Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 77: Kontrakan Berhantu


__ADS_3

Lima orang pemuda sedang duduk di teras kosan. Mata kuliah yang baru saja mereka jalani beberapa jam lalu sedikit membuat kelimanya pusing kepalang.


Cukup sulit memang. Tapi, itu adalah sebuah kewajiban sekaligus tantangan yang harus ditempuh dan diselesaikan bagaimanapun sulitnya.


Para orang tua mereka di kotanya sedang banting tulang demi mencerdaskan mereka agar tidak sama nasibnya sepertinya.


Agar anak-anak mereka menjadi orang sukses besar kelak. Mereka adalah Nando, Haikal, Agus, Toni dan Fajar. Mereka satu kampus satu jurusan. Mereka sedang duduk sambil bermain kartu.


Camilan kacang Sukro adalah andalan mereka. Merasa bosan, salah satu dari mereka yang bernama Fajar mulai mengingat sesuatu. Sesuatu perihal lembaran duit yang mulai menipis.


"Rek, kalian tau gak aku iniloh sumpek rasanya!" ujar Fajar sembari melempar kartu dominonya.


(Sumpah\=Setres)


Keempat temannya yang masih bermain pun hanya terkekeh.


"Sumpek lapo, Jar? Kon duek sek diwei wong tuwo ae kok sumpek?" ujar Agus menimpali perkataannya.


(Stres kenapa, Jar? Kamu duit masih dikasih orang tua aja kok setres?)


"Yaa..." ujar Fajar lalu membuang kasar nafasnya.


"Gimana gak sumpek, kalian loh ngekos sendiri gini apa gak habis duit banyak ta?" tanya Fajar pada mereka.


Pertanyaan itu langsung saja membuat mereka terdiam. Mereka lalu berpikir perihal apa yang dikatakan oleh Fajar.


Benar, jika dipikir lagi tarif hidup yang mereka keluarkan cukup banyak. Dalam kepala mereka berniat akan mempertipis pengeluaran.


"Terus gimana dong?" tanya Nando pada mereka setelah cukup lama diam.


"Gimana kalau kita kontrak aja? Kita patungan cari kontrakan. Udah, kalo patungan, kan nanti ga bakalan berat toh? Listrik bisa kita atur. Air juga bisa kita atur. Makan makanan bareng masak bareng seadanya!" jawab Fajar menjelaskan idenya.


Itu membuat ke empatnya mengangguk. Sebelum mengatakan iya, mereka sudah berpikir berulang kali. Hingga persetujuan malam itu pun terjadi.


Esoknya mereka mulai mencari-cari ragam kontrakan melalui internet. Ketika mereka menemukannya mereka kembali berunding.


Untuk yang kedua kalinya mereka pun sepakat. Ada sebuah kontrakan yang cukup murah. Berkamar empat berlantai dua.


Letaknya hanya lima belas menit dari kampus mereka. Di depan kontrakan itu ada kos-kosan. Dan hanya dihuni oleh tiga orang saja.


Sebab sepakat mengambil kontrakan itu. Mereka memutuskan untuk menghabiskan dulu masa sewa kosannya. Hingga satu bulan terlewat mereka pun berangsur-angsur pindah ke kontrakan yang sudah di sepakati.


Ketika mereka sampai di depan kontrakan itu. Mereka berbinar. Sebab harga murahnya menghasilkan kualitas dan bangunan yang cukup besar dan nyaman.


"Padahal ini murah loh! Tapi nyatanya semewah ini ya?" ujar Fajar tak percaya.


"Iyo, mangkannya itu! Beruntung *** rasanya. Udah ayo masuk!" ucap Haikal lalu membuka pagar kontrakan itu.


Mereka masuk ke dalam. Di dalam sangat bersih sepertinya kontrakan ini dirawat dengan cukup baik. Ketika pintu masuk dibuka maka kalian akan diperlihatkan dengan ruang tamu dan sofa.


Di sana juga ada dua kamar utama yang saling berdampingan. Lalu agak menjorok ke belakang ada tangga menuju ke lantai dua. Tepat di bawah tangga itu juga ada lorong. Itu adalah tempat dapur dan kamar mandi.


"Aku kamar atas Yo!" ujar Fajar lalu masuk ke dalam menuju tangga dan menaikinya.


"Aku ikut, Jar!" ucap Haikal lalu mengekori Fajar.


