
Bak para Avengers yang sedang melawan Thanos. Thariq dan Rachel yang saat ini sedang dirasuki oleh Nyai Ratu berusaha memperkuat energi mereka. Guna melawan tiga manusia terkutuk dengan dendam kesumat dalam dadanya.
Hanya karena kalah ilmu. Mereka tidak terima. Maka kekerasan ghaib adalah jalan pintas untuk memuaskan hasrat dendam dalam diri mereka.
Namun tetap saja. Rachel memang sang Maskot. Dia memang sudah cukup kuat. Namun tubuh Rachel juga adalah tubuh manusia. Sebuah tubuh yang fana yang akan mati dan rusak dengan durasi yang sudah ditetapkan.
"Uhukkkk..." Thariq yang ada di belakang Rachel itu terbatuk.
Energi miliknya sudah cukup dia forsir. Nampak di sana Bapaknya Aldo pun tersenyum melihat salah satu musuhnya itu hampir tepar.
"Lihatlah Nyai! Apa kamu tau bahwa tubuh manusia mereka masihlah lemah!" ujar Bapak Aldo.
Nyai Ratu dalam diri Rachel hanya mampu berseringai. Dia memang mampu menahan energi gila dari tiga psikopat itu. Tapi, tubuh yang dia tempati adalah milik Rachel.
Dalam adu kekuatan itu di alam sebelah. Rachel memasuki lebih dalam area gelap itu. Dia mengikuti satu cahaya merah di sana.
Itu bukanlah banaspati. Cahaya itu benar-benar merah dan asalnya dari sebuah batu mengapung. Dia terbang menjauh tiap kali didekati oleh Rachel.
Alam itu gelap dan akan selalu gelap. Hawa di sana begitu dingin. Suasananya sangat suram. Gema-gema tawa Mbak Kunti menggema.
Bukan hanya suara bidadari ghaib itu saja berpaduan suara di sana. Melainkan suara teriakan, cekikian anak kecil, juga suara geraman ikut bersatu padu di dalam sana.
Rasanya gedung itu sudah seperti aula musisi saja. Andai kata menyanyikan lagu dangdut koplo. Mungkin Rachel dengan senang hati cosplay meniru goyangan salah satu penyanyi dangdut yang terkenal dengan goyangannya, goyang itik.
Ketika cahaya itu berhenti tepat di sebuah pintu masuk goa. Rachel terdiam sejenak. Kedua matanya memperhatikan pintu masuk goa itu.
Krekkkk
Krekkkk
Suara dedaunan kering dipijak dari dalam goa itu membuat Rachel terkejut. Dia bingung, siapakah manusia yang masih tinggal di dalam goa?
Bayangan dari dalam goa perlahan mulai menampakkan pemiliknya. Seorang kakek dengan pakaian adat Jawa. Dia berdiri di sana sambil menatap ke arah Rachel.
"Huh?" lirih Rachel bertanya-tanya dalam kepalanya.
Dia yang sedang berdiri di sana. Rachel sama sekali tidak mengenalnya. Tapi orang tua dengan baju adat Jawa itu masih setia menatapnya.
Rachel menaikkan salah satu alisnya. Lalu, dia perlahan mulai mendekat.
"Ngapunten!" ujar Rachel membungkukkan badannya di hadapan lelaki tua itu.
(Maaf/Permisi ~Tergantung pemakaian kalimatnya)
Sang lelaki tua itu hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Aku senang sekali kamu datang nduk!" ujar sosok lelaki tua itu.
Rachel menegakkan tubuhnya kembali. Lalu mereka saling bertatapan sejenak.
__ADS_1
"Siapa anda wahai Kisanak?" tanya Rachel padanya.
Lelaki tua itu memasang muka sedih ketika Rachel bertanya. Dia lalu menunjukkan telapak tangan kanannya. Rachel memperhatikan telapak tangan yang kosong itu.
Perlahan dari dalam telapak tangan itu muncul batu merah delima. Rachel terkesiap menyaksikan hal ajaib itu.
"Kau harus mengalahkannya! Kau keturunan Majapahit dan kamu adalah cucunya Gautama. Nenek yang saat ini menganut ilmu kuyang adalah salah satu muridku. Dia begitu ambisius tidak ingin kalah! Ilmunya harus dipatahkan supaya dia bertobat! Yang dia sembah salah, maka kamu kuberikan ini sebagai sebuah senjata! Pergilah wahai keturunan Majapahit!" ujarnya.
Rachel meraih baru merah delima itu. Batu itu masih bersinar ketika Rachel memegangnya. Ketika Rachel kembali berpaling menatap lelaki tua itu. Lelaki itu sudah pergi.
Rachel tidak tau siapakah lelaki itu. Tetapi, dia yakin bahwa lelaki tua itu begitu membenci kelakuan tiga orang laknat yang saat ini sedang Nyai Ratu lawan.
Rachel memejamkan kedua matanya dia mencoba menghubungkan dirinya dengan Nyai Ratu.
"Nyai... Aku menemukan sesuatu di alam sebelah ini! Aku diberi sebuah batu merah bercahaya!"ujar Rachel pada Nyai.
Nampak Nyai yang saat ini berada di dalam tubuh Rachel tersenyum. Sepertinya Nyai Ratu sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Baiklah Nduk, kembalilah!" ujar Nyai Ratu pada Rachel di sana.
