
Ajal itu misteri. Sesungguhnya tidak ada yang tau kapan datangnya. Bisa jadi ketika kita masih muda dan sehat dia datang. Bisa juga ketika kita sedang bersenda gurau dia datang.
Tetapi ada beberapa manusia yang terkadang diberikan pertanda bahwa dia akan meninggal.
Ada pula beberapa manusia yang malang nasibnya tak berdaya dikarenakan ketamakannya sendiri. Terjebak dalam masalah yang dia perbuat sendiri. Seperti halnya kisah Tania ini.
Mengerti bahwa beberapa jam lagi dia akan pergi maka Tania memutuskan untuk menikmati sisa jam terakhirnya dengan kebahagian bersama dengan Vio.
Mereka sudah selesai memasak. Satu kegiatan yang sangat mereka rindukan. Keduanya sibuk di dapur hingga makanan mereka matang.
Setelahnya baik Vio dan Tania duduk bersama di ruang makan memakan hasil masakannya sendiri.
Sosok iblis yang sudah tidak sabar membawanya sejak tadi memperhatikannya. Tania tau iblis itu menjaga makanannya. Tania melihatnya, tetapi Vio tidak.
Tania berusaha acuh. Sebab dalam hatinya saat ini dia hanya ingin menikmati hidupnya untuk terakhir kalinya.
Ketika suapan demi suapan habis. Maka kegiatan mereka beralih ke ruang tamu di mana di sana Cak Dika beserta rombongannya sudah sampai.
Sebelum menyambut rombongan itu. Tania sudah bercerita kepada Mas Suhu dan yang lain bahwa hari ini dia benar-benar ingin merasakan rasanya hidup yang sesungguhnya. Dia ingin menikmati waktunya bersama keluarganya.
Harapan itu membuat hati Rachel dan yang lain teriris. Mereka sedang berbicara dengan orang yang akan mati. Setelah mendengar itu maka Gautama Family membiarkan mereka bertiga, Tania, Vio dan Pak Eko menikmati waktu mereka di ruang tamu.
Rachel dan yang lain mendapatkan izin dari Pak Eko. Mereka sedang menyusuri rumah besar itu.
Mereka melihat iblis itu. Berlalu lalang sejak tadi seakan memperhatikan mereka. Tibalah mereka semua di halaman belakang.
"Di sana!" tunjuk Bella memberitahu para saudaranya perihal bangunan kayu yang ada di halaman belakang itu.
Rachel memperhatikannya. Kelam, adalah kalimat yang mampu dia rasakan saat ini.
"Itu tempat ritualnya! Dalamnya udah hancur," ujar Thariq. Dia melihat kejadian sebelum hari ini.
"Hancur gimana?" tanya Rachel pada Thariq di sampingnya.
Thariq menoleh ke arah Rachel. Kemudian dia berkata,
"Dari ambang pintu ini setelah permintaan itu. Pak Eko keluar lalu masuk ke sana dengan amarah. Beliau menantang Iblis itu. Bahkan beliau juga menawarkan nyawanya. Tapi iblis itu menolak! Iblis itu mau nyawa Tania. Bukan Pak Eko. Kemurkaan Pak Eko menjadikannya buta malam itu. Benda-benda ritual dibakar. Apapun yang ada di dalam sana. Udah hancur!" jelas Thariq kepada mereka.
Rachel diam, dia kemudian memperhatikan lagi bangunan itu. Sungguh dia penasaran apa yang ada di dalam sana.
"Aku mau ke sana!" ucap Rachel.
Mendengar itu Cak Dika tersenyum tipis. Adiknya ini betul-betul maniak. Tidak kenal takut padahal sudah melihat rupa iblisnya.
"Mbak lak mesti," ujar Marsya kali ini.
"Kan aku cuma pingin lihat, toh!" jawab Rachel mulai melangkahkan kakinya mendekati bangunan itu.
Melihat itu Thariq hanya mampu membuang kasar nafasnya. Tidak ada yang bisa menghentikan Rachel. Thariq mengekori kekasihnya itu dari belakang. Begitupun dengan Gautama Family lainnya.
Ketika dia sampai tepat di depan pintu kayu itu. Maka Rachel dengan perlahan membukanya. Ada banyak benda aneh di dalam sana.
Bau anyir di dalam sana masih lekat sekali. Entah tumbal apa yang diberikan Pak Eko sebelum iblis ini minta nyawa manusia.
Ruangan itu tidak terlalu besar. Penerangan di sana menggunakan lilin juga satu lampu berwarna kuning.
