
Suara alarm dari dua tempat berbeda mulai berbunyi. Cak Dika begitupun dengan Mas'ud di lain tempat mulai terbangun. Langitnya masih gelap dan ini jam dua pagi.
Suara serangga masih jelas terdengar memecah kesunyian. Lampu tenda redup gelap sengaja untuk dimatikan.
Lampu itu diletakkan tepat di dalam di bagian atap tenda. Cak Dika menyalakan lampu itu. Di dalam tenda itu ada Aldo, Rahman, dan Deni yang juga masih terlelap.
Cak Dika meregangkan otot tangannya. Lalu tak lama tatapannya berputar ke arah pintu tenda. Ketika dia membuka resleting tenda. Dia membulatkan kedua matanya melihat satu sosok maung mengeram ke arahnya.
Dia terkejut, pasalnya wajah maung itu jelas sekali. Cak Dika sempat berpikir bahwa maung ini adalah sungguhan. Tapi perlahan logikanya mulai bekerja.
Harimau putih tidak lagi ada di area Jawa. Maung di depannya ini adalah sesuatu yang mistis. Kedua mata kucing besar itu menyala merah dan dia masih mengeram ke arahnya Cak Dika.
"Siapa kamu?" tanya Cak Dika pada maung itu.
"Kamu juga Maung sama sepertiku! Kamu membawa manusia lain di jalur tempat pendahuluku sembahyang. Kamu berniat menyelamatkan mereka, tapi jangan harap mereka selamat!" ujar Maung putih itu.
"Maung, apa mereka merusak sesuatu di sana? Kalau memang iya, maka mereka pantas untuk dihukum. Tapi, jika tidak? Apa kamu akan tetap menghukumnya?" tanya Cak Dika pada Maung itu.
Reaksinya membuat Cak Dika terkejut. Dia mengeram semakin kencang ke arah Cak Dika. Cak Dika kesal mendapati itu. Benar-benar kurang ajar yang satu ini.
Cak Dika lalu memejamkan kedua matanya. Mengeluarkan tiga Maung kesayangan Sang Nyai Ratu.
Ketiganya berdiri di hadapan Cak Dika. Ketiganya mengeram ke arah Maung Putih jahat yang ada di depannya Cak Dika.
"Senopati! Kenapa kalian memihak orang yang jelas salah! Apakah kalian lupa dari bangsa mana kalian berasal?" ujar Maung putih jahat di depannya.
"Jika tidak ada kepunyaan kita yang dirusak di sini! Kenapa kamu harus marah. Wahai Kisanak!" ujar ketiga Maung milik Cak Dika.
Maung jahat itu diam. Dia berbalik lalu masuk ke dalam area belantara yang masih gelap. Melihat itu, ketiga Maungnya Cak Dika pun juga ikut hilang.
Ketika Cak Dika menoleh ke samping ke arah tendanya perempuan. Tempat di mana saudaranya dan Dek Rara tidur. Cak Dika terpaku menatap Rara yang sejak tadi sudah bangun rupanya.
__ADS_1
Rara di sana duduk sambil menatap langit. Di telinganya dijejali earphone.
"Dek Rara!" sapa Cak Dika lalu mendekatinya yang duduk.
Ketika Cak Dika berdiri tepat di sampingnya. Rara tanpa menoleh, menepuk hamparan rumput di sampingnya seolah menyuruh Cak Dika untuk ikut duduk bersamanya.
Cak Dika lalu duduk di sampingnya Rara. Mereka berdua terdiam sejenak. Rara lalu melepas earphone miliknya.
"Ada yang kamu pikirin gak Mas?" tanya Rara tanpa menoleh ke arah Cak Dika.
"Jelas ada, itu! Aku takut kalian nanti kenapa-kenapa kalau gak ada aku!" jawab Cak Dika.
Benar, hatinya tak karuan dan dia benar-benar khawatir jika timnya terpecah.
"Sudah waktunya buat kamu percaya pada Rachel! Dia maskot utamanya keluarga ini. Pemilik khodam paling sakti. Menurut kamu, apa yang dia pikir sampai memilih Aku, Bella dan Marsya untuk ikut?" tanya Rara pada Cak Dika lagi.
