lalu berdiri.
Cak Dika tentu saja juga berdiri melihat itu. Mereka lalu saling menjabat tangan satu sama lain. Setelah Pak Rudi pergi dari sana. Cak Dika pun kembali duduk. Rahman dan Deni langsung menyerangnya dan berkata,
"Cak, udah terima aja! Dia Rudi kak, yang udah terkenal bisa bawa orang ke dunia Maya jadi sukses dan dikenal!" ucap Deni padanya.
Cak Dika tertegun mendengar ucapan yang begitu tiba-tiba menyambarnya. Rara juga terkejut sebab dia duduk tepat di samping Cak Dika saat itu. Dia yang minum bahkan hampir tersedak.
"Kalian ini Yo! Bisa gak, gak usah teriak! Toh Mas Dika juga dengar kok kalian ngomong apa. Mas Dika gak tuli!" ujar Rara pada mereka.
"Hahahaha..." Bella tertawa ketika Rara memarahi Deni dan Rahman.
"Iya udah, maaf ya!" ucap Deni menciut setelah Rara memarahinya.
"Kamu kok jadi baperan gini toh, Den! Santai aja, Rara emang gitu sifatnya!" ujar Cak Dika menatap Deni dan tersenyum.
Rara di sampingnya lalu menoleh ke arah Cak Dika.
"Maksudmu sifatku emang gitu itu gimana Mas?" tanya Rara padanya.
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Cak Dika kali ini menatapnya. Senyuman Cak Dika pada saat itu sekejap membuatnya tertegun.
Ada sesuatu yang seperti membelai hatinya saat ini. Entah kenapa rasanya, manusia di hadapannya ini menjadi manis wajahnya dalam sekejap.
Rachel dan Marsya memperhatikan itu. Mereka berdua tersenyum. Sudah terlihat dari sana bahwa keduanya sama-sama menyimpan rasa sepertinya.
"Nikah temen mereka ini kayaknya mbak!" ujar Marsya pada Rachel sambil menikmati satenya.
"Yowes Ben!" jawab Rachel.
Di sana Cak Dika pun menyentuh kepala Rara lagi sambil tersenyum. Wajahnya berubah menjadi konyol kemudian.
"Culno ora!" perintah Rara ketika raut wajah Cak Dika berubah. Dia ingin Cak Dika segera menyingkirkan tangannya yang berlabuh tepat di atas kepalanya.
"Dek Ra, masih mau ikut kita kan?" tanya Cak Dika padanya.
Rara menaikkan salah satu alisnya lalu berkata,
"Lah mbok pikir gawe opo aku rene, Mas? Aku mau ngikutin kamu!" ujar Rara lalu berpaling dari wajah Cak Dika.
Senang sekali rasanya mendengar apa yang Rara katakan.
"Yaudah, menurut kamu gimana? Kita terima gak nih?" tanya Cak Dika pada Rara kali ini.
Rara sedikit berpikir kali ini. Baginya tawaran itu tidak merugikan. Tidak ada salahnya jika mereka menerimanya bukan. Toh, niat sejak awal adalah untuk eksis di dunia Maya dan mendapatkan penghasilan dari sana.
Sebelum keputusan diambil. Rara memperhatikan keluarga Gautama yang lainnya. Nampak wajah mereka saat ini sedang menatap mereka.
Tapi, ada yang aneh. Kenapa Cak Dika menanyakan persetujuan itu hanya padanya saja.
"Kenapa kamu tanya aku?" tanya Rara pada Cak Dika.
"Karena nanti kamu yang bakalan aku ajak diskusi terus kalau kita nikah!" jawab Cak Dika padanya.
Jawaban itu tentu saja membuat Rara bersemu. Betapa gamblangnya lelaki ini sungguh. Biarpun itu hanya candaan, tapi tetap saja.
"Ngomong apa kamu? Aku gak dengar?" ucap Rara lalu berpaling ke arah lain. Mengambil minumannya lalu meminumnya.
"Cak, kamu loh kok bisa bilang gitu!" ucap Bella kali ini sebagai seorang adik yang juga seorang gadis. Dia sedikit kesal dengan ucapan Masnya yang begitu gamblang.
Cak Dika lalu tertawa mendengar itu. Kembali dia menatap keluarganya kali ini.
"Ra, jangan dipikir terlalu dalam! Cacak emang kadang suka dungu!" ujar Rachel pada Rara.
"Yaudah, jadi gimana? Kita terima apa nggak, rek?" tanya Rahman kali ini menyela.
"Mulai dari kamu Cak, gimana?" tanya Rahman lagi sambil menatap Cak Dika.
"Aku sih Yes!" jawab Cak Dika sambil menirukan gayanya Pak Anang Hermansyah sewaktu menjadi juri Indonesian idol.
Rahman tersenyum bahagia, dia senang sekali dengan keputusan itu. Lalu dia bertanya pada Rachel kali ini. Rachel juga menyetujuinya. Pertanyaan itu terus dioper ke seluruh orang di sana. Seluruhnya mengatakan iya dan mau menerima.
