Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 175: Pemuja Pohon Beringin (Bagian 3)


__ADS_3

Ketika Mas Suhu dan Pak Eko sibuk dengan privasinya. Bella tidak tinggal diam. Kediaman Pak Eko cukup besar. Rumah ini tingkat dua memiliki halaman belakang yang cukup luas. Di situlah saat ini Bella dan kedua anak Pak Eko berada.


Di ujung halaman sana terdapat sebuah bangunan kecil. Bangunannya cukup sederhana terbuat dari kayu. Bangunan itu diapit oleh kedua pohon mangga yang cukup besar. Aura gelap di sana jelas sekali ada.


Maka sejak tadi pandangan Bella tidak lepas dari bangunan itu. Sembari melipat kedua tangannya maka Bella tetap memperhatikan bangunan itu dengan sorot matanya.


Tania yang duduk di teras belakang bersama dengan Vio tak sengaja melihat arah tatap Bella. Setelah melihat itu Tania pun menunduk laku membuang kasar nafasnya.


"Area itu tempat ritual, kak!" ujar Tania lirih.


"E-eh!" pekik Bella tersadar dari fokusnya ketika mendengar Tania berbicara.


Mendengar itu, Bella mengeluarkan kamera yang selalu dia bawa. Kamera keramat yang cukup mengesankan dari Simbahnya.


Kelakuan Bella itu diperhatikan oleh Tania dan Vio. Tidak ada respon suara apapun yang Bella katakan setelah Tania memberitahunya.


Bella mengarahkan kameranya ke arah bangunan itu lalu memotretnya.


Cekrekkkk


Hasil potret polaroid itu jadi secara perlahan. Ketika hasil potretan itu jadi maka Bella pun melihatnya.


Sungguh seram rasanya. Dia melihat sesosok makhluk besar sedang berdiri tepat di sana. Sosok itu memegang beberapa potongan tubuh manusia berupa tangan dan kaki.


"Astaghfirullah!" lirih Bella setelah usai melihat apa yang dia lihat dari hasil potretnya.


Tania dan Vio saling tatap ketika Bella berucap seperti itu.


"Ada apa kak?" tanya Tania kepadanya.


Bella menoleh ke arah Tania lalu menggeleng pelan. Hatinya takut setelah melihat makhluk itu. Sungguh, itu adalah iblis. Bukan setan biasa.


"Tidak apa!" jawab Bella.


Bella lalu terduduk di samping Tania. Dia menyembunyikan hasil potretnya di dalam saku.

__ADS_1


Sebab dia tidak ingin kedua anak ini tau makhluk apa yang saat ini sedang mengintai mereka. Jika bukan karena jimat dari simbah mungkin iblis di dalam rumah ini pasti bisa menyerangnya.


"Apakah ada yang ingin kalian ceritakan ke aku?" tanya Bella kepada Tania dan Vio.


"Kami tau kedatangan kakak kemari sebab ingin menolong keluarga kami," ujar Tania, dia masuk menundukkan kepalanya.


Sesungguhnya dia sudah pernah melihat wujud iblis yang membantu bapaknya selama ini.


"Perihal apa yang ada di dalam sana aku juga sudah tau, kak! Kami berdua melihatnya malam itu. Malam ketika ibuk mati!" jelas Tania kepada Bella.


Kali ini Tania menatap Bella. Tatapannya pasrah sekali. Tersirat kesedihan juga amarah di dalam sorot mata itu. Bella tau betul bagaimana perasaanya Tania saat ini.


"Aku, Vio, kami semua ketakutan! Ibu mati bukan seban frustasi, kak!" ujar Tania lagi.


Bella masih mendengarkannya.


"Ibu melihat sesuatu yang gak bisa iami lihat. Beliau seperti sedang disiksa oleh sesuatu. Tiap malam, ibuk selalu mengeluhkan tentang lututnya yang sakit. Kami sudah membawanya ke beberapa pengobatan. Tapi, kata ahlinya! Ibuk, tidak dilanda sakit apapun. Tapi, setiap pagi lutut ibuk selalu biru! Kami masih ingat betul beberapa bulan setelah ibuk sakit parah ada fase di mana ibuk saat itu berangsur sehat selama tiga hari. Dia duduk di sini bersama kami. Dia merangkul kami. Dia menceritakan banyak kisah tentang masa kecil kami. Juga rasa syukurnya ketika mendapatkan kami di kehidupannya. Ibuk juga bilang, bahwa jika waktu bisa diputar. Ibuk cuma mau hidup sederhana saja yang penting punya banyak waktu buat kami. Seminggu setelahnya, malam itu!" ujar Tania masih menceritakan perihal kisah pahit yang dialaminya.


Tania kembali menerka kenangan itu. Mengingatnya pelan-pelan. Pedih sekali, itulah yang Tania rasakan saat ini.


