Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 125: Kamar Mayat (Penyelesaian)


__ADS_3

Ketika pintu itu dibuka. Nampaklah di sana Ibunda Rachel yang sedang sibuk. Wanita paruh baya itu sedang memandikan jenazah Tasya yang sudah hitam kulitnya.


"Kalian sudah datang!" ucap Ibunda Rachel tersenyum tanpa menoleh ke arah anak dan keponakannya yang baru saja masuk ke dalam kamar mayat itu.


Suara pintu terbuka itu cukup membuatnya tau bahwa keponakan juga anaknya lah yang datang.


Kevin selaku suami Tasya yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan. Dia menatap lekat ke arah rombongan Cak Dika yang baru saja datang.


Tepat di belakang rombongan itu ada sebuah peti mati yang di bawa oleh empat orang manusia. Kevin memperhatikan itu. Aneh sekali rasanya. Tasya sudah punya peti mati. Lalu itu untuk siapa?


"Maaf.." lirih Kevin sambil masih menatap belakang rombongan Cak Dika.


"Ya?" tanya Cak Dika padanya.


"Itu," ucap Kevin sambil menunjuk ke belakang.


"Peti mati itu milik siapa?" tanya Kevin pada mereka.


Rombongan Cak Dika serentak menoleh ke belakang. Mereka merasa aneh. Sepertinya Kevin ini tidak bahwa peti mati ini milik ayahnya Tasya yang sudah dia buang.


"Peti mati itu ada kaitannya dengan istrimu!" ujar Ibundanya Rachel.


Kedua tangannya masih sibuk menata rambut Tasya. Kevin yang mendengar itu pun berpaling ke arah Ibundanya Rachel.

__ADS_1


Bagi Kevin wanita paruh baya itu sangat misterius. Tanpa melihat dia tau semuanya. Bahkan peti mati masih belum ditengok olehnya


Sejak tadi kedua mata dan tangannya sibuk merawat Tasya tanpa menengok juga menatap kedatangan Cak Dika beserta rombongannya.


"Apa maksudnya? Tolong jelaskan padaku! Sebenarnya ini ada apa?" tanya Kevin padanya. Raut wajah itu mulai serius sekarang.


Ibundanya Rachel tersenyum ketika gelungan rambut Tasya sudah sesuai menurutnya. Lalu dia meletakkan sisir yang baru sja dia kenakan untuk menata rambut Tasya.


Ibunda Rachel berbalik ke arah Kevin. Sekilas kedua mata itu menatap ke arah Cak Dika beserta rombongannya. Kemudian kembali menatap Kevin yang saat ini menatapnya serius.


"Jadi begini," ucap Ibunda Rachel yang akan menjelaskan.


"Di dalam peti mati itu telah terbaring seorang kakek yang mati karena terbakar. Kakek itu tidak ingin hidup lagi. Sebab istrimu Tasya ini, terlalu serakah akan harta. Dia meminta pada kakek itu. Untuk menjual rumah satu-satunya miliknya. Tasya adalah anak satu-satunya dari bapak itu. Tapi Tasya membencinya. Dasar dari kebencian itu aku tidak tau. Tapi memang dia sudah melakukan hal kejam pada bapak itu. Setelah rumah terjual. Bapak yang sudah tua itu di telantarkan begitu saja di panti jompo. Sampai satu kemalangan datang menimpa panti jompo itu. Kebakaran hebat terjadi di sana. Para berusaha keluar. Tapi bapak itu putus asa. Karena merasa dirinya sudah tidak memiliki tempat untuk hidup. Tidak ada yang menginginkannya lagi. Manusia tanpa tujuan adalah hampa. Itulah mengapa dia berdiam di sana membiarkan tubuhnya terbakar hingga mati dalam panti jompo itu!" jelas Ibunda Rachel pada Kevin.


Kevin berjalan mendekati peti mati itu. Cak Dika dan rombongannya membuka jalan untuknya. Tibanya dia di hadapan peti mati itu. Dia menatapnya miris.


"Tasya bilang padaku bahwa dia yatim piatu. Ternyata dia masih memiliki orang tua. Kenapa dia berbohong? Pernikahan kami ini semua diawali dengan kebohongan. Apakah kalian bisa mencari tau kenapa dia berbohong padaku selama ini?" tanya Kevin sambil masih menatap miris ke arah peti mati itu.


Rachel diam mendengar itu. Dia berpikir sejenak. Lalu netranya beralih ke arah jenazah Tasya. Rachel berjalan mendekati jenazah itu. Dia kemudian berdiri di sampingnya.


"Jika dia mau membaginya!" ujar Rachel sambil memandangi wajah Tasya yang sudah pucat Pasih.


"Jika dia mau membaginya maka kita akan tau apa alasannya!" ujar Rachel lagi lalu mengalihkan netranya ke arah Kevin di sana.

__ADS_1


Kevin menunduk mendengar itu. Thariq yang sejak tadi diam pun tak sengaja menatap satu kehadiran di belakang tubuh Rachel.


Ketika Thariq menatapnya dia bergidik ngeri. Wajah itu hitam pekat. Menatap marah ke arahnya. Ketika Thariq mengalihkan netranya ke arah Rachel dia melihat Rachel tersenyum ke arahnya.


Saat itulah Thariq tau apa maksud dari Rachel. Thariq menatap kembali sosok seram di balik tubuh Rachel. Di situ dia berseringai sembari menatap sosok itu.


Kemarilah! Jika kau ingin beristirahat dengan tenang. Maka selesaikan masalahmu di dunia yang belum usai!. Ujar Thariq dalam hatinya.


Kemudian dia menutup kedua matanya. Saat itu juga tubuhnya limbung. Beruntung Cak Dika dan Rahman langsung memapahnya.


"Thariq!" pekik Cak Dika ketika sudah menangkap tubuh Thariq.


Bruk


"Hah!" pekik Cak Dika menoleh ke arah Rachel.


Di sana Rachel juga ikut pingsan. Cak Dika mencoba memahami kondisi ini. pada akhirnya dia tau. Thariq dan Rachel sedang bekerja sama menguak misteri perihal kebencian Tasya pada kakek tua itu.


"Kenapa mbak, Cak?!" tanya Marsya khawatir pada Rachel.


Cak Dika menarik sudut bibirnya. Kemudian dia tersenyum pada Marsya.


"Kenapa kamu senyum Cak?" tanya Marsya lagi khawatir.

__ADS_1


"Mbakmu Ndak apa! Thariq juga aman! Sekarang mereka sedang menjelajahi alam sebelah. Mereka sedang mencari jawaban dari pertanyaan Pak Kevin!" jelas Cak Dika.


__ADS_2