Nando dan Agus lalu membuka kamar bawah satu persatu. Beruntungnya ada satu kamar yang cukup luas. Di sanalah Agus dan Nando memutuskan untuk sekamar. Sedangkan Toni, dia berkamar sendiri di samping kamar mereka. Kamar mereka bertetangga.


Barang-barang sudah ditata rapi di kamar. Setelah selesai menata barang mereka masing-masing merekapun memutuskan untuk duduk di uang tamu.


Seperti biasa mereka bercengkrama satu sama lain. Permainan kartu sudah cukup membosankan. Hasilnya itu diganti dengan gitar juga senandung nyanyian dari mulut mereka.


Hingga jam tepat menunjukkan tengah malam. Ketika cahaya kehidupan dalam mata mereka mulai letih. Masuklah mereka semua ke dalam kamar. Lalu menarik selimut masing-masing dan mulailah terlelap.


Saat itu terpal pukul satu malam Nando terbangun. Ini adalah kebiasaannya tiap malam. Dia akan selalu haus. Sebab mereka baru saja pindah. Maka tidak ada stok galon dalam dapur mereka.


Mereka belum membelinya tadi. Sepertinya pagi nanti Nando akan berinisiatif untuk beli galon di depan kompleks.

__ADS_1


Tapi saat itu Nando ingat bahwa Fajar membawa beberapa Aqua besar dalam tasnya. Itulah mengapa yang ada dalam kepala Nando saat itu adalah kamar Fajar yang letaknya berada di lantai atas.


Nando bangun dari tidurnya. Dia sedikit menoleh ke samping tepat ke arahnya Agus. Bocah itu masih terlelap begitu pulas.


Nando berdiri mendekat ke arah ransel miliknya yang dia letakkan tepat di samping lemari. Resleting ransel mulai dibuka. Di sana dia mengambil gelas plastik miliknya yang biasa dia pakai untuk minum.


Maklumlah anak rantauan. Tinggal di kosan kecil jadi barang untuk makan dan minum pun juga minim. Tidak melimpah seperti halnya di rumah.


Setelah gelas plastik itu berada di tangannya. Nando pun bergegas keluar dari dalam kamar. Sewaktu tangannya memegang gagang pintu kamar. Indra pendengaran itu mendengar ada suara langkah kaki.


Jelas sekali terdengar suara langkah kaki manusia. Langkah kaki itu mondar-mandir ke sana kemari lalu berhenti tepat di depan pintu kamarnya.


Itu tidak terjadi sekali tetapi berulang-ulang. Penasaran, namun dia juga nampak takut. Dari dalam kamarnya Nando memutuskan untuk menanyakan perihal siapa yang sedang berlari itu.


"Jar! Kal! Ton!" panggil Nando meneriakkan satu persatu nama temannya yang tidak sekamar dengannya.


Satu detik dua detik tiga detik bahkan lima detik. Tidak ada sautan dari luar. Tapi langkah kaki itu masih tetap sama terdengar.


"Heh, gak lucu Yo!" ujar Nando lagi dari balik pintu.


Ketika langkah kaki itu berhenti. Nando yang sudah cukup ketakutan itu pun memutuskan untuk kembali tidur saja. Sebelum dia berbalik menuju ke arah ranjangnya.


**Brakkkkkk


Brakkkkkk


Brakkkkkk**


Suara gedoran keras dari luar pintu membuatnya berlari ke arah ranjang lalu menarik selimutnya. Nando juga berteriak yang mengakibatkan Agus di sampingnya terbangun.


"Heh Ono opo toh, Nan? Koe iki ramene!" ujar Agus terpaksa membuka mata sambil menatap Nando samar.


(Heh ada apa, Nan? Kamu ini ramai sekali!)


Nando yang syok itupun hanya mampu menelan ludah lalu menengok ke arah Agus.


Dia berusaha menutupi apa yang dia dengar tadi. Sebab karena satu alasan. Agus hanya menggelengkan kepalanya ketika mendengar jawaban dari diri Nando.


"Wes hilang kecoaknya?" tanya Agus pada Nando.


Nando hanya mengangguk lalu menarik selimutnya lagi. Memaksa kedua matanya untuk terlelap walaupun hatinya takut setengah mati.


