
Purnama nampak indah malam itu. Dia di atas sana megah menawan. Walaupun rembulan itu minim cahaya daripada mentari. Tapi dia tetap perkasa berdiri di sana. Dia tetap percaya diri memberikan sinarnya.
Para gadis saat ini sedang berada di kamarnya. Ya, mereka masih di rumah Rara. Ini sudah dua hari sejak kejadian itu. Jason masih butuh perawatan khusus dari Cak Dika Selaki spesialis ghaib.
Bukan hanya para gadisnya saja yang ada di sini. Namun para lelakinya juga sama menetap. Beruntung sekali Rara ini punya rumah yang cukup luas areanya. Ada lima kamar di rumahnya.
Melissa di jendela nampak kagum menatap area sawah yang tenang malam itu. Di tempatnya, sawah itu tidak ada.
Rachel sudah terlelap sejak tadi. Marsya, dia tentu sedang berbicara dengan para setan Netherlands. Katanya dia ingin belajar bahasa mereka.
Nampak tiga setan itu frustasi rasanya mengajari Marsya. Bella sibuk mengotak-atik ponselnya. Lalu Laras di sampingnya sedang memotong kuku.
Glekkkkkkk
Suara pintu terbuka membawa Rara masuk ke dalam kamar itu. Para gadis yang sibuk dengan aktivitas mereka pun menoleh sebentar memperhatikan Rara.
"Kamu darimana Ra?" tanya Bella pada Rara yang baru saja masuk.
Rara duduk di sisi ranjang lalu membuang kasar nafasnya.
"Aku Iki bingung karo Masmu, Bel!" ujar Rara pada Bella.
Sebelum Rara melanjutkan ucapannya. Bella menutup buku yang dibacanya. Dia lalu duduk dan menatap Rara.
"Kenapa Cacak?" tanya Bella lagi padanya.
Rara nampak membuang kasar nafasnya. Sepertinya ada kekesalan dalam hatinya perihal Cak Dika di sini. Laras pun mencoba mendengarkan itu baik-baik. Sedangkan Marsya dia hanya melirik sekilas lalu kembali berbicara fokus pada ketiga Netherlands di depannya.
"Mereka sedang membicarakan apa, Marsya?" tanya Barend dengan polosnya.
"Sudahlah, itu tidak penting! Ajari saja aku bahasamu!" jawab Marsya pada Barend.
Barend nampak menggembungkan pipinya. Dia kesal sebenarnya sejak tadi karena Marsya tak kunjung paham dan mengerti.
"Kamu tidak paham-paham sejak tadi! Aku lelah, aku ingin Milk!" ujar Barend mencoba memeras Marsya.
Marsya lalu menggelengkan kepalanya. Dia mencoba menolak apa yang Barend inginkan. Memang benar Marsya kadang selalu memberinya jika dia meminta. Tapi jika dilakukan terus menerus. Setan ini lama kelamaan juga akan melunjak.
"Tidak ada! Jadi ajari aku sekarang!" ucap Marsya tegas.
Nampak Albert dan Melissa terkekeh mendengar permintaan Barend ditolak. Mereka pun kembali sibuk mengajari Marsya bahasa Netherlands.
Kembali lagi bersama Rara. Dia pun berkata kepada Bella dan Laras.
__ADS_1
"Tadi, waktu aku ke belakang. Aku lihat dia duduk di bayang. Dia sendirian di sana. Yo, aku cuma lihat aja tadi sebenarnya. Terus Abah sama Ninik datang ke aku. Mereka bilang, suruh temenin abangmu. Yo yaudah, aku buatin teh hangat dia cangkir sama aku. Terus aku kasih ke dia. Aku duduk di sampingnya! Eh, dia bilang. Ngapain kamu ke sini? Tidur aja sana udah malam! Gitu, gak ada terima kasihnya masmu itu!" jelas Rara murka.
Bella juga merasa naik pitam rasanya. Tapi sebelum itu bersama Laras dia tertawa. Lucu rasanya. Cak Dika memang manusia kaku, es batu hidup.
"Kenapa kalian ketawa?" tanya Rara pada keduanya.
"Gapapa Ra! Ya, mo gimana yo? Cacak itu ibarat es batu. Dia beku, dan kamu itu sumber kehangatannya. Yang bisa cairin dia! Jadi Yo sing sabar aja ngadepin Cacak!" jawab Laras pada Rara.
Rara menaikkan salah satu alisnya. Laras baru saja mengatakan bahwa dia adalah sumber kehangatannya.
"Maksudmu gimana? Aku sumber kehangatannya itu?" tanya Rara lagi tak terlalu mengerti dan paham perihal cinta.
"Ra, Cacak itu sayang kamu loh!" ujar Bella menimpali.
Rara menoleh ke samping ke arah Bella. Di sana dia masih menatap Bella dengan penuh pertanyaan.
