Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 66: Ini untuk Barend, dari Oudere Brour (Kakak laki-laki)


__ADS_3

Cukup lama Pieter berada di antrian. Ia pulang cukup siang hari ini, di halaman terlihat Barend sedang asik memainkan mainannya.


Pieter membawa ember berisikan air itu ke tangki, memasukkannya. Lalu mencuci tangan dan mukanya


Setelah itu ia mulai menyiapkan makanan untuk Mamma dan Adik kecilnya itu. Pieter hanya membawa lima roti untuk hari ini.


Ia meletakkan roti itu di wadah lalu membawanya. Pertama, ia memberikan roti itu pada Mammanya. Wanita yang berstatus janda itu sampai sekarang masih diam.


Dia enggan berkata apapun sekalipun itu pada anaknya. Terbukanya kedua matanya selama berhari-hari hanya untuk menatap kosong. Tak ada apa-apa lagi yang mampu dilakukan oleh Mammanya selain itu.


Pieter memaklumi itu, Pappanya adalah alasan dari kebahagian Mammanya. Tapi apa daya takdir berkata lain. Dan keduanya harus mampu menerima takdir pahit itu.


Pieter berjalan menghampiri Mammanya yang masih nampak termenung. Suara langkah kaki Pieter pun diacuhkan. Pieter hanya mampu menghela nafas ketika tepat berada di sampingnya. Dengan nada lembut Pieter berkata,


"Mamma, kau bisa mengisi perutmu dengan ini. Makanlah!" ucap Pieter, seraya meletakkan makanan itu disamping Mammanya.


Saat kemari, hatinya selalu sakit. Melihat Mamma nya duduk, dengan tatapan kosong dan mata yang sembab.


Tak banyak yang bisa Pieter lakukan pada kondisi Mamma nya saat ini. Dia, hanya bisa membantunya merawat Barend.


"Makanlah, kau harus tetap hidup!" ujar Pieter bangkit, seraya mencium kening Mammanya. Pieter berjalan menghampiri Barend, yang asik dengan mainannya.


"Pieter?" ucapnya, Pieter duduk disamping Barend.


"Kau lapar?" tanya Pieter, raut muka polos itu mengangguk sambil menatapnya.

__ADS_1


Nampak Barend mengangguk sambil menatapnya penuh harap.


"Aku ada ini, mari kita makan!" ucap Pieter pada Barend yang tersenyum setelah mendengar itu.


Pieter memberikan satu roti pada adiknya dan satu roti untuknya. Mereka mulai memakannya, sesekali Pieter ikut bermain bersama Barend.


Sungguh dia adalah seorang kakak yang baik bagi Barend. Angkatan militer biasanya berwatak keras. Tapi berbeda dengan Pieter. Dia lembut penuh kasih.


"Ahh aku ingat sesuatu!" ucap Pieter, Barend mendongak menatap Pieter kali ini.


Dia ingin tau apa yang sedang Pieter lupakan. Dilihat dari raut wajah Pieter yang sumringah. Nampaknya sesuatu yang dilupakan itu adalah hal yang menarik.


"Apa, Oudere Broer?" tanya Barend penasaran padanya.


Pieter tersenyum mendengar pertanyaan itu, dari samping Pieter menarik bungkusan yang ia beli tadi di depan Camp.


"Ini untuk Barend, dari Oudere Broer. Aku harap, kau menyukainya ya!" ucap Pieter seraya mengusap lembut surai pirang Barend.


Terlihat raut muka bahagia itu terpancar dari Barend. Segera, ia membuka bungkusan itu.


Matanya berbinar melihat sepasang sepatu boot yang bagus menurutnya. Barend, sangat menyukainya sungguh.


Barend berdiri, melepas sepatu yang ia kenakan saat ini. Tak lama, ia mulai memakai sepatu boot yang Pieter belikan. Seraya melompat-lompat bahagia, ia tertawa.


"Dank je, Oudere Broer! Dank je!" teriak Barend bahagia sekali.

__ADS_1


(Terima kasih kakak, terima kasih!)


Kalimat itu membuat Pieter sangat bahagia. Biarpun dunia dan kondisi warganya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Rasanya, melihat tawa dari Barend itu sudah cukup membuatnya senang.


Apa yang dilihat dari wajah adiknya itu. Selalu mengingatkan Pieter pada Pappanya. Mereka berdua benar-benar mirip.


Itu jugalah yang membuat Pieter terkadang meneteskan air mata. Akibat kegagalannya tak mampu melindungi Pappanya.


Mengingat kembali apa yang terjadi pada Pappanya. Perih dalam hatinya kembali menguar. Sambil memperhatikan Barend yang bahagia. Pieter mengatakan sesuatu dalam hati kecilnya.


Oudere Broer, pasti akan melindungi mu Barend! Aku janji!. batin Pieter seraya menatap sendu pada Barend.


Barend meraih tangan Pieter, membawanya keluar bersamanya. Hari itu, dengan sepatu barunya ia bermain kejar-kejaran bersama dengan Oudere Broernya. Sederhana, namun terlihat begitu bahagia.


Nampak dari kejauhan Anna memperhatikan mereka. Sungguh kebahagian yang sangat sederhana. Pieter selalu mampu membuat orang lain senang.


Anna jatuh hati pada Pieter sejak dulu. Sayangnya perasaannya ia pendam sendiri. Pieter hanyalah teman masa kecilnya hingga saat ini.


Mereka berhenti bermain ketika Pieter memilih menjadi seorang militer. Atas ma Netherlands, dia dan seluruh warga Belanda menjajah bangsa ini. Hindia Belanda, namun saat ini diberi nama Indonesia.


Tak ingin hanya menjadi penonton. Anna pun mendatangi mereka. Senja saat itu adalah saksi secuil kebahagian yang akan meredup perlahan-lahan.


Waktu tidak ada yang tau. Dan waktu itu berjalan. Pedih dan bahagia itu warna kehidupan. Skenario kita itu Tuhan yang mengatur. Dan hidup adalah teka-teki.


Sepasang mata sipit di ambang pintu penjagaan memperhatikan mereka bertiga. Tatapannya sulit diartikan. Tentu saja itu adalah tatapan dari Nippon.

__ADS_1


Beberapa dari mereka kemudian mengumpat. Menggunakan bahasa mereka yang entah apa artinya.


Sama seperti pribumi yang membenci Netherlands. Begitupun dengan Jepang saat itu. Mereka juga sangat membenci orang-orang kulit putih itu.


__ADS_2