__ADS_1
Mereka para pawang ghaib di sana merasakan tabrakan energi. Hingga hal itu membuat mereka merasa pengap juga panas di sana.
"Ini tempatnya!" ujar Mas Suhu sambil melipat tangannya.
Rachel tau apa maksudnya itu.
"Jadi, di sini tempurnya?" tanya Rachel kepada Mas Suhu yang sedang memperhatikan tiap sudut ruangan kecil ini.
Mas Suhu menganggukkan kepalanya.
"Di sini, nanti tinggalkan aja aku sendirian di sini!" ujar Mas Suhu memberitahu.
Bella mengernyitkan dahinya mendengar itu. Kegoblokan macam apa itu? Permintaan Mas Suhu itu berbahaya. Iblis sekuat itu mana bisa dia selesaikan sendirian.
"Kamu iku sama kayak Rachel! Tapi bukan berarti kamu, bisa bertahan di sini sendirian!" ujar Bella. Sungguh dia benar-benar khawatir.
Ucapan itu membuat semuanya terdiam. Ada juga di antara mereka yang menahan tawa. Contohnya adalah Cak Dika dan Rara.
Bukankah Bella orang yang masa bodoh selama ini? Bukankah dia tidak terlalu banyak bicara selama ini? Rara dan Cak Dika tau bahwa Bella mengkhawatirkan Mas Suhu saat ini.
Rachel tersenyum tipis mendengar itu. Dia kemudian menoleh ke arah Bella lalu mengacungkan jempolnya.
"Kalian pergi saja! Aku bakalan bantu doa di sini kok!" ujar Rachel.
Bella sedikit tenang mendengar apa yang Rachel katakan. Bella menganggukkan kepalanya mengerti. Dia percaya kepada Rachel dan kemampuannya.
Waktu berlalu cukup cepat. Hingga petang pun datang. Gautama Family dipanggil untuk ikut makan malam bersama dengan Pak Eko. Namun Cak Dika menolak halus ajakan itu. Sebab harta Pak Eko bukan harta halal. Berharap kepada setan itu syirik.
Cak Dika memilih untuk menahan laparnya sampai tujuan mereka di sini selesai. Keluarga Pak Eko berada di ruang makan. Sedangkan Gautama Family kecuali Mas Suhu dan Rachel. Mereka duduk di ruang tamu.
Tania tertunduk, sungguh hatinya berdebar-debar. Dia ketakutan, tetapi tidak mau menunjukkan itu di depan keluarganya. Dia ingin lari, tapi tidak bisa. Sebab apa yang mengikutinya, apa yang mengancamnya bukanlah manusia. Melainkan, lelembut.
"Malam semakin larut saja!" ujar Tania membuka obrolannya.
Vio yang sejak tadi diam bersama dengan Pak Eko pun mendongak menatap ke arah Tania yang sama sekali tidak menatap mereka.
"Bapak sama adek lebih baik istirahat saja!" ujar Tania.
"Aku mau..."
"Sudah!" lirih Tania kali ini dia menatap Vio yang menangis untuknya.
"Sudah ya," lirih Tania lagi.
"Kamu sudah besar, dek! Apa-apa harus sendiri. Mandiri ya, jangan bikin susah bapak. Tidur, besok kamu sekolah, kan!" ucap Tania kepada Vio.
Tidak, sungguh tidak mampu rasanya Vio mendengar itu. Ucapan terakhir Tania itu mengingatkannya kepada Sang Ibu. Ibunya biasanya juga bicara semacam itu.
"Tidurlah nak!" ucap Pak Eko kepada Vio.
Mendengar itu, tidak ada yang mampu Vio lakukan. Dia kemudian bangkit dari duduknya. Menghampiri sang kakak lalu memeluknya. Tumpah air matanya ketika Tania membalas dekapan itu.
"Jangan lupa hari ini! Jangan banyak-banyak sedih. Jadi orang baik yo dek!" ujar Tania.
Vio hanya mampu menganggukkan kepalanya. Tidak ada kata lagi yang bisa dia ucapkan. Setelah selesai dengan pelukannya Vio pun mencium kening kakaknya itu lalu pergi dari sana.
__ADS_1
Tinggallah Tania saat ini bersama dengan Pak Eko. Tania tersenyum kecil menatap Bapaknya itu.
"Bapak Ndak usah nangis! Bapak cuma perlu perbaiki diri bapak saja sekarang. Coba terima nasib. Jaga Vio!" ujar Tania kepada Pak Eko.
"Nak.. Bapak mau temankan kamu di sini!" ujar Pak Eko.