"Malam itu aku terbangun dari tidurku ketika mendengar suara riuh di lantai bawah. Itu suara ibuk, entah berbicara dengan siapa ibuk saat itu?" lanjut Tania lagi bercerita.


"Itu bukan suara bapak!" ujar Tania lagi.


Dia kembali teringat kepada sosok besar tinggi yang mendatanginya malam itu. Sebuah petaka yang datang tak diundang mengunjungi kamarnya malam itu.


"Setelah berdebat dengan entah siapa di bawah. Aku ingin memeriksanya. Tapi, ketika tubuhku berada di ambang pintu yang masih tertutup. Aku mendengar suara-suara berkecamuk itu lenyap seketika. Penerangan di dalam rumah ini tiap malam selalu redup. Kami hanya mengandalkan penerangan temaram. Jika ingin penerangan lampu maka kami akan membeli lampu dengan watt rendah. Tapi bapak dan ibuk lebih suka memakai lilin-lilin saat malam. Bapak memang kaya dan siapa yang tidak kenal usaha bapak. Tapi mereka tidak tau di dalam rumah kami ini tidak semewah yang mereka lihat dari luar. Aneh rasanya! Tapi, rupanya dari keanehan itu justru kami menemukan jawabannya. Sosok yang datang pada kami malam itu. Adalah dia, alasan dari kekayaaan kami selama ini. Ibuk sudah pergi, kak!" ujar Tania lagi.


Dia kembali menitikkan air matanya tiap kali mengingat ibu. Tentu saja Vio di sampingnya juga ikut menangis. Rasanya saat ini mereka ingin bertanya kepada sang pemilik takdir.


Mengapa takdir mereka sangatlah tragis? Bella mengusap punggung Tania mencoba memberinya kekuatan.


"Yang sabar ya!" ucap Bella.


Hanya itu yang bisa Bella katakan sekarang. Dia tau, jika iblis sudah menginginkan nyawa. Jika dia sudah mendapatkan satu nyawa maka dia tidak akan pernah puas. Bella tau satu hal kalau sebentar lagi Tania, si sulung ini akan ikut pergi dan dimakan juga oleh sosok itu.

__ADS_1


Dalam hatinya Bella berdoa semoga Tuhan menantu keluarga Pak Eko. Tapi Bella tau aturan pesugihan. Ini tanah Jawa yang kental dengan hal-hal mistis.


Lalu pesugihan yang Bapak Eko lakukan sudah terlanjur memakan korban. Setahu Bella, menolong orang yang sudah ada di daftar tumbal iblis adalah tidak mungkin.


"Kak," lirih Vio kali ini. Gadis yang lebih muda lima tahun itu berbicara entah pada siapa?


Tania menoleh ke arah Vio. Terlihat di sana kedua mata Vio yang sembab. Sambil mencengkram roknya sendiri Vio pun berkata,


"Kakak, aku takut mati! Aku takut dimakan olehnya. Aku takut menjadi budaknya. Aku takut bertemu dengannya. Kakak, bukankah kamu datang kemari untuk menolong kami?" tanya Vio kali ini menatap Bella.


Degggg


Astaga, sungguh Bella betul tidak tega melihat kedua mata berair itu menatapnya. Sialan rasanya, kenapa penyesalan harus datang terlambat.


"Aku tidak mau kehilangan keluargaku lagi! Jadi, aku mohon kepadamu untuk menolong kami!" ujar Vio.


Selesai mengatakan itu Vio pun menangis sejadi-jadinya. Hal yang pilu sekali. Bella tidak bisa berkata apapun setelah mendengar permohonan itu. Belum sempat Bella menjawabnya. Dari balik tubuhnya terdengar satu suara,


"Bella!" sebuah sapaan dari suara yang Bella kenali seketika membuatnya menoleh.


"Mas Suhu?" lirih Bella lalu berdiri.


Mas Suhu tersenyum kecil kepadanya. Di sampingnya berada Pak Eko. Mereka berdua berjalan mendekati Bella.


"Ayo nak, ikut bapak!" ajak Pak Eko kepada kedua anaknya.


Tania dan Vio menurut saja mendengar ajakan itu. Mereka pun bergi dari sana meninggalkan Bella dan Mas Suhu berdua di sana.


"Ada apa?" tanya Bella mendongak menatap Mas Suhu. Sebab Mas Suhu jauh lebih tinggi darinya.


"Gak apa, ayo kita bicarakan di sini!" jawab Mas Suhu.


Bella melirik kecil ke arah bangunan ritual yang terdapat di halaman belakang itu.


"Kok bicara dekat kandang setan? Di luar aja jangan di sini!" ucap Bella memberi usul.

__ADS_1


Mas Suhu tersenyum. Sudah dia duga jawaban Bella akan begitu.


"Yowes ayo!" ujar Mas Suhu menarik tangan Bella untuk ikut bersamanya.


__ADS_2