Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 130: Jalan Raya Daendels (Masalah)


__ADS_3

Kumohon lepaskan aku!. Ujar suara Redi yang entah di mana keberadaannya saat ini.


Brmmmmm


Mobil Cak Dika dan rombongannya mengikuti Redi yang baru saja keluar pukul satu malam menggunakan motornya.


Sejujurnya mata mereka masih sangat mengantuk. Namun apa daya. Tugas lain memanggil mereka.


Saat itu ketika mereka tertidur pulas di ruang tamu. Buk Ijah datang membangunkan mereka. Rupanya Redi sedang beraksi lagi dengan motor balapnya.


"Setan Herex Iki!"' protes Rahman sambil sesekali menguap.


Rahman sibuk mengatur kameranya. Begitupun dengan Deni dan Mas'ud. Tiga kameramen itu harus selalu siap kapan pun Gautama Family beraksi.


"Setan Herex, bener seh! Tapi kok sangar Yo?" ujar Cak Dika mencoba menahan tawanya.


Dari balik kaca mobil nampak Redi yang masih setia menyusuri jalanan yang sudah cukup sepi itu.


Jalanan semakin malam akan semakin sepi. Dan inilah yang dicari oleh para pembalap liar. Sepinya jalan raya saat itu.


Sementara di mobil lain. Beberapa kaum hawa sedang memejamkan mata. Ini mobil kedua. Berisikan Melissa, Marsya dan Bella.


Sedangkan mobil ketika dihuni oleh Rara, Rachel dan Thariq. Di sana mereka masih terjaga.


Thariq menceritakan pada Rara bahwa sebelum mereka masuk ke dalam rumah Redi. Dia menemukan satu sosok yang berdiri tepat di samping motor pembalap itu.


Adalah hal yang aneh rasanya jika hanya Thariq yang melihat hadirnya sosok itu sedangkan Rara dan yang lain tidak.


Bahkan Cak Dika dan Rachel pemilik khodam terkuat di sana tidak mampu merasakan kehadiran sosok wajah hangus itu.


"Kok aneh Yo?" ujar Rara mempertanyakan itu.


"Awal e aku Yo ngrasa aneh, Ra! Tapi ternyata sosok hangus itu berhubungan dengan cerita Buk Ijah untuk Redi!" ucap Rachel menimpali.


"Hmm," Rara berdehem sebentar.


"Kayaknya mungkin cuma penjelajah masa lalu sing bisa lihat dia!" ucap Rara lagi.


"Mungkin," Rachel menjawab ucapan Rara. Dia berpikir sejenak.


"Mungkin aja, Redi ini disembunyikan di dalam satu area di Daendels. Daendels adalah jalan raya yang dibangun Belanda. Menurut perkataan Rahman. Jalanan itu juga sering rawan kecelakaan para pembalap!" ucap Rachel.


"Opo jangan-jangan mereka minta tumbal Yo?" tanya Rara.


Tebakan itu membuat Thariq dan Rachel terkejut. Namun belum sempat mereka menjawab pertanyaan Rara. Mobil mereka yang sudah berjalan beberapa kilometer itu pun berhenti.


Pak Supir di depan menoleh ke belakang. Lalu dia berkata pada mereka,

__ADS_1


"Mbak, Mas sudah sampai! Silahkan turun!" ucap Pak supir itu pada mereka.


Serentak mereka bertiga pun menoleh ke arah Pak supir itu. Rara dan Thariq membuka pintu mobil itu. Baru saja kaki mereka berpijak. Thariq dan Rachel ambruk bersimpuh.


Brukkkkk


"Ya Allah!" ucap keduanya bersamaan.


"Heh, kalian kenapa?" tanya Rara khawatir pada kedua temannya itu.


Entah mengapa ketika kaki mereka berpijak di atas aspal itu. Kaki mereka seakan kehilangan tulangnya.


Cak Dika dan yang lain yang juga berhenti dan turun terkejut ketika menoleh ke arah mobilnya Rachel.


Di sana mereka melihat Rachel dan Thariq yang bersimpuh bersama Rara yang tidak berhenti panik.


"Heh kenapa ini?" tanya Cak Dika menghampiri mereka.


"Ndak tau Cak! Tiba-tiba mereka ambruk gitu saja di sini!" jawab Rara menjelaskan.


"Kakiku lemes kayak Ndak ada tulangnya!" jelas Rachel pada Cak Dika.


"Kok isok toh dek? Padahal tadi kamu Ndak papa loh!" ucap Cak Dika.


Rachel dan Thariq menahan rasa sakit yang mulai merambat melalui kakinya. Melissa mendengar beberapa percakapan Belanda.


Dan ya, mereka sedang berada di area itu. Jalan raya Daendels saat ini. Kesan pertama yang mereka lihat ketika berpijak kemari adalah. Banyaknya para Netherlands.


Mereka berdiri di sisi jalan sambil memperhatikan kedatangan mereka sejak tadi. Dan saat itu Melissa bisa menyimpulkan satu ucapan.


