
Kalian yang tinggal di daerah Jawa Timur, khususnya di kota Mojokerto. Pasti gak akan asing lagi dengan gunung penanggungan.
Selain menawarkan pemandangan alam yang luar biasa di atas puncaknya. Gunung ini juga menyimpan banyak sekali sejarah.
Gunung ini berdiri 1600 MDPL. Gunung ini yang kerap kali disebut sebagai miniaturnya Semeru. Dahulu ada yang pernah mengatakan bahwa kedua gunung itu memiliki hubungan.
Bukan hubungan perselingkuhan layaknya seorang manusia. Tetapi ada salah satu kitab Jawa berjudul Kuna Tantu-Pangelaran. Mengisahkan bahwa awalnya Jawadwipa (Pulau Jawa) terombang ambing oleh ombak samudra Hindia dan Laut Jawa.
Dipercaya saat itu, Para Dewa yang melihat bahwa pulau Jawa sangat baik untuk perkembangan peradaban manusia. Beramai-ramai memindahkan gunung meru (Pusat alam semesta) dengan cara menggotongnya terbang ke angkasa.
Dalam perjalanan itu gunung meru tercecer menjadi pegunungan di bagian Barat dan Tengah pulau Jawa. Gunung Meru pun diletakkan di Jawa Timur, menjadi gunung Semeru dengan puncaknya yang bernama Mahameru.
Untuk menstabilkan bagian Timur Jawa. Maka Jawa memotong puncak gunung meru. Lalu meletakkannya di ujung Timur yang dikenal dengan gunung penanggungan. Legenda itupun diyakini sebagai asal mula gunung Penanggungan.
Siang ini, tepatnya pukul dua siang. Dari Basecamp sampai ke pos dua. Cak Dika dan Bella memimpin rombongannya untuk menuju puncak Pawitra.
"Ya Allah Cak! Mengkis-mengkis aku!" ujar Deni dan Rahman bersimpuh sambil terengah-engah.
(Ya Allah, Mas! Terengah-engah aku!)
Cak Dika dan Bella menoleh sebentar. Kondisi Cak Dika tidak berbeda jauh dengan mereka saat ini. Seperti biasa, Cak Dika akan meminta lebih banyak istirahat di sini.
"Lemah kalian!" ucap Cak Dika meledek mereka sambil mengatur nafasnya.
"Wong kamu aja juga sama daritadi minta break mulu'!" ujar Rahman padanya.
Rara melipat tangannya di dada sambil memperhatikan Cak Dika di sana. Buliran keringatnya sebiji jagung. Padahal jika berbicara perihal alam sebelah.
Cak Dika lah manusia yang paling unggul pengetahuannya tentang itu di sini. Rara dengan tas Carrier yang dia pikul berjalan ke arah Cak Dika.
Fisiknya di depan matanya saat ini lemah. Dan itu membuat Rara khawatir.
"Ini!" ucap Rara menyerahkan botol minum miliknya.
Cak Dika yang bersimpuh menatap ke bawah itu pun mendongak. Mbak Rara kesayangannya itu sedang perhatian padanya.
Lagi-lagi adegan uwu itu terpending ketika Cak Dika melihat beberapa saudaranya yang memperhatikan. Juga ada pula yang berbisik kecil.
"Buat kamu aja, Via Tamiajeng ini gak ada sumber air sama sekali dek! Kita harus hemat air, gunakan secukupnya. Logistik kalian udah berat dipikul para cowok ini. Udah ayo jalan lagi, makasih ya dek Rara!" ucap Cak Dika lalu kembali berdiri.
Rara tak masalah dengan itu. Dia hanya khawatir saja tadi. Bella kembali melihat peta yang tadi dia dapatkan dari Basecamp.
Perjalanan yang mereka tempuh masih cukup panjang dan lama. Jalur pendakian gunung penanggungan ini memiliki empat pos sebelum sampai di puncak bayangan. Jarak antar pos tidak terlalu jauh dengan trek menanjak konstan.
Selepas dari loket pendakian. Jalur batu sejak tadi sudah menuntun mereka sampai ke pos satu hingga pos dua.
