Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 89: Ada apa sebenarnya?


__ADS_3

Cak Dika beserta seluruh saudaranya dikisahkan sejarah sebenarnya yang terjadi di dalam rumah ini sesuai apa yang sosok setan wanita berinisial S ini tau.


Wanita berinisial S ini mengatakan bahwa kejadian di rumah Darmo ini berkaitan dengan dua hal. Yang pertama pemicunya adalah rasa sakit hati.


Itu berasal dari salah satu pekerja di rumah ini yang dikeluarkan sebab ada masalah. Akibat dari peristiwa itu maka dendam kesumat pun membara dalam dadanya sehingga membuat sosok setan wanita ini juga jadi korban atas dendam itu.


Lalu yang kedua adalah rasa iri hati yang hinggap dalam hati kerabat jauh dari pemilik rumah ini. Pada tahun 1900-an. Sosok setan ini mengatakan bahwasannya dahulu rumah ini terbakar atapnya.


Kebakaran itu terjadi sebab disengaja. Setelah kejadian kebakaran itu terjadi menimpa rumah ini.


Maka, seluruh puing bangunan yang sekiranya masih bisa dijual atau dipakai untuk keperluan bangunan dijarah oleh beberapa orang yang ada di kawasan itu. Pada tahun itu rumah ini adalah rumah paling mewah di kawasan itu.


Sosok wanita itu berhenti di lantai dua rumah itu. Ketika dia berhenti sontak saja Thariq dan Rachel yang berada paling depan sejak tadi juga berhenti.


Suara desisan ular mulai terdengar di sana. Rachel dan Thariq menatap itu biasa begitupun dengan yang lain.


"Ada apa hel, kenapa kamu berhenti?" tanya Rahman sang kameramen.


Ular itu besar sekali. Namun kepalanya terkadang berubah-ubah . Kadang menjadi kepala wanita dan kadang menjadi kepala macan. Kadang dia juga mampu berubah pula menjadi seekor macan.


Dari auranya, ini adalah peliharaan. Mungkin, jika dikatakan ini siluman ada benarnya juga.


"Di depan sana ada ular besar!" ujar Rachel sambil menunjuk ke arah ular itu.


Cak Dika melipat kedua tangannya. Dia juga memperhatikan itu. Sejenak dia mengeluarkan maungnya. Dia ingin tau apakah sosok itu mampu diajak berkomunikasi.


Ketika khodamnya dipertemukan langsung oleh sosok itu. Wajah garang dari ular berkepala macan itu langsung marah.


Cak Dika pun langsung menarik kembali maungnya. Itu adalah sebuah tolakan. Dan niatnya kemari bukanlah untuk menantang. Dia hanya mencari kebenaran.

__ADS_1


"Gak bisa diajak komunikasi!" ujar Cak Dika.


"Hu'um... Iwuh!" tambah Bella yang juga memperhatikan keberadaan sosok itu.


"Dia tidak berbicara pada kalian! Dia inilah peliharaan dari pemilik rumah ini!" ujar setan wanita berinisial S.


Cak Dika lalu menoleh ke atas. Sosok wanita itu terbang di atas mereka. Dia menatap sendu ke arah ular itu.


"Jadi ini pemicunya?" tanya Cak Dika lagi padanya.


Sosok setan berinisial S itu lalu menunduk ke bawah menatap Cak Dika.


"Salah satunya, tapi pemicu yang paling besar adalah iri hati dan sakit hati!" jawab setan berinisial S itu.


"Jadi apakah sebenarnya ini memang masalah pesugihan?" tanya Bella kali ini padanya.


Setelah penjelasan itu dikatakan. Marsya mengerang lalu jatuh. Bella sigap di sampingnya langsung memapahnya. Tidak membiarkan tubuh saudaranya itu sampai terbentur tanah.


Awal masuk ke dalam tubuh Marsya. Itu adalah sosok kuntilanak. Tapi dia pakaiannya lebih modis daripada kuntilanak lain.


Atasannya putih tetapi bahannya adalah semacam sewek. Rambutnya gimbal tapi ada beberapa yang digelung. Sosok itu menyapa mereka dengan kalimat Hallo.


"Assalamualaikum..." ujar Cak Dika bersimpuh mencoba bertanya pada sosok itu.


"Assalamualaikum..." ujar Cak Dika lagi padanya. Tapi dia tidak menjawab.


"Mbak S sudah memberi izin kalian untuk datang. Kedatangan kalian diterima di sini. Tapi, jangan sesekali mengganggu sosok peliharaan Tuan itu. Dia bukan sembarang makhluk yang bisa diajak ngobrol!" jelas sosok kuntilanak dalam tubuh Marsya.


