Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 148: Maung dan Barend


__ADS_3

Suara adzan sudah berkumandang. Para jemaah mulai melaksanakan ibadah di dalam Masjid. Di sana berada lah rombongan Cak Dika beserta dengan yang lainnya.


Masjid itu letaknya dekat dengan tempat kejadian yang Barend ceritakan. Geng setan Belanda itu ketika adzan mulai menggema. Mereka menghilang entah ke mana.


Itu adalah hal sangat biasa. Sebab ketika adzan mulai berkumandang mereka para makhluk ghaib akan bersembunyi.


 Barend bilang tiap kali dia mendengar lantunan adzan. Maka tubuhnya akan terasa sangat panas.


Di dalam masjid itu Cak Dika memperhatikan seorang anak kecil berpakaian kumuh. Dia tidak masuk ke dalam saat sholat. Tetapi dia berada di luar.


Dia merasa tak pantas untuk masuk sebab pakaiannya kumuh. Masjid adalah tempat suci dan dia merasa kotor.


Dia membentangkan lembaran koran di hadapannya. Dia jadikan itu sebagai alas sujud. Lihatlah anak sekecil ini saja ingat Tuhannya. Kenapa kita yang manusia terkadang lalai melupakan penciptanya.


Sampai ketika ibadah sudah selesai. Cak Dika beserta rombongannya keluar dari dalam masjid. Mereka berkumpul di halaman masjid saat ini.


Di sana mereka bisa melihat atap rumah besar terbengkalai itu. Sungguh suram sekali auranya.


"Rumah itu petang sekali auranya!" ujar Rara memperhatikan.


Thariq melipat kedua tangannya lalu mengangguk.


"Jadi, di mana anak kecil yang Barend ceritakan itu?" tanya Thariq kali ini.


'Jika kau berdiam diri di depan tempat suci ini aku tidak bisa memberitahumu. Sebab panas diriku jika berada di sana dengan waktu yang cukup lama. Keluarlah dari sana!' ucap Barend.


Sosoknya tidak ada di sana. Tetapi, suaranya sampai mereka dengar. Mendengar protes itu pun mereka tertawa.


"Baiklah ayo kita keluar dari sini!" ajak Rachel sambil masih tertawa.


Langkah kaki mereka kemudian perlahan mulai meninggalkan area masjid. Ketika mereka meninggalkan area itu. Maka mereka bertemu dengan jalan raya besar.


Tepat di seberangnya rumah mewah terbengkalai itu berdiri. Jika di masjid maka mereka hanya akan melihat bagian atas rumah itu.


Tapi ketika keluar. Mereka melihat dengan jelas segi bentuk bangunannya. Saat itu bola mata mereka mulai menemukan keberadaan Barend.


Thariq menyipitkan kedua matanya tatkala melihat bangunan besar tua itu. Rachel yang berada di sampingnya sekilas melihat Thariq yang aneh menurutnya tatapannya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Riq?" tanya Rachel padanya.


Mendengar suara dari gadis yang dia cintai itu lantas Thariq menoleh ke samping. Hingga pandangannya bertemu dengan kedua mata Rachel yang juga menatapnya.


"Kamu tau, ada kejadian tragis yang membuat sepasang pengantin mati di tempat itu. Padahal mereka sama sekali tidak bersalah!" jelas Thariq.


"Maksudnya apa?" tanya Cak Dika yang juga mendengar apa yang Thariq katakan.


Lantas Thariq tersenyum. Dia lalu menunjuk pada seorang bocah kecil yang saat ini berdiri di seberang jalan.


Bocah itu sedikit jauh letaknya dari mereka. Bocah kecil itu sedang sibuk mencari sesuatu di dalam tumpukkan sampah.


Lantas di belakang bocah itu terdiam Barend menatap memperhatikan bocah itu dengan tatapan sendu.


Ketika seluruh mata tertuju pada apa yang Thariq tunjukkan. Barend di sana dia menatap Cak Dika beserta dengan rombongannya.


Di antara jarak yang tak dekat itu. Setan kecil itu berkata dan hanya Cak Dika beserta rombongannya yang memiliki kemampuan ghaib saja yang bisa mendengarnya.


"Dialah orangnya! Maka tolong selamatkan dia. Sebab apa yang berada di bangunan tua itu saat ini sedang mengincarnya!" ucap Barend pada mereka lalu menghilang.


