Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 32: Dari dalam Kain Kafan 4 (Kesepakatan Klampis Ireng)


__ADS_3

Cak Dika dan Rachel saat ini sedang berada di dalam ruangan persembahan. Satu ruangan yang digunakan oleh Pak Eko semasa hidupnya tiap malam Jumat.


Ruangan sakral yang digunakan untuk menumbalkan nyawa manusia. Beradanya mereka di sana bukan tanpa alasan.


Namun beradanya mereka di sana adalah untuk lebih mengenal aura dari para tumbalnya Pak Eko. Mereka berdua ingin mencari petunjuk lebih dalam perihal ritual yang dilaksanakan oleh Pak Eko.


Saat ini keduanya saling terpejam satu sama lain. Rachel berdiri tepat di depan Cak Dika.


Sedangkan Cak Dika, dia berdiri tepat di belakang tubuh Rachel sambil tangannya menyentuh punggung itu. Cak Dika di sana adalah sebagai penyalur kekuatan untuk Rachel.


Saat ini Rachel di sana, dia sedang mencari keberadaan tiga tumbal itu. Rachel berjalan di antara kegelapan itu. Di sana gelap sekali tidak ada siapapun kecuali suara-suara setan.


Mulai dari suara Kuntilanak sampai dengan suara mengeram sesuatu yang entah apa itu. Di sana juga terkadang seorang mata merah melihat kehadiran Rachel di sana, memperhatikannya.


Bau jiwa hidup dalam kegelapan itu menyengat. Bau itu dikenali oleh para makhluk alam sebelah. Di perjalanannya sesekali Rachel berhenti.


Bukan tanpa sebab dia berhenti. Namun, terkadang jailnya para setan yang mendadak muncul dari berbagai arah.


Entah itu dari bawah ke atas. Atau dari atas ke bawah. Atau dari kanan ke kiri. Beragam dan itu selalu membuatnya memekik dan terkejut.


Sungguh sekalipun sudah mati, mereka tetap menjadi biadab yang menjengkelkan.


Aura demi aura mereka mulai Rachel rasakan. Hingga ada satu suara yang membuat Rachel berhenti.


"Tolong... Tolong saya! Tolong... Tolong saya, nak!" ucap suara itu tanpa wujud hanya gema.


Rachel memalingkan wajahnya ke arah samping mencoba mencari keberadaan pemilik suara itu. Gelap, tidak ada siapapun.


Tapi suara itu berasal dari sisi kiri tubuhnya. Dan suara itu terus memanggil dan meminta tolong padanya.


Rachel memilih untuk berjalan ke arah sumber suara itu. Baru sepuluh langkah dia berjalan. Suara mbak Kunti kembali bersaut-sautan. Mereka berbaris di sisi kanan kiri jalan Rachel.


Wajah pucat itu meringis tertawa melengking tak karuan. Bahkan beberapa di antara mereka, setelah Rachel lewati, terbang mengikuti Rachel dari belakang.


Tapi, tidak satupun dari mereka ada yang berani menyentuh Rachel walau hanya seujung jari. Aura dari dalam tubuh Rachel membuat mereka hanya mampu meledek dan membuatnya takut dengan aksi dan suara.

__ADS_1


"Manusia, kenapa kau datang ke tempat kami? Kamu mau mati ya?" ujar suara-suara mbak Kunti itu.


Rachel hanya diam, dia acuh tak peduli. Sebab sudah biasa baginya sejak kecil bertemu dan mendengarkan mereka. Bahkan sosok yang jauh lebih seram saja sudah sering kali Rachel lihat.


Rachel terkejut ketika mendapati telapak kaki besar berdiri di hadapannya. Telapak kaki itu besar sekali. Kulitnya pucat mengelupas, melepuh sepertinya.


Jantungnya berdebar sangat kencang. Rachel mencoba mengatur detak jantungnya.


"Kamu, mau nantang kami? Dengan datang kemari, artinya kamu sudah siap mati!" ujar pemilik kaki besar itu.


Bulu kuduk Rachel meremang seketika. Dia menelan ludahnya lalu perlahan mendongak memberanikan dirinya menatap ke arah pemilik kaki besar itu.


Kabur putih mendadak muncul dari balik tubuh Rachel. Dari dalam kabur itu terdengar suara auman macan. Sosok besar itu seketika terkejut ketika mendapati tiga sosok macan yang keluar dari dalam kabur itu.


Tak lama setelah ketiga macan itu keluar. Seorang wanita cantik dari dalam kabut juga ikut keluar. Sosok itu berwibawa tinggi, sosok itu tak lain adalah Nyai Ratu dan dia membuat sosok besar itu terdiam seketika.


"Dia adalah cucuku! Kamu mau apa, hah?" tanya Nyai Ratu sambil menatap tepat ke arah bola mata besar yang ada di atasnya.


