Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 135: Dua Dukun Pengabdi Setan


__ADS_3

"Sebenarnya itu ada apa sih ini?" tanya Rara pada Rachel di sampingnya.


Namun di sana Rachel yang diajak bicara hanya mampu melihat ke depan ke arah mobil Cak Dika yang terus saja melaju.


"Hel, kamu lihat opo?" tanya Rara padanya lagi kali ini Rara menepuk bahunya Rachel sehingga membuat Rachel menoleh ke samping menatapnya.


"Mbak Ra, kayaknya ini masalah serius! Kamu tau Ambulance yang tadi lewat di samping kita kan? Kalo Cak Dika bilang jangan keluar berarti ada sesuatu di luar sini yang sedang menunggu kita untuk keluar!" jelas Rachel padanya.


Rara mencoba memahami itu. Dia paham memang ada sesuatu yang sedang menunggu mereka keluar dari dalam mobil.


Sejenak Rachel memejamkan matanya. Dia memanggil Nyai Ratu. Namun ternyata panggilannya tidak digubris. Rachel lantas kembali membuka kedua matanya.


"Kamu sedang memanggil Nyai, Mbak?" tanya Marsya yang sejak tadi diam sambil memperhatikan jalanan.


"Iyo, Sya! Nyai Ndak ada jawab aku!" jawab Rachel padanya.


"Hahahaha.." tawa Marsya. Tawanya bukan suara Marsya.


Rachel memperhatikan adiknya yang sejak tadi hanya diam itu. Kemudian dia kembali menatap Rara yang masih menatapnya.


Seakan mengerti apa arti dari tatapan Rachel. Rara pun memalingkan wajahnya ke arah Marsya yang masih termenung menatap jalanan sekitar dari balik kaca mobil.


"Anda siapa?" tanya Rara padanya.


Wajah Marsya yang berpaling itu hanya menarik sudut bibirnya. Dia benar-benar bukan Marsya.


Marsya ini rawan kerasukan. Orang yang pernah kerasukan sekali akan gampang kerasukan lagi terus menerus.


"Sya!" panggil Rachel.


Namun tetap tidak ada jawaban dari Marsya. Rara menepuk bahunya Marsya. Dan di sana perlahan Marsya mulai menoleh.


Ketika kepala itu berpaling ke arah Rara. Saat itu juga Rara dibuat jantungan. Wajah Marsya yang muda sekejap berubah menjadi seorang wanita paruh baya dengan darah di matanya.

__ADS_1


"Astaghfirullah!" pekik Rara dia mundur.


"Huh!" Rachel terkejut ketika tubuh Rara menabrak dirinya.


Keduanya saat ini sama-sama menatap ke arah Marsya. Sosok itu tersenyum di dalam tubuh Marsya.


"Kenapa?" tanya sosok itu. Suaranya dalam sekali. Dia berbicara sambil tetap berseringai.


Sang sopir yang menyetir saat itu juga mendengar. Betapa dalamnya suara itu. Itu bukan sepenuhnya suara wanita bukan pula sepenuhnya suara pria.


Tapi itu perpaduan. Keduanya seakan menyatu satu sama lain. Suara itu seakan sedang mengintimidasi mereka.


"Kalian takut?" tanya sosok setan dalam tubuh Marsya.


Rachel dan Rara tersenyum mendengar itu. Mereka tidak takut sama sekali pada sosok itu.


Rara menjauhkan tubuhnya dari Rachel. Keduanya kemudian menatap lekat ke arah Marsya.


"Setan semacammu ini, hanya membuang waktu jika kamu ingin menakuti kami!" ucap Rachel padanya.


"Kalian akan mati sebentar lagi! Ambulance di depan membawa tubuh asli kami. Kami di sini mencari korban tumbal. Ada janji yang akan selesaikan dengan mengorbankan nyawa manusia. Kami berhasil menarik masuk Kalian ke dalam penjara alam sebelah! Akan apa kalian? Kalian tidak akan bisa apa-apa!" jelas sosok itu pada mereka.


Rachel tersenyum kecut menanggapi itu.


"Aku memang tidak mengenalimu! Tapi auramu ini membuktikan bahwa dahulu kamu adalah penganut dari Satanisme. Benar, kan?" ujar Rachel menebak.


Dan benar saja tawa melengking dari pertanyaan Rachel sosok itu berikan padanya.