Landai memang, tapi tetap berjalan itu melelahkan. Ditambah berat beban tas yang mereka pikul dipunggung mereka itu berat.
Jangan gunakan sandal untuk melewati trek ini. Sebab kaki kalian pasti akan lecet dan terluka.
"Kita mau lanjut langsung nih Cak?" tanya Bella pada Cak Dika.
Cak Dika mengangguk. Rachel memperhatikan raut wajah Bella di sana. Gadis itu berseringai pada Cak Dika. Mereka saling berseringai satu sama lain.
"Heh, kenapa wajah kalian?" tanya Rachel pada mereka yang terlihat mencurigakan.
"Gapapa, soalnya abis ini jalur pendakiannya bakalan nanjak terus!" jawab Bella santai lalu kembali menghadap ke depan.
Kakinya itu seperti kijang saja rasanya sungguh. Kuat dan sudah menaklukan beragam gunung di Jawa Timur.
"Butuh dorongan gak, Sya?" tanya Rahman pada Marsya di sampingnya.
"Dorongan apa?" tanya Marsya padanya sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Biasanya kalo nanjak gak kuat itu dibelakangnya ada yang dibantu dorong!" jawab Deni menimpali.
Mendengar itu, sebagai seorang kakak yang selalu menjaga adiknya. Rachel pun berdiri di belakangnya Marsya. Sorot matanya menatap datar ke arah Rahman dan Deni.
"Aku yang dorong adikku! Udah kalian fokus jalan sendiri aja!" ucap Rachel padanya.
Deni dan Rahman tertawa me dengar itu begitupun dengan yang lainnya. Perjalanan pun mulai dilanjutkan. Cuaca hari ini cukup cerah. Tidak ada pertanda mendung meliputi langit.
Benar-benar cerah dan langit biru menawan. Setelah dari pos 2, trek tanah padat mulai menanjak. Dari sini pendakian mulai terasa melelahkan ditambah minimnya bonus di jalur pendakian.
Tanjakan ke pos tiga masih terbilang ramah dan stabil. Jarak antara pos dua dan tiga terbilang cukup dekat. Tapi terasa lama karena full trekking.
Ketika mereka berhenti tepat di pos tiga. Di sana Laras merasakan kepalanya pusing sekali. Mereka tau, tiap kali Laras merasakan itu. Pasti ada yang dia lihat dalam kemampuannya.
"Awhh..." lirih Laras yang ada dalam gendongan Aldo.
"Kenapa Sayang?" tanya Aldo padanya.
"Pusing, ada gambaran yang masuk iniloh!" jawab Laras pada Aldo.
Mendengar itu, Aldo pun menurunkan Laras. Laras duduk di sebuah pohon besar sambil bersandar. Di sana dia memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Salah satu makhluk di sana sepertinya ingin menyampaikan gambaran ini padanya.
"Rekam dia! Sebentar lagi bakalan cerita banyak itu!" ucap Cak Dika pada Rahman dan Deni.
"Sejak tadi udah direkam Cak! Santai aja kamu!" ucap Deni dan Rahman bersamaan.
"Gunung ini sakral sekali! Ada yang masuk dan memberi gambaran. Dari cara berpakaiannya aku lihat dia seperti Raja!" ucap Laras yang masih memejamkan kedua matanya.
Rara tersenyum lalu mendekatinya. Di sana dia menyentuh bahunya Laras. Mencoba membantu Laras menguak misteri di dalam penglihatannya yang masih samar.
"Namanya Prabu Hayam Wuruk, dia sering kemari laku sembahyang. Di sini juga ada salah satu mata air, yang menjadi terbaik di Asia. Karena kita lewat jalur Tamiajeng, maka kita tidak bisa melihat pertirtaan mata air itu. Mata air yang sampai saat ini bersih dan terbaik itu bernama mata air Jolotundo!" jelas Rara menguak lebih jauh apa yang ada di dalam penglihatan Laras.
Laras lalu membuka kedua matanya begitupun dengan Rara.
