Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 164: Kamu, kamu milikku!


__ADS_3

Langitnya mulai berganti gelap. Saat ini Rachel sudah berada di kamar hotel. Ketika dia datang dan masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak menemukan Rara di sana.


Entah kemanakah perginya Rara saat ini? Rachel sudah rapi dia baru saja selesai mandi. Cukup baginya sejak pagi keluar menikmati kota Jakarta walaupun hanya seorang diri.


Sebab lelah dan hari ini tidak ada panggilan berkumpul membahas hal ghaib. Maka Rachel memilih duduk di atas ranjangnya. Dia meraih remote televisi lalu menyalakan televisinya.


Saluran televisi yang saat ini sedang dia nikmati adalah komedi. Sesekali Rachel tertawa melihat apa yang dia tonton di sana.


Ketika dirinya sedang asik menikmati acaranya. Dering di ponselnya membuat fokusnya terbagi. Rachel menoleh ke samping melirik kecil layar ponselnya.


Rachel mengecilkan volume televisinya lalu meraih ponselnya. Rupanya itu adalah sebuah pesan dari Rara untuknya. Pesan itu berisi,


Hel, keluarlah ke gedung pertemuan di hotel ini. Ada pekerjaan baru yang harus kita bahas bersama!


Itulah isi pesan dari Rara untuknya. Rachel menaikkan salah satu alisnya. Ada yang aneh menurutnya.


Jika memang mereka akan membahas sesuatu kenapa harus menyewa gedung? Bukankah biasanya mereka akan berkumpul di salah satu kamar. Kamar Cak Dika misalnya.


Gelanda dan Melissa yang menatapnya dari atas loteng pun saling tatap. Mereka bisa membaca apa yang Rachel pikirkan.


"Sepertinya sudah saatnya!" ujar Gelanda pada Melissa di sampingnya.


Arwah bocah Belanda berambut putih itu pun hanya mengangguk. Dia tidak berbicara sepatah katapun sebab kesal terhadap Gelanda sejak tadi.


Gelanda terbang menembus atap-atap kamar Rachel. Gelanda datang bersama Melissa di sampingnya. Keduanya kemudian berdiri tepat di hadapannya Rachel.


Melihat kehadiran dua bocah astral itu maka Rachel pun diam. Dia menunggu mereka berdua berbicara padanya.


"Rachel!" sapa Melissa dan Gelanda.


"Iya?" tanya Rachel padanya.


"Rachel kamu harus datang! Ada hal serius yang harus dibahas di sana. Orang-orang sejak tadi sedang menunggumu!" ujar Gelanda memberitahu.


Rachel mengernyit sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Sejak tadi?" tanya Rachel heran.


Baik Melissa dan Gelanda pun mengangguk.


"Ayo hel!" ucap keduanya lalu terbang menuju ke arah pintu.


Rachel tidak ingin terlalu banyak tanya di sini. Rachel pun berdiri lalu berjalan ke arah pintu. Ketika Rachel membuka pintu itu. Dia disambut oleh rombongan Nyai Ratu, Simbah Gautama dan Abahnya.


"Anakku, semoga selalu panjang umur!" ucap ketiganya.


Rachel terkejut lalu dia mengecek ponselnya. Rachel melihat kalendernya. Astaga, dia lupa jika hari ini dia ulang tahun.

__ADS_1


Setelah melihat itu Rachel tersenyum dan dia memberi hormatnya kepada ketiga sosok tetua di masa lalu.


"Terima kasih banyak Nyai, Simbah dan Abah!" ucap Rachel.


Kemudian tak lama muncul Senopati Cakar, beberapa maung yang berubah menjadi manusia. Juga beberapa Senopati lainnya.


Dalam perjalanannya menuju ke arah gedung pertemuan. Rachel disambut oleh sekutu astralnya. Hingga dia tiba tepat di depan pintu gedung itu.


Tidak ada yang menjaga pintunya. Rachel membuka pintu itu lalu masuk ke sana. Awalnya dia disambut oleh cahaya. Kemudian cahaya itu meredup dan ruangan itu gelap.


Satu penerangan tersorot kepada Thariq yang berdiri tepat di depannya. Namun letak berdirinya agak jauh.


 Thariq tersenyum ke arah Rachel sambil memegang sebuket bunga. Malam ini pemuda itu terlihat cukup tampan dengan balutan kemeja putih.


"Kamu ngapain?" tanya Rachel pada Thariq.


Thariq hanya tersenyum simpul. Perlahan dia berjalan ke arah Rachel dan cahaya lampu itu mengikutinya.


Sejujurnya Thariq sedikit gugup mengatakan ini kepada Rachelnya. Tetapi, dia harus mengatakannya. Dia tidak ingin terlambat menyampaikan perasaannya lalu didahului oleh seseorang.


Rachel adalah gadis pertama yang membuat dia sejatuh cinta ini. Rasanya engga. Bagi Thariq melirik gadis lain selain Rachel.


Dia harus bisa, lagi pula restu Cak Dika juga ada padanya sekarang. Jadi tidak ada alasan untuknya mundur.


"Hel, sudah lama sejak kita kenalan sampai sekarang! Ada dentuman yang tidak beraturan tiap kali aku melihat atau bersamamu. Aku sudah pernah mengatakan perihal hubungan kita. Tapi kamu tetap acuh! Tapi sekalipun kamu tidak menjawabnya aku yakin jika hatimu itu pasti perasaannya sama untukku!" ujar Thariq.


