Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 99: Anak Setan Sialan


__ADS_3

Wushhhhh


Wushhhhh


Bak superhero Superman. Barend dan Albert sejak tadi terbang di atas Rachel. Tidak hanya mereka berdua saja yang berada di sana. Namun ada pula Melissa beserta dengan Gelanda. Senopati maung milik Cak Dika pun juga turut ada di sana.


Sengaja memang mereka berada di sana. Sebab tubuh Rachel yang lemah akan rawan diincar. Para arwah di depan gerbang ghaib itu sedang menunggu menanti masuk ke dalam tubuh itu.


Nyai Ratu juga ada di sana. Dia sigap menjaga tubuh lemahnya Rachel saat ini. Ini sudah dua hari sejak kejadian kelam yang Rachel alami. Dia masih belum sadar juga.


Barend berhenti tepat di samping Rachel. Dia melayang, kedua mata bocah itu memperhatikan wajah Rachel. Tabung oksigen membekap hidungnya. Sambil menunjuk ke arah Rachel, Barend pun menoleh ke arah Albert.


"Kenapa dia memakai itu, Albert? Apakah dia bisa bernafas nanti?" tanya Barend padanya polos.


Albert yang juga tidak mengerti alat apa yang saat ini sedang membekap Rachel itu hanya mampu menggelengkan kepalanya. Dia juga ikut serta mengangkat kedua bahunya. Memberitahu pada Barend bahasannya dia pun juga tak mengerti.


Melissa dan Gelanda yang berada tak cukup jauh dari mereka sejak tadi memperhatikan. Bahkan Melissa pun juga tidak tau apa yang sedang Rachel kenakan itu. Benda-benda itu asing di matanya.


Wajar saja, mereka ini hidup dalam tahun yang belum memiliki perlengkapan medis secanggih ini. Gelanda dibuat geleng-geleng rasanya mendengar itu. Hanya Gelanda saja yang tau fungsi dari alat itu. Dia pun berkata,


"Hei anak setan!" panggil Gelanda pada Albert dan Barend yang cukup berisik menurutnya.


Mendengar itu Barend pun menoleh dengan wajah polosnya.


"Kenapa kamu memanggil kami anak setan, Gelanda? Kau pun juga sama seperti kami. Kau pun setan juga!" ujar Barend mencoba membela dirinya sendiri.


Gelanda hanya mampu menaikkan salah satu alisnya. Sambil menunjuk ke arah Rachel, Gelanda pun mulai menjelaskannya.


"Itu yang ada di hidung Rachel adalah alat bantu pernafasan. Supaya Rachel tetap hidup!" jelas Gelanda.


Kedua bocah setan itu mengangguk mendengar itu. Mereka kembali menatap Rachel sekarang.


"Tapi kenapa dia tidak bangun-bangun, Gelanda?" tanya Barend lagi. Raut wajahnya sedih kali ini.


Pertanyaan itu didengar pula oleh Marsya yang baru saja bangun dari tidurnya. Marsya dan Bella saat ini yang memiliki jadwal untuk menjaga Rachel. Ya, mereka diberi giliran oleh cacak untuk menjaga Rachel.


"Nah itulah! Jadi, kalian bisa tidak mendoakan kakakku ini agar cepat membuka kedua matanya?" tanya Marsya pada keduanya.


Albert dan Barend saling tatap. Baginya apa yang Marsya katakan itu konyol. Hantu tidak berdoa. Dan mereka akan menjauhi hal-hal religius.


"Kami akan mati terpanggang jika berdoa, Marsya!" ujar Barend polos.


Marsya terkekeh mendengar itu. Jam di sana tepat menunjukkan pukul empat sore. Marsya menengok sebentar pada jam di dinding. Lalu dia pun tersenyum.


Benar, apa yang ada di pikirannya saat ini. Suara langkah kaki di luar ruangan itu membuat Marsya tersenyum. Ya, suara langkah kaki itu Marsya yakin adalah milik Thariq.


