
Sudah hampir sebulan lamanya Rachel dirawat di rumah sakit. Luka di perutnya perlahan mulai pulih. Katanya, Minggu depan Rachel sudah diperbolehkan pulang.
Bella bukanlah seorang gadis rumahan. Dia haus petualang. Ditemani dengan Marsya saat ini Bella sedang duduk di hamparan rerumputan luas. Sabana yang cukup megah.
Marsya meneguk habis botol minum miliknya. Itu adalah botol minum kelima yang dia teguk saat ini. Duduk di sana, Bella mulai mengotak-atik kamera kesayangannya.
Apakah kalian mengingat kamera ini? Ya, ini adalah sebuah kamera yang selalu dia bawa jika eksplorasi gunung. Kamera itu bukanlah kamera biasa.
Itu adalah sebuah kamera polaroid kuno. Bella menemukan itu di salah satu gunung yang pernah dia daki.
Dia mengambil itu bukan tanpa izin. Namun dia diizinkan membawanya. Marsya di samping memilih untuk berbaring di atas sabana yang luar biasa luas itu.
Brukkkkk
Suara tubuh Marsya menghantam hamparan. Lalu dia mendongak sambil menatap langit biru. Tangan kanannya mengadah ke atas seakan ingin meraih langit.
"Blue firenya kawah Ijen ini keren semalam! Aku gak bisa lupa rasanya!" ujar Marsya sembari mengingat kembali bahwa dirinya sempat berada di atas kawahnya kawah Ijen. Menatap Blue Fire megah di sana bersama dengan Bella.
"Hahahaha..." Bella yang memeriksa kamera itu terkekeh. Dia tau Marsya sangat terpukau semalam.
"Alam itu indah bukan? Ya, ini yang buat aku gak bisa lepasin hobi hiking. Diam di rumah itu ngebosenin banget, Sya!" curhat Bella padanya.
Marsya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Bella. Lalu dia menoleh ke samping ke arah Bella yang masih sibuk dengan kameranya.
Marsya memperhatikan kamera tua itu. Sudah sejak dulu kamera tua itu bersama dengan Bella. Bahkan ketika Bella dan dia duduk di bangku SD pun.
Ketika keluarga mereka silahturahmi saat hari raya. Kamera itu selalu berada dalam genggaman Bella.
"Kamera polaroid itu, kayaknya aku udah kenal dari dulu Bel!" ujar Marsya seraya masih memperhatikan kamera yang dipegang Bella.
__ADS_1
Bella menoleh sebentar lalu dia kembali fokus pada kameranya. Di sana Bella pun mengangguk.
"Polaroid ini dari Simbah!" ujar Bella mengkisahkan.
Marsya tertegun mendengar itu. Bagaimana mungkin itu? Marsya memperhatikan kembali kamera yang dibawa oleh Bella.
Ah ini kamera Polaroid pollacollor. Pada tahun 1961, perusahaan Edwin Land memperkenalkan Positive/Negative 4x5" film tipe 55, yaitu film hitam putih yang memproduksi positif dan negatif, disusul dua tahun kemudian diperkenalkan film Polacolor, film langsung jadi berwarna.
Pada tahun 1977, Edwin Land menjual kamera OneStep Land yang merupakan paten ke-500 miliknya dan menjadi kamera terbaik yang dijual di Amerika Serikat.
Marsya kembali berpikir. Simbah Gautama itu gaptek. Bagaimana bisa dia memberi Bella kamera pada tahun itu? Mereka ini keluarga cenayang. Simbah mereka adalah ketua adat.
"Gimana bisa?" tanya Marsya penasaran.
Bella tersenyum tipis. Lalu dia memotret sebentar ke arah depan.
Satu tombol itu ditekan menjepret gambar. En puluh detik setelahnya muncullah selembar foto dari dalam kamera itu. Bella mengambilnya lalu meniupnya. Dia melihatnya sebentar lalu menyerahkan itu pada Marsya.
Marsya yang tidur terlentang itupun meraihnya. Dan dia terkejut melihat apa yang ada di dalam foto itu. Hamparan ini luas kosong. Banyak memang penghuninya. Tapi, ketika Bella menjepretnya dalam sebuah foto.
Mereka seperti sedang berada di tengah kerumunan manusia dengan pakaian masa lalu. Mereka di sini sedang beraktivitas.
"Wihhh!" pekik Marsya kagum.