Satu kesungguhan dalam hatinya bahwa dia sangat mencintai Rachel di sini.


"Rachel, bisakah kita ganti pertemanan kita menjadi hubungan yang lebih serius lagi? Bukankah manusia diciptakan secara berpasang-pasangan? Bukankah wanita adalah tulang rusuknya laki-laki? Lalu kebimbangan macam apa yang berada dalam hatimu saat ini? Sehingga tiap kali aku menanyakan perihal hubungan kamu selalu menghindar? Tidakkah kamu bisa merasakan bahwa aku, Thariq begitu takut kehilanganmu dulu? Lalu apa yang membuat kamu selalu menghindariku?" tanya Thariq padanya.


Rachel sedikit mengingat kembali petualangannya selama ini yang dia lalui bersama Thariq. Benar memang, pemuda inilah yang paling takut ketika terjadi sesuatu dengan Rachel.


Thariq juga tidak meninggalkan Rachel ketika Rachel menyuruh ya berlari. Pemuda ini rela menerjang bahaya untuknya. Tapi entahlah, mungkin memang perempuan diciptakan dengan hati yang cukup rumit.


"Riq, aku takut! Aku belum pernah melangkah ke hubungan yang lebih serius. Kamu tau, belum terpikir Dala kepalaku untuk menikah layaknya Rara dan Aldo. Aku takut, mengecewakan jika keputusannya diambil secara cepat! Aku mau mengalir saja sampai rasaku ke kamu benar-benar mantap dan hatiku bilang iya!" ujar Rachel menyuarakan apa yang ada dalam hatinya selama ini.


"Hel, aku Ndak ajak kamu nikah cepat! Cuma aku takut kamu nanti diambil orang. Rachel, aku sayang kamu! Apakah hatimu juga sama merawat namaku di sana? Apakah hatimu itu, ada namaku?" tanya Thariq padanya.


Sungguh, jika pertanyaan seperti ini. Rachel benar-benar tidak bisa berbohong. Sambil tersenyum dan menatap Thariq di depannya maka Rachel pun mengangguk.


"Betul ada namaku di sana?" tanya Thariq lagi.


"Iya!' jawab Rachel sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia malu sekali mengakui perasaannya itu.


"Kalau tidak sanggup menikah hari ini! Gimana kalau tak lamar saja?" tanya Thariq.


"Gimana ya, susah jawabnya! Tapi nama Thariq yang ada di sini sekarang," ujar Rachel sambil menyentuh dadanya.

__ADS_1


Hal itu membuat Thariq tersenyum. Thariq bersimpuh kemudian. Dia memberikan sebuket bunga itu pada Rachel lalu berkata,


"Maukah kamu menjadi kekasihku sekarang?" tanya Thariq padanya.


Rachel tidak pernah jatuh cinta. Thariq adalah nama manusia yang berhasil membuatnya jatuh cinta sekarang.


"Iya!" jawab Rachel.


Sungguh kebahagian itu memenuhi hati Thariq sekarang.


"Tapi aku tidak ingin pacaran! Jadi, bisakah kamu menerima lamaranku? Setidaknya statusmu setelah ini adalah tunanganku!" ujar Thariq padanya.


Rachel menerima bunga itu lalu dia mengangguk.


"Iya, aku mau!" jawab Rachel padanya.


Thariq berdiri dari simpuhannya. Thariq merogoh saku celananya mengeluarkan kotak cincin.


Thariq membukanya lalu dia meraih tangan Rachel. Dipakaikan lah cincin itu ke tangan Rachel saat ini.


"Ya Allah!" ucap Cak Dika yang paling keras sambil menyeka air matanya.


Lampu di dalam ruangan itu seketika menyala. Rachel terkejut melihat saudaranya yang ada di dalam ruangan itu ternyata.


"Huaaa mbakku!" ujar Marsya bahagia sampai tak kuasa menahan tangisnya.


Mereka yang berdiri jauh di sana kemudian menghampiri Rachel dan Thariq yang masih berdiri saling berhadapan.


"Sengaja?" tanya Rachel melirik Thariq di depannya.


"Iya, biar semua jadi saksi kalau kamu milikku!" jawab Thariq padanya.


Rachel terkekeh kecil mendengar jawaban itu,


"Pingin peluk, tapi masih haram ini gimana?" tanya Thariq pada Rachel.


"Yowes, tahan dulu, Sayang!" jawab Rachel.


"Loh sudah resmi boleh panggil sayang ini?" tanya Thariq pada Rachel.


"Terus kape piye manggil? Kang Mas?" tanya Rachel lagi.


"Sayang ae, biar kelihatan mesra!" jawab Thariq.


Keduanya kemudian tertawa puas. Rara datang membawakan kue beserta lilin di atasnya. Lilin itu menyala siap untuk Rachel tiup.


Semarak lagu selamat ulang tahun mulai menggema. Juga para koki beserta makanan yang dipesan mulai berdatangan. Malam itu hilanglah status jomblo yang melekat dalam diri Rachel.

__ADS_1


Malam itu mereka merayakan hari ulang tahun Rachel dengan meriah sampai larut malam.


__ADS_2