Malam itu setelah bercakap-cakap cukup lama. Setelah persetujuan sudah cukup mantap. Cak Dika pun menghubungi nomor Pak Rudi yang tertera di atas kartu nama.
Cak Dika mengaktifkan speaker ponselnya. Agar para saudaranya mendengar perihal percakapan apa yang mereka obrolkan di sana.
Akhir dari obrolan itu memberi mereka satu alamat hotel. Di mana katanya hotel itu adalah hotel milik Pak Rudi. Mereka diberi fasilitas penginapan di sana.
Pak Rudi juga berkata. Bahwa mereka akan tatap muka dengannya besok pagi. Mereka akan membahas perihal kerja sama mereka nantinya. Pembagian hasil dan misi yang harus dijalankan.
Setelah itu mereka yang sudah cukup lelah pun memutuskan untuk segera pergi ke alamat hotel itu.
Di dalam perjalanan seperti biasa para gadis akan berada dalam satu mobil. Mereka kembali menyewa grab lagi untuk perjalanan sampai ke sana.
Sebelum masuk kemari Marsya sempat membeli gula-gula kapas. Tentu saja itu untuk adik ghaib kesayangannya, yaitu Barend.
Marsya duduk di jok mobil paling belakang. Di sana dia sedang bercengkrama dengan Barend.
"Bagaimana enak tidak?" tanya Marsya padanya.
Barend manggut-manggut mendengar itu. Hantu belanda itu mengacungkan jempol tangannya.
"Ini enak sekali Marsya, aku suka! Terima kasih ya, kamu baik tidak seperti Rachel. Dia pelit, tidak seperti Ibundanya!" ujar Barend pada Marsya.
Marsya menutup kedua mulutnya menggunakan tangan lalu tertawa. Sedangkan Rachel di jok depan tentu saja mendengar itu.
"Kalau aku jahat, kamu mungkin sudah aku berikan pada mbak Kunti! Biar kamu dimakan sama mereka!" ujar Rachel menimpali.
Laras tersenyum miring mendengar itu. Dia mungkin tidak bisa melihat Barend. Tapi, dia bisa merasakan kehadirannya tiap kali datang. Auranya memang baik, tidak menyeramkan.
"Jika kamu mau, kamu bisa pergi ke rumahku! bukanlah kamu sudah pernah ikut ke sana? Aku punya banyak sekali makanan di dalam lemari es!" ucap Laras padanya.
Barend memperhatikan Laras. Raut wajahnya nampak bingung di sana. Lantas dia menunjuk ke arah Laras.
"Marsya, kenapa dia tidak melihatku? Kenapa dia berbicara ke arah lain? Lalu kenapa dia bisa merasakan kehadiranku?" tanya Barend polos pada Marsya.
__ADS_1
Laras tersenyum miring mendengar itu. Rachel juga memperhatikan raut wajah saudaranya itu. Memang dia tidak tersinggung. Tapi, Rachel jadi tidak enak rasanya.
Sambil menghela nafas Rachel pun memutuskan untuk menoleh ke belakang. Ke arah Marsya dan Barend. Terlihat di sana adiknya Marsya juga hanya mampu tersenyum tipis. Sepertinya dia juga tidak enak ketika Barend mengatakan hal itu.
Tapi mereka maklum, sebab Barend hanyalah seorang anak kecil. Dan dia masih polos tidak tau apapun.
"Barend, Tuhan menciptakan Laras berbeda dari kita. Dia bisa merasakan kamu, tapi dia tidak bisa melihat kamu. Dia ini jauh lebih istimewa dibandingkan aku dan Marsya! Jangan tanya lagi perihal hal itu, ya!" ucap Rachel padanya.
Barend mengangguk dia mengerti. Lalu Rara yang sejak tertidur pun terbangun, begitupun dengan Bella.
"Kalian kenapa kok rame?" tanya Bella pada mereka.
Rara merentangkan kedua tangannya mencoba meregangkan otot-ototnya.
"Belum sampai ya?" tanya Rara sambil menoleh ke arah kaca mobil di sampingnya. Jalanan di sana masih gelap. Mereka lewat tol, dan hanya ada pemandangan lampu mobil yang lewat di sini.
"Belum, masih jauh ini! Sekitar satu jam lagi!" ucap Rachel pada Rara.
Ketika Bella dan Rara kembali menguap. Di belakang mobil tepat di atasnya. Buyut Gautama sedang duduk. Dia di sana sebab karena satu alasan.
Perlahan buyut gautama mulai menghilang. Lalu masuk ke tubuhnya Marsya. Rachel, Bella dan Laras merasakan aura yang mereka kenal. Ketika mereka menoleh ke belakang nampak Barend yang ciut lalu hilang perlahan.
Kepala Marsya menoleh ke arah mereka dengan kedua mata yang terpejam. Sudut bibirnya tertarik membentuk satu senyuman. Mereka mengenali itu, itu adalah buyut.