Cak Dika mengangguk mendengar itu.

__ADS_1


"Jadi, bisa katakan ini saya sedang berbicara dengan siapa?" tanya Cak Dika mencoba menanyakan nama dari hantu itu.


Sejenak dia diam. Baru sepuluh detik setelahnya barulah dia berbicara lagi.


"Saya Mbak D, saya juga tau seluk beluk peristiwa yang ada dalam rumah ini. Kejadian apa saja. Saya akan ceritakan. Sebagian sudah mbak S ceritakan. Tapi, ada beberapa kejadian yang tidak boleh kalian sharing. Pendam saja, dan hanya kalian saja yang tau. Jangan sebarkan itu sampai ke telinga orang-orang sana. Kami bangsa halus ini, sudah membangun peradaban dalam rumah ini. Beberapa dari kami pergi, sebab tiap malam rumah ini sering digandrungi anak muda. Mereka mengangkat gelas-gelas mereka lalu terbuai oleh cairan itu dan mabuk. Tapi ada beberapa dari kami yang tetap tinggal!" jelas Mbak D pada Cak Dika.


Ah, tentu saja Cak Dika tau apa maksudnya. Hawa keberadaan makhluk di sini kalah oleh hawa manusia. Sebab katanya banyak orang datang kemari.


Para anak muda yang bersua riang mengangkat gelas mereka, meneguknya sebagai gambaran kenikmatan muda katanya. Padahal arak miras itu adalah perusak badan.


"Ya, mbak! Kami paham apa yang mbak katakan! Tapi boleh saya bertanya satu hal lagi pada mbak?" tanya Cak Dika pada mbak D.


Mbak D tidak menjawab dia hanya mengangguk. Di atas masih terlihat Mbak S sedang melayang. Dia menatap memperhatikan Mbak D dan Cak Dika. Bisa dibilang kedua setan itu di sini adalah juru kunci.


"Jadi sebenarnya rumah ini dulunya pemiliknya adalah pemuja sekte. Sekte itu berbeda dengan pesugihan. Saya tidak bisa menjelaskannya, tapi memang keduanya adalah hal yang berbeda tidak bisa disamakan! Mungkin hanya itu saja yang mampu saya ceritakan. Selebihnya saya akan memberitahu kalian nanti. Tapi simpan sejarah kelam itu untuk kalian. Biar orang di luar sana hanya tau bahwa pemilik rumah ini dulunya adalah pemuja sekte. Dan ular yang kalian lihat adalah peliharaannya. Mereka biasa melakukan pemujaan itu di atas, di lantai tiga. Di sana sarang genderuwo, jadi ada baiknya untuk tidak ke atas. Sebab tangganya juga sudah mulai hancur!" jelas Mbak D pada mereka.


Cak Dika mengangguk mendengar itu. Mereka mengerti. Sepertinya hanya sebatas ini saja penjelasan yang akan disampaikan pada warganet.


Ada banyak kejadian dan kisah kelam di sini. Namun, hanya ini yang boleh diceritakan pada kalian. Dan hanya kebenaran inilah yang boleh dijunjung ke media.


"Ya sudah, terima kasih Mbak D dan Mbak S atas izin yang sudah diberikan pada kami untuk ekplorasi rumah ini. Kami akan pulang!" ujar Rachel pada kedua sosok hantu wanita itu.


"Saya ingin berpesan pada orang-orang. Agar tidak membuat perjanjian dengan alam kami. Sebab nilai tukarnya berbeda dengan alam kalian. Yang diminta bangsa kami, bukan lembaran uang. Melainkan jiwa kalian, atau tumbal orang tercinta kalian. Saya dan Mbak S, salah satu korbannya! Korban dari mereka yang haus kekayaan, lalu meraup kekayaan dengan cara instan tanpa pandang bulu. Terkadang manusia lebih keji dan hina daripada kami bangsa halus!" jelas Mbak D lalu keluar dari dalam tubuh Marsya.


Rachel tersenyum mendengar itu. Satu pesan yang sangat benar rasanya. Mungkin, jika narasi ini diangkat diupload dalam kanal YouTube mereka. Akan menjadi trending nanti.


Sepertinya sudah sampai sini saja perjalanan mereka menjejaki salah satu rumah hantu populer di Surabaya. Rumah hantu Darmo ini, rasanya sudah cukup bagi mereka menjelaskan pada warganet perihal kisahnya.


Gautama Family hanya diperbolehkan bercerita perihal itu saja. Selebihnya biarlah tetap menjadi misteri.

__ADS_1


__ADS_2