
Pardi sesekali menguap ia mulai letih rasanya. Layar laptop di sana membuat kedua matanya perih rasanya. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi.
Hanya ada dirinya seorang di lantai tiga itu saat ini. Tidak ada manusia lain selain dirinya. Beberapa ruangan siaran lain juga kosong.
Pardi ingat bahwa beberapa jam lalu Laras mengatakan bahwa akan ada yang datang jam tiga nanti. Yang berarti itu adalah satu jam lagi.
Dari dalam sakunya Pardi mengeluarkan jimat yang diberikan Laras padanya. Sejenak Pardi memperhatikan itu.
"Barang antik rupanya!" ujar Pardi sambil memperhatikan benda itu di atas telapak tangannya.
"Darimana dia membeli ini?" tanya Pardi heran.
Tapi dia kembali diingatkan bahwa Laras bukanlah gadis biasa. Laras ini terkenal di sini. Ada yang bilang Laras memiliki kemampuan supranatural.
Dengan melihat jimat ini. Pardi yang tadinya tidak terlalu percaya hal itu perlahan mulai percaya. Pardi kembali memasukkan jimat ke dalam sakunya.
Ketika lagu yang dia putar usai. Pardi kembali meraih earphone miliknya lalu memakainya. Bibirnya sudah berada tepat di depan mich.
Saat ketika dia akan berucap. Dalam Earphone itu terdengar satu suara seorang lelaki.
Pardi membulatkan kedua matanya tak percaya rasanya. Lelaki itu mengeram suaranya berat dan mengerikan. Diantara geraman itu dia mengatakan,
"Kembalikan pusakaku!" ujarnya.
Kalimat itu membuat Pardi merinding seketika. Dia sontak melepas Earphonenya lalu berdiri. Sudah cukup rasanya, dia benar-benar takut sekarang.
Ketika dia berbalik hendak turun ke bawah. Tepat berada agak jauh di hadapannya berdiri sosok seram mengerikan tanpa kepala.
Dia berada di sana tepat di tangga turun dan di samping lift.
Dancuk! Maksude setan Iki opo? Isok mati kaku aku nek ngene iki!. Ucap Pardi dalam hatinya.
Dia terpaku di sana tak mampu bergeming. Mungkin karena terlalu takut bahkan dia sampai tidak mampu berteriak.
Setan buntung itu perlahan mendekati Pardi yang masih tercengang. Dia mendekat, terus mendekat. Semakin dekat setan buntung itu padanya. Gemerlap lampu semakin meredup-redup.
Hingga ketika hantu kepala buntung itu sampai dekat dengan Pardi. Gemerlap lampu yang padam lalu menyala lagi merubah wujud hantu buntung itu menjadi sesosok kuntilanak berbaju merah.
Di depan Pardi wajah pucat itu menatapnya. Matanya merah benci. Dan lagi, gema tawanya melengking. Kedua tangan astral itu berlabuh tepat di antara wajah Pardi.
Ya Allah, tolong Ya Allah!. Ucap Pardi sudah tak kuasa rasanya.
Di momen ini dia hanya mampu pasrah. Ketika kuntilanak itu terus saja tertawa di hadapannya. Ketakutan itu membuat Pardi tidak mampu berpikir menggunakan logikanya.
__ADS_1
Perlahan dia memaksa tangan kanannya mengeluarkan lagi jimat milik Laras dari dalam saku celananya.
Ketika jimat itu sudah ia genggam. Pardi menunjukkan tepat jimat itu pada sosok kuntilanak itu. Jimat itu tepat berada di depan wajah Mbak Kunti itu.
Melihat jimat yang Pardi tunjukkan. Refleks mbak Kunti itu mengeram. Suaranya lantang mengerikan menusuk masuk ke dalam rungu Pardi.
Lampu di sana redup menyala redup menyala berulang kali. Hingga perlahan sosok itu mulai memudar dan hilang.
Hilangnya sosok itu di hadapan Pardi. Membuat Pardi tak sadarkan diri seketika. Manusia yang tidak pernah melihat penampakan.
Tentunya akan sangat dibuat jantungan dan takut. Jika mereka menampakkan diri secara perdana di hadapan kalian.
Siaran di sana masih tetap berlangsung. Namun, apalah daya sang penyiar yang sudah tergeletak lemas di lantai tak sadarkan diri.
Jarum jam terus berputar. Dan waktu terus berjalan. Sampai ketika jam dinding menunjukkan tepat pukul tiga. Dia orang pemuda, seorang pekerja penyiar radio juga di sana datang.
Ketika mereka berada tepat di lantai tiga. Suara siaran radio yang masih berlangsung membuat mereka heran.
Mata mereka mencari-cari keberadaan ruangan siapa yang sedang mengadakan siaran. Ketika mereka mengikuti sumber suaranya. Mereka berdua terkejut menemukan Pardi Si anak baru pingsan di lantai.
"Ya Allah!" ucap mereka berdua lalu membopong Pardi ke ruang istirahat.
Saat berada di sana. Ketika tubuhnya sudah terbaring di atas ranjang putih. Pardi samar-samar membuka kedua matanya lalu mengucapkan kepada kedua orang yang menolongnya itu.