Tania menggelengkan kepalanya sembari masih tersenyum. Tania melirik kecil ke arah jam dinding. Setengah jam lagi makhluk itu akan datang.
"Ndak usah, Pak! Makasih, sudah ada di samping Tania selama ini. Seharusnya bapak Ndak di sini. Biarin Tania sendirian di sini. Hati Bapak udah cukup sakit. Jangan tambah rasa sakit Bapak dengan melihat Tania mati di tangan makhluk itu sama kayak Ibu," tutur Tania.
Pak Eko menundukkan kepalanya dia meneteskan air matanya lagi. Pak Eko kemudian berdiri.
Dia menghampiri Tania lalu memeluknya. Gadis itu menangis dalam dekapan bapaknya cukup lama. Sedangkan Pak Eko dia mengusap-usap kepala anaknya.
Mereka berdua saling menumpahkan keluh kesah mereka untuk waktu yang cukup lama. Ketika melihat jarum jam di sana sudah hampir mendekati jam dua belas. Tania pun melepaskan pelukannya.
Tania menghapus air matanya sembari masih tersenyum. Pak Eko mengusap puncak kepala anaknya itu untuk terakhir kalinya lalu menciumnya. Perlahan dengan sangat tidak ikhlas Pak Eko pun meninggalkan ruang makan itu.
Gemerlap lampu kuning di dalam rumah itu mulai meredup. Penerangan di dalam rumah itu berkedip-kedip. Lilin-lilin yang di pasang di rumah itu nyala apinya berkobar tak karuan. Saat itulah Rara menarik Vio untuk duduk bersama Gautama Family.
Vio saat itu diletakkan di tengah-tengah mereka. Mereka duduk melingkar dan seakan Vio adalah tumpeng di tengah-tengah mereka. Satu kata yang Rara katakan kepada Vio saat itu.
"Pejamkan matamu, sebab makhluk itu datang!" ujar Rara.
Ucapan Rara sontak membuat Vio memejamkan kedua matanya. Gautama Family yang masih tersisa di ruang tamu itu ikut memejamkan mata. Mereka sedang membantu Rachel dan Mas Suhu yang saat ini mencoba menjaga Vio.
Sebab mereka tau bahwa iblis ini tidak akan puas dengan satu nyawa. Iblis ini pasti akan berlari ke arah Vio setelah berhasil melahap Tania.
Tania yang duduk sendirian di ruangan itu sontak tubuhnya bergetar. Panas rasanya sekujur tubuhnya. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Dia berusaha memuntahkannya tetapi tidak bisa. Tersedak yang menyiksa.
Tubuhnya jatuh dari kursi. Dengan nafas yang terengah-engah dia mulai merangkak susah payah mendekati sebuah kotak. Tania berusaha meraihnya lalu membukanya.
Sebuah linggis tertaruh di sana. Kedua tangan Tania seakan dipaksa mengambilnya. Melalui kedua tangan itu maka Tania pun mengarahkan ujung linggis itu masuk ke dalam mulutnya.
Matanya memutih ketika linggis itu berhasil masuk menusuk tenggorokannya. Tidaklah sampai di sana deritanya.
Tangannya seakan dipaksa lagi menarik linggis yang tertancap di mulutnya. Kemudian dia menusukkannya lagi. Itu terjadi berkali-kali sampai wajah dan mulut Tania berlumuran darah.
Ketika teriakkan kesakitan Tania tidak lagi terdengar. Maka lampu-lampu itu mulai menyala kembali.
"Eko!!!" teriak Iblis itu yang entah dari mana.
"Aku ingin anak terakhirmu!" ujarnya.
Pak Eko yang masih berdiri sambil menangis di ambang pintu dapur sontak naik pitam. Tapi dia ingat bahwa dia harus diam dan percaya kepada Bella dan Mas Suhu.
"Kau sembunyikan di mana dia?" ujar Iblis itu.
"Eko!!!" ujar Iblis itu lagi.
Rachel dan Mas Suhu keluar dari tubuh mereka. Melalui alam sebelah mereka menemui iblis laknat yang sedang mengamuk itu.
"Cukup!" ucap Rachel dan Mas Suhu yang berdiri di belakang iblis itu.
Mendengar satu suara di belakangnya. Sontak Sang Iblis pun berbalik. Pasukan Nyai Ratu dan Pangeran dari Jawa sudah ada di belakangnya.
__ADS_1
Melihat itu Sang Iblis tidak ketakutan. Sebab kedudukan dia lebih tinggi dibandingkan khodam Rachel dan Mas Suhu.