"Ah, sepertinya yang menggantikan kami akan segera tiba!" ujar Marsya lalu merentang kedua tangannya dan menguap.


Glekkkkkk

__ADS_1


Pintu ruangan itu dibuka. Dan benar saja, terlihat Thariq di sana berdiri sambil memperhatikan Marsya dan Rara.


"Gimana Rachel?" tanya Thariq sembari masuk ke dalam. Netranya langsung memperhatikan Rachel yang masih terlelap di sana.


"Dia baik kok! Tapi ya gitu, masih belum sadar!" jawab Marsya padanya.


Thariq mengangguk. Dia lalu mengambil kursi lalu meletakkannya di samping Rachel. Thariq duduk di sana. Dia melipat tangannya di sisi ranjang itu. Lalu menempatkan kepalanya bertengger manja di atas tangannya.


"Aku balik dulu ya, Riq! Tolong jaga mbakku!" ujar Marsya padanya.


Terdengar Thariq hanya menjawabnya dengan satu deheman. Mendengar itu, Marsya pun langsung membangunkan Rara.


"Ra, bangunlah!" ucap Marsya sambil menggoyangkan tubuh Rara yang masih terlelap di atas sofa.


"Apa?" tanya Rara mendongak sambil kedua matanya mengerjap-ngerjap. Mencoba mengumpulkan separuh nyawanya yang masih tertinggal di pulau kapuk.


"Kamu gak mau pulang?" tanya Marsya padanya.


Pertanyaan itu lalu membuat Rara menoleh ke arah jam dinding. Ini sudah hampir shubuh. Rara pun kembali menatap Marsya dan mengangguk.


Mereka berdua pun pergi dari sana meninggalkan Thariq dan Rachel berdua di sana.


"Hei.. " lirih Thariq mencoba berbicara pada Rachel sekalipun sia-sia.


Rachel masih rapat menutup matanya. Sekalipun keadaannya katanya baik.


"Mau sampai kapan kamu tidur? Kamu gak mau gitu buka mata? Aku loh kangen kamu!" ujar Thariq apa adanya.


Barend yang tidak tau apa maksudnya itu. Dia langsung menoleh ke arah Melissa dan Gelanda. Terlihat di sana Gelanda hanya mampu terpaku menatap Thariq yang menurutnya tidak tau tempat ini.


Gelanda paham mereka ini setan. Tetapi tidaklah Thariq melihat ada Barend di sini. Beserta dengan Albert. Usia mereka mungkin tua. Tapi mereka mati sebagai anak kecil yang polos tanpa tau adegan mesra.


Ya, mereka yang mati ketika berusia lima tahun. Maka tubuhnya akan tetap menjadi anak umur lima tahun. Sebanyak apapun waktu berjalan mereka bentuknya akan tetap sama.


Jika dihitung umur Barend dan yang lain. Barend lah setan kecil yang paling tua di sini. Tapi, dia dulu mati sebagai bocah lima tahun yang nakal. Jadilah dia dikutuk dengan tubuh kecil nan polosnya itu.


"Gelanda.. Mereka sedang apa?" tanya Barend polos padanya.


Gelanda lalu menoleh ke arah Barend. Dia pun mendekati Barend dan berkata.


"Sudah lebih baik kita pergi saja dari sini! Ada adegan yang kalian gak akan paham sekarang dan mungkin itu selamanya!" ujar Gelanda pada mereka.


Mendengar itu Barend pun berinisiatif menghampiri Thariq. Ketika berada tepat di sampingnya Barend pun berkata,


"Thariq kenapa kamu menangis?" tanya Barend pada Thariq yang menitikkan air mata.


Thariq langsung saja menghapus air matanya. Dia tidak ingin dilihat jika menangis.


"Adik ghaib! Bisakah tinggalkan kami sendiri? Aku ingin berbicara pada Rachel sebentar!" ujar Thariq padanya.