"Jadi kita harus gimana?" tanya Rara kali ini bersuara.


"Kenapa kamu tersenyum Cak?" tanya Bella pada Cak Dika ketika melihat Masnya itu tersenyum tanpa alasan.


"Ndak papa! Kalian tenang aja! Biarkan setan itu mengecohnya. Nanti kalau memang dia masuk ke dalam rumah itu. Maka kita akan membantunya! Jadi untuk sementara mending kita amati dulu!" ucap Cak Dika.


Rachel manggut-manggut mendengar itu. Sepertinya malam ini mereka harus menjadi seorang Intel.


Di tengah satu rencana sudah direncanakan itu. Nampak sesosok wanita berpakaian pengantin sedang memperhatikan mereka dari salah satu jendela rumah besar itu.


Matanya menyipit benci menatap lekat ke arah rombongan Cak Dika. Tangannya yang kurus kering itu terangkat.


 Tubuhnya tidak gemuk. Dia sangat kurus dibalut pakaian pengantin. Noda-noda bercak darah masih ada di pakaiannya itu.


"Bagaimana aku bisa menyentuh anak itu? Siapa mereka dan kenapa rasanya aura mereka berbeda dengan manusia lainnya?" ujar sosok itu lirih.


Dari balik tubuhnya lantas datang sosok tinggi besar. Dia bertengger tepat di pojokkan tepat di atas atapnya.

__ADS_1


"Wah... Sepertinya ini akan sulit! Bukankah kau menginginkan seorang anak?" ujar sosok itu.


Suaranya besar menggelegar. Bahkan beberapa sosok kuntilanak yang ikut berada di sana lantas ciut tiap kali mendengar apa yang dikatakan oleh sosok itu.


"Yaaa... Aku menginginkannya! Bayiku mati! Bayiku mati! Aku ingin anak kecil itu untukku dan bersamaku! Aku ingin dia bagaimanapun caranya!" ujar sosok setan pengantin itu.


Sosok besar itu lantas tersenyum penuh kemenangan.


"Maka lakukanlah!" ucap sosok besar itu memerintahnya.


Kemudian sosok besar itu menghilang meninggalkan sosok setan pengantin itu sendirian di sana.


Cak Dika merasakan bahwa di sana ada sepasang mata yang sedang memantaunya. Lantas dia lalu memanggil kembali setan kecil yang menjadi temannya juga sekarang. Setan kecil Belanda yang selalu mengikuti mereka.


"Barend!" lirih Cak Dika melalui ilmu kebatinannya.


"Iya?" tanya Barend yang tiba-tiba muncul di hadapan Cak Dika.


Cak Dika lalu tersenyum menatapnya. Seekor maung ghaib miliknya berada tepat di sampingnya Barend.


"Apa ini Maung?" tanya Barend padanya.


"Hallo adik kecil! Naiklah ke atas maungku! Berkelilinglah kamu di antara rumah itu. Ingat, kamu tidak perlu turun dari maungku. Cukup berada di atasnya! Nanti jika sudah cukup. Kamu akan dibawa kembali di hadapanku oleh maungku! Pergilah Barend!" ucap Cak Dika memerintahkan Barend untuk naik.


Barend tersenyum kecil mendengar itu. Dia adalah bocah kecil. Tentu saja dia senang diberi tawaran semacam itu. Kapan lagi naik di atas Maungnya kerajaan bukan?


"Siap Maung! Aku akan naik ke atasnya!" ucap Barend.


Setan kecil itu lalu naik ke atas punggung Maung itu.


"Ya sudah, kita pantau dulu lah ini!" ucap Rara.


Ketika Barend dan Maungnya Cak Dika hilang. Mereka pun duduk di sebuah teras rumah yang katanya adalah sebuah warkop.


Namun warkop itu hari ini tidak buka. Dan dari sanalah mereka mulai memantau segala pergerakan Dandi.


Hingga ketika Dandi diam berhenti bergerak. Mata Cak Dika dan Rachel mulai memperhatikannya lebih serius.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian berdiri. Dandi perlahan mulai menjatuhkan besi dan juga karung miliknya begitu saja.


Lantas tubuhnya lalu berbalik menghadap ke arah kanan. Dia berjalan pelan. Dia berjalan mendekati rumah besar itu. Tatapannya begitu kosong. Seperti tidak ada lagi tanda kehidupan di matanya.


__ADS_2