"Dia mah sayang semua! Gak cuma aku aja kan? Seluruh Gautama Family ini, dia sayang!" jelas Rara pada Bella di sampingnya.
Namun Bella langsung menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Kedua tangannya memegang bahu Rara kemudian.
"Dia sayang kamu! Perlakuannya itu beda kalo udah menyangkut kamu!" jelas Bella lagi padanya.
Rara nampak mulai bergelut dengan hatinya kali ini. Dia belum pernah pacaran sungguh. Jadi untuk menyimpulkan perasaan apa yang saat ini berada di dadanya itu dia bingung.
Rara dan Bella lalu memperhatikan Laras dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Kenapa?" tanya keduanya pada Laras.
"Bukan kamu Bel! Tapi Si Rara ini sama Cacak. Kalo kalian udah saling sayang itu ungkapin. Mau sampai kapan kalian diam aja itu hah?" tanya Laras kesal pada mereka.
Kekesalan itu membuat Bella terkekeh. Namun lain lagi dengan Rara. Dia nampak diam dan menunduk kali ini. Dia sedang memikirkan sesuatu.
Apa benar bahwa apa yang ada dalam dadanya saat ini adalah rasa cinta? Di sela-sela Rara yang berpikir. Dari luar sana seorang lelaki sedang berdiri sambil membawa secangkir teh.
Dia adalah Cak Dika. Cak Dika merasa bersalah rasanya pada Rara. Dia pun membawa teh hangat Rara bersamanya.
Berulang kali tangannya terulur akan mengetuk pintu itu. Tapi dia urungkan lagi. Tapi dia juga tidak enak hati.
Duh, urusan Karo wong wedok Ki rada susah ncen! Tapi pie jajal, aku Ki nek wes urusan Karo dek Rara rasane ora penakkan. Onok Yo, wong wedok ayu menarik koyok de e iku!. Ujar Cak Dika dalam hatinya.
(Duh, urusan sama perempuan ini rada susah memang! Tapi gimana coba aku ini kalau udah urusan sama dek Rara rasanya gak enakkan. Ada ya, perempuan menarik seperti dia itu!)
Dia kembali memberanikan tangannya untuk mengetuk pintu.
__ADS_1
Tokkkk
Tokkkk
Tokkkk
Pada akhirnya suara ketukan itu berhasil diciptakan. Ketiga gadis yang sedang bercengkrama itu pun tatapannya menoleh ke arah pintu. Sejenak mereka saling tatap dan tetap pada posisinya.
"Dek..." sapa Cak Dika dari luar.
Padahal hanya di sapa seperti itu. Tapi Rara kembali dibuat tersenyum rasanya.
"Nah, Cacak datang toh?" ujar Bella pada Rara.
"Iyo, datang dia! Tapi buat apa dia kesini?" tanya Rara heran.
"Buat nemuin kamulah, Ra! Buat apa lagi terusan?" tanya Laras dengan nada kesalnya.
Rara terkekeh mendengar itu. Sedangkan Bella dia menepuk-nepuk punggung Rara lalu berkata,
"Dah sana samperin dia! Kasihan itu!" ucap Bella padanya.
Sekalipun hatinya masih kesal. Tapi Rara bukanlah manusia yang tega. Dia pun berdiri lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Nampak di depannya Cak Dika yang menatapnya. Rara menatapnya biasa. Melihat tatapan itu, Cak Dika pun memberikan teh yang ia pegang pada Rara.
"Ini dek! Kamu belum minum ini sama sekali loh!" ucap Cak Dika padanya.
Sejenak Rara menatap ke arah cangkir teh itu lalu kembali menatap Cak Dika.
"Apaan, udah dibuatkan teh gak ada terima kasih! Orang malah diusir waktu mau nemenin. Kamu waras, Mas?" tanya Rara murka padanya.
Cak Dika seketika ciut. Dia kemudian tersenyum tipis. Tanpa sepatah katapun, Cak Dika memindahkan secangkir teh itu di tangan kirinya.
Sedangkan tangan kanan yang kosong langsung saja menarik Rara dan membawanya pergi dari sana.
"Heh, kita mau kemana? Main tarik aja!" pekik Rara terpaksa berjalan mengikuti Cak Dika.
"Aku gak tahan mok marahi terus itu! Udah ayo kita duduk bareng di belakang sambil minum teh! Aku perlu kamu malam ini. Aku kangen kamu, aku pingin kita ngobrol berdua! Jarang-jarang bukan kita saling ngobrol kek gini!" ujar Cak Dika to the point'.
Rara terkejut mendengar itu. Namun tak lama dia pun tersenyum. Dia membiarkan Cak Dika menggenggam tangannya malam itu. Membawanya ke halaman belakang rumah yang langsung tembus viewnya ke area sawah.
Di sana mereka berdua duduk sambil menikmati secangkir teh di tangan mereka masing-masing. Padahal hanya sesederhana ini. Namun rasanya begitu nyaman untuk keduanya.
__ADS_1