Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 31: Dari dalam Kain Kafan 3 (Kata Tumbal)


__ADS_3

Tokkkkkk


Tokkkkkk


Tokkkkkk


"Bel, kamu ngapain ayo cepetan!" ucap Marsya di depan pintu kamar mandi.


"Sek!!!" teriak Bella dari dalam kamar mandi.


Hajatnya di sana masih belum selesai. Baru saja sepiring nasi goreng pedas dia habiskan pagi ini. Akhirnya secara tiba-tiba sesuatu dalam perutnya minta dikeluarkan.


Tak jauh berbeda dengan Bella di dalam sana. Selepas telepon dari Rachel tadi. Lima menit kemudian Marsya sudah berdiri di hadapan pintu kamar mandi sambil memegangi perutnya.


Di rumah ini hanya ada satu kamar mandi. Dan mereka mau tidak mau harus saling mengantri satu sama lain.


Melihat Marsya yang sudah tidak tahan itu Aldo pun tersenyum. Terbesit dalam kepalanya untuk membawa Laras pergi bersamanya saja dulu.


"Kita berangkat dulu gimana?" tanya Aldo sambil membelai lembut Surai milik Laras.


"Boleh!" jawab Laras sambil menoleh pada Aldo.


"Aku duluan ya, sama Laras!" ucap Aldo pada Marsya yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.


Marsya yang sudah sangat kebelet hanya mampu menganggukkan kepalanya sambil terus mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


"Bel, kamu ngapain Ya Allah! Aku meh mati rasane nunggu kamu!" ucap Marsya kesal pada Bella di dalam kamar mandi.


Posisinya berubah menjadi jongkok sekarang mencoba meredam sakit perut yang sedang dideritanya.


"Sek!" jawab Bella lagi dari dalam.


"Sek mbahmu, kesuwen!" ucap Marsya menimpali. Dia kesal sekali rasanya sungguh.


Tak beberapa lama kemudian Bella pun keluar dari dalam kamar mandi sambil bernafas lega. Raut mukanya benar-benar tidak berdosa.


"Lega!" ucap Bella sambil tersenyum.


Melihat saudaranya yang sudah keluar itu. Marsya pun segera masuk ke dalam. Di berjongkok dan memulai ritual hening sambil mengerutkan kening.

__ADS_1


"Bosok e ambune, Bel!" teriak Marsya kesal pada Bella di luar.


Bella yang hampir jauh dari kamar mandi itu berhenti dia lalu tertawa terbahak-bahak mendengar umpatan itu.


"Aku ke Cak Dika duluan ya!" ucap Bella mencoba berpamitan pada Marsya.


"Aku ikut! Tunggu aku!" jawab Marsya padanya.


Mendengar hal itu Bella hanya mampu menghela nafas. Bella berjalan ke arah ruang tamu. Tiap pagi rumahnya memang selalu sepi. Sebab orang tua mereka bekerja sebagai seorang guru.


Rumah akan kembali ramai saat sore menjelang. Saat senja datang dan langit mulai menguning. Minim memang bagi Bella dan Cak Dika menghabiskan waktu bersama keluarganya.


Beruntungnya mereka berdua tumbuh menjadi anak yang mau mengerti satu sama lain. Mereka tidak terlalu mempermasalahkan itu.


Setelah memakan waktu cukup lama. Pada akhirnya Marsya pun keluar dari dalam kamar mandi. Lalu mereka berdua pergi bersama ke tempat juragan sate, rumah Pak Eko.


Mereka berdua berjalan tidak naik transportasi apapun. Sebab jarak antara rah Bella dan Pak Eko cukup dekat. Hanya memakan waktu sekitar lima menit berjalan.


Sampai ketika mereka tiba dan masuk. Terlihat Marsya di ambang pintu berhenti. Kedua matanya memutih dia mengeram benci sambi menatap ke arah Laras yang sedang berdiri membelakanginya.


"Heh, kamu kenapa?" tanya Bella sambil menepuk-nepuk bahunya Marsya.


Cak Dika mendengar itu hanya menoleh ke belakang. Lalu dia kembali fokus pada Laras yang saat Inis Edang menjelajahi alam sebelah.


"Kamu tenang aja dek, dia gabakalan mampu masuk ke sini! Soalnya aku udah kasih pagar area ini! Kalau bisa masukin Marsya kemari, dan setan biadab itu pasti akan lepas dari tubuhnya!" jelas Cak Dika padanya.


Mendengar penuturan itu. Rachel yang berada di samping Cak Dika pun menghampiri Marsya. Ketika Rachel menyentuh kepala adiknya itu, setan di dalam tubuhnya menghilang seketika.


Marsya kembali sadar dan mereka langsung menghampiri Cak Dika. Mereka duduk bersama di sana sambil memperhatikan Laras yang terpejam.


"Jadi, Pak Eko terlalu tergiur dengan harta! Sebab dia tidak mau hidup susah saat itu dia datang ke Klampis Ireng, Ponorogo. Dalam hatinya dia berharap bisa bertemu dengan sang pendiri kerajaan emas di sana yaitu Semar. Tapi, nyatanya ada makhluk lain yang jahat. Dia menawarkan sesuatu yang menggiurkan sebelum Pak Eko sampai di Klampis Ireng!" jelas Laras terpejam, dia masih menjelajahi dimensi waktu ghaib. Mencoba menguak fakta demi fakta perihal kematian Pak Eko.