"Assalamualaikum, Nak!" ucap Buyut Gautama yang berada di dalam tubuhnya Marsya.
Baik Rachel dan saudaranya menunduk begitupun dengan Rara.
"Nggih Simbah!" jawab mereka pada Buyut Gautama.
"Bilang ke Cak Dika, sudah waktunya buat dia bersihin pusakanya Mbah! Nak, tolong ya! Suruh dia pergi ke gunung penanggungan Kamis malam Jumat nanti. Tepat tengah malam, tolong mandikan keris-keris Mbah!" ucap Buyut Gautama.
Rachel mengerti dia pun mengangguk. Setelah anggukan itu, Sang Buyut pun menghilang dari hadapan mereka.
"Hah..." lirih Bella.
"Ada apa Bel?" tanya Rara padanya.
"Gak apa Ra! Cuma, gak mungkin kalau Cak Dika pergi sendirian ke sana! Kalian pasti juga bakalan diajak dia! Yakin aku, serius!" ucap Bella pada mereka.
"Gapapa loh, kan enak!" jawab Marsya menimpali dari belakang.
"Enak mbahmu! Kamu itu ya, naik gunung itu berat! Navigatornya nanti juga aku! Gak mungkin Cacak kan? Toh selama belum ada kalian, Cak Dika sering ngajak aku ke sana!" ucap Bella menjelaskan.
"Yaudah, gapapa! Kita pergi bareng-bareng lagi, oke!" ucap Rara menenangkan.
Mereka pun mengangguk. Malam semakin larut. Setibanya di hotel mereka tidak banyak bercakap. Setelah kunci didapatkan mereka memutuskan untuk tidur.
Paginya, barulah acara pertemuan itu terjadi. Pak Rudi sama sekali tidak bertele-tele. Sebab sebelumnya dia sudah menjelaskan perihal kerja samanya.
Kemarin sebelum tidur Rachel juga sudah mengatakan pada Cak Dika perihal pesannya Simbah. Pagi ini juga, Cak Dika mencoba memberi pengertian pada Pak Rudi. Bahwa ada satu ritual dalam keluarganya yang harus dilakukan di atas gunung penanggungan.
Sebab nenek moyang mereka dulu adalah anggota dari kerajaan Majapahit. Keris yang didapatkan dan bertengger diatas rumah ibunda Rachel adalah keris turun temurun. Dan ada hari khusus, untuk melakukan ritual itu.
Sebenarnya Cak Dika hampir lupa. Itulah kenapa Buyut Gautama semalam datang masuk ke dalam tubuhnya Marsya.
Mungkin dia lupa karena sudah menemukan orang yang menarik di sini. Dan orang itu adalah Rara.
"Begitu Pak, jadi kami harus pulang untuk beberapa waktu! Ada ritual yang harus kami jalankan di atas gunung penanggungan!" ucap Cak Dika menjelaskan.
Pak Rudi menghisap putung rokoknya. Lalu dia tersenyum dan mengangguk.
"Gapapa, itu bisa nanti kalian liput! Barangkali ada kejadian menarik bisa diupload!" ujar Pak Rudi.
"Benar, kadang di gunung pun kalian suka diganggu juga kan?" ucap Aldo memimpin dan mencoba mengingat perihal pengalamannya mendaki bersama seluruh keluarga Gautama ini.
"Nah, iya betul! Bisa kan, Deni sama Rahman? Selaku kameramen?" tanya Pak Rudi pada Deni dan Rahman kali ini.
Dia manusia yang haus duit itu tentu saja bersemangat. Mereka mengacungkan kedua jempol nya sambil tersenyum senang.
"Ya, Pak! Kami ini siap-siap aja Pak!" ujar mereka berdua.
"Ya, beginilah orang-orang butuh cuan Pak!" tambah Marsya sambil menggelengkan kepalanya menatap ke arah Rahman dan Deni.
"Hahahaha... Ya sudah, silahkan gunakan fasilitasnya! Kalau sudah selesai, nanti kabarin lewat WhatsApp ya! Nanti saya share tempat mana yang perlu kalian kunjungi!" ucap Pak Rudi pada mereka.
"Wah terima kasih banyak ya, Pak!" ucap Cak Dika bersalaman.
"Ya, sama-sama! Asalkan kita bisa bekerja sama dengan baik gapapa!" ucap Pak Rudi.
Hari itu tepat pukul dua belas siang. Sambil naik bus kecil pribadi miliknya pak Rudi. Mereka pun kembali pulang menuju ke rumah buyut Gautama.
Di mana seperti yang kalian tau, rumah itu saat ini hanya ditinggali oleh ibundanya Rachel. Rumah itu seperti taman safari. Tapi bukan hewan koleksinya melainkan setan.
Ibundanya Rachel memang Random. Sifatnya sama seperti buyut Gautama. Benar-benar orang yang penggila ilmu.
__ADS_1