"Sesakti apapun kamu! Kalian semua yang ada di sini tidak akan mampu selamat! Nyai Ratumu, khodammu itu bersama Simbahmu. Mereka sedang menahan para pasukan rajaku! Sekeras apapun mereka berusaha melawan. Kalian tidak akan pernah menang!" ucap sosok itu.


"Dengarkan aku!" ucap Rachel kali ini menatap serius ke arah sosok itu.


"Baik kamu dan aku! Kita bukan raja dan ratu. Raja dan Ratu bukan pemilik semesta. Sekalipun salah satu dari belahan bumi ini adalah kekuasaannya. Tapi itu fana, dan kamu, aku, kalian semua adalah fana. Yang kelak akan hilang dan rusak. Jadi, jika kita sesama fana. Untuk apa kamu berusaha melakukan itu jika pada akhirnya kamu tak pernah memilikinya secara kekal? Yang kekal hanyalah pencipta kamu. Bukan kamu!" jelas Rachel.

__ADS_1


"Arghhhhhhh!!!" sosok itu mengerang benci menatap ke arah Rachel.


Kalimat itu membuatnya semakin muak berada di sana. Sehingga dalam sekejap setelah erangan itu terjadi. Sosok itupun menghilang dari tubuhnya Marsya.


"Jadi ini gimana, Hel? Bahkan khodammu sekarang tidak di sini. Kita gimana cara cari jalan keluarnya?" tanya Rara padanya.


Rachel tersenyum. Dia kemudian mengeluarkan kalung yang dia kenakan. Jimat itu, jimat keluarganya.


"Aku akan keluar!" ujar Rachel.


"Hah! Kamu gila hel? Bukannya Cacak tadi bilang. Jangan keluar dari mobil!" ucap Rara kembali mengingatkan.


Rachel hanya tersenyum. Dia masih menatap ke arah jimatnya. Dan di sana kemudian dia menoleh ke arah Rara.


"Aku akan keluar menyusuri area ini dan mencari rajanya! Jika Nyai memilihku selama ini. Pasti ada alasannya. Jika beliau sekarang sedang berjuang melindungi kita. Maka aku tidak bisa diam juga di sini. Dari dulu aku tidak mengharapkan memiliki mata penjelajah Ghaib. Namun, aku ditakdirkan memilikinya. Maka akan kupergunakan ini untuk kebaikan. Aku akan keluar namun tidak secara fisik. Seperti Cak Dika, meraga Sukma!" ucap Rachel menjelaskan.


Dalam matanya saat itu ada banyak keyakinan yang membuat Rara bungkam. Dia tidak bisa menjawab perkataan Rachel. Namun dia percaya bahwa Rachel pasti bisa.


Ketika pandangan mereka bertemu kembali mereka pun mengangguk. Rachel kemudian membaca basmallah. Lalu memejamkan kedua matanya sambil menggenggam jimat miliknya.


Detik kemudian dia pun berada diluar. Raga miliknya diisi oleh Barend. Barend menjaga raga itu agar tidak kosong. Sebab jika kosong maka para setan akan berlomba-lomba memasukinya.


"Manusia!" ujar rombongan suara di atas pohon.


Di sana ada kera berwajah layaknya manusia. Namun mereka bertaring. Hanya bagian wajahnya saja yang tidak berbulu.


Rachel menatap berani ke atas. Dia tidak mempedulikannya. Sekarang yang ada dalam kepalanya adalah menemukan di mana sosok raja yang tadi disebut oleh setan yang merasuki Marsya.


Di mobil ketiga di sana. Thariq sejak tadi merasa berat sekali kepalanya. Suara nenek paruh baya memanggilnya. Namun Thariq sama sekali tidak mengenal siapakah sosok itu.


Jika kamu ingin bercerita maka ceritakanlah! Atau kamu boleh menampakkan dirimu padaku. Akan aku telusuri ceritamu. Dan jika kamu memiliki pesan maka beritahu aku. Jangan hanya memanggil namaku!. Ucap Thariq pada suara nenek-nenek yang sejak tadi berdengung di daun telinganya.


Maka ketika kepalanya semakin berat. Thariq menatap ke depan. Dan di sana wajah nenek tua itu langsung menyapanya. Membuatnya terkejut kaget setengah mati hingga hilang kesadarannya saat itu.

__ADS_1


Di sana Rachel sedang mencari tahu keberadaan Sang Raja. Sedangkan di mobil ketiga, Thariq sedang diberi penglihatan masa lalu oleh sosok nenek tua yang sejak tadi memanggilnya.


__ADS_2