"Saat itu Pak Eko sudah kehabisan akal. Dia bangkrut, dan istrinya meninggalkannya demi pria lain. Pak Eko sendirian, dia menghidupi kalian juga cukup kesusahan. Walaupun si Putra sulung memilih mengalah lalu putus sekolah. Tapi tetap saja ekonominya masih kurang. Dagangan sate miliknya juga tidak selalu lalu. Saat itulah dia datang ke Klampis Ireng dan bertemu dengan sosok siluman. Dia berkepala ular, tapi taringnya seperti seekor macan. Tubuhnya bersisik bak seekor ikan. Saat bertemu dengan Pak Eko, siluman ini mengambil wujud kakek tua. Di situlah pesugihan itu di mulai!" jelas Laras lagi.


Mendengar itu kedua anak Pak Eko hanya mampu istighfar. Mereka benar-benar tak percaya bahwa Bapaknya akan melakukan perjanjian dengan makhluk ghaib.


Laras kembali membuka matanya. Laras lalu berdiri. Hal itu tentu membuat Cak Dika terkejut begitupun dengan Aldo.


Mereka semua ikut berdiri. Laras lalu berjalan meraba-raba dengan tongkatnya. Dia berjalan di antara lorong ruma ini. Sampai ketika dia berhenti di salah satu pintu yang tertutup. Laras menunjuk pintu itu, sambil berkata.

__ADS_1


"Bapakmu menemui dia di dalam ruangan ini tiap Jumat! Bisakah kamu membukanya untukku?" tanya Laras.


Deni mengingat sesuatu. Iya, memang tiap malam Jumat bapaknya selalu berada di dalam gudang tiap jam dua belas malam.


Deni segera pergi ke dalam ruang kamar Pak Eko. Dari dalam laci dia mengambil kunci gudang. Setelah mendapatkannya, Deni pun segera kembali pada Laras.


"Ini kuncinya, dan benar! Bapak selalu berada di sini tiap malam Jumat!" ucap Deni.


"Ya sudah! Buka aja, kami insyaallah bisa bantu kalian kok!" ujar Cak Dika meyakinkan Deni.


Deni mengangguk mendengar itu. Kemudian tangannya mengarahkan kunci itu masuk ke dalam lubangnya. Deni membuka pintu itu.


Ketika pintu terbuka nampak di sana banyak sekali pusaka. Keris, Mandau dan celurit. Seluruh senjata itu tertata rapi menempel di dinding.


Cat ruangan itu merah dan hanya ada satu lampu penerangan di sana. Lampu itu berwarna kuning. Ketika mereka masuk ke dalam.


Ada satu meja di samping kanan. Di atas meja itu terdapat sesuatu yang ditutupi dengan kain merah. Cak Dika menyipitkan matanya ke arah kain itu. Lalu dia berjalan menghampirinya.


Ketika dibuka kainnya. Bau busuk menguar membuat mereka berpaling sejenak. Ketika mereka melihatnya lagi, terdapat di sana jari kelingking manusia.


Kari itu diletakkan tepat dalam sebuah baskom. Terdapat sisa dupa di dalam baskom itu. Juga, ada satu bola mata yang sudah membusuk. Belatung itu keluar dari dalam sana.


Cak Dika yang melihat itu sambil menutup hidungnya hanya mampu menggeleng tak percaya. Jika dilihat di sana, ada tiga jari kelingking. Yang artinya mungkin Pak Eko sudah menumbalkan dua atau tiga orang.


"Tolong saya!" ujar satu sosok di pojok ruangan itu.


Suaranya membuat Cak Dika menoleh ke arahnya. Sesosok manusia berkulit pucat pasih menatapnya dengan wajah sedih.


Rachel juga melihat itu di sana. Dan dia hanya diam tak bergeming. Rachel hanya memperhatikannya. Tak lama sosok itu menatap ke arah Baskom itu. Di sana baik Cak Dika ataupun Rachel tau bahwa sosok itu adalah korban tumbal.


Sosok itu kemudian menatap ke arah Marsya. Dari dalam jempol tangan kanan Marsya sosok itupun mulai masuk.


"Bapakmu membunuhku! Bapakmu, mencincang tubuhku lalu belulangku di bakar sampai menjadi abu. Daging-daging yang kalian jual, tidak lain adalah daging manusia!" ujar sosok itu murka dalam tubuh Marsya.


Betapa terkejutnya Rahman dan Deni saat mendengar itu. Setelah mengatakan kebenaran itu, sosok itupun pergi. Lalu terlihat baik Deni dan Rahman mereka berdua bersimpuh. Putus asa rasanya mereka saat ini.


"Cak, tolong! Kalau ini bisa dihentikan aku mau! Aku gak mau Cak dagang pakai pesugihan kayak gini. Tolong Cak, kalau memang ada caranya untuk keluar dari pesugihan ini! Tolong bantu kami!" ucap Deni sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Iya, kami bakal bantu kamu kok! Tenang aja!" jawab Cak Dika padanya.

__ADS_1


__ADS_2