
Suara dedaunan kering yang dipinaki kaki adalah nada yang mengiringi Bella dan Mas Suhu menelusuri hutan kala itu.
Mereka sudah memijakkan kaki mereka di Jawa Timur. Saat ini untuk masuk ke dalam sebuah desa tempat Rachel tinggal memang harus melewati hutan-hutan.
Akses desa tempat Rachel tinggal melewati jalanan makadam. Sudah bertahun-tahun lamanya jalanan ini tidak mendapatkan perbaikan oleh pemerintah.
Padahal kawasan ini masuk ke dalam salah satu tempat yang dilindungi. Sebab desa Rachel dekat dengan salah satu objek wisata hiking.
Salah satu gunung kecil yang ada di pulau Jawa Timur. Sebuah gunung yang terkenal dengan tanjakan naga atau jalur naga.
Langitnya mulai meredup tidak ada ojek di wilayah itu. Mereka masih berjalan dan sesekali Bella melihat ke arah jam tangannya.
"Hufhh.." lirih Mas Suhu berhenti sebentar. Dia cukup kelelahan jujur saja mengingat sudah sekitar setengah jam mereka berjalan.
"Masih lama, Bel?" tanya Mas Suhu kepada Bella di sampingnya.
Bella sedikit membenarkan tas Carier yang dibawanya.
"Ndak kok, kira-kira lima belas menit lagi kita sampai!" jawab Bella pada Mas Suhu.
"Kenapa?" tanya Bella kali ini dia memperhatikan Mas Suhu yang banjir peluh di keningnya.
Mas Suhu tersenyum ketika Bella melihat ke arahnya. Kemudian Mas Suhu pun menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ndak papa, capek saja!" jawab Mas Suhu padanya.
"Kok lemah gini mental pendaki?" ujar Bella lalu melanjutkan langkahnya.
Mas Suhu terkekeh mendengar itu. Dia pun kembali melanjutkan langkahnya mengekor Bella di belakang.
Beberapa menit berlalu. Pada akhirnya Bella dan Mas Suhu pun sampai tepat di depan rumah besar dengan desain bangunan kuno. Rumah itu adalah rumahnya Rachel. Seluruh keluarganya sedang berada di dalam saat ini.
"Nah kita sampai, Mas!" ucap Bella sumringah.
Mendengar itu, tak ada jawaban yang Mas Suhu lontarkan. Dia terperangah melihat betapa ramainya rumah Rachel itu.
Di atas atapnya ada beberapa pendeta Belanda. Kemudian, beberapa prajurit kerajaan mengelilingi rumah itu. Dia orang besar berpakaian jawara juga berdiri menjaga pintu masuk rumah itu.
"Kaget?" tanya Bella kepada Mas Suhu yang terlihat syok di sampingnya.
"Iyo!" jawab Mas Suhu pada Bella.
"Ndak usah kaget, memang saudara kami yang satu ini orang tuanya berprofesi sebagai perias mayat! Beliau juga sama kayak kita. Punya bakat istimewa. Tapi, ada salah satu kebiasaan yang cukup aneh dari ibunda Rachel!" ujar Bella menjelaskan.
"Apa itu?" tanya Mas Suhu pada Bella di sampingnya.
Mas Suhu menoleh ke samping begitu juga dengan Bella. Keduanya saling tatap saat ini. Dengan masih tersenyum maka Bella pun berkata,
__ADS_1
"Ibundanya suka ngingu hantu!" ujar Bella sambil tertawa.
Mendengar itu tentu saja Mas Suhu pun juga terkekeh.
Glekkkk
Suara pintu rumah terbuka membuat keduanya menghentikan tawa. Dari dalam sana muncul Cak Dika. Cak Dika diam sebentar memandangi Bella dan Mas Suhu yang berdiri agak jauh di depannya itu.
"Sudah datang kalian?" tanya Cak Dika.
"Nggeh Mas, baru sampai ini!" jawab Mas Suhu kepada Cak Dika.
"Yawes, ayo masuk! Mau sholat bareng Ndak?" tanya Cak Dika kepada mereka.
"Ayo Mas, siap kalo itu!" jawab Mas Suhu sumringah.
Mas Suhu kemudian berjalan mendahului Bella yang masih diam di sana. Melihat Mas Suhu yang mencoba akrab dengan Masnya. Membuat Bella tersenyum bahagia.
Dia kemudian ikut masuk ke dalam. Mereka berdua disambut oleh Ibundanya Rachel beserta dengan Gautama Family yang lain. Selesai sholat, mereka pun makan bersama.
Bella juga mengutarakan satu permintaan kepada Cak Dika. Agar Mas Suhu bisa ikut bergabung dalam tim mereka. Malam ini dia juga menceritakan perihal satu kasus yang sudah mereka selesaikan di Jawa Tengah.
Mendengar itu, maka mereka pun sepakat menerima Mas Suhu untuk bergabung di dalam tim mereka di sini.
__ADS_1