"Ada-ada aja kamu itu Nan! Buat orang jantungan aja!" ujar Agus lalu kembali merebahkan tubuhnya dan tidur.


Ada satu alasan kenapa malam itu Nando tidak bercerita. Sebab ketika dia kembali duduk di atas ranjang. Satu suara sebelum Agus bangun mengatakan padanya,


Aku hanya ingin berkenalan!. Ujar suara itu pada Nando saat itu. Dia pun memutuskan untuk tidak ambil pusing.


Sebab dia berpikir bahwa. Tiap bangunan pasti ada penunggunya. Jadi jika gangguan itu hanya di awal rasanya tak apa. Asal tidak berkepanjangan.


Apa yang Nando pikirkan rupanya tidak benar. Asumsi bahwa gangguan itu hanya terjadi di hari-hari pertama nyatanya tidak benar.


Gangguan itu masih berlanjut. Bahkan bukan hanya dirinya saja yang mendengar ataupun merasakannya. Seluruh temannya juga sama merasakan. Namun mereka sama-sama memendam.


Lantas selang satu bulan setelahnya. Ketika mereka duduk di ruang tamu bersama. Mereka pun mulai bercerita satu sama lain.


"Kalian tau gak, aku tiap pipis di toilet bawah. Itu selalu denger langkah kaki!" ujar Fajar mengawali pembicaraan sambil melempar kartu dominonya.


"Duh..." lirih Haikal.


"Aku yo sama! Aku kira itu langkah kaki kalian! Kayak orang lari terus berhenti di depan kamar mandi. Jadilah aku kalau keluar dari dalam kamar mandi itu lama. Tunggu bener-bener sunyi dulu baru keluar!" jelas Haikal.


Nando menghela nafas mendengar itu. Rupanya apa yang dia dengar itu benar. Yang lain juga mendengar. Tapi mereka tidak melihat wujud dari sosok pengganggu itu.


"Tapi yo, kalau cuma suara aja gapapalah! Asal gangguannya gak ekstrim!" ujar Haikal menimpali.


"Iya sih, tapi sama aja loh! Itu serem! Aku pipis kadang gitu juga dengar kok. Masa' waktu pintu kamar mandi aku tutup. Lagi khusyu' buang hajat, eh di depan pintu ada suara orang lari! Kan jadinya merinding rek! Mana suaranya mesti hilang tepat di depan pintu kamar mandi lagi. Makannya aku kalau di toilet itu lama! Yo karena itu! Aku berani keluar itu kalau emang udah sunyi senyap. Baru keluar, terus larilah aku masuk ke kamar selimutan!" jelas Nando menjelaskan pada temannya gangguan apa saja yang sudah dia rasakan di sini.

__ADS_1


"Keknya kita butuh ke orang pintar deh! Kita masuk sini juga belum ada syukuran!" timpal Fajar sambil bercanda.


"Lah, wong kita agak beli rumah kok ngapain syukuran! Pokoknya Yo selama tuh demit gak nyakitin kita Yo yaudahlah! Wong manusia juga hidup berdampingan!" ujar Toni.


Salah satu dari mereka yaitu Haikal kembali teringat sesuatu. Dia maniak film horor. Pecinta misteri juga sejarah kelam. Namun, dia ini penakut.


"Eh... Aku ada kanal YouTube horor! Pemilik kanal YouTube itu bersaudara semuanya indigo. Kebetulan mereka juga wong Jowo! Apa kita minta bantuannya aja ya buat datang?" usul Haikal pada temannya.


"Hmm... Kalau gratis sih gapapa, Kal! Kalau bayar ituloh gimana?" ujar Fajar lagi.


"Gratis kok, udah banyak orang yang ditolong sama mereka!" jawab Haikal lagi.


Kemudian dia mulai sibuk dengan ponselnya. Ketika jarinya sibuk mencari sesuatu di ponselnya. Dari arah dapur terdengar bunyi benda jatuh. Bunyinya keras sekali. Mereka yang tadinya mengobrol itu seketika terdiam.


Sorot mata mereka tertuju pada ambang gapura dapur. Lampunya masih menyala di sana. Namun tak ada siapapun di sana. Mereka semua berlima berada di sini. Lantas siapa yang berada di dapur mengamuk bak jaran kepang itu.