"Makasih ya Ra! Kalau kamu gak ada mungkin apa yang aku lihat gak bakalan bisa dijabarin sejelas itu!" ucap Laras padanya.
"Ya, sama-sama! Kita kan tim, tenang aja!" jawab Rara padanya.
Cak Dika senang sekali melihat Rara bisa akrab cepat dengan seluruh saudaranya.
Ketika mereka berbalik dan akan melanjutkan kembali tugasnya. Mereka dikejutkan dengan beberapa sosok dahulu yang berdiri sepuluh langkah dari hadapan mereka.
Sepertinya orang-orang itu orang penting. Cak Dika menghitung ada sekitar tiga puluh orang di depannya menatap mereka. Raut wajah mereka datar. Namun tak lama mereka tersenyum.
"Wah, sepertinya kedatangan kita disambut ya!" ujar Marsya sambil menatap penampakan itu.
Cak Dika mengangguk. Tak lama dari sekumpulan orang-orang itu. Muncul satu sosok manusia yang sangat mereka kenali.
Ketika sosok itu muncul bersama dengan seorang wanita cantik. Seluruh anggota Gautama bersimpuh.
"Assalamualaikum, Le!" sapa kakek tua itu. Dialah buyut Gautama. Orang yang disebut Simbah oleh Cak Dika beserta adik-adiknya.
"Waalaikumsalam Simbah!" ucap Cak Dika dan yang lain.
"Kamu sudah sampai Le! Buyut tertinggi dari Saya, ingin bertemu dengan cucu-cucuku di atas puncak Pawitra setelah kamu melakukan pensucian pusaka kami!" ucap Buyut Gautama.
Cak Dika berpikir sejenak. Buyut tertinggi katanya. Dia benar-benar tidak tau apa maksudnya itu.
"Pripun, Simbah! Buyut tertinggi yang kami tau itu cuma Simbah Gautama saja. Nama belakang kami adalah dari Simbah saja!" ucap Cak Dika.
Namun di sana Buyut Gautama hanya tersenyum. Yang bisa melihat itu hanya mereka pemilik kemampuan mata ghaib.
Sedangkan yang normal seperti Aldo, Rahman, dan Deni. Mereka hanya bisa diam menyaksikan.
"Maung, di atas sana anggota kerajaan kami! Maung, cucuku semuanya. Kalian ini masih salah satu bagian dari anggota kerajaan kami! Darah Majapahit masih mengalir dalam tubuh kalian. Penyebab kalian diberi anugerah mata ghaib itu. Juga karena Buyut tertinggi kalian! Lihat dan saksikan siapa dia di atas sana. Ada tiga orang yang akan ikut mendampingi kalian nanti!" ujar Nyai Ratu menjelaskan.
Setelah mengatakan itu. Kabut putih dari belakang mereka muncul. Membawa tubuh astral itu masuk menghilang dari pandangan mereka.
Setelah itu baik Cak Dika dan yang lain kembali berdiri. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Hari itu hanya ada sebelas orang mendaki. Sembilan orang adalah rombongannya Cak Dika. Sedangkan dua orang lagi katanya adalah rombongan lain yang sudah mendaki lebih dulu ke atas daripada mereka.
Nama kedua pendaki lain itu adalah. Thariq sam Mas'ud. Keduanya berasal dari Madura. Kemari untuk menikmati hawa gunung dan keindahannya.
Lelah dengan suasana kota yang ramai. Keduanya mencari ketenangan untuk melepas penat ke arah Gunung penanggungan. Puncak Pawitra memang indah. Susunan kota bak miniatur kecil.
Saat malam serasa melihat kunang-kunang dari perkotaan. Bangunan itu begitu kecil bercahaya bak segerombolan kunang-kunang. Hawa dinginnya yang cukup, membuat mereka betah tinggal sebentar di atas puncak gunung penanggungan atau Pawitra.
Dalam perjalanan itu mereka melalui satu jalur yang tidak ada di dalam peta tapi masih bisa dilalui. Jalur itu, sudah cukup kuno. Tapi masih mampu membawa mereka menuju ke arah puncak Pawitra.
