Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 74: Manusia dengan Abu Mayat di Tubuhnya


__ADS_3

Dua hari sesudah kejadian itu. Hanna jatuh sakit, tubuhnya begitu lemas dan pucat. Hanya ada, suara lenguhan dan nafas yang terdengar.


Melissa, duduk di samping Ibunya seraya menggenggam erat tangannya. Dingin, itulah yang dirasakan Melissa saat ini.


Bagaimana, manusia yang masih bernafas bisa sedingin ini. Selang infus itu masih menempel di tangannya selama dua hari.


"Ibu, bukalah matamu!" lirih Melissa, seraya mencium kening Hanna.


Sedih rasanya melihat keadaan Hanna saat ini. Sepertinya, dia syok berat sampai membuka matanya saja ia tak mampu.


Itulah salah satu dampak dari dunia mistis. Sekejap saja kau melihat sekejap itu juga dampaknya akan menjalar.


Entah kau akan pingsan atau kau akan terbujur kaku dan kehilangan rohmu. Jangan pernah bermain dengan benda ghaib.


Atau mengundang, apapun dari kegelapan. Atau memicu percikan api dan menciptakan kebencian menjadi setan baru. Mereka adalah ambisi yang belum mati.


"Tolong aku nak!" teriak suara seseorang dari balik punggungnya.


Rumahnya kosong saat ini, hanya ada dirinya dan Hanna. Robert sedang bekerja, dia akan pulang petang nanti.


Terkejut, Melissa membalikkan tubuhnya. Namun, yang ia lihat hanya sebuah lemari di sana tak ada siapapun.


Netranya, mulai memeriksa detail sudut ruangan. Mencoba mencari, apakah aura dari suara itu masih tertinggal di sana.


Masih dengan fokusnya, Melissa tak menyadari kehadiran sesuatu. Di sana, terlihat Hanna membuka matanya melotot.


Ketika seorang pria berkulit hangus berada tepat di atas kepalanya. Hanna tak mampu berteriak. Bahkan untuk sekedar menggerakkan tangannya menyentuh Melissa, ia tak sanggup. Ini menyeramkan, ditatap langsung oleh sesuatu yang buruk rupa itu.


Wajah hangus, dengan mata yang hilang satu. Itu tersenyum seram ke arah Hanna. Sosok itu, mulai mendekat masuk ke dalam tubuh Hanna.


Melissa kembali mengalihkan perhatiannya pada Hanna kali ini. Dia masih terlelap, itu cukup membuatnya tenang sekarang.


"Ibu, aku akan kembali. Beristirahatlah, semoga kau cepat pulih!" ucap Melissa seraya berdiri


Ia mengambil gelas kosong di atas meja lalu pergi meninggalkan ibunya. Saat itu juga, sosok pria berkulit hangus itu menampakkan dirinya, menatap kepergian Melissa dari balik punggungnya.


"Hahahahaha..." sosok itu tertawa, lalu menghilang.


Di siinilah Melissa saat ini. Ia sedang mencuci beberapa piring yang pagi tadi Robert gunakan untuk makan.


"Adik!" ucap Gelanda, muncul disampingnya.


Sebenarnya Melissa sedikit kesal. Sebab Gelanda sering menghilang tanpa sebab akhir-akhir ini.


"Akhir-akhir ini kau sering menghilang?" tanya Melissa pada Gelanda.


Gelanda diam, sama sekali tak ingin menjawab apa yang Melissa katakan.


"Adik, aku ingin petang nanti! Kau tetap, berada dalam kamarmu!" ujar Gelanda. Pernyataan itu, membuat Melissa menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah Gelanda.


"Untuk apa?" tanya Melissa padanya.


"Melissa, kali ini kumohon! Dengarkanlah, kakakmu ini!" ujar Gelanda serius kali ini.


Melissa menghela nafasnya, lalu mengangguk. Gelanda menghilang setelah memberitahu hal itu.


Di sisi lain, terlihat seorang lelaki tua sedang memantau kediaman Robert dari jauh. Dia, nampak seperti seorang gelandangan dengan sekop besar di tangannya.


Seorang kantor pos, dari arah kanan jalan datang dengan sepedanya. Saat ketika, tukang pos itu melewatinya.


Dengan gilanya, lelaki tua itu memukul keras kepalanya. Melihat tukang pos itu terjatuh, Lelaki tua itu menyeretnya ke suatu tempat membawanya.

__ADS_1


Malam tiba cukup cepat kali ini. Melissa, merasa cukup tenang malam ini. Karena sudah sehari ini tak ada gangguan astral yang muncul. Itu membuatnya tenang dan damai rasanya. Bahkan, hari ini, dia tidak melihat keberadaan Hantu Melissa.


Di Sofanya, Melissa sedang menunggu kepulangan Ayahnya. Supaya tak jenuh ia memainkan gadget miliknya. Sesuai apa yang dikatakan Gelanda, malam ini ia mengunci rapat-rapat tiap pintu rumahnya.


