Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 90: Pelaku Eksekutor Penjanggal


__ADS_3

Selang seminggu setelah penelusuran di hantu Rumah Darmo. Seperti biasanya, Rachel, Cak Dika dan yang lain akan duduk bersama dalam satu kamar hotel. Mereka membahas beberapa hal perihal rumah itu.


Beberapa hal yang hanya mereka saja yang tau. Rara terlihat diam saja sejak shubuh tadi. Cak Dika yang duduk bersandar bersama Rachel di sampingnya memperhatikan itu. Keduanya lantas saling tatap sejenak.


"Dia kenapa, Hel?" tanya Cak Dika pada Rachel.


Namun yang dia dapat dari pertanyaan itu hanyalah kedua bahu Rachel yang terangkat. Menandakan bahwa Rachel sama sekali tak tau perihal apa yang terjadi pada Rara.


"Yaudah, kenapa kamu gak tanya aja sendiri?" tanya Rachel pada Cak Dika.


Bella yang duduk di belakangnya itu langsung menepuk bahu Cak Dika.


"Lanang iku gentle bro! Ojo meneng-menengan wae! Takon kunuloh, Ben ora numpuk pertanyaan nak Jero sirahmu!" ujar Bella padanya.


(Laki itu gentle, bro! Jangan diam-diaman aja! Tanya gituloh, biar gak numpuk pertanyaan di dalam kepalamu!)


Cak Dika tersenyum tipis mendengar itu. Bella ini lisannya sama seperti Laras. Mereka berdua jarang berbicara. Tapi sekali bicara langsung nyentuh rasanya.


"Dek... Dek Ra!" sapa Cak Dika pada Rara yang terdiam.


Satu detik, dua detik, tiga detik sampai sepuluh detik tidak ada jawaban dari Rara. Marsya yang tau itupun segera menepuk bahu Rara. Membuat gadis itu terkejut lalu sadar dari lamunannya.


"A.. Apa?" tanya Rara pada Marsya.


Marsya lalu menunjuk ke depan. Ke arah Cak Dika dan Rachel yang menatapnya.


"Apa?" tanya Rara lagi pada mereka.


Cak Dika menghela nafas. Sambil tersenyum dia pun bertanya pada Rara.


"Kamu kenapa? Tumben, diam aja? Biasanya juga ikut bicara?" tanya Cak Dika padanya.


"Owalah, itu..." ujar Rara lalu sedikit menegakkan posisi duduknya. Menghela nafas dan berkata,


"Aku dapat telpon dari Bapak di kampung. Katanya ada salah satu keluargaku kerasukan. Ini gak biasa sih kerasukkannya. Sebab dia menggal kepala monyet yang dipelihara sama omku. Jadi om ini punya banyak banget monyet di rumah. Dia jual gitu monyetnya. Bukan nangkap itu, ternak gitu. Suatu malam itu om lihat saudaraku Herman ini masuk ke kandang monyet. Dia bawa pisau dapur. Dia bunuh malam itu sekitar dua puluh lima monyet. Dan itu digorok semua. Pas shubuh datanglah itu omku, pak Hendra. Kaget dia, waktu lihat Herman di dalam sana bermandikan darah. Waktu mau nolong, justru si Herman ini mau mencelakai pak Hendra. Untung aja dia sigap, dia langsung lari ke pintu masuk. Terus di kunci!" jelas Rara pada Cak Dika.

__ADS_1


Semuanya diam sejenak mendengar itu. Tak lama Marsya menyeletuk,


"Lah ommu buat apa pelihara banyak banget monyet?" tanya Marsya pada Rara.


Rara yang pusing padahal tadi sudah dijelaskan pun menjawabnya asal.


"Mboh, omku turunan Genderuwo keknya mangkannya suka banget monyet!" ujar Rara pada Marsya.


Jawaban itu langsung mengundang bahak tawa mereka. Kemudian di sana Cak Dika pun langsung saja berdiri.


"Yowes, kita ke Banyuwangi sekarang!" ucap Cak Dika.


Rachel yang duduk itu pun hanya mampu tersenyum tipis. Sebuah keputusan yang sangat mendadak sampai membuat Rara di sana pun juga ikut terperangah.


"Ha? Mas, sampean gapopo ta? Saiki?" tanya Rahman pada Cak Dika. Dia tidak begitu yakin.


