Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 110: Terjebak dalam Kesunyian


__ADS_3

Dua orang pemuda ini sejak tadi mempercepat langkahnya. Bibir mereka pucat pasih. Mereka berjalan cepat tak tau arah di antara rimba hutan yang lebat.


Ya, mereka adalah dua orang yang dikabarkan menghilang dari baseman Anjasmoro. Namanya adalah Andika dan Richard. Nafas mereka terengah-engah ditambah dengan peluh yang membanjiri wajah mereka.


"Ya Allah..." lirih Andika rasanya tak kuasa lagi dia untuk berjalan.


Kakinya lecet itu sudah cukup parah. Richard pun juga begitu. Dia membopong Andika membantunya untuk tetap liat sekalipun dirinya pun juga rasanya mau mati saja.


"Sabar Dik! Ayo... Kita terus jalan! Aku yakin dik, pasti ada jalan keluar nanti!" ujar Richard terus memberi semangat pada Andika.


"Huft..." lirih Andika yang tumbang bersimpuh. Itu membuat Richard juga ikut bersimpuh.


"Argh.. Arghh..." pekik Andika kedua tangannya itu mencengkram tanah yang ditumbuhi rumput liar.


Dia menumpahkan segala kekesalannya menjadi satu dalam tangisnya. Buliran air mata yang turun itu adalah saksi di mana dia sangat lelah saat ini.


"Kita niatnya di sini bagus! Kita gak ngrusak alam. Tapi kenapa kita yang diuji di sini, Cad?" ujar Andika.

__ADS_1


Dia benar-benar lelah. Rasanya sudah berhari-hari dia mengembara berjalan ke sana ke mari memecah belantara. Namun tak kunjung menemukan jalan keluar.


Bekal mapala yang mereka miliki lenyap. Tentu saja lenyap sebab mereka bukan berasal di hutan manusia. Melainkan mereka berada di dalam hutan belantara lain. Belantaranya alam sebelah.


Ya Allah, tolong selamatkan kami berdua! Kami tidak berbuat salah apapun. Kenapa kami dijebak dalam kurungan setan ini, Ya Allah?. Ucap Richard dalam hatinya.


Dia mengadah ke atas. Langitnya masih hitam. Padahal rasanya mereka berada di sana berhari-hari. Tetapi langitnya tak kunjung menerang.


Pepohonan besar yang saat ini mengapit kiri kanan mereka. Di atas sana sepasang mata merah memperhatikan.


"Hihihi..." tawa sosok itu kemudian dia berpindah dari satu pohon ke pohon lain.


Suara tawa itu menggema. Baik Richard dan Andika keduanya bergidik ngeri mendengar itu.


Sekarang apa lagi?. Tanya Andika dalam hatinya.


Kedua bola mata mereka menari-nari menyusuri tiap batang pohon di atas. Mereka mencoba mencari tahu perihal siapakah pemilik suara itu.

__ADS_1


Hingga ketika kedua mata itu tertuju pada satu titik. Mereka membulatkan mata tak percaya.


Itu adalah Wewe gombel. Dia besar sekali. Wajahnya menakutkan dengan taring yang menjuntai.


"Ya Allah... Astaghfirullah..." lirih Andika mencoba berdiri lagi.


Sungguh dia benar-benar takut sekarang. Tapi keduanya lelah. Tak sanggup lagi untuk berlari rasanya.


"Udah pasrah aja Cad! Aku udah Ndak kuat lari!" ujar Andika pasrah sambil menatap ke arah sosok Wewe gombel itu.


Sosok itu tertawa melihat Andika dan Richard. Perlahan dari dahan pohon di atas yang tinggi. Sosok itu merangkak turun ke bawah.


Rasanya Andika dan Richard sudah tidak tau harus apa lagi sekarang. Pelan... Pelan... Dan pelan sosok itu mulai mendekati mereka yang pasrah.


Ketika tangan setan itu hendak menyentuh wajah Andika dan Richard. Tiba-tiba saja sosok itu berhenti. Dia membulatkan kedua matanya ketika melihat keberadaan satu ekor maung.


Sontak saja Wewe laknat itu mundur jauh. Dia hanya mampu kembali melihat Andika dan Richard yang masih ketakutan di sana.

__ADS_1


__ADS_2