Benar, Cak Dika juga tidak mengerti kenapa Rachel memilih mereka untuk ikut bersamanya.
"Kenapa?" tanya Cak Dika menoleh ke samping kali ini.
"Wis tuwek! Tapi ora mikir adoh, sampean iku aneh!" ujar Rara lalu terkekeh.
(Sudah tua! Tapi gak mikir jauh, kamu itu aneh!)
"Huh..." lirih Cak Dika padanya. Kemudian Rara mengangguk.
"Dia ngajak Marsya, karena Marsya bisa melacak orang jika sedang dirasuki oleh Senopati cakar. Lalu, aku! Aku diajak, karena mampu memperjelas penglihatan atau gambaran buram yang mereka lihat. Dan Bella, dia navigator! Lihat betapa matangnya pemikiran Rachel dalam situasi sulit dan singkat itu. Kamu harus percaya, dia bisa kok! Aku percaya, selama kita gak niat buruk di sini. Maka petaka itu gak bakalan ada buat kamu! Ke ataslah, gak usah mikir kita. Kalau udah selesai baru cari kita!" ucap Rara lalu tersenyum.
Dia kemudian berdiri. Ketika dia hendak kembali masuk ke dalam tendanya untuk bersiap. Cak Dika menahan pergelangan tangannya.
"Enek opo?" tanya Rara padanya sambil menoleh ke arah Cak Dika yang diam dan masih duduk di sana.
__ADS_1
Cak Dika kemudian mendongak menatap penuh ke arah Rara dan tersenyum.
"Kamu hati-hati ya, Dek! Jaga saudaraku, terima kasih udah ikut sama kami!" ucap Cak Dika lembut.
Bangsat!. Batin Rara bersemu ketika mendengar ungkapan lembut itu diutarakan untuknya.
Kenapa nada bicaranya orang ini bisa selembut ini. Dan mukanya yang konyol itu. Kenapa harus menawan sekali ketika mengucapkan itu.
Bahaya, jantungnya mau copot saja rasanya. Cepat-cepat Rara menarik tangannya dari genggaman Cak Dika.
"Iyowes! Aku tak siap-siap dulu! bentar lagi mau berangkat!" ucap Rara padanya.
Cak Dika mengangguk membiarkan Rara masuk ke dalam tenda. Dia adalah alarm yang membangunkan Rachel dan para perempuan lainnya di dalam tenda.
Apa yang dilakukan Rara juga dilakukan oleh Cak Dika. Keduanya punya jiwa pemimpin. Benar-benar dia manusia yang serasi.
Ketika semuanya sudah terbangun, tenda mulai dibereskan. Kemudian mereka mulai berdiskusi sebentar. Setelah semuanya sudah selesai. Dari area itu mereka mulai dipisah.
Cak Dika menuju area puncak bersama Aldo, Laras dan Rahman. Sedangkan Rachel, Rara, Marsya dan Bella pergi menuju tempat dua orang yang dia lihat semalam.
Perhitungan Rara terbukti ketika Sang Senopati Cakar masuk ke dalam tubuh Marsya. Bak pelacak, dia pun memimpin perjalanan itu.
Sementara di tempat lain. Mas'ud terkejut melihat keadaan Thariq yang pucat dan tidak mau bangun sejak tadi. Berulang kali Thariq menepuk-nepuk wajahnya Thariq. Tapi tetap saja tidak ada jawaban di sana.
"Riq, bangun Weh! Kamu kenapa Cong! Bangun!" ucap Mas'ud panik. Dia takut sekali rasanya melihat kondisi Thariq saat ini.
Dia semakin takut ketika melihat kedua mata Thariq yang mengeluarkan darah.
"Astaghfirullah..." ucap Mas'ud mundur lalu meremas kepalanya.
Nampak dari luar tenda suara bahak tawa besar membuat Mas'ud semakin ketakutan. Dia benar-benar tidak tau apa yang harus dia perbuat di sini.
__ADS_1
"Cong, bangun Cong!" lirih Mas'ud menangis kemudian. Sungguh dia benar-benar tidak mau Thariq mati di sini.
Dia ingin lari keluar dari dalam tenda lalu meminta bantuan. Tapi, rupanya dia terlalu pengecut untuk melakukan itu.