Pertama kali berangkat hingga saat ini. Thariq merasakan sesuatu yang ganjal. Namun Mas'ud mengatakan bahwa tidak akan terjadi apa-apa selama kita sopan digunung.
Di dalam Belantara yang cukup sunyi itu. Yang hutannya hanya berbunyi suara gema serangga dan burung. Thariq merasakan, bahwa ada banyak sepasang mata yang melihat memantau mereka sejak tadi.
Hutan yang sepi itu membuat bulu kuduk miliknya berdiri. Suasana sunyi ini merayap menusuk membuatnya sedikit ketakutan. Tapi dia tetap memaksa untuk berjalan.
Terus mereka mencoba netral sekalipun situasi di sana semakin mencekam. Menjelang gelap, mereka berhenti ketika suara ponsel mereka berkumandang adzan.
Suara adzan seperti biasanya, pendaki akan berhenti ketika mendengarnya. Menjawabnya, lalu berjalan setelah adzan itu selesai.
Ketika suara adzan masih berkumandang. Dari arah kiri. Thariq dibuat terkejut. Kiri tempatnya berdiri adalah lereng kurang. Sebelum jurang di sana ada ilalang yang menutupi
Sepotong kepala terbang melewati mereka berdua. Thariq hanya mampu diam melihat dan mematri itu. Sedangkan Mas'ud dia sama sekali tidak melihat apapun di sana.
"Mas'ud!" panggil Tharis di belakangnya.
Mas'ud menoleh mendengar Thariq yang memanggilnya.
"Ya, ada apa Cong?" tanya Mas'ud padanya.
"Gak sebaiknya kita ngcamp aja nih? Bangun tenda gitu?" tanya Mas'ud pada Thariq.
"Halah, nanti aja Cong! Di atas masih bisa kok!" ucap Mas'ud menimpali.
"Tapi, ini udah malam Mas bahaya!" ujar Mas'ud lagi mengingatkan.
__ADS_1
"Halah, kamu gak usah lemah Cong! Takut kamu?" tanya Mas'ud padanya.
Thariq tertegun mendengar itu. Dia tidak ingin dianggap lemah tentunya.
"Gak, siapa yang takut! Aku berani, ayo lanjutin lagi udah! Coba aku mau tau sampai mana kamu kuatnya?" ujar Thariq yang mulai tersulut emosi.
"Yaudah ayo!" ucap Mas'ud. Keduanya kemudian berjalan menyusuri belantara gelap itu dengan dua lampu flash dari ponsel mereka.
Ketika mereka berjalan sudah cukup jauh. Mereka Melawati satu candi. Mas'ud dan Thariq tetap melakukan perjalanan mereka ke atas.
Hingga beberapa saat ketika usai melewati area candi itu. Wangi dupa mulai tercium. Hembusan angin dari depan menerpa wajah mereka. Dingin dan cukup kencang hingga membuat mereka menggigil.
"Siapa yang bakar dupa malam-malam gini ya?" tanya Mas'ud di depannya Thariq.
Bangsat!. Batin Thariq dalam hatinya. Orang di depannya ini benar-benar membuat Thariq kesal.
Kenapa dia harus membicarakan itu. Seharusnya hal apapun yang aneh di gunung jangan dibicarakan kecuali ketika mereka turun.
"Riq, kamu juga bau dupa gak?" tanya Mas'ud lagi.
"Gak Cak, aku gak cium!" jawab Thariq mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Wong nyengat gini kok kamu gak cium toh, Riq?" tanya Mas'ud lagi.
"Wis udah fokus jalan aja Mas!" ucap Thariq lagi mengingatkan.
Saat itu beruntungnya Mas'ud kembali diam. Mereka tetap berjalan dan berjalan. Hingga tibalah mereka lagi di salah satu candi.
Tempatnya cukup luas dan rasanya cukup nyaman untuk mendirikan tenda. Di sana barulah Thariq dan Mas'ud berhenti. Mereka lelah, sudah berjalan sejak tadi.
"Jadi, gimana? Kita ngcamp di sini nih?" tanya Thariq pada Mas'ud.
