
Ada satu kisah yang cukup kelam. Satu kisah kelam ini bercerita tentang seorang anak kecil yang usianya sekitar 12 tahun. Anak itu mati terpenggal di sebuah pelabuhan. Dia mati karena mencari ibunya.
Anak kecil itu bernama Albertus Van Coline. Dia lahir di Batavia. Pada tahun 1943. Pada saat itu Jepang sudah menginjakkan kaki di tanah Hindia Belanda. Nama Indonesia kala itu masih belum ada. Bendera bendera tiga warna berhenti berkibar.
Hanya Bendera dari orang kulit kuning bermata sipitlah yang berkibar begitu megah di atas gedung-gedung. Saat itu adalah cahaya yang menyinari Hindia Belanda.
Nippon itu menghabis banyak orang kulit putih. Nasib penjajah bule itu tragis di tangan para Nippon. Banyak lautan mayat di danau. Banyak kepala yang jatuh terpenggal terpisah dari tubuhnya.
Saat itu Hindia Belanda benar-benar menjadi bak Medan darah. Tak ada sehari pun kasus pembunuhan atau mayat berjatuhan tak ada. Selalu ada pemberitaan ini itu perihal hilangnya satu nyawa.
Mari kita kolek sedikit perihal Albert ini. Seorang setan Belanda kecil yang datang pada Bella. Ketika Bella menjejakkan kakinya di atas gunung Gede.
Petualangan itu, mempertemukannya dengan hantu ini. Hantu yang menangis dan memiliki garis melintang di area lehernya.
Albertus Van Colline, sesuai apa yang kamu katakan. Maka, melalui narasi kusebut kamu dan kisahmu. Di tahun itu. Mari kita memasuki Medan waktu lagi. Melalui kemampuan Laras.
Seluruh keluarga Gautama diminta Albert untuk duduk di satu ruangan. Mereka duduk di sofa. Albert hari itu meminta pada mereka. Katanya,
"Setelah Barend dikenal, aku pun juga ingin dikenal! Dia nampak begitu bahagia ketika namanya disebut para Inlander dalam balutan doa. Maka aku, juga ingin merasakan doa kalian atas namaku dan untukku. Jadi dengarkan kisahku! Bahwa benderamu tidak akan berkibar megah jika kami penjajah tidak dikalahkan. Dalam kekalahan itu, banyak pula nyawa dibunuh cuma-cuma. Samurai itulah yang membuatku mati lalu menghentikan nafasku!" ujar Albert.
Saat itulah Laras mulai memejamkan matanya dan kisah mengenainya akan ditulis oleh Rahman. Inilah kisahnya!
___________
Albertus Van Colline
Pada saat itu Belanda lumpuh total. Harapan kami satu-satunya para Netherlands adalah kembali pulang ke kampung halaman kami.
Penampungan adalah tempat yang menyiksa buat kami. Kami yang dahulu hidup bersayapkan uang harta melimpah jatuh dan menjadi hidup seperti halnya para Inlander.
Pappa, saat itu pulang membuka pintu. Dia pulang membopong Mamma. Mama saat itu pingsan dalam gendongannya.
Aku turun dari atas anak tangga. Mama adalah segalanya untukku. Keluarga kecilku itu hanya memiliki aku. Aku adalah anak tunggal. Saat itu, aku yang baru saja turun dari kamarku bertanya pada Pappa.
"Pappa, ada apa dengan Mamma?" tanyaku pada Pappa.
Pappa hanya mampu menangis. Dia kemudian meletakkan Mamma di atas sofa. Ah, aku masih ingat sofa milikku lembut. Ruang tamu kami besar. Kami ini adalah petinggi dari pemerintahan Belanda.
__ADS_1
Bisa dibilang keluargaku adalah salah satu bangsawan Belanda. Itulah mengapa aku terlahir tampan! Lebih tampan dari Barend.
"Albert... Albert... Jangan pernah keluar rumah! Jaga, Mammamu. Pappa, akan pergi menghajar para setan busuk itu!" ujar Pappa dengan raut wajah yang teramat sangat menabung amarah.
Aku tidak pernah menyaksikan Pappa bicara padaku dalam nada tinggi. Malam itu aku masih memakai rompi beserta kemeja putihku. Bajuku saat itu merah putih seperti benderamu saat ini.
Mungkin takdir sudah meramalkan bahwa malam kelam itu aku binasa. Malam itu, Mamma masih belum sadar. Dan Pappa naik ke lantai atas. Dia di sana mengambil sebuah senjata.
Sambil menuruni anak tangga. Pappa terlihat sangat murka. Senjata dikokang berulang kali. Lalu dia menuju ke arah pintu.
Sebelum pintu ditutup Pappa berbalik ke arahku. Dia berkata padaku pelan,
"Anakku, jangan pernah keluar dari dalam rumah sebelum Pappa kembali!" ujar Pappa lalu menutup pintu.
Malam itu Pappa pergi. Di luar sana baku tembak terjadi. Hening, setelah satu jam Pappa pergi. Jam saat itu menunjukkan pukul dua belas malam.
Bola mata biruku mulai melirik ke arah pintu. Pappa masih belum datang. Aku ini masih anak-anak pada waktu itu. Remaja yang hendak menuju dewasa.
Aku pun tidur di samping Mamma dengan posisi duduk. Deni apapun aku tidak akan meninggalkan Mammaku. Wanita ini begitu aku cintai. Dialah orang yang menyayangiku.