Marsya lalu duduk dan dia menoleh lagi ke samping. Bella mengangguk dia mengerti sekarang dia harus bercerita perihal asal usul kamera ini.
"Jadi, dulu waktu Papa dan Mamaku mengajakku ke gunung Ijen. Usiaku masih sekitar lima tahun! Kawah Ijen ini adalah tempat pertama kakiku berpijak mengenal alam. Cak Dika di sampingku, dia menggandengku. Dia ini maung, tiga khodam maung ada dalam dirinya saat itu. Nah, waktu itu! Aku masih ingat malam setelah magrib. Setelah kami melaksanakan sholat, di dalam tenda aku sedang memakan camilan!" jelas Bella lagi sambil menerka dan mengingat kembali kejadian beberapa tahun lalu.
"Di sana tepat di depanku aku melihat beberapa anak kecil. Ada dua anak kecil di depanku. Aku mengobrol juga bersamanya. Aku menawarkan makananku padanya tapi dia segan dia tak mau! Lalu dia bilang ke aku, apa kamu Bella? Bella Gautama?" ucap Bella lagi menjelaskan.
__ADS_1
"Aku bilang, ya aku Bella Gautama! Kenapa kalian bisa tau namaku?" tanya Bella pada mereka.
Marsya di sana masih memperhatikan itu.
"Lalu mereka bilang, Simbah beruban itu menunggu kedatangan kamu kemari. Dia bilang ingin memberimu sesuatu! Bella, pejamkanlah matamu! Kami akan mengantarmu menemuinya!" jelas Bella lagi.
"Lalu kamu pejamkan matamu?" tanya Marsya penasaran. Dan di sana Bella tersenyum lalu mengangguk.
"Iyo, aku pejamin mata dan masuk ke dunia gelap! Alam mereka, dituntun oleh dua anak kecil itu. Kamu tau aku bukan Rachel kan? Masuk ke sana bukan keahlianku. Jika dua anak kecil itu tak ada mungkin para setan itu sudah melahapku. Dia orang itu terus saja menggiringku sampai aku tiba di depan sepuluh maung. Maung itu berubah satu persatu menjadi Seorang manusia. Lalu mengangkat tubuh kecilku untuk ikut bersamanya. Di depan satu singgasana berdirilah Simbah. Dia tidak bicara, tapi dia memanggil dua orang bule. Dari Netherlands! Dua orang itu memberiku kamera polaroid ini. Saat itu Simbah bilang begini, Anakku kemampuan tidak sehebat Cacak dan Rachel. Tapi kamu akan memiliki ini sebagai pendukung mereka! Kamu akan menjadi satu-satunya orang mengenal alam! Bakat navigator itu ada dalam dirimu!" jelas Bella lagi.
Marsya terlihat salut mendengar itu.
"Terus Bel?" tanya Marsya lagi pada Bella.
"Terus aku bangun, dan aku berada di luar tenda. Di semak belukar! Artinya sejak aku terpejam itu, tubuhku ini jalan dan ada yang ngisi! Untungnya waktu itu Cak Dika nemuin aku! Aku ditemukan dengan polaroid ini di tanganku! Sampai sekarang polaroid ini adalah bukti jejak petualanganku!" jelas Bella bangga sambil menunjukkan polaroid kesayangannya itu.
Ya, Marsya puas sekali rasanya mendengar itu. Sekarang dia tau asal mula datangnya kamera itu.
Bella berdiri setelah bercerita. Itu membuat Marsya menghela nafas panjang.
"Nantilah dulu! Lagi pula kita tinggal turun bukan?" ujar Marsya merubah posisinya menjadi duduk.
"Kamu gak mau kena magrib di jalan kan? Kalau gitu, kita berangkat sekarang. Lagi pula sepertinya Rachel juga cukup membaik! Kayaknya dia udah ada di rumah Rara sekarang!" ujar Bella lalu menaikkan tas Carriernya ke punggung.
"Ah... Baiklah kalau begitu!" ujar Marsya langsung bangun memakai kembali daypacknya.
Keduanya usai menelusuri area kawah Ijen. Melepas penat menikmati alam dan keindahan blue fire. Itu cukup rasanya bagi mereka untuk healing.
Sekarang sudah waktunya mereka kembali. Melanjutkan penelusuran lain bersama dengan Saudaranya yang lain.
__ADS_1