Padahal ukuran mereka berbeda sangat jauh. Tapi, kekuatan Nyai Ratu melebihi sosok ini. Dan itulah yang membuat sosok ini diam dan ciut seketika.


Sungguh sosok ini malas berurusan dengan sosok Nyai Ratu ini.


"Apakah kamu yang muncul di depan Pak Eko, saat dia mencari pesugihan?" tanya Rachel padanya saat ini.


Raut wajah Rachel di bawah sana membuat setan raksasa itu tersenyum. Seluruh gigi sosok itu tajam, bak gigi ikan hiu.


"Kenapa kamu peduli pada orang yang sudah mati?" tanya sosok itu padanya.


"Kesalahannya memang dibutakan oleh nafsu duniawi! Tapi kesalahanmu jika kau melibatkan anggota keluarga lain yang bahkan tidak membuat perjanjian denganmu!" jawab Rachel mengepalkan tangannya mencoba meredam rasa takut dalam dadanya yang kini mulai menjalar merambat merasuki tubuhnya.


Rachel menatap sosok itu tajam.


"Lalu kenapa? Bukankah aku sudah memberikan harta yang cukup untuknya? Dalam perjanjian itu, dia harus memberiku tumbal setiap satu tahun sekali. Juga darah ayam hitam, tiap malam Jumat. Darah itu harus dijadikan satu dengan jari kelingking tumbal yang sudah kumakan! Jika itu tidak disediakan untukku. Maka aku berhak memakan kehidupan manusia itu!" ujar sosok raksasa itu murka.


Nada bicaranya mulai meninggi. Beruntungnya kehadiran Nyai Ratu di belakang tubuh Rachel membuat Rachel perlahan tenang.

__ADS_1


"Khodam milikmu memang istimewa! Tapi perjanjian tetap perjanjian. Aku memang tidak bisa mengalahkan Kanjeng Ratu ini. Tapi dia tidak bisa menghentikan perjanjian antara manusia dan setan!" jawab sosok raksasa itu lagi.


"Perjanjianmu sudah selesai ketika Pak Eko mati! Kamu sudah melahap kehidupannya perlahan. Sekarang, seharusnya kamu bisa melepaskan anak-anaknya! Sebab mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini!" ucap Rachel lagi menentang.


"Howahhhhhhhh!!!" sosok besar itu tiba-tiba saja berteriak.


Teriakan itu menciptakan hembusan angin panas ke arah Rachel. Rachel hanya mampu mengangkat kedua tangannya. Mencoba menahan hembusan angin panas itu menerpa-nerpa wajahnya.


"Aku akan memberimu waktu dua hari! Jika kamu tidak bisa mengembalikan jimat itu ke tempatku. Maka, kedua anak Pak Eko itu akan menjadi mangsaku!" ujar sosok besar itu.


"Kalau anakku ini mampu mengembalikannya! Kamu harus bisa menepati janjimu, Kisanak!" ujar Nyai Ratu pada sosok besar itu.


Ketika sosok besar itu menatap ke arah Rachel yang masih berada di depan kakinya. Sosok Nyai Ratu perlahan memudar kehadirannya.


"Kamu, rupanya cucu dari sepuh sangar itu! Pantas saja auramu sudah berbeda dari yang lain sejak tadi!" ucap sosok besar itu pada Rachel.


Namun di sana Rachel hanya diam saja. Dia masih memperhatikan sosok besar yang ada di depannya itu.


"Datanglah ke Klampis Ireng! Kembalikan jimat itu ke tempatnya! Maka aku, akan pergi setelahnya. Aku tidak akan menganggu kedua bocah itu lagi!" ujar sosok besar itu lagi.


Kumpulan kabut mulai memburamkan sosok itu. Kabut itu kembali menutupi tubuh sosok itu. Perlahan gema suaranya mulai menghilang.


Jawaban sudah ditemukan. Rachel kembali memejamkan kedua matanya di sana. Detik kemudian, kegelapan mulai membawanya kembali pada titik terang. Tempat di mana Rachel masih bernafas.


"Gimana dek?" tanya Cak Dika dari balik tubuh Rachel.


Rachel mengangguk, kemudian dia berbalik ke belakang menatap Cak Dika.


"Cak, kita harus pergi ke Klampis Ireng! Penunggu jimat itu adalah siluman yang sangat besar. Berkat Ratu, pada akhirnya kita diberi tugas lain. Yaitu mengembalikan jimat itu, ke Klampis Ireng. Sesuai dengan tempatnya semula!" jelas Rachel pada Cak Dika.


Cak Dika tersenyum miring. Tempat yang baru saja Rachel sebut adalah tempat yang membuat Cak Dika berdecak kagum.


Sebab di sana menurut penglihatannya. Ada istana emas yang didirikan oleh Semar, salah satu tokoh pewayangan.


Si Semar inilah, konon katanya adalah pemilik dari Istana Emas itu.

__ADS_1


__ADS_2