"Ya boleh sih, tempatnya juga lumayan bagus ini medannya!" ucap Mas'ud.
Dari dalam kantongnya dia mulai mengeluarkan seputung rokok. Menyalakannya lalu menghisapnya. Sambil menghisap seputung rokok itu. Mereka mulai membuka tas Carrier mereka.
Mengeluarkan beberapa perlengkapan. Logistik dan tenda. Mereka memasangnya dengan hati-hati. Sampai ketika tenda itu sudah berdiri. Mereka pun masuk ke dalam. Di sana sebelum tidur mereka mulai makan perbelakalan.
Mengisi tenaga yang sudah terkuras sejak tadi. Sampai saat ini, mie instan adalah juaranya para pendaki.
"Kita mau muncak jam berapa ini?" tanya Thariq pada Mas'ud.
"Ya..." jawab Mas'ud sambil menyeruput teh hangatnya.
"Sekitaran jam satu jam dua aja, Riq! Biar dapat sunrise kita nanti!" ucap Mas'ud.
"Yaudah Cak, kita tidur aja sekarang! Wis malam, aku capek!" jalan Thariq lalu masuk ke dalam tenda dan mulai terpejam.
Mas'ud di sana hanya berdehem. Kemudian dia membereskan logistiknya lalu masuk ke dalam tenda dan ikut terlelap.
Baru beberapa menit terlelap. Thariq yang sejak tadi peka terhadap hawa astral di sana. Mulai melakukan Astral Projection yang bahkan tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
Thariq terkejut mendapati dirinya yang berisi di Depa keramaian. Orang-orang yang hanya memakai bawahan tanpa atasan. Beberapa wanita yang hanya menggunakan kemben.
Wanita di sana sangat cantik. Tanpa polesan make up. Kecantikannya natural luar biasanya wajah pribumi.
"Kenapa aku bisa di sini?" tanya Thariq bingung. Dia lalu melihat kedua tangannya.
Ketika salah satu orang dari mereka lewat maju ke arahnya. Thariq mundur, tapi ketika orang itu semakin dekat. Orang itu mampu menembusnya.
"Loh, aku ilusi? Loh , aku wis mati ta Iki?" ujar Thariq terkejut sambil meraba-raba tubuhnya.
(Loh aku ilusi. Loh aku udah mati kah ini?)
Thariq yang tidak tau dan paham perihal apa yang terjadi padanya pun memilih untuk pergi berkeliling dia rela itu. Wilayah yang sama sekali tidak dia kenali.
Hingga dia berhenti ketika melihat beberapa rombongan wanita cantik dikumpulkan dalam satu area.
Ada banyak pertanyaan dalam kepala Thariq saat ini. Untuk apa para wanita itu dikumpulkan dalam satu area.
Thariq berhenti di sana mencoba memperhatikan rombongan wanita itu di sana. Barangkali ada sesuatu yang dia temukan nanti di sana.
Ada satu hal yang membuat Thariq tidak mampu mengatakan apa-apa lagi. Satu hal itu mengerikan dan dia ingin segera pergi dari sana saja rasanya.
Beberapa lelaki datang menghampiri para wanita itu. Lalu mereka memperkosa para wanita itu di tempat. Setelah cukup puas menuntaskan hasrat.
Celurit yang para lelaki letakkan di tanah. Terangkat, menebas leher wanita-wanita itu. Darah-darah segar bercucuran di sana. Kepala-kepala itu terjatuh menggelinding ke sana kemari.
Cukup rasanya, Thariq benar-benar sudah tidak tahan lagi melihat itu. Ketika dia bingung mencari jalan keluar untuk keluar dari masa itu.
Beruntungnya Mas'ud yang tidur di sampingnya berusaha membangunkannya. Namanya yang dipanggil oleh Mas'ud di alamnya. Membuat Thariq seketika tertarik lalu kembali masuk ke dalam tubuhnya.
"Kami kenapa Weh?" tanya Mas'ud padanya.
Di sana Thariq hanya mampu tersengal-sengal. Dia terkejut juga takut. Ingin turun rasanya saat itu juga tapi terbebani karena gengsi.
__ADS_1