__ADS_1


Barend diam mendengar itu. Tapi Melissa dan Gelanda paham atas apa yang Thariq katakan dan inginkan. Seluruh penduduk ghaib pelindung Rachel juga paham itu.


Mereka sebelum pergi membentuk pagar penjaga untuk Rachel agar tetap aman sekalipun mereka tidak berada dekat dengannya.


Setelah merasa seluruh penghuni ghaib di sana pergi. Thariq mengulurkan tangan kanannya membelai Surai lembut Rachel.


Ketika dia asik memainkan Surai itu. Kedua bola mata yang sejak dua hari terpejam itu perlahan mulai berusaha terbuka.


Pemiliknya sudah cukup puas sepertinya berada di alam bawah sadar. Thariq tidak memperhatikan itu. Dia masih sibuk memainkan Surai milik Rachel.


Hingga ketika Thariq mendongak dia terkejut mendapati kedua bola mata Rachel yang menatapnya sayu.


Di situ waktu seakan berhenti membaurkan mereka saling tatap satu sama lain cukup lama. Ketika Thariq hendak beranjak pergi. Rachel menahan pergelangan tangannya.


Itu membuat Thariq menoleh memperhatikannya. Di sana Rachel menggeleng pelan. Bibirnya terlalu lemah rasanya untuk berucap. Mungkin ini efek sebab kehilangan terlalu banyak darah.


"Kamu gapapa? Mana yang sakit? Apa ada yang sakit? Kamu butuh apa?" tanya Thariq bertubi-tubi pada Rachel.


Sekali lagi Rachel menggeleng pelan. Thariq masih dengan posisi setengah membungkuk. Dia bertanya cukup pelan dengan kepala yang berada cukup dekat jaraknya dengan Rachel.


"Tha... Thariq... Di... Sini saja!" perintah Rachel lemah padanya.


Degggggg


Hati Thariq menghangat rasanya ketika mendengar permintaan itu. Adalah satu kata yang jarang sekali Thariq dengar. Pintanya ditutur begitu lembut.


Thariq terbuai rasanya. Dia pun mengusap puncak kepala Rachel. Lalu kembali duduk nyaman di samping Rachel.


Jari jemari tangan kanan Rachel masih menggenggam pergelangan tangan Thariq. Jari jemari itu merambat ke bawah mencari sela-sela jarinya Thariq.


Ketika sela jari itu cukup nyaman untuknya. Rachel membiarkan jari jemarinya berlabuh di antara jari jemari Thariq. Rachel menggenggamnya.


Tangan ini hangat sekali!. Ujar Thariq dalam hatinya sambil memperhatikan tangan Rachel yang menggenggamnya.


Di balik kemesraan itu. Nampak Cak Dika dari balik pintu menatap mereka sejak tadi dari kaca kecil bulat yang ada di pintu.


Cak Dika kemari bersama Mas'ud. Mas'ud selaku teman baik Thariq hanya mampu tersenyum senang melihat Thariq sudah menemukan cintanya.


Cak Dika kemudian berbalik ke arah Mas'ud lalu menatapnya. Mas'ud yang ditatap seperti itupun merasa aneh.


"Ada apa mas?" tanya Mas'ud padanya.


Namun Cak Dika hanya menggeleng dengan raut wajah datar. Dia tetap diam. Tak lama dia pun berkata pada Mas'ud.


"Wes ayo Ndang dirabino wae pasangan iku!" perintah Cak Dika pada Mas'ud.


(Udah ayo cepat dinikahkan aja pasangan itu!)


Hal itu tentu saja membuat Mas'ud tertawa.

__ADS_1


"Tapi sebenernya yang benar itu kamu dulu Cak yang nikah. Bukan adekmu!" ujar Mas'ud padanya.


Hal itu malah mengundang tawa renyah Cak Dika.


__ADS_2