Pertukaran tubuh mereka berhasil. Ketika Rachel kembali ke dalam tubuhnya. Di dalam tangannya dia menggenggam batu merah delima itu.
Saat itulah kedua orang tua Aldo terpental. Mereka memegangi dadanya yang sesak. Keris yang sejak tadi digunakan untuk melawan Rachel terlempar begitu saja. Batuk darah keluar dari dalam mulut mereka.
Nenek kepala kuyang itu mendekati Rachel. Namun beruntung Rachel sigap sekali. Dia memegangi kepala dengan jeroan yang menjuntai itu.
"Bismillahirrahmanirrahim!" ucap Rachel lalu menempelkan baru merah delima itu tepat di pipi sang Kuyang.
Thariq melongo tak percaya ketika Rachel memegang kepala dengan jeroan itu menggunakan kedua tangan kanannya.
Dia lemas sudah rasanya. Energi miliknya juga hampir habis.
"Pergilah wahai nenek tua! Kau harus mati cepat sepertinya!" ujar Rachel murka.
Nampak sang Kuyang yang dia pegang itu bergetar. Perlahan kepala itu mulai jatuh ke bawah. Sehingga Rachel hanya mampu memegangi rambut sang Kuyang.
Lihatlah dia seperti seorang Eksekutor saja sekarang. Ketika ilmu kuyang itu tunduk di hadapan Rachel.
Terdengar suara langkah kaki ramai datang dari arah anak tangga. Ketika Rachel dan Thariq menoleh mereka mendapati Cak Dika beserta seluruh saudaranya yang melongo tak percaya sambil menatapnya.
Rachel berseringai melihat itu. Kemudian dia menenteng hasil perburuannya. Yaitu kepala kuyang.
"Pie jajal? Wes Ndang tuku bumbu Sop gas! Aku luwe!" ujar Rachel asal.
(Gimana coba? Udah cepat belikan bumbu Sop, gas! Aku lapar!)
Bella, Melissa, dan Rara hanya mampu menggelengkan kepalanya. Sedangkan Aldo, dia hanya mampu menatap sedih keluarganya yang sudah tersesat itu.
"Didol ae coba nak pasar loak!" ujar Cak Dika tersenyum lalu menghampiri Rachel.
__ADS_1
(Di jual aja coba di pasar loka!)
Di sana Cak Dika mengambil kepala kuyang itu. Setelah kepala itu berada di tangannya. Cak Dika pun menoleh ke arah Ibu Bapak Aldo.
"Do... Aku oleh ngomong ora?" tanya Cak Dika pada Aldo. Dia membutuhkan izin Aldo untuk bicara kali ini. Sebab dua orang yang ada di hadapannya saat ini adalah orang tua Aldo.
(Do... Aku boleh ngomong gak?)
Aldo membuang kasar nafasnya. Berat memang, tapi ada sentuhan kecil di bahunya dari gadis yang ia cintai yaitu Laras
"Bicaralah! Apapun keputusannya kamu, Cak Dika bakalan dengar kok!" ujar Laras padanya.
Aldo mengangguk mendengar itu. Dia kembali mengingat apa yang pernah Cak Dika katakan.
"Terserah Cacak mau diapakan mereka! Kita udah kasih kesempatan kedua. Tapi nyatanya mereka masih berulah! Tugasku memberi tameng mereka sudah selesai!" ujar Aldo menjelaskan.
Cak Dika membuang kasar nafasnya. Dia menjatuhkan kepala itu ke bawah lalu menginjaknya.
Sambil menatap ibu bapak Aldo. Cak Dika perlahan memejamkan kedua matanya. Kemudian mulutnya komat-kamit. Bacaan doa dilantunkan membawa kepala yang ia pijak itu hilang perlahan.
Kepala itu ajaib pindah dan menyatu lagi dengan tubuhnya. Namun, kepala itu kembali dengan status mati.
Nenek kuyang itu sudah tidak bernafas lagi. Kuyang itu sudah mati.
"Pembunuh kalian!" pekik Ibu Aldo di sana sambil menangis.
"Percuma ngreken wong psikopat koyok ngene! Wes ayo moleh, kabeh wes beres!" ujar Cak Dika lalu berbalik menggandeng tangan Rachel dan pergi.
(Percuma meladeni orang psikopat seperti ini! Udah ayo pulang semua sudah beres!)
Di perjalanan pulang itu Marsya masih geram. Terbesit satu idola bola kesayangannya yaitu Ronaldo. Melihat kepala kuyang itu, kakinya gatal saja rasanya.
"Cacak!" pekik Marsya yang berada di belakang Cacak.
Tanpa menoleh Cak Dika hanya berdehem menyahutinya.
"Kenapa tadi gak dibawa pulang aja! Coba tadi buat bal-balan lak enak a!" ujar Marsya.
"Bar-bar Kon!" ucap Rara menimpali.
(Liar kamu!)
"Ben seru! Bal tekan kuyang!" ujar Marsya lagi menimpali.
(Biar seru! Bola dari kuyang!)
"Lagi pula, mana mampu kamu menendangnya Sya? Kepala itu tidak akan menggelinding secepat bola!" ujar Melissa menimpali.
Semuanya pun tertawa mendengar itu.
__ADS_1