Di lain tempat, terlihat seorang lelaki tua sedang menyalakan lilin-lilinnya. Ia membentuk lilin itu memutar, mengelilingi satu nyawa yang sedang terjebak pada sebuah tiang. Satu nyawa itu, terikat, tanpa sehelai pakaian pun melekat.


Ketika lelaki tua itu mengambil sebotol minyak gas. Dengan cepat ia melempar minyak itu ke arah Pria yang berada di tiang.


Bau gas cukup menyengat membuat pria itu siuman. Ia terkejut, mendapati dirinya diikat seperti ini. Pria itu, meronta-ronta mencoba melepaskan ikatannya.


Namun fatalnya, ikatan itu sama sekali tak mampu di lepaskan. Sembari menatap Pria itu, Lelaki tua itu mengangkat obornya.


"Kamis ini, adalah malamku berkuasa. Aku akan, membawa Melissaku kembali!" ucapnya, seraya melempar obor itu ke arah Pria di sana.


"AAAAAAAAAAAAARGGGGHGHHHH!!!"


Teriakan penuh kesengsaraan itu menggema berulang kali. Tubuh terbakar itu, masih bersuara beberapa menit.


Sampai ketika maut itu datang membuatnya diam dan hangus. Lelaki tua itu, duduk, menikmati apa yang ada dihadapannya, sebotol minuman keras itu berada di tangannya.


Tepat pukul sembilan Melissa masih menunggu Ayahnya. Netranya masih asik melihat program TV. Sesekali, Melissa menguap mengantuk.


Dingggg


Dingggg


Suara piano, dari arah ruang kerja Robert itu menyita perhatiannya. Melissa, membuang kasar nafasnya. Sungguh dia tau itu bukan ulah Gelanda.


Karena sudah cukup terbiasa, dengan hal ghaib seperti ini. Melissa bangkit dari duduknya, menuju ruangan itu.


Beberapa langkah kemudian, sebelum sampai kesana lampu rumahnya mendadak padam. Melissa terkejut melihat itu, kali ini sungguh, ia ketakutan.


Bagaimana, Melissa tak takut pada kegelapan? Bahkan, ada banyak manusia di bumi ini takut pada gelap.


Piano itu, masih berbunyi di sana. Melissa, menekan tombol on pada senternya, berjalan pelan ke arah sumber suara.


Ia terkejut, ketika mendapati seorang gadis berambut sama sepertinya sedang bermain piano. Melissa paham, ini adalah Hantu Melissa.


"Melissa?" lirih Melissa, penampilan baju bersih yang ia lihat tadi.


Sekejap berubah, baju hantu itu penuh dengan darah. Diantara kegelapan itu, dengan satu cahaya senter mengarah pada Hantu Melissa, bau anyir darah mulai menyeruak.


"Gelandaa?!!" batin Melissa, sungguh takut. Melissa, tidak akan mampu menahan, aura kebencian dari hantu ini.


Hantu Melissa, mulai menampakkan wujud aslinya. Kain penuh darah, tangan yang terborgol, juga kaki yang terborgol. Kepalanya yang hancur sebelah, dengan mata yang jatuh di atas lantai. Sungguh mengerikan, tragis.


"Hai, Melissa?" Sapa hantu itu padanya.


Melissa diam mendengar itu. Keluh rasanya lidahnya saat ini. Tak henti-hentinya dalam batinnya ia mencoba memanggil Gelanda. Namun, tak kunjung mendapatkan jawaban.


Hantu Melissa itu, maju, mendekat ke arahnya. Jarak mereka cukup dekat saat ini. Panas, itulah yang Melissa rasakan saat ini. Hantu Melissa tersenyum padanya.


"Aku ingin, sesuatu darimu! Melissa!" ucapan terakhir itu, membuat hantu Melissa menghilang. Bahkan, lampu yang padam itu seketika menyala.


Melissa menyentuh kepalanya yang mulai berat. Di luar seorang lelaki tua mulai mendekat menghampiri rumahnya.


Suara langkah kaki cepat dari anak tangga membuat Melissa terkejut. Ketika ia menoleh kebelakang, nampak Hanna memukulnya dengan benda tumpul. Itu membuat kesadaran Melissa hilang.


Di lain tempat, Robert sedang dalam perjalanan pulang. Ketika ia tiba di rumahnya ia melihat seorang lelaki tua berdiri di hadapan pintu rumahnya. Robert, memarkirkan mobilnya, lalu berjalan mendekati lelaki itu.


"Hei?" sapa Robert ramah. Lelaki itu berbalik dan tersenyum ketika mendengar suara Robert di belakangnya.

__ADS_1


"Hai, apa kau baru di sini?" tanya lelaki tua itu. Robert mengangguk mendengar itu.