Tapi sungguh sayang. Ketika aku terbang pada jam empat pagi. Aku tidak menemukan Mamma di sampingku.
Tak sedikitpun rasa takut itu hinggap dalam dadaku. Kata Pappa kami tidak boleh keluar dari dalam rumah sebelum dia kembali. Tapi Mamma melanggar itu.
Tidak, Pappa masih belum pulang. Aku tidak mau, Mamma juga ikut pergi. Lalu, aku akan hidup bersama siapa.
Ketika tanganku membuka pintu itu. Banyak darah berceceran di sana. Tiga orang militer mati. Satu masih sekarat. Dia bahkan masih bersuara. Ketika kakiku melangkah mendekatinya. Orang itu berkata,
"Netherlands telah kalah! Kita akan mati lambat lain di sini?" ujarnya padaku.
Hatiku jalur rasanya. Aku tidak begitu mengerti perihal apa yang dikatakan oleh orang itu. Tapi, keadaannya begitu sangat mengerikan.
Mukanya berdarah dan darah itu masih mengucur di sana. Aku tau itu pasti sangatlah perih. Maaf, Paman, aku saat itu hanyalah manusia polos yang bahkan tidak tau apa itu obat-obatan.
Jikalau saat itu aku adalah seorang dokter. Mungkin menolongmu adalah tujuan utamaku. Tapi aku berpijak keluar dari dalam rumah. Adalah untuk Mammaku.
"Apa kau melihat seorang wanita berambut panjang menggelombang? Warna rambutnya sama sepertiku, blonde. Apakah dia kemari, Paman? Dia Mammaku, dan aku mencarinya saat ini! Kata Pappa, kami tidak boleh keluar!" ujarku padanya.
__ADS_1
Namun yang kulihat saat itu adalah nafasnya tersengal-sengal. Dia bola matanya memutih sambil mengerang sakit. Tak la aku melihat perutnya tak lagi kembang kempis.
Aku menggoyangkan tubuhnya. Tapi, tetap saja dia tidak bergerak ataupun merespon. Aku yang sangat khawatir pada Mamma pun langsung saja berlari. Saat itu tujuan utamaku adalah dermaga. Dermaga, tempat orang berlalu lalang datang dan pergi.
Aku masih ingat japanan dermaga. Letaknya tidak cukup jauh dari rumahku. Sekitar lima belas menit aku berjalan.
Dadi kejauhan aku melihat beberapa Nippon. Mereka bertiga, mereka membawa minuman ditangan mereka. Sesekali mereka bercakap, sesekali mereka minum.
Hari itu aku tidak tau bahwa Jepang adalah pembenci Belanda yang paling ganas. Aku tidak tau, ketika aku bertanya perihal Mammaku. Justru mereka menggiringku ke suatu tempat.
Tubuhku ditendang sampai terbentur tembok. Kerah bajuku ditarik paksa. Aku ditampar berulang kali dengan senapan. Senapan itu berat, sakit sungguh rasanya.
Bahkan aku tidak bisa menghitung berapa kali mereka menghempas dan menarik lalu memukulku dengan senapan. Mati rasa rasanya rahangku ketika darah mulai muncrat keluar.
Sebuah balok besar dihantamkan tepat ke kepalaku. Aku limbung, kunang-kunang di depan mataku. Ketika tubuhku hendak jatuh. Salah satu dari mereka sambil tersenyum menjambakku. Memaksaku bersimpuh.
Aku mendengar suara Asahan. Suara seperti ini aku pernah mendengarnya. Pembantu di rumahku sering mengasah benda tajam. Dan beginilah bunyinya.
Suara itu terus mendekat. Hingga pandanganku yang kabur saat itu terfokus pada sebuah katanya yang mata tajamnya itu tepat mengarah ke arahku.
Terlalu merana rasanya tubuhku saat ini. Mamma, kau di mana? Semoga kau selamat? Mamma, Albert akan mati di sini. Maafkan Albert, tidak bisa menjagamu! Mamma, aku pergi!
Clashhh
Mereka menjambak rambutku ke belakang supaya aku mendongak. Memamerkan jenjang leherku padanya. Aku tidak ditebas. Tapi aku digorok, hanya setengah. Kepalaku tidak putus, tapi hampir putus.
Darahku yang jatuh di sana. Membuat mereka tertawa senang. Aku melihat tubuhku begitu sangat mengenaskan saat itu.
Aku membenci Nippon! Sama seperti Barend. Kami Netherlands rata-rata membenci mereka.
Beginilah kisahku, kami para anak penjajah. Kami tidak tau apapun. Kami mati atas kesalahan yang dibuat oleh para leluhur kami.
Namun sekarang, aku sadar! Apa artinya penjajah dan dijajah. Karma orang Netherlands rasanya. Dan aku hanya ingin mengatakan pada kalian para pribumi. Para Inlander.
Atas apa yang leluhur kami lakukan! Tolong maafkan kami! Kami sudah menerima banyak sekali balasan.
Melalui ini, aku memberi salam pada kalian. Dari bocah 12 tahun ini. Hai, ini kisahku! Albertus Van Colline.
__ADS_1
Bersama dengan Gautama Family ini, Aku dan Barend beserta hantu Belanda yang dibawa Melissa. Kami akan selalu ikut dalam tiap petualangan keluarga ini.