(Ha? Mas, kamu gapapakah? Sekarang?)


Namun satu anggukan mantap dari sang maskot itu membuatnya diam. Oke, sepertinya para Crew yang akan sibuk mencari tiket kali ini.


Rasa tulus ingin membantu. Cak Dika rupanya tidak main-main dengan Rara. Thariq tau, pemuda yang lima tahun lebih tua darinya itu sangat mencintai Rara.


Entah kapan Cak Dika akan berani mengatakannya pada Rara. Mungkin posisinya juga sama seperti yang dia rasakan.


"Yaudah, ayo siap-siap! Biar para Crew nanti yang pesan tiket keretanya!" ujar Cak Dika lalu pergi dari sana.


Ketiga Crew mereka lantas menghela nafas.


"Cacak Cacak! Oalah... ora ngenaki wong lungguh!" ujar Deni lalu berdiri dan pergi.


(Cacak Cacak! Oalah... Gak enakin orang duduk!)


"Lah Iyo!" tambah Rahman mengekori adiknya lalu disusul oleh Mas'ud di belakang mereka.


"Para Crew kalian, sepertinya frustasi mendengar permintaan Cacakmu!" ujar Melissa yang berada di ambang pintu sambil menyeruput minumannya.

__ADS_1


Rachel mengangguk menatap Melissa, dia tersenyum.


"Iya, udah biasa itu! Yaudah, daripada diam mending kita siap-siap aja yuk!" ajak Rachel pada seluruh saudaranya.


Mereka lalu mengangguk dan bangkit dari duduknya. Mereka mulai memasukkan beberapa pakaian mereka ke dalam koper. Sudah saatnya bagi mereka meninggalkan Surabaya.


Waktunya bagi mereka untuk keluar dari zona nyaman. Waktu istirahat satu Minggu sudah cukup. Penjelajahan ghaib harus segera mereka lakukan lagi.


Kalo ini bukan kasus menjelajah. Namun menolong saudara Rara yang katan kerasukan setan itu. Sembari beres-beres koper. Rachel di samping Rara bertanya.


"Kamu udah nembusi kan Ra?" tanya Rachel padanya.


Menembus adalah satu kegiatan merata Sukma. Di mana Rara mampu pergi ke Banyuwangi sukmanya. Melihat keadaan di sana seperti apa.


Rara mengangguk mendengar itu.Tentu saja dia sudah menembusinya. Dia melakukan itu semalaman. Dan benar, apa yang menimpa saudaranya itu mengerikan.


Dalam keluarganya hanya Rara saja yang mampu melihat hal ghaib. Sedangkan Bapak ibu Rara, mereka tidak memiliki kemampuan itu.


Hanya Rara saja. Itulah mengapa Rara ditelpon waktu itu. Sebab mereka ingat bahwa salah satu dari keturunannya adalah pawang Ghaib.


"Udah hel, aku nglihat ini ada kaitannya sama tragedi pembantaian Banyuwangi!" jawab Rara padanya.


Rachel, Marsya, Laras, Bella dan Melissa langsung terdiam. Setan keji, adalah setan yang sangat kuat. Mungkin misi kali ini akan sangat menguras tenaga mereka.


"Arwah pembunuh?" tanya Marsya tak percaya.


Rara tanpa menoleh itu hanya mengangguk. Lalu dia menutup kopernya dan berbalik menghadap ke arah Marsya dan yang lain.


"Tapal kuda itu kelam! Rata-rata pembantaian terjadi di sana! Jadi jangan kaget ya! Saat dari kita istimewa, kenapa kita harus takut. Kemampuan ini ada digunakan untuk menolong. Jika kita cuma diam lalu apa gunanya Tuhan kasih kemampuan ini? Kalian gak takut, kan?" tanya Rara pada mereka.


Mereka lalu tersenyum dan menggeleng. Melissa maju mendekati Rara, tangan kanannya hinggap tepat di atas bahunya Rara.


"Hei Ra, bahkan akupun sama pernah mengalami tragedi kelam! Jadi, aku akan ikut dan bantu!" ujar Melissa.


Rara tersenyum mendengar itu. Sambil memegang tangan Melissa di bahunya dia mengangguk.

__ADS_1


________


__ADS_2