"Apa yang sedang kau cari? Apakah kami, bisa membantumu?" tanya Robert ramah. Lelaki itu tersenyum, lalu menggeleng.


"Aku, pengurus makam di area ini. Aku lelah, bisakah aku meminta minuman segelas?" ujar lelaki tua itu. Mendengar itu, Robert iba.


"Tentu saja, mari bergabung bersama kami untuk makan malam!" ajak Robert padanya. Tawaran itu membuat Lelaki tua itu tersenyum.


Robert, membuka pintu rumahnya mencoba menyambut Lelaki tua itu.


Ketika mereka masuk ke dalam, seluruh isi rumahnya gelap. Bagaikan tak ada tanda kehidupan di dalam hanya kesunyian yang ada.


"Hanna?" ucap Robert mencoba memanggil istrinya.


"Apa kau, tinggal sendiri?" tanya lelakibtuabitu pada Robert.


Robert menggeleng menanggapi pertanyaan itu. Dari tasnya ia mengambil sesuatu sebuah senter.


"Mungkin, listrik di sini cukup rewel ya? Aku, akan memeriksa saklarnya dulu!" ucap Robert, seraya meninggalkan lelaki tua itu.


Dalam kesendiriannya lelaki itu justru masuk semakin dalam di rumahnya. Mengekspos seluruh isi rumah ini. Hanya berbekal dengan, sekop besar dan sebuah kotak yang dibawanya di tangan kirinya.


Sepasang bola mata jahat menatapnya dari atas tangga. Tepat, ketika Lelaki itu mendekati tangga, dia berhenti. Disana, ada Hanna sedang menatap jahat ke arahnya. Lelaki itu, tersenyum melihat kehadiran Hanna disana.


"Arghhhhhhh!!!!" Suara pekikan itu menggema, seperti suara setan.


"Kau biadab, Jason!!!!" teriak suara lain, dari dalam tubuh Hanna.


Lelaki tua ini, adalah Jason. Tiga puluh tahun yang lalu, polisi hanya menemukan satu jasad tanpa kepala.


Jasad itu, membusuk, bahkan belatung mulai ada di kulitnya. Jason, benar-benar melarikan diri setelah kejadian itu.


Tak ada yang tau, penggali makam di area pedesaan ini adalah seorang pembunuh.


"MATI KAU!" teriak Hanna, melompat dari tangga ke arahnya. Di situ, seakan ada tameng yang menghalangi niatnya. Hanna, terpental dan mundur.


"Sialan kau!" erangnya, kali ini posisinya merangkak seperti mencoba mencari celah untuk menyerang.


"Kau akan membunuhku? Kau saja, tidak bisa menyentuhku Stevan!" Ucap Jason, ia membuka kemeja miliknya.


Di sana, Hanna terkejut. Itu, adalah abu, abu dari jasad Stevan dan Istrinya.


"Sekarang kau tau kenapa kalian tidak bisa menerorku selama ini?" ujar Jason pada Hanna yang dirasuki.


Frustasi dengan apa yang Jason katakan. Suara erangan, mulai terdengar dari dalam diri Hanna. Ia seperti orang kesakitan saat ini, tangannya menjambak-jambak rambutnya sendiri.


"Arghhhhhh!!!!" teriakan terakhir itu, menjatuhkan tubuh Hanna tak berdaya di lantai.


Aku tau, kau disini Melissa!. Batin Jason.


Setelah, apa yang Jason lakukan pada keluarga Arghayev. Teror demi teror dari keluarga itu datang, bahkan hampir membuatnya gila.


Frustasi dengan hal itu Jason mempelajari Satanisme. Dan beginilah dirinya sekarang, tiap malam dia harus mengolesi tubuhnya menggunakan abu jenazah. Ritual keji itulah, yang menyelamatkan Jason dari teror Arghayev.


Hal, yang membuatnya ingin sekali kemari adalah. Pertama kali, mobil Robert datang kemari. Melewati pemakaman tempatnya bekerja.


Matanya, tak sengaja melihat seorang gadis yang mirip sekali dengan Melissa. Itu, membuat Jason ketakutan. Dia percaya, sistem reinkarnasi. Menurut, apa yang dia pelajari dalam Satanisme.


Mereka yang mati meninggalkan dendam dan unsur hidup yang belum usai. Jiwanya, akan tetap kembali membawa hasrat tujuan mereka dulu yang mati.


Di sana juga disebutkan, bahwa reinkarnasi itu akan datang menyelesaikan tujuan terakhir mereka. Jason tau, apa tujuan Melissa padanya.

__ADS_1


Melissa ingin kepala Jason. Itulah mengapa, Jason ingin mendapatkan Melissa lebih dulu sebelum membunuhnya.


Robert, masih sibuk dengan saklar listrik rumahnya. Berbekal ilmu yang pas-pasan ia masih mengotak-atik saklar itu. Namun, tak kunjung ada kemajuan di sana.


__ADS_2