Di mana para sosok di sana sudah tau untuk apa kehadiran mereka. Jauh di sana terlihat rombongan anak muda datang menghampiri mereka menggunakan motor besarnya.


Suara motor besar yang mendekat membuat mereka semua sontak mengalihkan perhatian mereka ke arah itu.


Ketika rombongan motor itu tiba di hadapan mereka. Ada salah satu anak muda berkata pada mereka,


"Mbak, Mas! Area ini sudah kami sewa. Tolong minggir! Ini sirkuit balapan malam ini!" ujar anak muda itu memerintahkan rombongan Cak Dika dan Tim untuk pergi.


"Huh!" ketiga anak muda itu terkejut ketika melihat Barend CS yang datang di hadapan mereka dengan wujud hancur mereka saat mati.


"Se... Setan!!!" teriak salah satu dari mereka terbata-bata sambil menunjuk ke arah rombongan Barend yang baru saja muncul.


Gautama Family tidak menghentikan aksi Barend dan temannya itu. Yang terpenting sekarang adalah Rachel dan Thariq yang tidak bisa berjalan ketika baru saja sampai ke mari.


"Kabur Jo! Kabur!" ucap salah satu anak muda.


Mereka mulai menyalakan mesin motornya lagi lalu balik arah. Ketika ketiga anak muda bersama motornya itu pergi.

__ADS_1


Baren CS yang membelakangi mereka pun berbalik. Tubuh setan itu melayang menghampiri Rahchel dan Thariq.


Setibanya di sana Barend memperhatikan Thariq dengan mata yang sudah memutih. Pertanda bahwa dia sedang memasuki alam lain.


Sementara Rachel pun sama. Ketika tangan Thariq dan Rachel terpaut. Maka keduanya saat ini sedang berada di alam sebelah.


Melihat teman manusianya yang sibuk menjelajah di dalam dimensinya. Albert dan Barend berinisiatif masuk ke alam sebelah.


Merek akan menjadi pemandu Rachel dan Thariq di sana untuk menemukan separuh dari tubuh Redi yang dia disekap di sini.


"Kejarlah Redi, Maung!" ucap Melissa pada Maung.


Ya, Maung yang dimaksud adalah Cak Dika.


"Tubuh manusianya hampir dikuasai! Jika malam ini tidak dihentikan maka Redi akan tamat. Sembari Rachel mencari keberadaan separuh tubuh Redi di alam sebelah. Bantulah dengan menahan tubuh fisiknya agar tidak melakukan balapan lain! Salah satu hal yang harus kamu lakukan adalah. Hancurkan motor itu! Cuma itu satu-satunya jalan membebaskan Redi saat ini!" jelas Gelanda pada Cak Dika.


Mendengar penjelasan itu sejenak Cak Dika menarik nafas. Kemudian dia mengangguk.


"Rara, Marsya ikutlah denganku!" ucap Cak Dika mengambil beberapa dari saudaranya untuk menemaninya.


Baik Rara dan Marsa keduanya tidak menolak. Keduanya mengangguk menyetujui itu. Mereka pun berjalan pergi dari sana ke arah Redi yang terlihat diam di sana dengan motornya.


Mereka terus berjalan mendekati Redi di sana. Para pemuda yang akan balapan itu ketika melihat Cak Dika bersama dengan dua Srikandinya membulatkan mata.


Bukan Cak Dika dan dua Srikandi yang datang mendekat di mata mereka. Melainkan sosok pasukan kerajaan Ghaib yang datang dengan kereta kencananya.


Melihat itu anak-anak muda itu pun berhamburan pergi. Hanya Redi yang masih menetap di sana. Duduk di atas motornya dengan pandangan kosong.


Ketika Cak Dika dan dua Srikandinya hampir dekat. Di sana Redi mulai menoleh ke arah mereka secara perlahan.


Sebuah senyuman jahat Redi berikan pada mereka. Namun di sana Cak Dika dan dua Srikandinya tidak takut. Mereka masih tetap berjalan mendekati Redi.


"Kamu!" ucap Cak Dika geram sambil menunjuk ke arah Redi yang hampir dekat.


"Keluar dari tubuh anak itu!" ucap Cak Dika lagi memerintahkan.


"Hahahaha!" tawa Redi ketika Cak Dika mengatakan itu.


Bak seorang Spiderman. Sosok Redi melompat begitu saja dari atas motornya. Dia seperti binatang merangkak di aspal menjauh dari area itu.


"Loh heh!" pekik Cak Dika terkejut.


"Grrrrrrrr..." suara geraman dari Marsya menyita perhatian Cak Dika.


Ini sesuai perhitungan. Kenapa Cak Dika mengajak Marsya di sini. Sebab Cak Dika tau bahwa Redi akan lari ketika dia mendatanginya. Dan hanya Marsya saja yang mampu mengejarnya.


Redi merangkak menjauhi Cak Dika. Sedangkan Marsya pun sama dia juga merangkak mencoba mengejar Redi di sana.

__ADS_1


Tak tinggal diam. Cak Dika dan Rara pun mengejarnya.


__ADS_2