
"Ada apa, Thariq?" tanya Rachel khawatir ketika Thariq membuka kedua matanya.
Wajah Thariq nampak terkejut di sana. Tapi kemudian dia mulai mengatur nafasnya. Dia menoleh ke samping.
Di mana tepat di sampingnya Rachel saat ini sedang menyentuh bahunya sambil memandanginya lekat dan dekat.
"Kasus ini berhubungan dengan dosa! Ini berhubungan dengan karma. Dan bangunan ini adalah sumber dari karma itu. Ruang Nomor Dua!" jelas Thariq pada Rachel.
Penjelasan itu membuat Rachel menaikkan salah satu alisnya. Dia tidak paham.
"Jadi sebenarnya apa yang kamu lihat di sana?" tanya Cak Dika yang berada di belakang Thariq kali ini.
Thariq menatap ke arah gedung putih besar itu. Lalu telunjuknya mengarah ke arah gedung itu. Telunjuk itu menunjuk tepat ke arah atas gedung.
"Di lantai paling atas! Ada jenazah yang tidak ingin mati. Tapi dipaksa mati! Sampai sekarang jenazah itu tidak bisa menutup matanya. Tekanan batin juga rasa sedih yang teramat membuat Jenazah itu diam ketika bahaya meliputinya. Kasus perempuan yang mati karena ledakan itu. Ada kaitannya dengan seseorang di dalam gedung ini!" jelas Thariq pada mereka.
Mereka terdiam beberapa saat untuk berpikir mencoba memahami apa yang Thariq katakan.
Namun Cak Dika di sana tersenyum kecut setelah Thariq menanggapi itu.
Karma ya?. Pikir Cak Dika dalam kepalanya.
Sungguh malang sekali nasib kedua orang itu. Satu memilih untuk acuh dan membuang. Sedangkan satu orang lagi mencintai dengan tulus.
Tak ada balasan yang di dapatkan olehnya. Yang ada adalah pencampakkan juga keacunan. Miris sungguh! Kasih sayang anak memang sepanjang galah.
Bergetar hati Cak Dika saat itu. Entah kenapa jika perihal karma seperti ini dia enggan menolong. Sempat dalam hatinya terbesit satu pinta egois.
Untuk membiarkan mayat perempuan itu biarlah seperti itu kesulitan untuk dimakamkan.
"Rasanya aku mau egois!" ujar Cak Dika saat ini.
Ketika sang Maung mulai bicara. Mereka yang tadi terdiam pun sontak menatap ke arah Cak Dika.
Para bocah setan yang tadi menuntun Thariq juga ikut muncul menampakkan dirinya. Mereka juga ikut memperhatikan Cak Dika di sana.
"Maksud kamu itu apa Cak?" tanya Rachel yang sama sekali tidak mengerti ucapan Cak Dika.
"Dek... Ini karma! Biarlah jadi seperti itu. Semasa hidup Pak Tua itu. Dia sama sekali tidak bisa membalas perlakuan dari perempuan itu. Sekarang ketika mati bumi enggan menerima dia cuma karena dosanya ke bapaknya!" jawab Cak Dika menjelaskan.
Rara bisa mengerti betapa kesalnya Cak Dika saat ini. Dia diam mencoba mendengar tiap apa yang Cak Dika katakan.
"Rasanya aku mau tega saja membiarkan dia mati membusuk tanpa kremasi!" ujar Cak Dika lagi.
"Manusia seperti itu..."
__ADS_1
Pukkkkk
Cak Dika terdiam ketika Rara menepuk bahunya. Tangan gadis yang dia kagumi itu berhenti di sana. Lantas Cak Dika pun menatapnya kali ini.
"Cak.." lirih Rara padanya.
"Aku tau kamu kesal sama dia! Tapi jangan sampai kekesalan itu menghilangkan simpati dan hati kita sebagai seorang manusia. Kalo yang mati saja sudah memberikan solusi. Lalu kenapa yang hidup tidak mau membantunya? Jadi sebenarnya kita ini manusia yang berhati? Ataukah setan yang keji tanpa perasaan?" jelas Rara menasehati.
Di situ Cak Dika diam. Ucapan Rara benar. Rasanya Cak Dika tertampar saat ini. Namun hatinya entah kenapa masih bersikeras menolak.
Sebelum dia mengutarakan pendapat dalam hatinya. Satu suara berbisik kecil padanya.
"Maung, jangan berhenti menjadi orang baik!"
Ujar suara itu. Cak Dika sangat mengenali suara itu. Itu adalah suara dari Nyai Ratu. Di sana Cak Dika pun mulai menghela nafas panjang.
Baiklah, sepertinya masalah ini memang tidak bisa dia hindari. Tidak pula bisa dia tolak.
"Ya sudah ayo kita masuk!" ajak Cak Dika.