Mendengar itu keduanya pun menghubungi Laras dan Aldo saat itu. Namun rupanya panggilan mereka tidak terjawab.
Mereka terus menghubungi Aldo dan Laras. Saat itu panggilan mereka terhubung tepat jam setengah lima pagi. Di mana itu adalah waktu bagi masjid untuk mengumandangkan adzan shubuh.
Saat itu baik Laras dan Aldo baru saja selesai menunaikan sholat. Ketika mereka usai, mereka duduk bersama di ruang tamu.
Ketika mereka mengotak-atik ponsel. Betapa terkejutnya mereka melihat banyak sekali panggilan tak terjawab saat itu.
Beruntungnya panggilan itu memanggil mereka lagi. Aldo pun segera mengangkatnya.
Di tengah percakapan itu nampak Cak Dika dan saudara-saudaranya ikut nimbrung bersama Laras dan Aldo di ruang tamu.
Aldo yang peka pun mengaktifkan speaker ponselnya. Sebab apa yang dikatakan oleh temannya di seberang sana adalah perihal Ghaib.
Cak Dika menatap ke arah Aldo sejenak. Tapi kemudian seluruh manusia di ruang tamu itu mulai fokus mendengarkan satu suara yang ada di ponsel itu.
Dari penjelasan itu, Pardi yang lemah berusaha menjelaskan perihal apa yang sudah terjadi padanya saat itu.
Cak Dika bersandar di kepala sofa. Mencoba menyamankan tumbuhnya di sana. Kedua tangannya dilipat di dada.
__ADS_1
"Cak, gas gak nih?" tanya Marsya pada Cak Dika yang masih saja diam.
Panggilan itu sudah ditutup. Pandangan mereka saat ini tertuju tepat ke arah Cak Dika, Sang Maskot.
"Gimana Mas? Mau bantu mereka gak?" tanya Aldo pada Cak Dika.
"Ya, kalau memang ada yang butuh bantuan kenapa kita gak bantu?" jawab Cak Dika tersenyum.
"Tapi, aku mau lihat dulu apa masalahnya!" ujar Cak Dika lagi sambil menatap ke arah Laras.
Laras memang tidak tau bahwa Cak Dika saat ini menatapnya. Tapi dia merasakan tatapan itu. Laras adalah orang yang peka.
Di sana Laras pun mulai menceritakan apa yang dia lihat semalam dalam mata batinnya. Sesuatu perihal pusaka, bernama keris. Dan manusia yang mengambilnya.
Laras juga menceritakan bahwa ada dua kuntilanak yang ia lihat di sana. Juga satu pria tua yang berdiri agak jauh dari tempat mereka berada. Pria tua itu sedang memperhatikan sang pengambil keris.
Sembari bercerita, Cak Dika menggenggam tangan kanan Laras dan dia terpejam. Di sana dia bukan hanya mendengarkan.
Namun dia juga melihat apa yang sudah Laras lihat. Cerita pun usai dan Cak Dika mulai membuka kedua matanya.
"Ada barang yang jahat auranya! Keris yang diambil itu saat ini sedang diletakkan di atas gedung siaranmu. Ada satu orang, dia sengaja mengambil itu dengan tujuan ingin membalas dendam. Aku tidak tau dia siapa! Tapi, mungkin jika aku menangkap salah satu dari setan peliharaannya atau kerisnya. Aku mungkin akan tau siapa yang sengaja mengambil pusaka itu!' ujar Cak Dika menjelaskan.
"Berarti itu ditancapkan di sana karena ingin dibuat menyakiti orang, Mas?" tanya Aldo pada Cak Dika.
Cak Dika mengangguk mengiyakan pertanyaan Aldo.
"Jimatmu kamu kasih ke Pardi?" tanya Rachel kali ini pada Laras.
Laras menganggukkan kepalanya mendengar itu. Kemudian Rachel pun tersenyum.
"Cak, biar aku coba mediasi ke sana! Setan Kunti peliharaan itu pasti masih ada di sana!" ucap Rachel pada Cak Dika.
Permintaan yang cukup berani itu membuat Cak Dika tersenyum. Sepertinya perlahan Rachel mulai berubah peduli. Cak Dika sangat senang sekali rasanya.
"Kamu mau mediasi gimana?" tanya Cak Dika padanya.
Rachel berjalan mendekati Cak Dika lalu berhenti tepat di hadapannya.
"Jimat itu ada penunggunya! Penunggu itu juga milik dari pasukan Ratu. Sebelum kita kesana, mungkin aku bisa teleportasi Sukma kesana. Coba aku jelajahi dulu, sekuat apa makhluk itu auranya!" jawab Rachel menjelaskan.
Cak Dika tersenyum lalu mengangguk mendengar itu. Rachel pun berbalik lalu duduk bersila. Kedua matanya terpejam. Dalam sekejap, dimensinya pun berubah memasuki alam sebelah.
Tubuh Rachel yang kosong di alam manusia. Saat ini sedang di isi oleh Barend. Sebab jika dibiarkan kosong. Maka akan banyak para arwah jahat yang berlomba-lomba masuk menguasai tubuhnya Rachel.
__ADS_1