Tak lama bunyi piring pecah mulai terdengar. Mereka kemudian saling tatap satu sama lain. Mereka ingat bahwa mereka tidak memiliki piring kaca sama sekali di sini. Yang mereka miliki adalah perlengkapan makan dari bahan plastik.


Bunyi itu lama-lama semakin keras. Hingga lampu neon dapur pecah mengakibatkan gelap mengukung area itu. Melihat itu, sontak mereka berlima yang terduduk pun refleks berdiri.


Jantung mereka berdegup kencang tatkala melihat bayangan besar hitam perlahan mulai muncul. Tangan itu kurus kering namun besar. Kukunya panjang dan jarinya menghitam.


Rambut gondrong menjuntai sampai ke lantai. Suara erangan keras kerap kali sosok itu berikan. Lima orang itu menuju pintu keluar. Mereka bersandar di sana sambil membulatkan mata.


Sosok itu perlahan mendekati mereka sambil berseringai. Hanya lampu ruang tamu yang hidup. Lampu dapur dan tangga mati.


"Ya Allah... Gusti!!!" ujar Haikal ketakutan.


"Ya Allah... Allahumalakasumtu..." ujar Toni lalu ditepuk oleh Agus di sampingnya.


"Lakusumtu mbahmu, ayat kursi! Ayat kursi rek!" timpal Agus padanya.


Mendengar itu sekalipun mereka ketakutan. Pada akhirnya mulai komat-kamit membaca doa. Fajar tangannya berusaha membuka pintu. Namun nyatanya pintu itu tidak bisa dibuka.


Mereka seakan terkurung di sana. Dipaksa menghadapi makhluk setan seram ini. Setan mengerikan itu berhenti sepuluh langkah dari tempat mereka berdiri. Dia terus mengeram.


Ditambah dia juga menganggukkan kepalanya mencoba meniru gaya seorang rocker yang sedang bermain gitar sepertinya. Hal itu membuat rambut panjang yang menjuntai itu terombang ambing kesana kemari.


Rasanya Fajar ingin mengambil gitar sekarang. Mengiringi setan laknat itu supaya cosplay menjadi seorang rocker.


Sepuluh menit kemudian. Keberadaan setan itu hilang. Lampu-lampu mulai menyala. Pintu yang tadi berusaha dibuka dan sulit. Pada akhirnya mulai terbuka sendiri.


Namun ada satu yang aneh di sini. Setan itu meninggalkan jejak lain di atas lantai. Ada cairan berwarna hitam pekat. Itu seperti lendir.


Merasa keadaan sudah tidak kondusif. Malam itu mereka memutuskan untuk ke angkringan saja. Mereka tidak berani pulang sampai pagi menjelang.


Malam itu juga Haikal menghubungi Cak Dika dan tim yang kebetulan masih berada di area Jawa Tengah.


Mendapatkan surel yang cukup menarik itu. Cak Dika dan tim pun selalu siap untuk bergegas pergi. Membantu apapun masalah ghaib yang orang lain alami. Kemampuan jika tidak dipakai untuk menolong orang lalu untuk apa.


Di villanya mereka baru saja menyelesaikan sholat shubuh. Kemudian Rahman menyampaikan pesan itu pada Cak Dika. Pesan dari seorang bernama Haikal yang diganggu oleh makhluk tak kasat mata.


"Yaudah, kita ke sana nanti jam tujuh pagi!" ujar Cak Dika.


Nampak Melissa yang non muslim datang ke tempat mereka yang baru saja melaksanakan ibadah.


"Hei, adik Belanda itu di mana? Apa kalian tau?" tanya Melissa pada mereka.


Marsya menoleh lalu menghampiri Melissa yang berdiri sambil membawa sepotong roti Perfettjess.


"Wah, inikan kesukaan bocil ghaib itu?" ujar Marsya berbinar melihat apa yang dibawa oleh Melissa.


"Ya, benar! Dia ingin makan ini katanya!" jawab Melissa.


"Yaudah ayo kita cari!" ujar Marsya lalu menarik pergelangan Melissa untuk mengikutinya.


Ya, Melissa bergabung dalam rombongan ini setelah Cak Dika menolongnya. Itu tawaran dari Rachel. Dan dia menerimanya. Awalnya Melissa tak mau.

__ADS_1


Tapi melihat keberadaan hantu Melissa dan Gelanda yang akrab dengan Barend dan Albert pun membuat dirinya mau menerima ajakan itu.


__ADS_2