Sorot matanya tajam menatap lekat ke arah gedung putih besar nan Kokoh itu. Melangkah nya Cak Dika masuk ke dalam bangunan itu juga diikuti oleh rombongannya.
Bak jamaah haji mereka pun masuk ke dalam. Thariq yang tau letak ruangan itu pun beralih ke arah resepsionis.
Ada dua orang resepsionis di sana. Mereka berdua perempuan. Ketika Thariq berdiri tepat di hadapan meja mereka.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya sang resepsionis pada Thariq.
Thariq mengangguk menjawab pertanyaan itu. Kemudian dia pun berkata,
"Lantai empat, jasad kakek tua yang dijuluki manusia yang tak ingin mati. Jasad yang sampai saat ini masih membuka matanya namun jantungnya mati! Saya di utus anggota keluarganya untuk mengambil mayat itu!" jelas Thariq pada mereka.
"Huh!" pekik dua orang resepsionis itu terkejut.
Rasanya sudah cukup lama tidak ada yang datang pada mereka untuk menanyakan jasad itu.
"Apa anda kerabatnya?" tanya Sang resepsionis padanya.
"Ya aku mengenalnya! Itu lah kenapa aku mau mengambilnya!" jawab Thariq padanya.
Dua perempuan yang berada di resepsionis itu sontak terkejut ketika Thariq mengatakan itu. Pasalnya sudah sekitar dua tahun mayat itu berada di dalam ruangannya.
Tidak satupun di antara orang-orang berani masuk ke sana. Sebab katanya, mayat itu arwahnya akan menganggu siapa saja yang masuk ke dalam.
Aneh rasanya apabila selama dua tahun mayat itu tidak ada yang mengambil tiba-tiba saja sekarang ada yang mengambil.
__ADS_1
"Maaf..." lirih salah satu bagian resepsionis.
"Ya?" tanya Thariq padanya.
"Jika and keluarganya. Ke mana anda selama dua tahun ini? Kenapa mayat itu tidak lekas diambil?" tanya Resepsionis itu lagi.
Gautama Family terkejut mendengar itu. Apa yang resepsionis itu katakan? Dua tahun, katanya?
Artinya mayat di dalam ruangan itu sudah tidak berbentuk wujudnya. Mungkin tubuhnya mengalami pembengkakkan menuju pembusukan.
"Apa yang kamu katakan Mbak? Gimana bisa mayat di simpan selama dua tahun di dalam ruang beku. Bukankah pembusukan itu pasti masih berjalan? Jika selama itu, maka mayat itu sekarang sudah membusuk total?" ujar Thariq pada mereka.
Sejenak dua orang perempuan itu menghela nafas. Nyatanya apa yang dikatakan Thariq tidaklah benar.
Memang benar jika di simpan terlalu lama dalam ruang mayat maka mayat akan mengalami pembusukan. Apalagi sudah dua tahun mayat itu masih di sana.
"Mayat itu masih utuh, Tuan!" ucap salah seorang resepsionis itu. Suaranya dikecilkan seperti tidak ingin apa yang dia katakan didengar pula dengan manusia lain kecuali yang ada di sana.
"Huh?!" pekik Gautama Family tak menyangka bahwa mayat yang mereka cari masih utuh katanya.
Itu sungguh di luar nalar.
"Bagaimana bisa mayat itu masih utuh?" tanya Thariq tak percaya.
"Kami tidak tahu! Tapi, aku rasa itu adalah kuasa Tuhan. Jasad kakek tua itu hangus. Tetapi tubuhnya masih utuh. Tidak mengalami pembusukan ataupun pembengkakan!" ujarnya.
Sungguh aneh bin ajaib.
"Kalau begitu antarkan kami ke sana!" ucap Rachel kali ini serius.
Resepsionis itu mengangguk. Kemudian dari dalam laci mereka mengambil sebuah map. Setelah proses pengambilan mayat itu di tanda tangani.
Gautama Family pin berjalan mengikuti dua orang resepsionis yang menuntun mereka ke arah satu ruangan.
Seperti apa yang Thariq lihat dalam kemampuannya. Lorongnya sama persis. Dan ruangan itu terletak di ujung lorong dengan tulisan Ruang nomor dua.
Ketika pintu itu dibuka. Mereka benar-benar terkejut. Jasad itu masih bagus meskipun dua tahun lamanya berbaring di sana.
Setelah melihat jasad itu. Cak Dika pun menelpon Ibunda Rachel.
"Bunda... Jasadnya sudah kami temukan!" ucap Cak Dika pada Ibunda Rachel di seberang sana.
"Bagus... Bawalah ke alamat yang sudah aku kirimkan!" ujar Ibunda Rachel.
"Baik!"
__ADS_1
Tutttttttt
Panggilan selesai. Menandakan bahwa misi mereka di tempat ini sudah berakhir. Saatnya bagi mereka membawa jasad itu pergi keluar dari dalam sini.